
Larenia di hentikan oleh sekretaris ayahnya tepat saat ia hendak masuk keruangan CEO, gadis itu berdecak.
"Kenapa kau menghalangiku, menyingkirlah!" seru Larenia mengangkat wajahnya menantang sekretaris ayahnya itu.
"Hai, kau siapa, sedang ada keperluan apa di sini?" tanya sekretaris itu dengan wajah mengejek karena sebelumnya ia adalah salah sekretaris baru ayahnya dan untuk sementara mengganti Anton, hingga ia tidak bisa mengenali Larenia yang anak dari atasannya.
Larenia memperhatikan penampilan wanita itu dari atas hingga bawa, mulutnya beguman sembari menilai penampilan sekretaris itu yang lebih mirip seorang penggoda dengan make up menor dan pakaian mini.
"Dasar wanita liar, kau mau menggoda siapa dengan berpakaian seperti ini, menjijikkan!" Larenia berucap dengan hinaannya lalu segera menyingkirkan sekretaris itu dan membuka pintu ruangan ayahnya.
"Kurang ajar, kau pasti pegawai baru beraninya kau datang ke sini, kau di larang masuk." bentak sekretaris tersebut menarik tangan Larenia, namun segera di. hempaskan dengan kasar.
"Jangan menghalangiku, aku ada keperluan dengan pemilik perusahaan ini!" ucap Larenia.
"Kau pasti berbohong, jangan harap dengan penampilanmu yang jelek seperti ini kau bisa menggoda Bos besar, becerminlah!"
"Dasar buta, siapa yang kau sebut jelek!" seru Larenia tidak terima ia menjambak rambut sekretaris ayahnya itu yang bernama Valen.
Valen berusaha melepaskan cengkeraman Larenia dari rambutnya yang sangat erat hingga membuatnya mengerang sakit.
"Seharusnya kau lah yang harus bercermin, buka matamu lebar-lebar baru kau menilai orang." lanjut Larenia lalu mendorong tubuh wanita itu setelah merasa puas, ia kembali merapikan penampilannya dan mencibir Valen. Lerenia hendak masuk namun lagi-lagi ia tahan dengan tangannya di tarik oleh Valen yang bersih kukuh tidak membiarkan dirinya masuk.
Louis yang berada di dalam ruangan mendengar suara keributan dari luar lantas beranjak dari meja kerjanya lalu segera mencari tau apa yang terjadi sebenarnya.
"Lepaskan tanganku!" suara putrinya terdengar sangat ribut dan salah satu sekretarisnya di sana, pria paruh baya itu hanya bisa menghela napasnya, ia harus segera melerai perkelahian putri nya, Louis tidak mau jika putri nya kenapa-napa.
"Valen, sudah aku yang menyuruhnya menemuiku." ucap Louis datar namun terdengar kesal.
"Tapi Tuan, Dia ini-"
"Sudah kau kembali bekerja." perintah Louis memutus ucapan Valen yaitu sekretaris barunya.
"Baik Tuan, saya akan kembali bekerja, saya mohon pamit." pamit Valen tertunduk, melangkah mundur segera menuju meja kerja miliknya yang tidak jauh dari pintu ruangan kerja Bosnya.
Larenia hanya tersenyum miring melipat tangannya melihat wanita itu saat di perintah oleh Ayahnya, gadis itu tersenyum lalu mengedipkan satu matanya kepada Louis.
"Ayo, masuk sayang." ajak Louis dengan suara di kecilkan. Ia menarik tangan Larenia masuk kedalam sana.
"Iya, Dad." sahut Larenia.
Setibanya di dalam ruangan, Larenia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa yang berwarna coklat di dalam ruangan Ayahnya sungguh nyaman, rasanya suasana ruangan Ayahnya tidak pernah berubah selama beberapa tahun terakhir ia berkunjung.
"Nak, kau mau minum apa atau kau lapar, ini sudah waktunya makan siang, biar Daddy pesankan makanan untukmu." Louis berucap lembut.
"Tidak perlu, Dad. Sebenarnya kenapa Daddy memintaku datang kesini?" tanya Larenia.
"Kami baik-baik saja Dad. Navier sangat baik kepadaku."
"Ternyata benar kata Daddy, kalau menikah itu menyenangkan." lanjut Larenia tersenyum manis.
Louis yang memahami perkataan dari putrinya ikut merasa senang, setidaknya ia sudah menikahkan putri kesayangannya dengan lelaki yang tepat bukan seperti lawan bisnisnya kini yaitu Mikel yang juga menyukai anak perempuannya sejak lama.
Louis tidak mau orang seperti Mikel yang pejahat wanita menjadi menantunya, itu sebuah mimpi buruk bagi Louis sebagai seorang ayah.
"Syukurlah sayang, Daddy seperti nya tidak salah menikahmu dengan Navier."
"Oh iya, Nak. besok kau bisa mulai bekerja untuk hari ini kau temani daddy di sini saja, lakukan apapun yang kau suka." ucap Louis.
Larenia menganggukkan kepala dan duduk dengan santainya disana. Ini sebuah keuntungan baginya karena ia hari ini akan istirahat di ruangan ayahnya saja menunggu sampai pekerjaan Louis selesai dan mengantarnya ke tempat suaminya.
***
Mikel menghisap puntung rokok, ia di buat pusing dengan apa yang semua terjadi kepadanya belakangan ini.
Lelaki itu selalu memantau kemanapun Larenia pergi dengan menyewa seseorang untuk mengikuti gadisnya, ia sudah tidak peduli jika Larenia sudah menikah dengan orang lain, karena selamanya yang berhak menjadi pendamping gadis itu hanya dirinya saja.
Apalagi Mikel sudah tau jika sebelumnya Navier adalah orang yang berasal dari kalangan orang biasa, pasti orang seperti itu tidak pantas bersama dengan Larenia.
Senyuman simrik terlihat di wajah pria berusia dua puluh enam tahun itu, wajahnya di penuhi dengan rambut halus semakin menambah wibawanya sebagai lelaki sejati.
"Larenia, jika kau tau siapa sebenarnya suamimu itu kau pasti akan mau berpisah dengannya, dia hanyalah lelaki yang di gunakan oleh pria tua bangka sialan itu sebagai balas dendamnya kepadaku, huh!" guman Mikel sekali lagi menghisap puntung rokoknya sebelum habis.
Bisa di katakan jika ia adalah pria berengsek, tapi bukankah wajar jika Mikel juga menginginkan seorang perempuan yang ia cintai untuk menjadi istrinya, seberensek apapun dirinya Mikel tetap ingin perempuan dari keluarga baik-baik seperti Larenia.
Mungkin obsesi telah membutakan Mikel dan tambah keunikan Larenia membuat lagi-lagi pria itu menginginkan Larenia.
.
.
.
.
.
Gak suka Mikel. ππ playboy kelas kakap.