THE ALEXIS

THE ALEXIS
HIS TRUE IDENTITY



“Maaf karena tidak memberitaukan hal ini padamu, Nak. Tapi kami terpaksa harus menyembunyikan semua ini," ujar Hutama dengan raut wajah sedih dan penuh penyesalan. “Tapi percayalah! Orang ini bukan lah orang yang jahat.”


“Tapi untuk apa? Dan siapa dia?” Krisna membrondong ayahnya dengan tidak sabar.


“Dia adalah saudara kembar Alex, Alexander Smith.”


“Tunggu! Bukan Jester Alexander?" sergah Aditya. Seluruh orang nampak begitu kaget dengan penuturan Hutama.


"Jester Alexander adalah namanya saat ini, sedangkan nama aslinya adalah Alexander Smith," jelas Hutama.


"Kenapa dia mengubah namanya?" Kini Krisna yang mengutarakan rasa penasarannya.


"Ayah juga kurang tahu kenapa dia sampai mengubah namanya."


Alexander Sebastian-Sebastian Alexander, Smith Alexander-Alexander Smith. Nama-nama ini bisa dibolak balik dengan mudah, jika ada kesalahan penempatan nama marga, maka akan fatal pula hasilnya. 


Alexander Smith? Entah mengapa Khiara merasa tidak asing dengan nama itu. Tapi di mana dia penah mendengarnya? Entahlah, Khiara sendiri tidak bisa mengingatnya. Tapi entah mengapa nama itu terpatri erat di tempurung otaknya yang paling dalam.


“Dan salah satu alasan Mrs  Seran meminta identitas dari panti asuhan adalah untuk melindunginya dari mantan suaminya," Hutama melanjutkan.


“Tapi aku tidak menemukan surat perceraian Mrs. Seran. Bahkan Akte nikah pun tidak ada," ujar Khiara.


“Itu karena mereka hanya melakukan pernikahan secara agama. Seperti kalian tahu, di luar sana banyak sekali pasangan yang tidak terikat dengan sebuah pernikahan.” 


Kening Khiara berkerut, masih belum puas dengan jawaban Mr. Hutama. Begitu pula dengan yang lainnya. Seakan mereka menuntut lebih dari penjelasan ini.


“Lebih baik Om menceritakannya dari awal hingga akhir. Kami tidak mengerti jika Om menceritakannya dengan melompat-lompat seperti ini.” Ujar Endra diikuti anggukan dari semuanya. 


Hutama menghela nafas, seolah pasrah dengan kejelian anak-anaknya. Sedangkan Khiara hanya berdiam diri menunggu. Seolah tahu bahwa Mr. Hutama memang sengaja menceritakannya secara acak untuk membuat otak mereka carut-marut dan melewatkan sesuatu.


“Mrs. Seran merupakan wanita yang cantik, cerdas lemah-lembut, penuh kasih sayang dan tegas. Beliau adalah wanita yang mandiri. Setelah lulus SMA beliau menempuh pendidikannya di London University. Dan saat usianya menginjak 20 tahun, beliau dijodohkan dengan seorang pengusaha dari Amerika." Hutama menjeda penjelasanny


"Aku sendiri tidak tau siapakah pengusaha ini, karena Mrs. Seran tidak pernah membiarkan orang tau siapakah mantan suaminya tersebut. Mereka dipaksa untuk melakukan penjajakan satu sama lain dengan tinggal di rumah sang pengusaha di London. Tapi Mrs. Seran menolaknya.”


“Menolak?” Krisna menyela.


“Yah, Mrs. Seran menolaknya untuk tinggal dalam satu rumah tanpa adanya ikatan pernikahan. Sedangkan sang pengusaha juga tidak bisa menikah dalam waktu dekat. Entah apa alasannya. Akhirnya kedua bela pihak sepakat untuk menikahkan mereka secara agama tanpa mendaftarkannya di negara hingga waktunya tiba." Mereka semua menganggukkan kepala dengan penuturan Hutama.


"Dan sampai pada akhirnya Mrs. Seran mengetahui bahwa suaminya bukanlah orang yang baik dan sering menerima perlakuan tidak manusiawi, maka beliau memutuskan untuk bercerai. Maka perjanjian kedua bela pihak pun dibatalkan dan Mrs seran kembali ke tanah air. Tapi tak disangka, pernikahan singkat mereka ternyata menghasilkan dua anak manusia di dalam tubuh Mrs. Seran.”


“Beliau tetap membesarkan mereka di sini?” masih Krisna yang bertanya.


“Tidak, memiliki anak tanpa seorang suami adalah suatu yang sangat memalukan di negara ini saat itu. Tidak seperti sekarang yang seakan memiliki anak diluar nikah adalah hal yang biasa.” 


