The Devil Wife Season 2

The Devil Wife Season 2
"Amanda."



Larenia membuka matanya beranjak bangun dari tempat tidur begitu sudah menyadari jika matahari sudah menyinanri bumi dengan terang. Gadis itu menoleh kesamping dan benar saja suaminya sudah tidak ada di sana bersama dengannya, akhir-akhir ini Navier selalu sibuk sehingga Larenia jarang menjumpai suaminya di pagi hari.


Sebuah memo di atas meja selalu ia dapati.


"Sayang, aku ada urusan penting, maaf aku tidak bisa mengantarmu ke perusahaan Daddy tapi aku usahakan nanti sore akan menjemputmu." – suamimu Navier.


Larenia hanya membaca lalu meletakkan kembali memo itu, lalu segera menuju kamar mandi mengingat hari ini ia ada rapat penting.


Setelah mandi dan rapi, Larenia turun ke lantai satu menuju meja makan beberapa pembantu yang berpapasan dengannya memberi hormat kepadanya saat Larenia melewati mereka. Jessi sudah menunggunya di dapur, wanita berusia tiga puluh tahun itu sendiri yang menyiapkan sarapan untuk Larenia.


"Selamat pagi Nona." sapa Jessi sambil mengambi selembar roti gandum lalu meletakkan ke atas piring Larenia.


"Pagi bibi, tolong ambilkan selai kacang." ujarnya segara di laksanakan oleh Jessi.


"Ini Nona, silakan nikmati sarapan Anda. Saya akan menyiapkan mobil."


"Bibi, sarapanlah bersamaku ... kita nanti sama-sama keluar saja."


"Tapi Nona."


"Tidak ada penolakan, ayo duduk dan sarapan denganku." Perintah Larenia menatap tajam Jessi, sebagai bawahan Jessi hanya mengangguk menuruti perintah Larenia, walau merasa ada yang aneh karena ini untuk pertama kalinya ia di ijinkan makan bersama dengan majikannya yang sombong dan jahat ini.


"Oh iya bibi, jam berapa suamiku berangkat?" tanya Larenia di sela-sela waktu sarapannya.


"Jam enam lewat nona, tuan meminta saya agar mengantar Nona ke Perusahaan Tuan Louis." jawab Jessi.


"Seperti itu, akhir-akhir ini dia sibuk."  kata Larenia wajahnya terlihat sedih saat mengatakannya, Jessi tau jika Larenia hampir sama dengan Louis tidak bisa berpisah jauh-jauh dari pasangan mereka.


Jessi hanya diam dan memperhatikan Larenia sambil memakan roti gandum yang sudah ia beri dengan selai kacang dan beberapa potong sayuran.


Larenia menghabiskan sarapan paginya dengan lahap, segelas jus alpokat juga ia habiskan. Sudah menjadi kebiasaan bagi Larenia untuk meminum jus buah di pagi hari, itu akan menammbah energinya di pagi hari hingga tiba waktu makan siang.


Setelah itu, Jessi dan Larenia berangkat untuk berkerja. Keseharian gadis itu berubah total jika saat belum menikah ia selalu keluyuran saat ini ia di sibukkan dengan pekerjaan yang menumpuk setiap harinya.


***


Navier di perusahaan Effendy mengusap dagunya yang kini di tumbuhi bulu-bulu halus memejamkan kedua matanya, statistik perusahaan Effendy kembali turun dan tampaknya ada sebuah peretasan jaringan komputer sehingga beberapa informasi penting di curi oleh seseorang.


Pria paruh baya itu mengamuk membanting seluruh benda-benda yang berada di ruangannya, ia tidak tau siapa orang yang sedang bermain-main dengannya.


"Sial, kenapa hari ini malah lebih rumit dari kemarin?" ujar Effendy marah, kedua tangannya bahkan sudah berdarah lagi setelah kemarin di obati.


