The Devil Wife Season 2

The Devil Wife Season 2
"Kecewa."



Tidak terlihat kemesraan di antara kedua pasangan suami istri itu, terlihat sang wanita hanya diam sambil sepotong menyuap steak kesukaannya walau sesekali ia melirik kearah suaminya.


"Umm ... Navier, untuk apa kau menyiapkan semua ini?" tanya Larenia pada akhirnya, kepalanya di penuhi dengan pertanyaan tentang hiasan cantik di tempat mereka makan malam sekarang.


Navier meletakkan garpu dan pisaunya lalu meraih tangan sang istri menatapnya lekat.


"Sayang, aku menyiapkan ini semua untuk dirimu? Karena aku mencintaimu makanya aku siap untuk melakukan apa saja demi membahagiakanmu, termasuk dengan cara makan malam romantis seperti saat ini." ujar Navier dengan senyumannya.


"Jadi kamu, kau melakukan ini semua untukku? Tapi kenapa? dan untuk apa?" tanya Larenia dengan senyum miring di wajahnya.


"Kenapa kau bertanya seperti itu sayang, apa ada yang salah dengan kejutanku?"


"Tidak ada yang salah, tapi aku hanya merasa jika kau sangat berlebihan Navier, aku sebenarnya tidak suka dengan hal semacam ini, lain kali kau tidak perlu melakukan hal romantis seperti ini lagi, apalagi di tepi kolam seperti ini ... aku benar-benar tidak suka." ucapnya berhasil membuat Navier mengerutkan kening.


"Tapi kanapa kau tidak suka, semua wanita suka hal-hal semacam ini, aku hanya ingin membahagiakanmu saja. Apa tidakanku salah lagi di matamu?" ujar Navier dengan raut wajah penuh rasa kecewa, Larenia tidak pernah menghargainya sekalipun. Ia bahkan merasa terkadang hanya di anggap sebagain angin berlalu oleh istrinya, sifat Larenia tidak pernah berubah masih saja sama.


Padahal Navier sebelumnya yakin jika Larenia adalah gadis baik dan penurut namun nyatanya tidak. Istrinya itu sangat keras kepala dan sulit untuk di atur.


"Jangan sama aku dengan wanita lain Navier! Aku tidak suka di samakan oleh wanita lain." kata Larenia terdengar datar namun seperti membentak Navier.


Hati kecil lelaki itu terasa sangat sakit mendegar perkataan kasar Larenia sekian kalinya, jika sebelumnya Navier mencoba bersabar namun beda kali ini, ia menatap kedua mata Larenia dengan rasa kesal dan rasa marah yang sejak lama ia pendam.


"Tidak bisakah kau menghargaiku sedikit saja, walau kau tidak mencintaiku Larenia ... namun bagaimanapun juga aku adalah suamimu dan akan tetap seperti itu selamanya, tidak bisakah kau bicara lebih sopan kepadaku." seru Navier dengan nada kesal.


"Humm ...."


"Apa kau bisa menghargaiku sedikit saja. apa kau tidak bahagia menikah denganku? jika memang seperti itu aku minta maaf." ucap Navier, hatinya begitu kecewa kali ini.


"Hei, ada apa denganmu?" tanya Larenia heran, tidak biasanya suaminya akan berkata sepeti itu kepadanya. Ia menatap kedua mata Navier dengan intens. Namun lelaki itu hanya diam dan mengalihkan tatapannya bahkan Navier sudah melepaskan gengaman tangannya.


"Kau kenapa?" tanya Larenia lagi.


"Navier, kau sebenaranya kenapa? Ayo bicaralah." pinta gadis itu kini ia sendiri yang.meraih tangan suaminya.


Navier hanya menggeleng. "Sudahlah dan lupakan, ayo kita kembali kerumah ... aku lelah." ucap Navier, ia segera berdiri dan mengajak Larenia kembali ke rumah, Lelaki berusia dua puluh lima tahun tersebut merasa sangat kecewa akan istrinya. Dan ini untuk pertama kalinya Navier merasa benar-benar tidak di hargai sebagai suami, terbilang pernikahannya dengan Larenia hampir dua bulan namun tidak ada perubahaan sama sekali.


Sikap Larenia tetap kurang ajar bahkan kepada para pembantu saja istrinya itu semena-mena, perilaku sopan santun tampak tidak ada bagi Larenia. Sombong dan egois itulah sebutan yang cocok untuk mengambarkan kepribadian gadis itu, meski begitu Navier tidak pernah menyesal telah menikah dengan gadis yang membuatnya jatuh cinta tepat pertama kali bertemu.


***


Sesampainya di rumah, Larenia tidak langsung turun. Pikirannya masih kalut akan perubahan Navier yang tiba-tiba dingin kepadanya.


"Ayo turun, kenapa kau hanya diam saja." seru Navier dengan wajah datar.


"Baiklah."


Setelah mendengar sahutan sang istri, Navier langsung turun dan segara melangkah masuk tanpa menunggu Larenia, sekarang keadaan terbalik, jika dahulu Larenia yang sering meninggalkan Navier kini yang terjadi justru sebaliknya.


"Dia meninggalkanku, apa dia benar-benar marah?" guman Larenia menatap punggung suaminya yang hampir sampai di depan pintu masuk rumahnya.


"Hah ... padahal tadi aku cuma mau menggodanya saja, apa dia benar-benar kasal kepadaku?"


"Menyebalkan, ahh sial ...." decihnya dengan kesal kapada dirinya sendiri, niatnya untuk menggoda Navier justru menjadi masalah.


"Navier tunggu aku." teriaknya. Larenia segera menyusul Navier dengan berlari.  Hing heels yang ia kenakan membuat Larenia sedikit kesulitan berjalan hingga dirinya jatuh. "Auh ... Navier." keluh Larenia pelan, mencoba bangkit lututnya berdarah mencoba ia tahan, Larenia tidak mau selalu bergantung kepada orang lain makanya ia berinisiatif untuk berdiri tanpa meminta bantuan, namun sebelum ia berhasil berdiri tiba-tiba tubuhnya terangkat.


"Hati-hati, lihat kau jatuh kan." Kata Navier, tiba-tiba saja lelaki itu mengendong Larenia, hingga membuat senyuman lebar merkah di wajah gadis muda tersebut.


"Terima kasih dan maaf." ucap Larenia sontak membuat lelaki itu langsung menatap sang istri di gendongannya.


"Iya." Sahut Navair singkat, ia tersenyum tipis kepada istrinya, lalu melangkah sambil mengendong istrinya masuk kedalam rumah.


"Navier, aku ...." ucap Larenia, ia ingin menyampaikan penyesalannya kepada sang suami, walau ia tidak terlalu suka dengan kejutan Navier namun gadis itu sadar jika dirinya yang bersalah.


"Jangan banyak bergerak, diamlah."


.


.


.


.