
“Sampai kapan kau akan menahanku di sini?” Teriakan di sebrang sana bisa saja membuat gendang telinganya pecah jika Alex tidak menjauhkan ponselnya.
“Sampai kau selesai mempelajari semuanya.”
“Aku sudah selesai mempelajari semuanya. Dan aku serasa ingin meledak. Aku tidak mengerti sama sekali!” Khiara bersugut-sungut di sebrang sana.
“Hahaha ... tapi sebagai CEO baru, kau harus berhasil memahami semuanya, Khiara sayang.”
“Berhentilah memanggil ku sayang, Lex ...!”
“Tapi sayangnya aku tidak bisa. Aku selalu ingin memanggil mu seperti itu.” Hening sejenak. Alex menjauhkan ponselnya. Apa sambungan terputus? Tidak, masih tersambung.
“Terserahlah!”
“Bertahanlah, besok aku akan kembali. Kau bisa bertanya pada Zedrick jika kau tidak mengerti.”
Alex memang meminta sekertaris perusahaan ibunya itu untuk datang ke villa. Setidaknya dialah orang ketiga yang bertugas menghandle perusahaan ibunya selama dia dan asisten pribadinya, yaitu Ata tidak ada di tempat.
“Aku sungkan bertanya padanya.”
“Kenapa?”
“Entah lah, aku ... aku rasa aku lebih jelas ketika kau yang menjelaskannya padaku.” Kembali hening.
“Apa ini hanya alasanmu karena kau merindukan ku?”
“A-apa? Aku tidak merindukan mu, bodoh!” Khiara sudah mengumpat di sebrang sana. Alex sangat yakin di balik umpatannya itu pasti wajahnya sudah memerah seperti udang rebus. Dan tebakan Alex memang benar. Di sebrang sana, Khiara memang kelabakan, tidak tau bagaimana harus membalas Alex.
“Hahaha ... baiklah, baiklah. Kau tidak perlu memaksakan diri mempelajari semuanya sekarang. Kau bisa meneruskannya saat aku kembali nanti.”
“Ahh ... tapi rapat pemegang saham akan diadakan sebentar lagi.”
“Tidak usah cemas, ada aku di sana. Aku tidak akan membiarkan mu dalam masalah.” Alex bisa mendengar helaan napas lega di telinganya. “Apa kau sudah makan?”
“Emm ... aku tidak lapar.”
“Kapan terakhir kali kau makan?”
“Saat bersamamu.”
“Apa!?” Alex merasa geram mendengarnya. “Makan sekarang juga! Ini sudah jam makan malam di sana.”
“Aku tidak selera Alex. Makan di meja makan membuat ku tidak nyaman.”
“Kalau begitu minta mereka mengirimkan makanan ke ruang kerja.”
“Oh, Lex. Bisakah kau membiarkanku pulang saja? Aku ....”
“Aku tidak akan membiarkan mu pulang sebelum aku kembali, Khiara!”
“Oh, ayolah. Aku tidak akan kabur. Aku akan kembali saat kau sudah kembali.”
“Big No! Kau bisa melakukan apa pun sesukamu di sana. Semua yang ada di sana akan memberi apa pun yang kau minta, kecuali pulang.” Khiara kembali menghela napas di sana.
“Baiklah, baiklah. Terserah!” Alex tersenyum mendengarnya. “Memangnya kau sedang di mana sih?”
“Seoul.”
“Seoul?
“Emm ....”
“Ck, emm ... sepertinya Adit juga ke Seoul minggu ini.” Alex mendengar gumaman monolog Khiara.
Aku bahkan bertemu dengannya, Sayang.
“Kau ingin kubawakan sesuatu?”
“Ah, tidak.”
“Kenapa?”
“Aku yakin kau tidak akan bisa membawakannya untukku.”
“Apa harganya sangat mahal? Jangan pikirkan soal harga! Aku bisa membelikan apa pun untukmu.”
“Hahaha .... Kau tidak akan bisa! Yang kuinginkan terlalu mahal untukmu. Sudahlah! Ku tutup teleponnya.” Baru saja Alex ingin membalas, tapi Khiara sudah menutup teleponnya. Sudahlah, mungkin dia bisa bertanya pada Adit. Dia kembali ke tempat mereka.
“Maaf menunggu lama.”
“Tidak masalah Mr. Alex. Pasti dari orang yang sangat penting.”
“Yah, ini memang telepon dari orang yang sangat penting.” Alex hanya melayangkan seyuman misterius pada Ata yang menatapnya dengan pandangan bertanya.
