The Devil Wife Season 2

The Devil Wife Season 2
"Tidak suka dengannya."



Dua minggu berlalu, kondisi Navier sudah pulih total bekas luka di sekujur tubuhnya sudah hampir hilang semua, ia begitu berterima kasih kepada dokter cantik yang bernama Isabella karena dengan perawatan wanita itu Navier bisa sembuh dan kondisi tubuhnya sudah normal semua.


Dan sesuai dengan perkataan Ayah angkatnya beberapa minggu lalu, hari ini dirinya akan berjumpa dengan perempuan yang akan di jodohkan dengannya, pakaian formal dengan jas hitam melekat di tubuhnya, Navier mendesah pasrah ia akan menikah dengan orang yang sama sekali belum pernah ia temui sebelumnya bahkan diminta membangun rumah tangga dengan perempuan itu.


Andai saja ia bisa kembali bertemu dengan perempuan yang bernama Larenia dan berkenalan dengannya, namun penyesalan Navier kini sia-sia saja ia tidak pernah tau lagi akan keberadaan perempuan itu maupun lelaki yang bersamanya beberapa minggu lalu.


***


Rumah kediaman Louis.


Leo melangkah cepat masuk kedalam kamarnya, ia baru saja mendapat sebuah hantaman dari kakaknya, setalah dua minggu kejadian itu Larenia baru saja mengetahui jika motor kesayangannya itu lecet-lecet akibat perbuatan Leo yang tanpa sengaja menjatuhkannya dan di tambah lagi Leo bukan hanya sekali melakukan hal itu namun berulang kali bertingkah seperti itu, ia sebagai satu-satunya anak lelaki tentu saja ingin melindungi saudara-saudaranya namun, ia tidak berpikir akan melindungi kakaknya itu yang sudah seperti seorang gangster menghajarnya dengan membabi buta jika saja ibunya tidak ada pasti Leo hanya tinggal nama saja.


"Gila ... Kakak benar-benar murka, hampir aja aku mati di tangannya, lain kali aku tidak akan mencari perkara dengannya lagi." Leo menutup pintu kamarnya dan menguncinya dari dalam agar terhidar dari amukan kakaknya tersebut.


Dengan detak jantung tidak seirama, Leo memejamkan mata lalu berjalan perlahan menuju sofa dalam kamar tidurnya yang sangat luas itu.


Deringan telpon membuat Leo terpaksa mengangkantnya walau ia merasa sedikit malas. "Iya ... halo."


"Leo kau sekarang ada dimana, dari tadi kami menunggumu di sini." Suara seseorang meyahut dan menanyakan keberadaan Leo.


"Aku ada di rumah, maaf sepertinya aku tidak bisa ikut berkumpul dengan kalian hari ini, sesuatu yang buruk baru saja terjadi kepadaku." Ucapnya terdengar kesal.


"Hal buruk apa yang terjadi kepadamu, tidak biasanya kau ... Ayolah Leo."


"Diamlah! Sudah kukatakan kalau hari ini aku tidak bisa ... berarti tidak bisa! Jangan banyak bertanya dan bicara kau!" ujar Leo langsung menutup telepon tersebut. Lelaki itu memilih menatap sudut-sudut ruangan kamarnya yang di penuhi dengan foto-foto masa kecilnya berasama dengan Larenia dan Lyra yang manis.


"Kakak, sudah banyak berubah ... aku berharap kedepannya dia menjadi perempuan yang baik-baik seperti Mommy." Ucapnya penuhi harapan, ia tidak ingin melihat kakaknya yang cantik itu menjadi seorang bandit yang bisa melukai orang-orang walau tidak mempunyai salah sama sekali. Ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa sembari mengenang bayangan masa kecilnya.


----


Sedangkan di luar rumah, segerombolan mobil mewah masuk kedalam pekarangan rumah Louis secara berturu-turut. Seorang penjaga rumah masuk dan memanggil majikannya hendak menyampaikan jika mereka kedatangan tamu, beberapa saat kemudian terlihat Louis dan Zenia sudah berada di teras rumah menatap satu-satu mobil yang terparkir dengan rapi.


"Kau mengundang siapa? Kenapa aku tidak tau." Tanya Zenia kepada suaminya.


"Sayang ... aku juga tidak tau, mereka tiba-tiba saja datang kerumah kita." Jawab Louis tidak kalah bingungnya, ia mengerutkan kening menatap mobil-mobil tersebut.


"Siapa yang datang kemari tanpa pemberiitahuan sebelumnya." Gumannya dalam hati bertanya-tanya.