Ada nada mencemooh dari kalimat Hutama. Dan di sini ada dua orang yang tersindir tanpa beliau sadari. Adit dan Khiara. Adit menoleh pada Khiara yang ternyata sedang memejamkan matanya erat untuk menahan sesuatu di dalam dadanya.


“Hahaha ... maaf, maaf! Om terlalu terbawa perasaan. Beliau mengungsi ke Moskow selama hamil hingga kelahiran dua putranya. Dan ternyata hal tersebut di dengar oleh mantan suaminya sehingga salah satu anak diminta paksa. Akhirnya dengan terpaksa Mrs. Seran menyerahkan salah satu anaknya dengan syarat anaknya harus menyandang nama yang sama dan diperkenankan menghubungi anaknya.”


“Apa Smith adalah nama keluarga ayahnya?” Khiara menyela.


“Om tidak tahu. Hanya nama Alexander yang diberikan oleh Mrs. Seran, maka selebihnya masing-masing dari mereka yang menyematkan nama untuk masing-masing anak yang mereka bawa. Seharusnya seperti itu, tapi Alex yang satu ini justru menggunakan nama Alexander sebagai nama belakangnya.”


“Smith.” Khira mengucapkanya kembali dengan lirih. Nama itu sangat mengusik pikirannya. Otaknya serasa berdentam-dentam di balik tempurung kepalanya. 


Tiba-tiba segelas air putih tersodor di depannya saat dia sedang meremas rambutnya. Dia mengangkat kepalanya, ternyata itu adalah Endra yang berdiri di sampingnya.


“Minumlah!" Dia menawari sambil mengusap keringat, dan menyibakkan poni tipis yang menutupi kening Khiara ke belakang. Khiara pun menerima gelas tersebut lalu menenggaknya.


“Ada apa?” Artha yang kini bertanya dengan khawatir. Dan Khiara langsung menggerakkan tangan kirinya memberi tanda bahwa dia baik-baik saja sambil meminum air itu dengan rakus.


“Mungkin dia kelelahan, dia tidak tidur sejak tadi malam, bukan?” jelas Endra yang langsung duduk di sandaran tangan kursi putar itu sambil membelai kepala Khiara dengan lembut.


“Kau benar-benar tidak apa-apa, Sayang?” Bahkan Hutama pun ikut khawatir karenanya.


“Tidak apa-apa Om, lanjutkanlah.”


“Baiklah, sampai mana tadi?”


“Sampai nama," ujar Endra sambil mengusap-usap lengan kiri Khiara. Khiara menoleh pada Endra yang menatap lurus pada Hutama. Endra terlihat begitu tenang dan seolah terbiasa. “Kau baik-baik saja?” Endra sudah beralih kepadanya. 


Dan Khiara pun menganggukkan kepala. Entah bagaimana Endra bisa tahu bahwa Khiara sedang memikirkan sesuatu yang mengganggunya. “Bagus, kita dengarkan lagi cerita Om Hutama.”


“Saat kembali ke tanah air, Mrs. Seran meminta bantuan pada sebuah panti asuhan untuk membuat indentitas bagi anak yang dibawanya untuk melindungi anaknya dari cap anak haram. Meski sebenarnya dia bukan lah anak haram. Dan yang paling penting menyamarkan identitasnya dari mantan suaminya."


"Beliau melanjutkan kuliah di tanah air dan mulai mengambil alih perusahaan keluarganya dan kerap kali mengajak Alex kecil ke kantornya. Namun sayangnya, ternyata anaknya yang satu itu tidak memiliki ketertarikan pada dunia bisnis.”


“Lalu apa yang dia minati?” tanya Adit.


“Musik," balas Krisna.


“Benar, bahkan dia adalah seorang yang jenius di bidang musik. Maka dia pun mengambil seni musik di perguruan tinggi, kemudian baru mengambil management sesaat sebelum Mrs. Seran Wafat. Jika tidak salah usianya saat itu adalah 20 tahun," lanjut Hutama.


“Di universitas yang sama?” tanya Artha.


“Ya. Dan terpaksa dia harus menghandle perusahaan Mrs. Seran sendiri dengan bantuanku di sampingnya. Tapi tetap saja saat itu dia belum siap. Kematian ibunya sungguh membuatnya terpukul hingga pikirannya pun kacau. Apalagi bisnis masih awam baginya. Dia belum mengerti dengan benar bagaimana cara menjalankan perusahaan.”


“Kenapa Om tidak menghandlenya saja hingga dia siap?” Jiwa kritis Khiara mulai muncul.


***