Alex tahu, Ata pasti saat ini sedang bertanya-tanya. Sejak kapan dirinya memiliki panggilan penting selain dari Ata sampai tidak bisa diabaikan?
Tapi mulai beberapa bulan lalu, panggilan telepon Khiara adalah hal terpenting yang tidak bisa diabaikannya. Bahkan itu lebih penting dari panggilan telefon Ata, walaupun apa yang dibicarakannya tidaklah penting.
“Siapa?” Akhirnya Ata bertanya juga. Dia tau ini tidak sopan, tapi dia terlanjur penasaran.
“Istri tercinta.” Ata hanya ber-oh ria. Ata tentu tahu siapa yang dimaksud Alex jika sudah menyebutnya sebagai istri.
“Ada apa dengannya?”
“Sepertinya dia kelabakan dengan semua kertas-kertas di depannya.” Ata ingin tertawa mendengarnya.
“Anda sudah beristri?” Hal ini tentu membuat semua yang ada di sana terkejut tidak percaya. Termasuk Aditya. Alex tersenyum sambil melirik Adit yang hampir menjatuhkan matanya.
“Sebenarnya belum menjadi istri resmi. Tapi saya akan pastikan dialah satu-satunya yang akan mendampingi saya sampai tua nanti.” Tentunya Mr. Felix dan putrinya merasa dipermainkan.
Tadi Alex menujukan ketertarikan pada Natasha, namun sekarang dia justru mengatakan bahwa dia memiliki istri.
“Beruntung sekali dia dicintai olah seorang Alexander. Pasti dia sangatlah cantik dan cerdas, tentunya.” Puji Natasha dibalik perasaan tidak sukanya akan kenyataan yang ada.
“Bukan dia yang beruntung, tapi sayalah yang merasa beruntung bertemu dengannya. Dan ... dia tidaklah lebih cantik darimu Nona.” Kening Natasha berkerut, begitu pula dengan Mr. Felix dan Mr. Iskandar. “Dan dia juga tidak cerdas seperti dirimu. Dia bahkan sangat payah di dunia bisnis.”
“Lalu apa yang membuatnya special di mata anda?”
“Dia tidak cerdas, tapi jenius. Bahkan dia bisa membuat dua kepala dengan IQ di atas rata-rata kalang kabut karena ulahnya.” Alex melirik Ata di balik ekor matanya. Dan Ata mengedikkan bahunya, mengaku kalah.
“Waah, benarkah? Jika mendengar dari cerita anda, sepertinya istri anda termasuk seseorang yang misterius," ujar putri Mr. Felix.
“Di sini ada sahabatnya yang lebih mengenalnya dari saya, benarkan Mr. Aditya Iskandar?” Alex menoleh pada Adit yang sedari tadi menatapnya. “Mau sampai kapan kau berpura-pura tidak mengenali ku?” Adit tersenyum geli mendengarnya.
“Aku tidak berpura-pura, Lex. Aku hanya tidak menyangkan ternyata yang dia hadapi adalah salah satu orang penting dalam dunia bisnis internasional.” Alex hanya menarik salah satu sudut bibirnya.
“Tunggu, siapa yang kalian maksud?” Mr. Iskandar tidak bisa menahan rasa penasarannya.
“Putri tercintamu, Dad.”
“Khiara?” Adit mengiyakan. “Bagaimana bisa dia bertemu dengan Mr. Alexander?”
“Sepertinya kami memang sudah ditakdirkan untuk saling bertemu, Mr. Iskandar.” Alex menimpali.
“Mr. Iskandar mengenalnya?”
“Ya. Bahkan sangat mengenalnya seperti aku mengenali anakku sendiri.” Mr. Felix dan Natasha mengerutkan dahinya. “Dia adalah sahabat anak saya. Namanya Khiara Alexia Mac Louis.”
“Alexi?” Natasha terkejut mendengar nama wanita itu.
“Ya, apa nona mengenalnya?”
“Of, course. Oh, Mr. Alex. Anda berbohong jika anda mengatakan dia tidaklah lebih cantik dariku. Dia sangat cantik, bahkan hatinya lebih cantik daripada parasnya. Dia memang sangat pantas jika bersanding dengan seorang Alexander.” Mr. Felix mengerutkan keningnya. “Daddy masih ingat wanita yang membelaku habis-habisan di depan umum saat aku kunjungan ke Jepang tahun lalu?”
“Ah, wanita itu?”
