
“Ya, saat itu Khiara melihat goresan-goresan luka di punggung pria yang menyelamatkan. Karena samar maka dia memastikannya sendiri dengan menyentuh seluruh luka itu. Dan dari situ Khiara tahu bahwa orang itu selalu mendapatkan siksaan dari seseorang,” jelas Adit menceritakan apa yang didengar dari Khiara waktu itu.
“Dan setelah menyelamatkan Khiara, pria itu pergi setelah mendapat panggilan dari seseorang yang dia yakini adalah orang yang telah menyiksanya. Dia meninggalkan Khiara di sebuah penthouse mewah, namun tak ujung kembali.“ Adit melanjutkan.
“Penthouse?“ tanya Artha.
“Ya, penthouse. Adakah orang yang berniat mencampakan seorang wanita, namun tetap menempatkannnya di hunian mewah seperti itu? Semua kehidupan Khiara selama di sana pun sangat amat tercukupi.“ Adit kembali menjelaskan pada para sahabatnya.
“Lalu ke mana dia pergi selama ini? Dan sekarang justru muncul di negara ini. Jelas saat itu dia belum ke mari.“ Krisna juga penasaran dengan keberadaan pria itu. Jika pria itu memang tidak meninggalkan Khiara, lalu apa yang dilakukannya selama ini?
“Dia ....“
PIPIP!
Suara pesan singkat yang masuk ke ponsel Adit memotong kalimat yang ingin dilontarkannya. Dia merogoh saku celananya. Karena Adit tidak mengaktifkan notifikasi chat pada setiap orang, maka dia pun tahu bahwa ini adalah chat yang penting yang harus segera dibalasnya.
Kedua alisnya berkerut ketika melihat nama Alex yang tertera di pop up massage layar ponselnya. Dia segera bangkit dari kursinya dan segera menuju ke pagar pembatas balkon setelah membaca isi pesan singkat yang dikirimkan oleh Alex padanya.
“Ada apa?“ tanya Endra. Mereka bertiga pun segera bangkit dari kursi masing-masing dan menghampiri Adit yang masih memandang ke bawah sana.
“Apa kalian memperhatikan mobil itu?“ tanya Adit
“Sejak kapan mobil itu ada di situ?“ tanya Krisna yang baru menyadari ada mobil lain di belakang mobilnya.
“Entah, ada apa dengan mobil itu?“ tanya Endra yang penasaran dengan apa yang dimaksudkan oleh Adit.
“Apa ada kaitannya dengan keselamatan Khiara?“ Khini Endra dan Krisna menatap Artha yang baru saja berbicara. Mereka bertanya-tanya di dalam benaknya. Kenapa Artha bertanya seperti itu?
Adit menganggukkan kepalanya. Lalu Artha segera melesat pergi dari sana untuk menyambangi mobil tersebut. Jelas saja pemikiran Artha seperti itu, karena Adit langsung saja menghentikan pembicaraan mereka hanya untuk melihat sebuah mobil yang terparkir di depan sana.
Yang pasti ada sesuatu di dalam sana yang tidak bisa diabaikan. Maka dari itu, langkah kakinya segera menuntunnya menuruni anak tangga dengan cepat. Bahkan ketiga sahabatnya yang lainnya pun segera menyusulnya. Hingga tibalah mereka di depan pintu utama rumah Khiara, dan mobil itu masih ada di sana.
Tanpa menunggu pun Artha dan lainnya pun segera menyambanginya. Saat mendengar suara deru mesin mobil mulai di nyalakan, Artha segera menekan tombol remot mobilnya yang sedari sudah digenggamnya.
Saat Adit, Endra dan Artha sudah hampir dekat, mobil tersebut segera melesat meninggalkan tempatnya seperti dugaan Artha. Artha yang sudah berada di dalam mobil dan menyalakan mesinnya pun juga melesat menyusul mobil Lamborghini Aventador berwarna hitam tersebut.
Sebuah senyum smirk tersemat di sudut bibir Artha. “Kau mau pergi ke mana, huh?“
Dengan lihainya, Artha mengontrol laju mobilnya setelah menginjak pedal gasnya lebih dalam. Bukan seorang drift king namanya jika tidak bisa menyusul mobil yang menjadi incarannya. Kini Artha sudah berhasil menempel di belakang mobil lawannya.
