
Navier mengelus rambut istrinya lalu memberinya kecupan singkat di keningnya.
"Tidurlah sayang, sepertinya kau masih lelah ... aku akan membuat sarapan untukmu dulu." ucap Navier lalu berdiri dari kasur meninggalkan Larenia di sana sebelum benar-benar pergi Navier terlebih dahulu meninggalkan jejak senyuman untuk istrinya.
"Hum, dia tidak melakukan apa-apa kepadaku dan pergi begitu saja setelah mencium keningku." guman Larenia merasa sedikit kecewa karena suaminya.
Gadis itu menghela napas sebelum masuk kedalaman kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
...
Di dapur Navier tengah sibuk menyiapkan roti panggang dan sereal untuk ia makan bersama dengan istrinya. Senyuman setia menemani setiap gerakan lelaki itu Navier merasa bergitu bahagia, entah kenapa istrinya itu sangat manis pagi ini.
Larenia terlihat menuruni tangga, ia berjalan kearah dapur, kedua mata gadis itu untuk sesaat tidak bergeming begitu melihat suaminya menyiapkan sarapan untuknya, jika mungkin sekarang ia berada di rumah Ayah dan Ibunya pasti Larenia akan berlari memeluk ibunya setiap pagi karena itu adalah kebiasaannya di setiap pagi sebelum pergi keluar rumah.
Larenia merasa merindukan ibunya padahal baru sehari ia berpisah dengannya. Sesaat ia menghela napas lalu melanjutkan langkahnya dan segera menarik salah satu kursi dan duduk di sana.
Navier yang kala itu melihat istrinya memberikan sebuah senyuman dan di balas oleh Larenia dengan senyum tipis.
"Sayang, ini aku sudah buatkan Roti panggang isi selai kacang untukmu dan ini susunya." Navier memberikan sepiring roti panggang yang sudah ia isi dengan selai kacang sebelumnya kepada Larenia.
"Terimakasih, Navier." ucap gadis itu menyahutinya.
"Makanlah yang banyak, aku mengambil beberapa buah dulu di lemari pendingin." ucap Navier mengelus kepala istrinya dan segera kearah lemari pendingin mengambil beberapa buah untuk istrinya makan setelah memakan sarapannya.
Lelaki itu kembali ke meja, ia mendudukkan tubuhnya di di kursi tepat di samping Larenia duduk dan menikmati sarapannya.
"Umm ... kenapa kau tidak ikut sarapan?" tanya Larenia tak kala melihat suaminya mengambil pisau buah hendak mengupas buah apel.
"Nanti saja sayang, aku belum lapar, mungkin setelah ini aku akan memakan sarapanku." ucap Navier.
Larenia hanya mengangguk seolah dirinya paham, sesekali gadis itu mencuri-curi pandang melihat suaminya yang sangat fokus mengupas kulit buah.
Larenia akui bahwa suaminya ini tampan dan sangat lembut setidaknya Navier tidak seposesif Ayahnya kepada Ibunya, ini itu lah serba di larang, bahkan terkadang Larenia sering tidak sengaja melihat Ibunya pusing akan kelakuan Ayahnya.
"Ada apa sayang?" tanya Navier menyadari jika sedari tadi ia di perhatikan.
"Ti-tidak apa-apa."
Larenia mengalihkan pandangannya tiba-tiba kearah jendela saat Navier menoleh kearahnya. Ia kembali menikmati sarapannya dengan detak jantung tidak seirama padahal Navier hanya menatapnya dengan tersenyum.
Selesai sarapan Larenia masih duduk di sana dengan kedua tangan di lipat di atas perut memperhatikan suaminya. Namun walau Navier selesai mengupas kulit buah lelaki itu belum menyentuh sarapannya sama sekali membuat Larenia mengerutkan keningnya.
"Kenapa kau belum makan sarapanmu?" tanya Larenia menunjukkan roti panggang milik suaminya.
"Kau sudah selesai sarapan, ini buah untukmu aku akan membersihkan piringmu dahulu." Kata Navier mengalihkan pembicaraan.
"Aku tidak mau mengambilnya." tolak Larenia ia mendorong piring berisi buah yang sudah di kupas oleh suaminya itu.
"Kenapa? Apa kau tidak suka buah Apel? Kau mau buah apa sayang?" tanya Navier mengedipkan kedua mata.
"Tidak, aku tidak mau buah apa-apa jika kau tidak makan sarapanmu." ujar Larenia mengancam.
"Sayang aku belum lapar, nanti aku akan memakannya." tolak Navier, Larenia semakin di buat jengkel.
