The Devil Wife Season 2

The Devil Wife Season 2
"Aku Yang Lebih Jahat."



Navier kembali ke ruangan Larenia setelah menetralkan pikirannya, ia bukan pria yang sebodoh yang mereka pikirkan selama ini. Bahkan Navier juga tau jika Larenia sering keluar diam-diam dari rumah dan membohonginya selama ini.


Bukan masalah besar baginya karena Navier juga membohongi istrinya, cinta? Navier benar-benar mencintai Larenia karena menganggap wanita itu sama seperti dirinya bukankah itu adalah perpaduan yang sempurna.


Bagi Navier Larenia adalah wanita yang harus mendampinginya tidak ada yang lain pantas, selain kaya istrinya juga sempurna dalam segala hal.


Senyuman miring sesaat yang berada di wajah Navier berangsur hilang kala ia tiba di dalam ruangan.


"Selamat Nak, kamu akan menjadi ayah." ucap Effendy kepada Navier yang baru saja masuk. Lelaki itu terdiam karena terkejut, apa anak itu akan hadir di sisi mereka sekarang di saat dirinya tidak menginginkannya.


Navier melihat istrinya mengusap-ngusap perutnya yang datar, sepertinya Isabella tidak berbohong kepadanya. Navier sebisa mungkin tersenyum, perlahan ia mendekat istrinya.


"Navier, aku masih tidak percaya." ucap Larenia tersenyum dengan ketulusan.


"Selamat sayang, kau akan menjadi ibu, untuk anak-anak kita kelak." Navier berkata dengan dustanya, walau sangat ingin memiliki anak namun Navier tidak mau jika anaknya kelak seperti iblis.


Lelaki itu membelai rambut dan wajah Larenia, mengecup keningnya dengan mesra.


"Terimakasih, sayang." ucap Navier memeluk Larenia dengan pikiran kacau.


Haruskah ia membunuh anaknya juga sebelum lahir, berbagai keraguan berada di benak Navier dan penyebabnya adalah Amanda yang membuatnya ragu.


"Sekarang istirahatlah, ibu hamil butuh istirahat yang banyak, persiapkan dirimu untuk melahirkankannya." Larenia memberi anggukan, ia di bantu oleh suaminya untuk berbaring, benar kata Navier tubuhnya butuh istirahat. Walau mereka batal berbulan madu kekecewaan Larenia di gantikan dengan kebahagiaan.


Sekarang tinggal membujuk kakeknya untuk memperbolehkan dirinya hamil di usia muda. Bukan hal mudah untuk membujuk pria itu, mungkin Larenia akan mendapat hukuman dari ambisinya.


***


Setelah dua hari di rawat, Larenia di perbolehkan pulang. Louis menjadi sedikit berlebihan dengan tidak membiarkan Larenia untuk banyak bergerak dan memaksa untuk putrinya itu memakai kursi roda.


Zenia, Leo dan Lyra menghela napas pasrah, percuma jika mereka melarang Louis. Pria tiga anak itu memang selalu seperti itu. Apalagi Larenia anak kesayangan lagi hamil.


Tiba di kamar, Louis sendiri yang mengangkat tubuh Larenia berpindah ke kasur dan meminta kepada Jessi menyiapkan beberapa buah segar untuk anaknya makan.


"Anak Daddy sudah besar, sekarang sudah mau menjadi ibu. Nak jangan terlalu banyak pikiran lagi dan sakit, Daddy tidak bisa melihatmu sakit untuk kedua kalinya." tutur Louis memegang tangan Larenia.


"Iya Dad, love you." balas Larenia mencium pipi ayahnya singkat.


Jessi datang membawa semangkok salad buah yang sudah di beri mayones dan memberikan kepada Louis.


"Tuan."


Louis mengambil salad buah itu dan menyuapkan kepada anaknya, di sini Louis lebih banyak mengambil tindakan di banding Zenia ataupun suami anaknya sendiri yaitu Navier.


"Makanlah nak, kau tidak boleh kelaparan." bujuk Louis. Ia tau makanan kesukaan Larenia karena putrinya itu tubuh besar dengannya, tentu saja ia lebih banyak tau tentang Larenia di banding siapapun.


"Iya dad, terima kasih, aku mencintaimu." ucap Larenia.


Louis tersenyum mendengar peryataan Larenia terhadap dirinya, wanita tercinta keduanya adalah tentu anaknya ini.