“Yah, dia. Aku sangat mengidolakan dirinya. Oh, aku bahkan tidak bisa menandinginya. Dan yah, dia memang jenius. Dialah yang membuatku bisa memiliki kepercayaan diri tinggi seperti ini. Aku tidak menyangka bahwa Mr. Alexander dan Mr. Iskandar mengenalnya. Bagaimana kabarnya saat ini?”
“Saya rasa dia sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.” Ata menjawabnya sebelum Alex mengeluarkan suara. Jujur dia merasa heran dengan Natasha yang tiba-tiba banyak bicara begitu membicarakan Khiara. Sebenarnya tidak hanya Ata yang merasakan hal itu.
“Apakah terjadi sesuatu padanya?”
“Alex sendang mengurungnya bersama dengan ribuan lembar dokumen yang harus dipelajarinya.” Alex memelototinya. Sedangkan Natasha tertawa mendengarnya.
“Anda jangan terlalu kejam padanya Mr. Alexander! Dia memang sangat payah jika menyangkut bisnis. Saya prihatin padanya, saat dia bersikeras mengambil jurusan itu padahal dia bilang sendiri bahwa dia sangat tidak menyukainya.”
“Tapi dia harus melakukannya," balas Alex.
“Saya tahu. Tapi bukannya dia juga masih kuliah? Kenapa anda menyodorinya hal-hal yang mungkin belum dia dapatkan di bangku kuliah?”
“Dia memang masih kuliah, tapi dia sudah memiliki tanggung jawab untuk mengurus perusahaan.” Ata membenarkan hal itu.
“Apa dia sudah mengambil alih universitasnya?” Mr.Iskandar memastikannya pada Adit. Dan Adit mengiyakannya.
“Oh, begitu rupanya.” Natasha pernah mendengar alasan Khiara terpaksa mengambil jurusan management bisnis karena dia harus mengambil alih universitas orang tuanya.
“Ah, iya. Katakan padaku. Apa yang paling dia inginkan dari Seoul?” Adit mengerutkan keningnya.
“Aku rasa dia tidak terlalu tertarik dengan oleh-oleh dari sini. Semua yang ada di sini tidak jauh berbeda dengan Jepang. Dia pasti sudah kenyang dengan semua yang berbau Asia Timur.”
“Kau yakin?” Adit mengangguk yakin. “But, she said that I can’t bring her something that she want.”
“Apa kau menawarinya?” Alex mengiyakan.
"Hahaha ... kalau begitu lupakanlah. Kau memang tidak akan sanggup membawakannya.”
“Di dunia ini apa yang tidak bisa kubeli. Cepat katakanlah!”
“Ah, sepertinya saya setuju dengan Mr. Aditya.” Natasha berpendapat.
“Adit benar, Mr. Alex.” Mr.Iskandar pun turut membenarkannya. Membuat ketiga orang lainnya mengerutkan dahinya.
“Kau benar-benar ingin tau?” Alex sudah menyorot tajam pada Adit. “Yang dia inginkan bukan sebuah benda. Tapi bisa dipastikan, itu adalah sesuatu yang tidak bisa didapatkan kecuali di Korea.” Adit mengedarkan padangannya mencari sesuatu. “Kau melihat orang yang sedang membawa champagne di sana?” Alex mengikuti ke mana arah yang ditunjuk Adit.
“Ada apa dengannya?” Alex mengenal siapa orang itu.
“Dia adalah King of K-Pop. Dan Khiara sangat mengagumi semua karya-karyanya.”
“Maksudmu dia menginginkan tanda tangannya?”
“Tidak Mr. Alexander. Jika hanya sebuah tanda tangan atau pun foto bersama, dia sudah memilikinya berlembar-lembar di ponselnya.” Natasha menyanggahnya. “Dialah yang diinginkan Alexi.” Apa Alex salah dengar? Sepertinya tidak, karena Alex bisa mendengar Ata yang menahan tawa.
“Pantas saja dia bilang kau tidak akan bisa membawakannya. Kau mungkin bisa membelinya, tapi kau tak akan mungkin bisa bersaing dengannya," celetuk Ata setelah berhasil mengontrol tawanya. Sedetik berikutnya dia mengaduh kecil karena Alex menginjak kakinya.
“Diamlah, anggap saja pembicaraan ini tidak pernah terjadi.” Sedangkan Natsha dan yang lainnya pun turut menahan tawa. Selanjutnya, pembicaraan kembali pada issue global yang sedang menjadi trending topic. “Setelah ini, ada yang ingin ku bicarakan denganmu," ujar Alex pada Adit.
“Kebetulan, aku juga ingin membicarakan sesuatu denganmu.”
...***...