THE ALEXIS

THE ALEXIS
KHIARA'S CONDITION



Semua orang sudah berkumpul di sini, seluruh pangeran Vita Dolce berada di tempat ini tanpa terkecuali. Alex menatap semua orang yang ada di sana satu persatu.


Saat dia melangkah melewati pintu di belakangnya, dia sudah bisa merasakan tatapan permusuhan yang dilayangkan oleh seseorang. Seseorang yang tentu pernah beradu fisik dengannya. Namun, dia mengabaikannya.


Di tepi ranjang, terbaring seseorang yang terlihat begitu gelisah. Seluruh peluh membasahi tubuhnya. Perlahan dia mendekatinya dan berdiri tepat di tepi ranjang dan menatapnya dengan tatapan yang tak bisa terbaca oleh siapa pun. Wajah itu begitu lurus tanpa ekspresi. Keahliannya dalam menyembunyikan emosi benar-benar yang terbaik.


“Kenapa dia?” Tanpa melepas pandangannya pada tubuh gelisah itu, dia bertanya pada seluruh orang di sana. Namun entah mengapa pertanyaannya itu justru membuat seseorang semakin terpancing amarahnya.


Ya, bisa-bisanya Alex bertanya ‘kenapa dia?’ sedangkan wanita yang sedang terbaring saat ini menjadi seperti ini setelah bersamanya.


“Kau ...!” desis orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Artha.


Pria itu berdiri dari sofa yang terdapat di kamar tersebut. Tubuh dan tangannya serasa gatal ingin menerjang sosok pria bernama Alex ini. Namun, untung saja sebuah tangan kekar terbentang di hadapannya. Siapa lagi pemilik tangan itu jika bukan tangan sang leader, Aditya.


“Jangan membuat gara-gara di sini, Tha!” bisiknya. Aditya maju mendekati Alex yang masih saja menampilkan wajah datarnya. “Kau bisa lihat sendiri, keadaannya sedang tidak baik saat ini. Ia menolak dibawa ke rumah sakit, dan Artha juga sudah memberikan beberapa obat untuk menurunkan demamnya. Tapi demamnya selalu kembali lagi.”


“Kenapa kalian tidak memaksanya?” Aditya tersenyum tipis mendengarnya.


“Makanya kami memintamu kemari, jika kau bisa paksalah dia. Atau ... mungkin kau bisa menyembuhkannya tanpa harus membawanya ke rumah sakit.” Ada sesuatu yang tersirat di balik kata-katanya, mungkin saat ini tidak ada yang tahu apa makna di balik ucapannya. Namun setelah ini, Alex pasti bisa memahaminya.


Adit menepuk bahu Alex dan pergi meninggalkannya, begitu pula dengan yang lainnya. Meski ada seseorang yang masih ingin tetap tinggal di sana.


“Ayolah bro, jaga emosimu!” Endra memperingatkan sambil merangkul paksa Artha untuk menyeretnya keluar dari kamar tersebut.


“Apa kalian sudah gila meninggalkan mereka berdua, huh?? Kalian tahu apa yang nanti akan diperbuat oleh orang itu?” protes Artha sambil menepis lengan Endra setelah mereka keluar dan menjauh dari kamar tersebut.


“Lebih dari apa-apa,” jawab Adit bersamaan dengan sudut bibirnya yang sedikit tertarik. “Mungkin saja, dia bisa memperkosanya.” Entah apa yang ada di otak Adit yang mengatakan hal itu dengan entengnya.


“Kau sudah gila, Dit!!” teriak Artha dan hendak melesat ke kamar itu lagi jika tidak di cegah oleh Artha dan Krisna.


“Tenanglah, Tha!! Kau tidak tahu apa-apa. Kita tidak tahu apa-apa. Percalah pada Adit, jika Adit sudah turun tangan, maka tidak Ada lagi yang bisa kita lakukan. Aku percaya, pasti Adit mengetahui sesuatu di antara mereka berdua. Jadi dia pasti sudah memikirkannya matang-matang,” ujar Krisna panjang lebar sambil berusaha menahan Artha.


Percayalah, meski ada dua orang yang menahan Artha, namun tetap saja itu tidak mudah. Tenaganya mungkin bisa disamakan dengan banteng yang sedang mengamuk.