"Daddy juga mencintaimu nak, jangan sakit lagi yahh, janji sama Daddy."


"Baiklah Dad."


"Larenia tidak akan sakit lagi, dan sekarang Larenia merasakan bagaimana merasakan kasih sayang untuk anakku, walau belum lahir." ucap Larenia setelah menguyah dan menelan salad buah tersebut.


Louis lalu menoleh kearah Navier dan menyuruhnya untuk duduk di tempatnya.


"Navier kemarilah dan suapi istrimu, daddy juga punya istri yang harus di manjakan."


"Benarkan Honey." lanjut Louis lalu tersenyum mesum kepada istrinya.


Zenia yang sudah terbiasa dengan tingkahnya yang seperti itu hanya mengabaikannya dan membawa kedua anaknya keluar dari ruangan itu meninggalkan Navier dan Larenia saja di dalam sana.


"Honey, tunggu aku." Louis menyusul ketiga orang tersebut.


Sementara Larenia tertawa melihat ayahnya walau sedikit merasa kasihan, ibunya jarang menunjukkan kemesraan di depan umum saat bersama dengan ayahnya. Walau begitu Larenia yakin jika ibunya juga sangat mencintai ayahnya karena tidak mungkin mereka akan memiliki tiga anak jika tidak saling mencintai satu lain.


"Mereka aneh sekali sayang." ucap Navier tanpa sengaja.


Saat menyadari dirinya salah ucap, Navier lantas tersenyum kikuk kepada istrinya.


"Maaf, mereka terlihat bahagia." Navier memperbaiki ucapannya.


Larenia memegang dua pipi Navier dan menatapnya dengan tersenyum.


"Tidak apa-apa, keluargaku memang seperti itu sejak dahulu, semua karena Daddy seperti ucapan paman Juan, Daddy sedikit gila karena terlalu mencintai Mommy dan takut kehilangan, makanya dia seperti itu."


"Mommy kata Daddy sangat sulit di dapatkan makanya bagi Daddy untuk untuk mendapatkan Mommy Daddy memaksa mommy menikah dengannya dengan mengancam." Larenia menceritakan hal yang paling sering Louis waktu dirinya kecil untuk pengantar tidurnya.


Navier tercengang mendengar kisah itu, hampir sama dirinya yang maksa Larenia agar mau menerima perjodohan itu dan kini Navier merasa pernikahannya dan Larenia seharusnya tidak pernah terjadi.


Semua telah terjadi, hati orang bisa berubah kapan saja dan rasa lelah terkadang membuat orang menyerah.


"Makanlah sayang lalu istirahat kau masih butuh istirahat agar tengahmu pulih." ucap lelaki itu tersenyum seperti biasanya.


Larenia menghela napas mengangguk paham, tidak banyak protes, setelah menghabisikan salad buah tersebut ia terbaring dan tidur lagi.


Navier sesaat memandang wajah Larenia memejamkan mata, entah apa yang harus ia lakukan agar anaknya tidak pernah lahir, biarkan mereka berdua hidup tanpa anak hingga akhir hayat.


"Apa yang harus aku lakukan sayang, aku tidak senang dengan berita kehamilanmu ini yang seharusnya tidak pernah terjadi." ucap Navier pelan hampir tidak terdengar.


Ia mengecup kening istrinya lalu memejamkan mata, tanpa terasa air matanya menetes karena anaknya akan keluar sebelum waktunya nanti.


Navier sudah mempersiapkan rencana agar anaknya meninggal dalam waktu dekat, dirinya kejam melebihi Larenia faktanya seperti itu.


Hatinya sekeras batu, jika sudah mengambil keputusan Navier akan melakukan niatnya itu tanpa ragu, namun kali ini berbeda dirinya akan membunuh darah dagingnya sendiri.


"Maafkan ayah, nak." ucap Navier kepada janin yang masih belum berbentuk itu di dalam perut istrinya.


Navier terus memandang wajah cantik istrinya, ia bangga kepada wanita itu, tidak bisa di pungkiri jika Navier mudah jatuh hati karena kecantikan Larenia yang jarang jumpai. Serta memiliki sifat unik yang menurut Navier itu sangat menghibur baginya.


.


.


.


🤧🤧 Tega kamu, mau bunuh anakmu sendiri, wkwkwk. kita lihat bagaimana kelanjutannya. 🤣🤭