Louis sama sekali tidak mengetahui jika hari ini ia akan ketangan tamu yang tidak di undang, sudah terhitung lima menit mereka berdiri di sana namun tidak ada satu orang pun yang keluar dari mobil-mobil mewah tersebut.


"Kenapa mereka belum turun?" tanya Louis, Zenia mengedikan bahu karena ia sendiri tidak tau.


"Hei kau, coba dekati salah satu mobil-mobil itu dan tanyakan kenapa mereka belum juga turun, cepat!" perintah Louis kepada penjaga rumah tadi.


"Baik Tuan." Jawabnya, sang penjaga rumah pun segara melaksanakan perintah dari Tuannya, ia tidak ingin kehilangan pekerjaan jika membuat pemilik rumah tersebut marah kepadanya karena menunggu terlalu lama.


Sang penjaga rumah mendekati salah satu mobil dan mengetuk-getuk kaca jendela mobil tersebut selama beberapa kali, hingga kaca mobil tersebut turun menampakkan seorang pria tampan berpakaian rapi.


"Umm ...."


"Tuan sekali lagi, tolong turun dari mobil Anda, Tuan dan Nyonya kami sudah menunggu Anda,.jika Anda tidak turun saya akan mengusir Anda dari sini, jika Anda memang tidak memiliki keperluan yang penting."


"Iya, Baiklah ... aku akan menelpon Ayah angkatku dulu." Ujar lelaki tersebut.


"Jangan lama-lama Tuan, Tuan kami tidak memiliki kesabaran yang banyak, tolong lihat di sana mereka berdua sudah menunggu Anda turun." Katanya sambil menoleh ke arah kedua majikannya tersebut.


"Hum ... Baiklah." Sahutnya, ia terpaksa turun dari mobilnya, ia lalu melambaikan tangannya sebagai kode dan semua penumpang mobil mewah tadi langsung keluar membawa beberapa bingkisan.


"Ayo, aku akan berjalan di belakangmu." Ujarnya.


Lelaki itu melangak dengan di ikuti oleh beberapa orang yang datang bersamanya, penampilan dan postur tubuh yang tengap tinggi menambah ketampannya, langkahnya langsung berhenti tak kala ia sudah berada di hadapan pemilik rumah tersebut, dengan wajah yang tersenyum ramah lelaki itu mencoba menyapa dengan ramah karena itu sudah menjadi kewajiban dan tata krama jika berkunjung kerumah orang.


"Perkenalkan saya Navier Dramino." Ucapnya memperkenalkan dirinya.


"Mau apa kau datang ke rumahku? Aku tidak mengenalmu sama sekali siapa yang memintamu datang kerumahku dengan begitu lancang!" tanya Louis begitu datar.


"Hah, apa yang Tuan ini katakan bukannya Ayah angkat dan Tuan ini sudah mereka bicarakan sebelumnya." Batin Navier ia menyegirkan alisnya karena merasa heran.


"Maaf Tuan,.saya datang kesini untuk mencari calon istri saya." Ucapnya tanpa beban.


"Apa yang kau katakan! mencari calon istri? Kau pikir rumahku ini tempat mencari istri?" bentak Louis.


"Bukan begitu maksudku Tuan."


"Terus bagaimana? sialan! Jangan berani kau bermain-main denganku." Ancam Louis menarik kerah baju Navier karena ia tidak suka akan penuturan lelaki muda itu yang menurutnya tidak sopan.


Suara keributan dari luar rumah membuat Larenia dan Lyra yang kala itu bersantai di depan Tv kini berjalan mendekati kedua orang tuannya, bersamaan dengan itu pula seorang pria paruh baya menggunakan tongkat mendekati mereka juga.


"Dad Mom ... ada apa?" tanya Larenia mendekati keduanya.


"Mom ini ada apa sebenarnya, kenapa Dad ...." ucapanya terputus saat melihat lelaki yang beberapa minggu lalu telah menjatuhkan harga dirinya.


"Ada apa kau datang kerumahku!" Larenia mendekati pria yang asing tersungkir di bawa kaki ayahnya itu, ia menarik kasar tangan lelaki tersebut entah tenaga dari mana ia bisa membuat Navier sedikit terseret akibat tarikannya.


"Sayang jangan menyentuh orang seperti dia, menjauhlah biarkan Daddy yang menyelesaikan semuanya, sebaiknya kau masuk kedalam rumah yah ... sayang." Ucap Louis menarik putrinya menjauh dari lelaki tersebut. Ia begitu tidak suka akan kehadiran lelaki itu apalagi sedari tadi lelaki itu memandang putrinya kagum.


"Baiklah Dad, aku tidak suka dengannya, dia orang sombong, Daddy usir saja dia dari rumah kita." Sahut Larenia.


.


.


.