The Devil Wife Season 2

The Devil Wife Season 2
"Tidak Mau itu Terulang."



"Sayang." teriak Navier masuk kedalaman kamar mencari keberadaan istrinya dan benar saja Larenia berada di depan meja rias membersihkan wajahnya.


Segera wanita hamil itu memutar tubuh dan langsung berlari saat melihat suaminya pulang. Namun bau alkohol tajam tercium, Larenia melepas pelukan.


"Kau minum?" tanya Larenia mengerutkan kening.


"Iya ... maaf sayang, tadi ada pertemuan dan aku minum sedikit." jawab Navier sedikit ragu mengaruk pelipisnya yang tidak gatal.


Larenia menatap Navier sekilas lalu mengangguk paham, ia meraih tangan Navier untuk mengelus perutnya yang di dalam sana ada anak mereka yang tengah tumbuh.


"Dia merindukanmu." ucap Larenia tersenyum melihat tangan Navier berada di perutnya.


"Hum, dia atau kamu yang merindukanku?" tanya Navier menjauhkan tangannya dari perut istrinya dan beralih mencium pipi istrinya, ia tidak ingin mencintai anak itu yang seharusnya tidak pernah ada.


Larenia tidak mengatakan apa-apa kenapa ia merasa akan ada bahaya terjadi kepadanya. Mata mereka saling menatap, Larenia tiba-tiba menjauhkan tubuhnya dari sang suami.


"Mandilah, kau bau alkohol."


"Baiklah sayang, aku akan mandi."


Larenia mengangguk pelan tanpa menyahut wanita hamil muda itu keluar dari kamar hendak menemui ibunya.


Sementara Navier menghela napas mengusap wajah frustrasi, apakah ia akan rela melihat Larenia sedih karena kehilangan anak mereka, apa dirinya mempertahankannya saja, ia menjadi sangat pusing. Akhirnya Navier masuk kedalaman kamar mandi menetralkan pikirannya.


***


"Mom, bagaimana rasanya melahirkan apa sangat sakit?" tanya Larenia saat ia tidur di pangkuan ibunya.


Zenia menunduk menatap putrinya. "Kenapa bertanya sayang, apa kamu takut?"


"Tidak mom, hanya penasaran saja bagaimana rasanya makanya aku bertanya." ujar Larenia.


"Rasanya sakit ... sangat sakit, tapi mommy yakin jika putri mommy yang cantik ini bisa menahan rasa sakit itu."


"Sesakit apa? apa seperti saat terluka parah mom?"


"Sayang, bukan seperti itu? kenapa putriku bisa berpikiran sekonyol ini."


"Mommy, coba ceritakan saat mommy melahirkan Larenia." Larenia segera mengubah topik, ia ingin mendengar bagaimana kisahnya saat dirinya di lahirkan.


Zenia mengangguk, ia mengelus kepala putrinya dan mulai bercerita.


"Kau tau, sayang ... saat mommy melahirkanmu, dua puluh tahun yang lalu, saat mommy ingin berjuang untuk melahirkanmu ke dunia ini, hanya satu harapan mommy agar kau lahir dengan selamat tidak peduli rasa sakit, sebagai seorang ibu mommy sangat bahagia saat mendengar tangisanmu, hingga rasa sakit itu hilang begitu saja."


"Dan Daddymu lah yang terlebih dahulu menggendongmu saat baru lahir dan dia tidak ingin jika orang lain memandikanmu pertama kali, Daddymu itu marah-marah kepada dokter yang membantu mommy melahirkan."


"Hah ... Daddymu dari dulu tidak berubah." Zenia Menjeda ucapannya.


Larenia mengedipkan kedua mata sungguh tidak menyangka jika ayahnya sampai seperti itu bahkan saat dirinya baru di lahirkan.


"Mommy apa Daddy benar-benar sampai segitunya? aku tidak menyangka."


Zenia tersenyum hangat memang suaminya itu sangat unik dari suami-suami pada umumnya, kadang membuat Zenia kesal namun entah kenapa ia bisa bisa bertahan hidup dengan suaminya itu sekalipun Louis sangat berlebihan.


Perbincangan panjang antara ibu dan anaknya itu berakhir dua jam kemudian, Larenia tertidur di pangkuan ibunya setelah itu Larenia di pindahkan kekamarnya oleh Navier.


***


Hari mulai gelap, Larenia baru bangun, pertama kali yang dirinya lihat adalah Navier yang duduk di kursi menunggunya bangun.