...***...


Dia menatapnya dalam, berusa menganalisa mimik wajahnya. Apakah ia sedang bermimpi? Dia bertanya-tanya, mimpi apa yang ada di dalam sana?


Senyum geli justru terukir begitu saja di bibirnya, bisa-bisanya disaat seperti ini dia justru penasaran dengan mimpi wanita itu. Dia harus segera menyelesaikan tugasnya untuk membujuknya ke rumah sakit, atau melakukan sesuatu untuk meredakan demamnya.


Tunggu, apakah ini terasa seperti sebuah tugas baginya? Bodoh, dia kembali tersenyum geli dan mengacak-acak rambutnya.


“Ok, first you have to wake up!” Alex berusaha membangunkannya. Tapi, berkali-kali dia membangunkannya ia tetap seperti putri tidur.


“Apa kau minum obat tidur?” Alex menjadi bingung dibuatnya hingga mengusap-usap tengkuknya. “Baiklah, sepertinya kita pakai cara lain,” gumamnya.


Entah sejak kapan dia suka bermonolog seperti ini. Dia melepas jaketnya dan menaruhnya di kursi yang ada di dekat sana dan meraih remot AC untuk mengatur suhu ruangan agar nyaman, meski suhu ruangan ini sudah disetting dengan suhu yang pas.


Lalu dia kembali ke ranjang dan menyentuh dahi Khiara. Perlahan bergerak ke bawah dan dengan lincahnya membuka kancing bajunya hingga tak bersisa. Seringai kecil menghiasi bibirnya.


“Apa kau sengaja mempersiapkannya?” tanya Alex lagi dengan bermonolog. Ternyata Khira mengenakan bra dengan pengait di depan, membuatnya tak perlu repot-repot untuk membukanya.


Dengan lembut namun tegas, Alex membuka pengaitnya. Dia tahu ini memang kurang ajar, tapi dia hanya ingin menyerap panas tubuh itu dengan tubuhnya. Walau tak dipungkiri, mungkin itu akan membuatnya bergairah dan harus menahannya hingga dia keluar dari ruangan ini.


Namun, apa yang dilihatnya justru membuatnya mengernyitkan dahi. Apa yang dilihatnya begitu menohok dirinya. Dia memang belum pernah melihat ini sebelumnya, namun dia bisa menganalisa dan menyimpulkan apa yang sedang dialami oleh wanitanya.


Dia merasa tertampar. Bukan, tapi di hajar bertubi-tubi oleh ribuan tangan. Kesedihan, kekecewaan, amarah dan ketidakberdayaan bergemuruh menjadi satu. Dia mengepalkan tangannya dengan kuat menahan seluruh emosi dalam tubuhnya.


Sekuat mungkin dia berusaha untuk menguasai dirinya. Dia kembali melihat beberapa pembuluh darah yang menojol dan payudara yang terlihat begitu keras seperti wadah yang dijejali oleh sesuatu hingga sesak. Dia merabanya, dan menekan sekitar areola dengan lembut dan menariknya hingga ke ujung.


Semburan cairan susu keluar dari dalam sana, membuat jantungnya seperti dicabut dari rongga dadanya. Hal ini cukup membuktikan dugaannya, dan memberikannya sebuah fakta yang sangat mengejutkannya. She has a baby again?


Itulah yang terlintas dalam benaknya. Karena jika dihitung lagi, saat ini anak mereka berusia tiga tahun. Dan bagi Alex yang berfikir masa menyusui hanya sampai dua tahun pun tentu saja merasa aneh jika saat ini ASI Khiara masih ada di sana. Tidak salah jika dia berfikir Khiara sudah memiliki anak lagi.


Tapi anak siapa? Alex harus mencari tahunya. Dia segera menutup kembali baju Khiara, tapi tidak menyelimuti tubuhnya. Dia kembali mengatur suhu kamar agar pas untuk Khiara yang tidur tanpa selimut. Setelah itu barulah dia meninggalkan Khiara untuk mencari tahu hal yang sangat mengganjal otaknya ini.


Dadanya berdenyut kala memikirkan bahwa Khiara memiliki anak lagi dari pria lain.


...***...