THE ALEXIS

THE ALEXIS
THE LITTLE ANGEL



Lapangan tembak sore hari….


DORR!!


Ini adalah peluru terakhir yang dilontarkannya. Sasaran tembak di depan sana berlubang tepat di tengah sasaran utama. Meski dua puluh kali tembakan di lontarkan, hanya ada satu lubang yang tercetak di depan sana. Apakah peluru lainnya meleset dari target sasarannya?


Tidak. Bukan karena sembilan belas peluru lainnya meleset, tapi karena semua peluru itu tidak pernah meleset. Yah, semua peluru tak pernah meleset barang seinchi pun dari sasaran awalnya, sehingga hanya mencetak satu lubang di sana.


Tatapannya yang tadinya sangat tajam, kini berubah menjadi sangat kosong. Seluruh amarah dan rasa kesal yang menyesakkan dada, kini telah reda. Namun meskipun begitu, hati dan pikirannya terasa begitu kosong. Seolah ada yang hilang dari dalam dirinya.


Kedamaian dalam dirinya. Yah, ia telah kehilangan ketenangan dalam hatinya. Seandainya ia bisa memutar waktu, ia ingin kembali ke masa lalu. Karena ia sangat merindukan rasa aman dan nyaman yang ia peroleh dulu.


Saat ini ia pun sadar, bahwa amarahnya belum benar-benar reda. Ini hanya lah sementara. Tidak ada ketenangan dan kenyamanan di dalam sana. Masih banyak hal yang berkecamuk di dada. Ia masih bisa meledak kapan saja.


Suara tepuk tangan menyadarkannya. Ia menurunkan hand gun nya, berbalik dan meletakkannya di atas meja. Senyum manis yang mengembang diterimanya saat mendongakkan kepala. Ia hanya menarik sudut bibirnya sebagai balasannya.


“Sudah puas?”


“Sepertinya akan lebih puas jika peluru itu mengenai sasaran hidup.” Seru Khiara sambil memicingkan matanya pada seseorang di depannya.


“Waw, ayo lah kak. Kau tidak berniat melampiaskan kekesalan mu itu dengan membunuh adikmu ini, bukan? Tadi kau berkata ingin meledakkan kepalaku juga, membuatku berfikir jika kata-katamu itu tidak main-main.” Adik Khiara memberikan gesture tubuh seolah sedang gemetar ketakutan.


Khiara hanya menyeringai mendengarnya. Mereka segera menyingkir dari sana. Dan petugas pun membereskan barang-barang mereka.


Yah, begini lah seorang Khiara. Emosinya tidak akan reda sebelum ia melepaskan benda-benda berbahan timah, baja, atau sejenisnya. Cara ini sangat efektif untuknya, dan baru ia temukan setelah beberapa tahun belakangan.


Setelah kekacauan yang dibuatnya, ia langsung mencari tempat latihan menembak. Yang ternyata ada satu di area komplek kopaska, tidak jauh dari rumahnya. Ia yang memiliki lisensi penggunaan senjata api segera mendaftarkan diri. Dan begitu lah akhirnya bagaimana ia bisa sampai di tempat latihan ini.


“Bagaimana kabar, Kaiven?”


“Kau akan melihatnya sendiri setelah ini.” Ujarnya setelah mereka duduk di ruang makan tempat latihan. Adiknya mulai melakukan VC dengan seseorang.


“Hai, boy. What are you doing?” Sapa Khiara saat layar di depannya menampilkan seorang anak yang sedang bermain-main dengan mainannya. Anak itu menoleh saat mendengar suara Khiara lalu berlari menuju kamera. Anak itu nampak begitu sangat bahagia. “Do yo miss me, huh?”


“Yes, beauty.” Balasnya penuh dengan keceriaan.


“Hey, apa kau hanya merindukannya, huh? Kau tidak merindukan kakak laki-lakimu yang tampan ini?”


“Oh, Kael sayang. Sepertinya kau memang harus kecewa. Kaiven hanya merindukan Khiara. Hanya nama Khiara yang terus disebutnya.” Kali ini seorang wanita paruh baya yang membalas pertanyaannya. Ia adalah ibu mereka, Mrs. Kelly.


“Oh, apa-apaan ini? Aku yang selama ini menjadi baby sister-nya kenapa hanya kau yang di rindukannya?” Protes Kael pada kakaknya.


“Tentu saja, itu sudah pasti. Karena aku lah yang paling cantik di antara kalian.” Seru Khiara dengan wajah kemenangannya.


“Oh, beserta mama tentunya.” Ia segera memperbaiki kata-katanya setelah melirik ibunya yang sudah melotot kepadanya.


Tak bosan-bosannya Khiara memandangi Kaiven yang terus bermain dan berceloteh di sana, ia selalu menanggapi apa saja yang keluar dari bibir mungilnya. Malaikat kecil yang hadir ditengah mereka ini lah yang sering kali menjadi obat untuknya.


Di dalam kartu keluarganya, ada empat orang anak yang tercatat di dalamnya. Dan masing-masing dari mereka memiliki rentang usia yang terpaut cukup jauh. Kakak laki-lakinya dan Khiara terpaut sebelas tahun jauhnya. Sedangkan Khiara dan Kael selisih tujuh tahun. Sementara Kael dan Kaiven lebih jauh lagi, yaitu tiga belas tahun lamanya. Sungguh terlalu jauh bukan?


Dan Kaiven adalah obat dari segala obat bagi keluarga mereka. Anak itu begitu cerdas, dia sudah bisa berjalan dan berbicara di usia kurang dari satu tahun. Sedangkan kini usianya sudah menginjak hampir tiga tahun. Makanya dia sudah sangat aktiv berlarian kesana-kemari dan berceloteh ria.