"Sudah bangun sayang, sepertinya kau mudah sekali mengantuk saat hamil." ucap Navier lembut membelai wajah istrinya.


Larenia menikmati belaian itu lalu beberapa saat ia bangun dan duduk.


"Aku haus." pinta Larenia.


Navier segara meraih gelas berisi air putih tersebut, dirinya tampak sedikit ragu memberikan kepada istrinya sebelumnya Navier sudah campurkan obat.


"Maafkan aku sayang, aku terpaksa melakukannya, selamat tinggal anak ayah." dalam hati Navier berucap, ia tidak tau jika hal itu akan menjadi sebuah penyesalan kelak.


Detak jantungnya berdebar kencang saat Larenia mengambil gelas itu dan meneguknya beberapa kali hingga hampir habis.


"Ahhh .... Sakit, Navier perutku sakit ... Ahh Mom Dad, sakit!" pekik Larenia mengeram sakit, ia memejamkan mata. Apa yang terjadi kenapa dirinya tiba-tiba merasakan perutnya sakit. Navier ikut pura-pura panik mencoba menenangkan istrinya.


Kedua bola matanya membola saat merasakan cairan hangat keluar dari pahanya.


"Anak kita, Navier."


"Mom! ahh ... sakit sekali."


"Tahanlah sebentar sayang, sakitnya akan hilang. sabarlah." ucap Navier, Larenia yang kesakitan hanya mendengar itu tidak terlalu jelas.


"Anak .... ku." ucap Larenia sebelum pingsan, Navier baru mengambil tindakan, segara ia berlari menggendong Larenia.


"Maaf." bisiknya.


Zenia dan Leo saat itu melihat Navier membawa Larenia pergi dengan penuh darah.


"Ada apa? apa yang terjadi kepadanya?" tanya Zenia panik melihat Larenia bersimbah darah.


"Aku tidak tau, mom ... tiba-tiba perutnya sakit saat bangun dan."


"Cepat bawa dia keruma sakit, jangan sampai terlambat."


Navier mengangguk, cepat ia menuju mobil ternyata saat itu juga Louis pulang.


"Larenia ... kau kenapa Nak." Louis mendekat melihat putrinya.


"Apa yang terjadi Navier? darah .... kenapa ada darah?" tanyanya.


Navier hanya menggeleng pura-pura tidak tau, segara Louis meminta Navier untuk membawa anaknya masuk kedalam mobil miliknya.


"Aku akan membawa mobilnya, Anton aku berpindahlah, anakku dalam bahaya."


"Baik Tuan."


Louis mengendarai mobilnya menuju rumah sakit dengan kecepatan hampir penuh, memang dirinya jarang mengendarai mobilnya karena ada Anton, namun saat-saat kacau seperti ini Louis tidak bisa percaya kepada siapapun untuk membawa putrinya menuju rumah sakit dengan selamat. Sementara Leo membawa ibu dan adiknya mengikuti mobil ayahnya dari belakang.


"Bertahanlah Nak, Daddy ada di sini." ucap Louis.


Tidak lama berselang, Louis menepikan mobil dan keluar lalu dirinya sendiri yang mengangkat putrinya untuk mendapat pertolongan pertama.


Louis berlari masuk dan berteriak jika anaknya dalam bahaya apalagi melihat darah, Louis tau betul karena istrinya pernah mengalami situasi yang sama sehingga anak pertama mereka meninggal dalam kandungan, Louis tidak ingin jika kejadian naas itu terulang.


"Dokter! Dokter! selamatkan putriku dan kandungannya atau kalian semua kehilangan pekerjaan." teriak Louis menggila.


"Jangan mengabaikanku!" teriaknya sekali lagi, seorang dokter perempuan segara meminta Louis untuk mengikutinya.


"Letakkan di sini tuan, saya akan memeriksanya."


Louis segara melaksanakan perkataan dokter itu dan meletakkan Larenia.


"Bertahanlah Nak dan cucu kakek." ucap Louis menggenggam telapak tangan Larenia.


"Anda bisa keluar sebentar, saya ingin melakukan pemeriksaan lebih lanjut."


"Tidak, aku tetap di sini, aku ayahnya, aku harus menemani anak dan cucuku." tolak Louis, tentu saja.


"Tapi tuan."


"Jangan memerintahku lakukan saja tugasmu dan selamatkan keduanya." perintah Louis, Dokter itu menghela napas dan mulai memeriksa keadaan Larenia dan juga kandungannya.


"Apa yang terjadi kepadanya? jangan-jangan." guman dokter itu melihat Larenia setelah memeriksanya.


.


.


.


.