
Keesokan harinya, sesuai dengan permintaan Larenia pagi itu Lina bangun pagi-pagi dan membangungkan cucu perempuannya dan menyuruhnya untuk bersiap-siap, sebelum berangkat Larenia di berikan nasehat berupa agar bisa menjaga diri dan memberikan sebuah semprotan merica jika Larenia dalam keadaan sulit bisa di gunakan oleh cucunya tersebut untuk mengalihkan perhatian lawan sejenak.
Di depan pintu, Larenia memeluk Neneknya sebelum berpamitan pergi, semalaman dirinya berhasil tidur nyenyak dan bisa di pastikan kali ini ia memiliki tenaga banyak.
"Nek, Nia pergi dulu." Kata Larenia sambil melepas pelukan Neneknya. Lina tampak menghela napas berat, bagaimanapun cucunya itu adalah perempuan dan sangat butuh perlindungan namun apa boleh buat Larenia tidak suka di kawal itupun hanya Jessy bisa menjadi pengawal sementara Larenia karena paksaan dari Louis dan Zenia, selebihnya Larenia menolak.
"Sampai jumpa sayang, jika ada apa-apa jangan lupa langsung hubungi Kakekmu yah ...." ujar Lina, Larenia menganggukkan kepala lalu beranjak pergi dari sana menggunakan motor sport kesayangannya.
"Semoga kau selalu baik-baik saja Nak, Nenekmu ini tidak akan bisa hidup lagi jika melihatmu terluka." Gumannya dalam hati setelah Larenia menghilang dari jangkauan matanya ia pun segera masuk kembali kedalam rumahnya.
***
Di tempat lain, seorang pria berwatakan gagah tubuhnya di penuhi dengan darah tepat di bagian tubuhnya terluka, ia masih mencoba menahan perih akibat siksaan dari orang tidak dikenal, ia di siksa dengan kejam oleh orang yang menculik dan menyiksanya sama sekali tidak berperasaan, ia mengigit bibir mencoba menahan mulutnya agar tidak mengeluarkan suara keluhan yang bisa menambah penderitaannya itu.
Kedua tangan dan kaki yang di ikat terlentang membuatnya tidak berdaya bahkan mendengar suara percakapan saja ia hanya bisa mendengar dengan samar-samar. Harapannya ia ingin sekali dirinya langsung mati saja dari pada ia terus di siksa seperti ini.
"Ya Tuhan, sampai kapan kau akan membiarkanku merasakan penyiksaan yang tidak masuk akal
ini, aku bahkan tidak tau kesalahan apa yang telah ku perbuat, mungkin lebih baik kau mengambil saja nyawaku sekarang." Batin pria itu, satu cambukan lagi berhasil mendarat di punggungnya lagi-lagi ia hanya bisa menahan sekuat tenaga dengan mengigit bibirnya hingga berdarah.
“Apa kesalahanku sebenarnya." Ucapanya begitu pelan dan terdengar paruh.
Seseorang tiba-tiba menarik dagunya menghadapkan wajahnya keatas. "Heh! Apa kau mau tau apa Kesalahanmu!" bentak orang tersebut. Pria itu menganggukan kepalanya dengan lemah rasanya tubuh dan tenaganya sudah terkuras habis, ia sendiri tidak tau apa salahnya sehingga mendapatkan penyiksaan seperti ini, seingatnya ia hanya bekerja sebagai penjaga hewan peliharaan karena dari dulu itu memang profesinya.
Plak!
Satu tamparan berhasil mengenai wajahnya lagi, ia sudah tidak tau bagaimana hancurnya tubuh dan wajahnya saai ini, mungkin sudah buruk rupa, hidungnya bahkan mmengeluarkan darah kental sedari tadi menetes mengenai lantai kotor tersebut.
"Kau sebaiknya tidak perlu tau! tapi aku mempunyai sebuah penawaran untukmu, jika kau setuju maka aku akan menghentikan penyiksaan ini jika tidak, yah ... kau tau sendiri bagimana kelanjutannya." Ucapnya memiringkan senyuman, ia memperhatikan wajah pria yang ia siksa tersebut dengan seksama, tampan dan menawan sangat cocok jika ia.jadikan sebagai salah satu anak angkatnya atau lebih tepatnya orang yang ia bisa manfaatkan.
"Ba-iklah Tu-an ... sa-ya setu-ju ...." jawabnya langsung setuju, ia tidak peduli tawaran apa yang orang itu berikan kepadanya yang penting sekarang ini ia bisa berhenti merasakan penyiksaan yang begitu sakit tersebut.
"Okay, kalau begitu setelah aku lepaskan dirimu, kau obati luka-luka di wajah dan tubuhmu dan perbaiki penampilanmu serapi mungkin dan setelah itu akan ada orang yang menjemputmu, jangan membuatku malu dengan penampilan lamamu yang kampungan." Katanya, setelah itu ia menyuruh salah satu pengawalnya untuk melepaskan ikatan tersebut dari Navier, yah nama pria yang di siksa tersebut adalah Navier Dramino sosok pria lembut anti kekerasan bahkan menyakiti seekor semut saja ia tidak tega.