"Ayah, sebenarnya siapa yang melakukan hal seperti ini? Apa aku harus meminta bantuan kepada mertuaku sebelum perusahaan Ayah jatuh." kata Navier, Effendy meradang menatap ke arah anak angkatnya.


Kembali pria itu mengambi asbak lalu melemparnya ke sembarang arah, "Jangan melibatkan orang lain, ayah tidak membutuhkan bantuan dari siapa pun."


"Dan kau sebaiknya kau usahakan agar club itu baik-baik saja."


"Baik ayah." Jawab Navier mengangguk mengerti, Effendy memegang tanganya yang terluka dengan wajah pusing.


"Kami baik-baik saja Ayah, Larenia perlahan berubah."


"Syukurlah, kau jaga baik-baik istrimu itu ... atau kalau tidak seseorang mungkin akan merebutnya darimu. Dia orang gila, kau berhati-hatilah." kata Effendy memperingati Navier akan seseorang yang menginginkan menatunya itu.


"Siapa ayah?"


"Mikel Taylee, pengusaha kaya raya saingan Ayah sebelumnya."


"Ingat Mikel itu orang yang ambisius dan bisa melakukan apa saja demi mendapatkan Larenia, dia sangat mencintai istrimu dan asal kau tau saja alasanku menikahkanmu dengannya, aku ingin membuatnya menderita melihat gadis yang ia cintai hidup bersama dengan orang lain." ucap Effendy dengan raut wajah seriusnya.


"Hum ... apa Larenia belum hamil, ini sudah berapa bulan pernikahan kalian."


"Belum." Sahut Navier singkat, pikirannya terganggu dengan orang yang bernama Mikel itu, apa benar orang yang bernama Mikel Taylee itu mencintai istri tercintannya.


"Kau harus berhati-hati Navier, Mikel adalah orang licik dan akan melakukan apa saja demi Larenia ... sekali  gadis itu lepas dari tanganmu ia tidak akan pernah kembali lagi, apa lagi kau tau kalau Louis sangat mencintai putrinya itu lebih dari apapun."


"Iya, ayah aku paham." Navier mengangguk paham, ia akan mempertahankan Larenia dengan cara apapun dan akan mencegah Mikel merebut istrinya.


***


Di sebuah hotel mewah, seorang perempuan bertubuh tinggi dan ramping tengah merapikan penampilannya di depan cermin memakai sedikit polesan make up dan lipstik merah menyala, pakaiannya yang ia gunakan sedikit seksi. Ia tersenyum setelah sekian lama akhirnya ia kembali ke kota kelahirannya.


"Amanda sayang, apa kau mau makan malam bersama mama." kata seorang wanita paruh baya.


"Tidak mah, aku diet ... aku sangat merindukannya, dahulu aku meninggalkannya tanpa kabar. Sekarang aku kembali kesini lagi dan memantapkan hati untuk menetap membangun cinta kami." ucap Amanda sambil mengingat pacarnya beberapa tahun lalu yang ia tinggalkan karena urusan pribadi.


"Oh, begitu nak. Mama harap kau bahagia dengannya, besok kita akan pindah kerumah pamanmu."


"Paman siapa? Apa mama punya saudara sebelumnya dan aku tidak tau?"


"Sayang, maafkan mama ... karena ambisi mama kau lahir tanpa mengenal kerabat-kerabat yang berada di kota ini dan mereka selalu berada di kota ini."


"Kau tidak mengenal siapa ayahmu dan itu juga gara-gara Mama di masa lalu, mama sebenarnya malu nak, tapi demi dirimu besok kita akan menemui semua keluarga dan kerabat yang tidak pernah kau ketahui itu."


"Ayo kita ke restoran di hotel ini, mama yang traktir ... lupakan masalah dietmu itu, kau tidak akan gendut." ujar wanita satu anak itu.


"Tidak mau, mama saja yang cari makanan."


"Ya sudah, dasar anak keras kepala."


.


.


.


.