
Alex dan Ata tengah berada di ruang kerjanya. Saat ini mereka tengah membicarakan langkah Alex untuk selanjutnya.
“Lalu apa rencana mu, Lex?”
“Dia memberiku rasa kehilangan, jadi aku akan memberikan hal yang sama padanya. Bahkan mungkin lebih menyakitkan," ujarnya sambil memutar-mutar foto seorang gadis di tangannya.
“Kau akan membunuhnya?”
“Tergantung, seberapa berharganya adik perempuannya itu untuknya.”
“Menurutku dia sangat berharga. Lihat lah!” Ata menyerahkan tablet pada Alex. “Dia bahkan merubah semua data-data mengenai adiknya.”
“Jadi dia sangat menyayangi adiknya, heh? Oke, aku akan menggiringnya kembali kemari melalui adik tercintanya. Sungguh hubungan kakak adik yang sangat manis," tandasnya sambil meremas foto yang masih berada di tangan kirinya.
"Ironis sekali," pikirnya. Orang itu bahagia dengan adiknya, sedangkan orang itu telah merampas orang yang disayanginya. So, aku pun akan merampas adikmu! Aku tidak akan membiarkanmu bahagia dengan adikmu!
“Dengan cara?”
“Aku akan tetap di sini dan membuatnya lebih tergila-gila padaku.”
“Wait! Itu artinya.... Apakah aku juga harus menetap di sini?”
“Tentunya.”
“Sampai kapan?”
“Sampai waktu yang tidak ditentukan. Kau juga harus membantuku mengembalikan kejayaan perusahaan bunda. Hanya itu yang tersisa dari bunda. Aku harus menjaganya, aku sudah berjanji, Ta.” Ata menghembuskan nafas beratnya.
“Aku tau kalau hal itu. Hanya saja..... Aaahhh..... rasanya aku menyesal menyusulmu kemari. Jika tau kau akan menahanku di sini. Aku akan memilih tetap berbaring di LA.”
“Hahaha, aku tau kau kecewa. Tapi situasinya sudah berubah saat ini. Aku akan menggantikan kakak di sini.”
“Lalu bagaimana dengan perusahaanmu di Amerika?”
“Aku bisa menghandlenya dari sini. Lagi pula ada kau yang bisa bolak-balik untukku.”
Oh God, apa salahku padanya. Kenapa aku juga yang ikut disiksa olehnya?
Ata sangat payah dalam perjalanan jauh, dia akan terkena jet lag parah jika melakukan perjalanan lebih dari 10 jam perjalanan. Sedangkan perjalanan dari sini ke Amerika membutuhkan waktu dua puluh hingga dua puluh empat jam.
Alex tertawa melihat perubahan raut wajah Ata. Seolah dia mengerti dengan apa yang dipirkan sahabatnya itu, dia langsung menambahkan kalimatnya.
“Oya, daftarkan dirimu di kampus!”
“Hah? Untuk apa?”
“Kau harus selalu ada di sampingku, bodoh!”
“Aku tau, tapi apa aku juga harus masuk ke universitas itu?”
“Harus! Karena sewaktu-waktu kau pasti ku butuhkan disana.”
Oh ini tidak menyenangkan, Ata tau apa arti seringaian Alex saat ini.
“Lalu aku harus mengambil jurusan apa?”
“Terserah kau ingin mengambil jurusan apa.” Ata sedikit menimbang-nimbang.
“Apa aku boleh mengambil program pascasarjana?”
“Tidak bisa, ambil program sarjana! Jika kau mengambil program pascasarjana kita akan berada di gedung yang terpisah. Letaknya saja jauh sekali. Bagaimana aku bisa memanggilmu dari gedungku, bodoh!”
“Kau memang benar, tapi masa iya aku harus mengulang mata kuliah yang sama?”
“Apa kah ini hasil berfikir otak akselerasimu?” Alex memutar bola matanya karena jengah. “Kau bisa mengambil jurusan lain, tidak harus sama dengan jurusan yang telah kau selesaikan. Di fakultas yang sama!”
Hell! Ata memincingkan matanya seolah ingin menerkam Alex. Dia tidak menyukai hal ini. Di universitasnya dia bahkan sudah mempelajari semua mata kuliah yang ada di fakultasnya. Bahkan dia masuk ke ruang kelas pada mata kuliah prodi sebelah secara illegal untuk mencuri ilmu.
Alex mengangkat wajahnya dari berkas-berkas perusahaan yang sedang dipelajarinya saat tidak mendapat respon dari Ata. Keningnya berkerut. Oh, dia baru ingat bahwa Ata adalah orang yang sangat suka mempelajari hal baru. Senyum tipis tersungging di bibirnya.
“Kau boleh masuk FISIP.” Ata menyeringai mendengarnya dan mulai bersemangat lagi.
Gedung FISIP tepat bersebelahan dengan gedung fakultasnya. Bahkan ada koridor penghubung di antara dua gedung tersebut. Jadi dia bisa memanggil Ata kapan saja tanpa kesulitan.
Alex merasa geli dengan sahabatnya ini. Cara ngambeknya sama dengan wanita yang sedang merajuk. Jika saja Ata ini adalah wanita, Alex pasti sudah menikahinya sejak dulu. Karena dia lah satu-satunya orang yang mengerti dirinya dan bersedia melakukan apapun semua permintaannya dengan senang hati dan tanpa pamrih. Walau sebenarnya lebih tepat disebut sebagai perintah dari pada permintaan.
Tanpa ada yang menyadari, sesungguhnya Alex selalu tau apa yang diinginkan Ata meski Ata tidak pernah mengatakannya. Dan Alex pun selalu mengabulkan apa pun keinginannya itu tanpa sepengetahuannya. Ata sudah seperti saudara bagi Alex.
Karena selama ini Ata-lah yang terus berada di sampingnya. Dalam masa-masa sulitnya, pria itu tidak pernah meninggalkannya. Bahkan mereka memulai bisnis mereka dari nol secara bersama-sama. Mereka sudah bagaikan amplop dan prangko yang menempel dengan sempurna.
...***...