Salip menyalip kendaraan lain pun tak terelakkan ketika mereka sudah memasuki wilayah perkotaan. Cukup lama mereka saling kejar mengejar. Karena jalanan terlalu ramai membuat Artha kesulitan untuk menyetop mobil tersebut.
Akhirnya Artha kembali menempel di bemper belakang mobil tersebut. Namun sialnya mobil itu segera membanting ke kiri dan menampakkan sebuah truck tronton yang melaju lebih lambat dari kecepatan mobil Artha dan Lamborghini tersebut.
Dia kembali menginjak gasnya lebih dalam agar bisa mendahului truck tronton tersebut. Namun sialnya dia tidak bisa menemukan keberadaan mobil tersebut di depannya. Dia pun segera melirik kaca spionnya.
“Kampret!“ Sekali lagi Artha mengumpat dan memukul stri mobilnya.
Mobil itu ternyata berbelok ke kiri pada sebuah belokan. Sedangkan dia sudah tak bisa berbalik lagi untuk melawan arah. Kendaraan sudah begitu padat di sekitarnya, membuatnya tak bisa bergerak.
Jika saja ada sedikit celah, maka dia tidak akan berpikir lagi untuk kedua kalinya. Pasti dia akan memutar mobilnya meski itu melawan arus lalu lintas. Dengan kesal dia segera menekan panel pada mobilnya dan menghubungi Endra.
“Aku kehilangannya,” ujarnya saat panggilan telah tersambung.
“Tak apa, kembalilah!“ jawab Endra. “Kita akan menanyakan pada Alex.“
“Alex?“ Kening Artha berkerut. Ada sedikit rasa tidak suka di sana, namun dia berusaha untuk mengontrolnya.
“Ya, Alex pasti tahu siapa orang yang ada di dalam mobil itu. Dialah yang memberitahu Adit tentang mobil itu,” jelas Endra di seberang sana.
“Em, baiklah. Tapi sepertinya aku akan lama untuk sampai di sana.“ Artha menatap lalu lintas di sekitarnya. Jika saja dia punya drone saat ini, pasti drone tersebut sudah menunjukkan seberapa padatnya kendaraan yang ada di sana.
“Apa kau terjebak macet?“ tebak Endra.
“Sepertinya begitu,” balas Artha yang melirik panel GPS-nya.
Terlihat begitu merah pada area yang kini tengah dilintasinya. Dan garis merah itu memanjang hingga kemungkinan dua kilo meter jauhnya. Sedangkan tempatnya agar bisa berputar pun masih ada sekitar tiga kilo meter lagi jauhnya. Artha pun menghela napas, tidak ada lagi yang bisa dia lakukan di sana selain menunggu kemacetan dengan rasa penasaran.
“Baiklah, kami akan menunggu mu,” ujar Endra sebelum mengakhiri panggilannya.
“Emh.“ Panggilan pun terputus.
Akhirnya setelah dua jam lamanya, Artha kembali menginjakkan kakinya di kediaman Khiara. Dengan lesu dia menaiki anak tangga dan melihat ketiga sahabatnya tengah menunggunya di ruang keluarga dekat kamar Khiara.
Sepertinya Alex belum keluar juga dari kamar Khiara. Itu hanya tebakannya saja. Apa sebenarnya yang dilakukan pria itu di dalam sana? Jangan bilang pria itu tertidur di dalam sana. Artha melihat pintu kamar Khiara yang masih tertutup itu dengan sinis.
“Itu Artha!“ seru Krisna yang melihatnya sudah selesai menaiki anak tangga. Dia mendekat pada mereka, dan saat itu juga pintu kamar itu mulai terbuka.
Dari balik pintu tersebut muncul sesosok pria yang tengah bertelanjang dada. Kedua matanya memincing ke arahnya, bahkan kedua rahangnya pun mengeras tak kala dia melihat tubuh Khiara yang tidur terbungkus selimut dengan kedua bahu yang terbuka dari celah pintu yang terbuka.
“Apa yang sudah kau lakukan pada Khiara?“ tanya Artha langsung menusuk begitu pintu itu kembali tertutup.
***