Sebenarnya anak ini sangat irit bicara, hanya saja saat bersama Khiara dia akan sangat aktif berbicara. Entah apa alasannya. Mungkin salah satunya karena Khiara selalu mengajaknya berbicara setiap harinya. Meski saat ini jarak harus memisahkan mereka.


“Kenapa dia tampan sekali? Bagaimana bisa anak setampan ini lahir ke dunia ini?” Seru kekaguman Khiara mencuat begitu saja saat mengamati Kaiven bermain.


“Tentu saja bisa! Tuhan tentu tau jika ketampanannya memang seharusnya menghiasai dunia yang sudah renta ini. Dari pada menghiasi surga yang jelas-jelas sudah indah dengan para bidadari. Dia hanya akan jadi rebutan dewi-dewi surga nantinya.” Khira melirik adik laki-lakinya itu dan tersenyum di sudut bibirnya.


Di sisi lain, Alex tengah sibuk dengan berkas-berkas perusahaan ibunya yang tengah dipimpin olehnya. Selepas kuliah, dia memang segera kembali ke kantor perusahaan ibunya itu. Sudah dua tahun ini dia kembali merintis perusahaan ibunya yang telah collapse.


Dengan kecerdasan dan kemampuan Alex di bidang usaha dan bisnis, perusahaan itu bisa kembali berdiri dalam waktu singkat. Meskipun dapat berdiri kembali dalam waktu singkat, namun bukan berarti dia melakukannya dengan semudah membalikkan telapak tangan.


Perusahaan ibunya bergerak pada sektor batu bara, sedangkan dia sendiri lebih ahli di bidang teknologi. Maka, mau tak mau dia harus belajar lagi mengenai sektor usaha ini. Dua tahun ini dia cukup sibuk dengan mempelajari sektor bisnis baru ini. Karena sebagai CEO yang kompeten, dia tentu tidak boleh hanya menguasai ilmu manajemen bisnis saja, bukan?


Tok___Tok___Tok___


"Masuk!" ujarnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari tumpukan berkas-berkas yang ada di mejanya.


"Bisa kah kau menandatangi ini?" Ata menyerahkan map di depan Alex.


Alex membaca dengan seksama isi dari map tersebut. Tanpa ragu dia langsung menandatanginya setelah di rasa tidak ada kesalahan di dalamnya.


"Dimana Khiara?"


"Lapangan tembak." Alex mengangkat wajahnya. Alisnya berkerut. "Ah iya, aku belum memberitahukannya, dulu sewaktu SMA gadismu itu adalah atlet tembak."


"Atlet tembak?" Alex berfikir sejenak. "Airsoftgun?"


Ata menggeleng, "senjata api."


Alex cukup terkejut mendengarnya.


"Tapi dia tidak pernah mau masuk tim nasional," imbuh Ata.


"Kenapa?"


"Entahlah, tapi menurut berita yang beredar banyak yang menilai bahwa dia hanya sekedar ingin mendapatkan lisensi." Lanjut Ata sambil mendaratkan pantatnya di sofa empuk ruang kerja Alex. "Padahal ketepatan menembaknya sungguh sangat akurat."


Ata melemparkan ponselnya pada Alex yang di tangkap sempurna oleh Alex dengan tangan kirinya. Kini Alex sudah duduk di depan Ata. Dia melihat foto-foto yang telah di ambil oleh Ata beberapa saat lalu. Hanya ada satu lubang peluru yang terpampang pada papan target.


"Khiara hanya menembak sekali?"


"Dua puluh kali!" Ata menekankan pada setiap katanya. Kedua alis Alex terangkat sempurna saat mendengarnya. Takjub, itu lah yang kini tengah dirasakannya.


"Sepertinya gadis kecilmu itu tipikal wanita kuat."


"Yah, dia memang sangat kuat jika dilihat dari luar." Ata mengangguk menanggapinya.


"Aku bahkan tidak menyangka kalau ternyata dia adalah malaikat kecilmu yang selama ini kau cari-cari. Karena, jujur dia sangat berbeda dari bayangan ku." Alex hanya tersenyum tipis menanggapinya. Ata sendiri teringat bagaimana kekacauan hingga perjuangan sahabatnya itu untuk mencari gadis itu.


Gadis yang telah memporak-porandakan hati seorang Alexander, yang Ata sendiri tidak tau bagaimana caranya gadis itu melakukannya. Karena Alexander yang dia kenal, bukan lah orang yang bisa dengan mudah di jamah oleh sembarang orang, terutama seorang wanita.


Apakah justru sikap bar-barnya itu yang mampu menaklukkan sahabatnya itu? Ata mencoba untuk menerka-nerka.


Dan kini, di saat perhatian Alex teralihkan dengan masalah keluarganya, gadis yang telah menjelma menjadi wanita yang lebih cantik itu justru muncul dengan sendirinya. Apakah ini hanya kebetulan? Atau kah ada sebuah rencana dibalik ini semua? Entahlah, kita akan melihatnya nanti.


"Em, tapi sepertinya dia tidak mengenalimu. Apa terjadi sesuatu padanya? Seperti amnesia, mungkin?"


"Entahlah, itu tugasmu untuk mencari taunya." Lagi-lagi Alex memberinya tugas dengan semena-mena. Tapi Ata sendiri sebenarnya tidak keberatan dengan perintah Alex. Dia akan senang hati melakukannya jika itu bisa membuat Alex bahagia.


......***......