
"Berhenti." ucap Larenia tiba-tiba meminta Navier untuk menghentikan laju kendaraannya.
"Kenapa sayang kita belum sampai di pantai?" tanya Navier menoleh namun belum menghentikan laju mobilnya karena saat mereka berada di jalan raya yang ramai akan lalu lalang kendaraan lainnya.
"Aku bilang berhenti Navier!" suara Larenia kali ini terdengar membentak.
"Baiklah sayang, tapi tunggu dulu aku akan cari tempat untuk menepi." ujar Navier, ia tidak berani menolak permintaan istrinya, entah kenapa lagi dengan istrinya yang kembali tiba-tiba dingin.
Setelah mobil itu menepi di sisi jalan, Larenia seketika turun dari mobil tanpa berkata apa-apa, gadis itu melangkah dengan cepat meninggalkan Navier.
"Sayang kau mau pergi kemana!" panggil Navier sambil berteriak namun tidak di ubris oleh istrinya sama sekali. Lelaki itu tidak tinggal diam, ia mengejar Larenia.
"Lepaskan! Jangan mengikutiku tunggu sebentar saja aku akan kembali." ucap Larenia, ia menepis tangan Navier yang berhasil meraihnya.
"Memang kau mau kemana, biar aku menemanimu."
"Tidak perlu, aku cuma mau mencari es cream." kata Larenia berwajah polos.
"Es cream? Kau hanya mau memakan es cream makanya menyuruhku berhenti?" tanya Navier.
"Iya." jawab wanita tersebut dengan datar melipat kedua tangan dengan angkuh.
Navier seketika tersenyum, ia mengira jika Larenia akan kabur tadi ternyata istrinya itu hanya mau membeli sebuah es cream namun lelaki itu tidak melihat penjual es cream di tempatnya berdiri sekarang, hanya ada beberapa toko terbuka di sana.
Navier tersenyum lalu mengizinkan istrinya untuk membeli es cream.
"Baiklah aku akan menunggu di dalam mobil."
"Apa kau mau di belikan es cream juga."
"Tidak perlu sayang, cukup kau kembali saja itu sudah membuatku senang." kata Navier tersenyum cerah, Larenia mengangguk paham dan setelah itu ia segere menuju salah satu toko untuk membeli es cream.
***
Mikel di sibukkan dengan pekerjaan kantor, perusahaannya mendapat sedikit kesulitan karena kerja sama dengan beberapa kolege bisnisnya menarik seluruh investasinya dari perusahaannya sehingga nilai saham di sana merosot turun.
Mikel mengerang kesal, ia tau siapa yang melakukan hal seperti ini kepadanya, siapa lagi kalau bukan Effendy yang sejak lama mempunyai dendam kepadanya.
"Dasar tau bangka sialan, aku pastikan akan membalas perbuatanmu ini." ucapnya mengepalkan kedua tangannya.
"Aku membutuhkan Julia sekarang, kenapa aku justru menyuruhnya untuk menjadi pembantu." gumannya, namun saat mengingat akan Larenia lelaki itu menghela napas ia masih belum bisa mempercayai jika gadisnya sudah menjadi milik orang lain.
"Aku akan merebutmu kembali, semua gara-gara obsesi konyol tua bangka gila itu."
"Effendy."
Rahang Mikel mengeras menahan amarah, Effendy adalah akar dari semua penderitaannya, entah dendam apa yang Effendy punya kepadanya.
Tidak lama sebuah pesan masuk ke ponsel miliknya, Mikel segera membuka dan membacanya.
Tuan Mikel saya sudah berhasil masuk dan menjadi pembantu di rumah Nona Larenia, tapi aku langsung ketahuan dan Nona mintaku untuk tidak mengganggu rumah tangganya aku harus bagaimana Tuan. ~ pesan Julia.
Kening Mikel berkerut, ia tidak bisa mengontrol emosinya lagi, seketika ia melempar ponsel miliknya hingga hancur berantakan saat menyetuh lantai yang terbuat dari batu marmer tersebut.
"Aku akan mendapatkanmu bagaimana pun caranya, jika perlu aku akan memaksa dan tidak akan ada yang berani mencegahku." gumannya penuh tekad.
Ruangan kerja Mikel sudah terlihat sangat berantakan, dirinya pusing.
^^^
Sekarang Larenia dan Navier sudah sampai di pantai, namun tidak satupun dari mereka turun dari mobil karena cuaca sangat terik, Larenia tidak bernafsu lagi untuk bermain di pantai apalagi terlihat sangat ramai.
"Ayo kita pulang saja." ucapnya.
"Mau pulang sayang?"
"Iya di sini terlalu banyak orang dan aku tidak suka." ucap Larenia menoleh sehingga mereka saling bertatapan.
"Tapi kita baru saja sampai, sayang jika kita tidak mampir sebentar." ujar Navier.
Larenia tampak berpikir, diam-diam gadis itu juga sangat menyanyangkan jika mereka pulang sekarang dan tidak menikmati kebersamaan di pantai ini sebentar saja.
"Bagaimana?"
"Hum, Baiklah tapi, kita cari tempat yang berteduh aku tidak suka jika terlalu panas." kata Larenia.
Navier mengangguk paham, ia segera turun terlebih dahulu dan membukakan pintu membantu istrinya turun dari mobil.
"Ayo kita bersama dan genggam tanganku." ucap Navier mengulurkan tangannya.
Larenia menuruti perkataan Navier, gadis itu pun segera menggenggam tangan suaminya dan di sambut dengan hangat Navier.
Keduanya berjalan berdampingan mencari sebuah tempat yang tidak terkena panas matahari, mungkin mustahil untuk mencari tempat seperti itu karena kurang pepohonan. Navier mengaruk kepalanya ia tidak melihat tempat yang teduh, sedangkan Larenia sudah kepanasan Navier bisa melihat keringat yang bercucuran di kening istrinya itu akibat kepanasan.
"Sayang kau berkeringat." ucap Navier mengusap kening istrinya.
"Hum."
"Apa kau haus?" tanya Navier, Larenia merasakan tenggorokannya kering langsung mengangguk.
"Iya."
"Apa kita sebaiknya kembali kedalam mobil, aku tidak tega melihat kepanasan sayang, lain kali saja kita bermain di pantainya."
Larenia hanya mengangguk, ia benar-benar tidak tahan akan cuaca terik apalagi hari sudah tengah hari, akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke mobil untuk bersama dengan Navier, begitu dirinya sampai Larenia segara membuka bajunya yang menyisahkan selembar pakaian tipis dan menyalakan ac mobil. Ia sudah tidak malu dengan suaminya itu sedangkan Navier kaget bukan main dan langsung menutup rapat pintu mobilnya yang terbuka sedikit.
.
.
.
.