"Nanti ... nanti ... nantinya itu kapan? Ayo cepat makan sarapannya, nanti kau kau sakit yang repotkan aku." ucap Larenia memaksa dan menatap tajam suaminya.
"Makanlah sarapanmu." kembali gadis itu memaksa suaminya, ia meraih piring Navier dan memberikan kepada suaminya dengan melototkan kedua mata.
"Ayo ambil dan makan."
Navier sejenak berpikir benar juga jika dirinya sakit siapa yang akan mengurus istrinya sedangkan ia tidak mau merepotkan istrinya sama sekali, jika sampai dirinya sakit karena tidak sarapan istrinya pasti akan repot dan kelelahan.
"Baiklah sayang, tapi kau mau menemaniku sarapan kan?" tanya Navier.
"Iya." jawab Larenia singkat, ia meletakkan kedua tangannya saling bertumpu memperhatikan Navier yang mulai menyantap sarapannya.
Tidak lama setelah itu suara bel pintu yang secara tiba-tiba langsung memecah keheningan di antara keduanya.
"Navier, Apa kau mengundang seseorang?" tanya Larenia lagi.
"Tidak sayang, tunggu sebentar aku akan melihatnya." ujar lelaki itu meletakkan garpu dan pisaunya.
"Tidak perlu biarkan aku saja, kau lanjutkan sarapanmu." Larenia segera berdiri mencegah dan mendahului suaminya.
Gadis itu membuka pintu rumah, ia terlihat bingung dengan orang-orang yang mendatangi kediamannya, dengan kening berkerut dan kedua tangan di silangkan di atas perut, ia menatap curiga semuanya.
"Siapa kalian dan apa tujuan kalian datang kerumahku?" tanya Larenia begitu dingin.
"Kami mau bekerja, maaf Nona siapa?" Seorang wanita paruh baya menyahutinya.
"Aku istri pemilik rumah ini, siapa yang menyuruh kalian datang kemari bekerja?" tanya Larenia dengan nada sombongnya.
"Oh ... Maafkan saya Nyonya Dramino, kami datang kemari karena suami Anda yang meminta Nyonya." ucap salah satu dari mereka.
"Nyonya? Aku tidak setua itu, panggil Nona saja." kata Larenia membenarkan.
"Baru masuk bekerja saja, aku sudah mendapat teguran dari istri pemilik rumah ini, menyedihkan sekali diriku." guman pembantu tersebut yang usianya lima tahun lebih tua dari Larenia.
"Hum, kalian adalah pembantu?" tanya Larenia.
"Iya Nona." sahut mereka bersamaan.
"Masuklah, aku akan memanggil suamiku dulu." perintah Larenia di angguki oleh mereka semua.
Delapan orang masuk mengikuti Larenia dari belakang, namun ada seorang salah satu dari mereka sedari tadi memperhatikan Larenia, tatapannya seolah penuh dengan arti.
"Kalian, tunggu sebentar dan duduklah."
"Terima kasih Nona." sahut mereka enggan untuk menuruti perkataan dari Larenia. Larenia hanya menarik senyuman sinis ia tau jika para pembantu itu tidak akan mau duduk di sofa rumahnya, seolah tidak mempedulikan mereka lagi, Larenia segera mencari suaminya di meja makan.
"Sayang siapa yang datang?" tanya Navier terlihat membersihkan meja.
"Sekumpulan pembantu."
"Oh, iya aku hampir saja aku lupa, sayang kemarin aku menelepon salah satu agen untuk mencari pembantu untuk mengurus rumah kita, apa kau tidak keberatan dengan mereka?"
"Tidak, justru itu hal yang bagus."
"Kau sebaiknya temui mereka, aku mau kembali ke kamar mengambil ponselku."
"Baiklah sayang."
Navier tiba-tiba menarik lengan Larenia yang hendak beranjak pergi dari dapur, lelaki itu mengelus wajah cantik dan mulus milik istrinya dengan lembut, lalu berpindah mengusap bibirnya yang terlihat sangat seksi.
"Kau cantik sekali sayang." puji lelaki itu sebelum mencium bibir istrinya. Sejenak kegiatan mereka yang saling membalas itu perlahan menjadi panas, suhu tubuh keduanya sudah mulia naik.
Tidak lama kemudian, Navier hendak mengiring tubuh istrinya keatas meja namun mengingat bahwa keadaan mereka sekarang tidak benar, lantas Navier terlebih dahulu mengakhirinya.
"Maaf, aku ...." ucap Navier terputus saat Larenia malah memberinya kecupan singkat di bibirnya, lalu mengedipkan satu matanya sebelum pergi meninggalkan suaminya.
.
.
.
.
.
ππ Kuy tim pelakor & tim pembinor segera menyusul.