THE ALEXIS

THE ALEXIS
UNBELIEVABLE 2



Mati?


Mereka semua terkejut, tidak percaya dengan ucapan Artha. Bahkan menganggap Artha-lah yang sedang bercanda. Hal itu membuat Artha memutar kedua bola matanya karena gemas.


“Dia menghembuskan nafas terakhirnya di hari yang sama dengan kematian Shasha. Hanya saja di rumah sakit yang berbeda. Bahkan mereka dimakamkan dihari yang sama," jelas Artha.


“Jangan mengarang cerita, Tha!”


“Siapa yang mengarang cerita, bodoh!” Artha melempar bantal sofa ke arah Krisna sekuat tenaga.


“Jelas kau mengarang cerita. Dia masih hidup. Bahkan dia menemui ku di pemakaman Shasha setelah kepulangan kalian," ujar Krisna.


“Apa? Kau yakin itu dia?” tanya Artha lagi.


“Tentu saja," jawab Krisna yakin.


Artha bangkit dan menyalakan computer di sudut ruangan. Dia benci jika omongannya diragukan atau bahasa jawanya ‘dipaido’. Tak berapa lama Artha kembali dengan beberapa berkas yang telah selesai di-print.


“Cek chat-mu!" Adit segera mengecek email dari Artha bersamaan dengan kedua sahabat lainnya saat membaca berkas yang dibawa Artha.


“Namanya benar Alexander Sebastian, bukan?”


DUAAGHH!!


Sebuah godam besar seakan menghantam Krisna dengan sangat keras. Tubuhnya bergetar mengetahui kenyataan yang ada. Ini seakan mimpi baginya.


“I-ini tidak mungkin.” Krisna tidak bisa mempercayai apa yang tertera disana. “Ini pasti rekayasa!”


“Pernyataan kematian dari rumah sakit itu asli.”


“Bagaimana kau bisa mendapatkannya?” Artha menoleh pada Adit.


“Keluarga? Dia sudah tidak memiliki keluarga.” Krisna menyanggah.


“Aku tidak tau soal itu. Yang jelas di sana dijelaskan bahwa ada seseorang yang mengaku sebagai keluarganya dan membawanya pulang.” Artha menunjuk berkas yang kini mereka bawa. “Dan makamnya berada di seberang blok pemakaman Shasha," lanjut Artha.


Artha teringat saat mengunjungi makam baru dengan sedikit pelayat yang dia lihat saat pemakaman Shasha. Awalnya itu hanyalah sebuah gambling baginya, tapi dia tidak menyangka jika tebakannya benar.


“Kenapa kau tidak mencoba menanyakannya pada ayahmu?” Endra mengusulkan. Artha mengerutkan keningnya. “Om. Hutama yang menjadi walinya setelah kematian ibunya.” Endra menjelaskan. “Apa selama ini ayahmu tidak mengatakan apa pun?” Krisna menggelengkan kepalanya.


“Aku masih belum bisa mempercayai ini semua. Jika itu benar, lalu siapa yang kita temui selama ini?” tanya Krisna pada semua, terutama pada dirinya sendiri.


“Jester Alexander.” Endra membaca nama yang tertera di dalam berkas tersebut.


“Pemilik MTRC, perusahaan raksasa di bidang pengembangan teknologi.” Semua menatap Adit dengan tatapan bertanya. “Jika berita ini benar. Kemungkinan mereka berdua adalah saudara kembar. Dan dia menggantikan posisi Alex setelahnya.” Keterkejutan nampak jelas di raut wajah Krisna dan Endra. Hal ini benar-benar di luar nalar mereka.


“Kumohon, tarik kembali Khiara dari rencana ini!” Pinta Krisna setelah keheningan yang terjadi. Kekhawatirannya terhadap Alex, kini berubah pada Khiara. Mereka tidak tau orang seperti apa yang mereka hadapi saat ini.


“Apa maksudmu?” Artha menatap Krisna dengan tatapan menelisik.


“Ada rencana di balik kembalinya Khiara," ujar Adit dengan raut wajah serius.


“Dia ingin membuat Alex yang kami pikir adalah kekasih Shasha, jatuh cinta padanya untuk mengorek keterangan darinya. Mencari tau siapa pembunuh Shasha. Setelah itu menghempasnya, dan memberikan rasa sakit padanya dengan cara yang sama seperti saat dia meninggalkan Shasha di rumah sakit hingga kematiannya.” jelas Adit panjang kali lebar.


“APA?” Artha langsung berdiri mendengar penjelasan Endra. Hal gila apa ini? Kenyataan ini membuat Artha tersulut oleh kobaran api. Apalagi setelah mengetahui bahwa Alex yang sedang dekat dengan Khiara adalah Alex yang sedang mereka bicarakan. Seorang Alex yang mereka anggap adalah orang yang berbahaya dan sanggup melakukan apa saja.


Rasa khawatir pada Khiara tentu saja muncul di dada Artha. Artha segera menyambar kunci mobilnya dan keluar dari ruangan dengan membanting pintu dengan keras hingga engsel bagian atas pintu tersebut lari dari tempatnya.


“Kejar dia!” Perintah Adit pada Krisna dan Endra setelah kepergian Artha yang penuh dengan amarah. Dengan cepat mereka bergegas menyusulnya. Sudah sangat lama Artha tidak tersulut api kemarahan seperti saat ini. Mereka tau, akan ada perang besar setelah ini jika tidak segera dihentikan.


......***......