Ia pernah memiliki kekasih namun seiring perkembangan hubungan mereka ia tiba-tiba di tinggalkan tanpa kabar dan sampai sekarang kekasihnya tersebut hilang tanpa kabar.
Tiga puluh menit kemudian ....
Navier sudah mengobati seluruh lukanya dengan bantuan seorang dokter cantik bernama Isabella, gadis berwatakan lemah lembut namun ternyata mentalnya kuat, melihat luka tubuh Navier tadi Isabella hanya menanggapinya biasa saja tidak menganggap luka tersebut serius membuat Navier sempat ragu, Namun setelah di obati Isabella memberikanya selebar resep obat untuk menghilangkan rasa sakit dan untuk mengeringkan lukannya.
"Maaf Tuan, seharusnya Anda duduk di kursi penumpang." Ucapnya membuat Navier menoleh kearahnya bingung.
"Tuan? Siapa yang kau maksud dengan sebutan Tuan?" tanyanya sambil mencari orang lain sempat ada orang lain selain dirinya.
“Siapa lagi kalau bukan Anda, Tuan Navier. Tuan besar telah mengangkat Anda sebagai anak angkatnya, makanya saya dengan hormat meminta Tuan agar duduk di kursi penumpang bukan di sini."
"Konyol!" cetusnya tanpa sadar, ia di buat kesal akan penuturan konyol dari supir tersebut yang mengatkan jika ia di angkat sebagai anak angkat oleh Tuan besar yang beberapa saat lalu menyiksanya bahkan berhari-hari membuat luka di tubuhnya. Dengan wajah kesal ia berpindah tempat duduk kekursi penumpang.
Dalam perjalan Navier tanpa sengaja melihat sebuah kerumunan dua kelompok berkelahi tidak pandang buluh baik itu lelaki maupun perempuan.
Terlihat saling meyakiti satu sama lain namu ada sosok perempuan yang menonjol dengan jaket kulit hitam tampak sangat menikmati perkelahian tersebut bahkan parahnya hanya dengan satu serangan perempuan itu berhasil melumpuhkan lawan. Belum sempat melihat sampai selesai mobil yang ia tumpangi sudah mejauh dan Naiver sama sekali tidak bisa melihatnya.
Tidak lama kemudian mobil hitam tersebut berhenti di sebuah gedung namun yang membuatnya bingung adalah tertulis Club Dramino, yang nama itu adalah nama belakangnya. Navier mengerutkan kening seolah tidak suka jika nama belakanganya di jadikan sebagai nama sebuah Club tempat dimana orang-orang bersenang-senang, ia memperhatkan sekitar club besar tersebut dengan seksama.
"Apa-apaan ini?" guman Navier, tanpa ia sadari seseorang perempuan tiba-tiba berada di belakangannya.
"Paman sungguh hebat, nama Club milik Mommy sudah berpindah nama pasti Daddy akan senang." Ucapnya dengan senang, ia terseyum sambil berjalan hendak masuk kedalam sana untuk menemui pemilik baru club milik dari ibunya sebelumnya.
Naiver yang tanpa sengaja mendengarnya pun mengikuti langkah perempuan tersebut, bau parfum perempuan itu sangat wangi berbeda dari wangi-wangi parfum dari biasa orang-orang gunakan bahkan sepertinya sudah menjadi wangi ciri khas dari perempuan itu. Navier terus mengikuti langkah perempuan itu etah sejak kapan kini kedua kakinya berhasil menginjak lantai club mewah tersebut bahkan seakan membuat Navier takjub akan isi dan prabotannya yang sangat mewah perpaduan warna putih warna emas dan hitam yang membuat siapapun akan betah berada di dalam sana.
"Hum ... aku menunggu di sini saja mungkin pemiilik barunya belum datang." Guman Larenia, ia mengaruk kepalanya, baru saja dirinya menang dan hendak merayakan kemenangannya namun telepon masuk dari pamannya membuat ia mengurungkan niat tersebut. Ia langsung datang kesini.
Sembari menunggu Larenia beberapa kali meregankan tubuhnya yang terasa sedikit lelah, ia pada akhirnya langsung memesan sebotol wine untuk ia nikmati, meski hari sudah siang Larenia selalu membawa obat pereda mabuk jadi dirinya tidak akan pernah merasakan mabuk ataupun pusing sedikitpun setelah mengahabisi sebotol wine tersebut.
"Sungguh perempuan yang menarik, tapi sayang sekali sepertinya ia anak orang kaya dan pasti dia orang sombong." Batin Navier dari pojokan ia memilih duduk disana untuk sekedar memperhatiikan gerak gerik perempuan yang telah berhasil menarik perhatiannya.
Setelah beberapa lama ia baru saja menyadari jika perempuan yang sekarang berada di ruangan bersamanya adalah perempuan yang beberapa saat lalu ia liat berkelahi, karena satu-satunya perempuan yang pernampilan seperti ini mungkin hanya perempuan yang bersamanya sekarang, dan Navier sangat yakin akan hal itu.
.
.
.
.