THE ALEXIS

THE ALEXIS
TERRIBLE MOMENT



Alex membawa Khiara ke mansion utamanya. Di sana wanitanya itu akan lebih aman daripada di rumah Khiara sendiri. Dia menggendong Khiara yang terlelap usai meminum obat penenang yang diberikannya.


Khiara memang butuh istirahat, dan Alex tahu benar dengan kondisi psikis wanitanya ini. Setelah keluar dari kediaman keluarga Artha, dia segera menelpon dokter pribadinya agar meresepkan sebuah obat penenang untuk Khiara. 


Dan kini Khiara bisa tertidur dengan nyenyak tanpa adanya gangguan. Alex merebahkan tubuh ramping itu ke atas kasur empuk di kamarnya. Dia pun ikut menemaninya setelah melepaskan jasnya.


Dia memposisikan dirinya di sebelah Khiara dan memeluk tubuh itu layaknya guling kesayangan. Dia memandangi wajah polos Khiara dan menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajahnya. Dengan lembut dia menyisipkan juntaian rambut itu ke belakang telinga Khiara.


"Trauma itu pasti masih sangat membekas di ingatanmu. Maafkan aku Sayang karena sedikit terlambat saat menyelamatkan mu. Seandainya saat itu aku bisa melumpuhkan mereka lebih cepat, kau pasti tidak akan mengalami kejadian mengerikan itu." 


Amarah begitu menggelora di dadanya ketika melihat Khiara sampai menderita seperti ini. Tangannya mengepal dengan eratnya. Ingin sekali dia menghabisi orang yang sudah membuat Khiara seperti ini saat ini juga, tapi dia harus menahannya. Dia sudah pernah berjanji akan membiarkan wanitanya ini untuk melakukan aksi balas dendamnya sendiri.


Flash back empat tahun lalu di Beverly Hills Park, Los Angeles, America ....


Alex yang baru saja menyelesaikan tugas kantor ayahnya, pulang seorang diri dengan mobilnya tanpa pengawalan dari bodyguard-nya.


Saat melintasi jalan di tepi Beverly Hills Park, dia melihat segerombolan pemuda yang tengah mengejar seorang perempuan di tengah kegelapan malam. Dari dalam mobil dia menghitung berapa banyak pemuda tersebut.


"One, two, three, four, five .... thirty ... Waw, aku pasti akan hancur jika menghampiri mereka," gumamnya. "Lebih baik kupanggil polisi."


Alex meraih ponselnya dan menelpon polisi. Setelah melaporkan apa yang dilihatnya pun, dia tidak segera beranjak pergi. Dia tetap di sana untuk memastikan bahwa polisi akan segera datang. 


Tapi begitu mereka melintas tak jauh dari mobilnya, tiba-tiba jantungnya seakan berhenti berdetak. Dia melihat siluet wanita yang begitu dikenalnya. Dia kembali menajamkan penglihatannya, berharap bahwa dia salah melihat. Namun, ternyata tidak ada yang salah dengan penglihatannya.


Tanpa pikir panjang dia segera keluar dari mobilnya. Dia mengejar segerombolan pemuda itu dari belakang. Meskipun dia tahu bahwa dia kalah jumlah, namun dia tidak mempedulikannya. Yang ada di dalam kepalanya hanya bagaimana caranya agar wanita itu selamat.


Para pemuda itu bukan pemuda kulit putih seperti kebanyakan penduduk Amerika. Mereka seperti penduduk asli Asia Tenggara, tapi tidak begitu yakin negara mana tepatnya.


"Hei!" Alex segera melayangkan pukulan pada wajah pemuda yang berhasil di raihnya.


BUGH!


"AKH!" Pemuda itu memekik dan terhuyung ke belakang. Pukulan Alex mengakibatkan hidupnya patah. Banyak darah yang keluar dari sana yang kemudian ditutupinya dengan kedua tangan.


"Bre*ngs*ek!" umpatnya dalam bahasa ibu. Kini Alex tahu mereka pemuda dari mana. Itu adalah bahasa yang digunakan oleh ibunya.


"Who are you?" teriak salah satu dari mereka. Beberapa pemuda yang lainnya pun berhenti ketika mendengar teriakkan kawannya.


"Don't touch her!" desis Alex. Dia segera melawan mereka yang menghadangnya, sedangkan dari sudut matanya dia melihat bahwa perempuan itu terus berlari dan masih dikerjar oleh beberapa orang di belakangnya.


***


Aku harus cepat membereskan mereka. Alex bukanlah orang yang sok jagoan. Dia memang sudah memegang sabuk hitam tingkat dua dalam karate. Tapi kembali lagi, dia benar-benar kalah jumlah.


Untuk pertama Alex berhasil mengalahkan lima orang dalam sekejap. Dia masih harus menghadapi lima belas orang lainnya yang tersisa.


Mereka menyerang Alex secara bersamaan. Alex menangkis hampir semua serangan, namun ada pula beberapa pukulan yang berhasil mendarat di tubuhnya. Dan lagi mereka adalah orang-orang yang pantang menyerah. Meski Alex telah merobohkan mereka berkali-kali, namun mereka masih tetap bisa bangun kembali.


Alex menghujam mereka sekuat tenaga. Dia harus melumpuhkan mereka segera, sebelum perempuan itu habis oleh mereka. Saat dia berhasil melumpuhkan beberapa dari mereka hingga terkapar, ada salah seorang dari mereka yang memukul kepala belakang Alex dengan sebuah batang kayu.


DUAGH!


Pukulan itu mampu membuat kepalanya serasa mau pecah. Kepalanya berdenyut hebat, rasa nyeri bercokol kuat hingga dia hampir saja kehilangan kesadaran. Namun dia segera mengibaskan kepalanya. 


Dia menekan kepalanya yang terasa sangat pening. Darah mulai mengalir dari puncak kepalanya. Dan karena kondisinya yang tengah berada dalam masa mempertahankan kesadaran, mereka pun mampu memanfaatkan kesempatan.


Mereka menyerang Alex bersamaan dan menghajarnya habis-habisan. Pukulan dan tendangan mereka layangkan secara bertubi-tubi, membuat Alex kualahan. Dia pun terjatuh meringkuk sembari melindungi kepalanya.


Meskipun secara bertubi-tubi mendapatkan serangan, namun nyatanya dia masih mampu bertahan. Hingga suara teriakan histeris perempuan itu terdengar sampai ke telinganya.


Seakan mendapatkan pasokan tenaga dari rasa khawatirnya, dia pun mampu memberontak dari kepungan mereka. Amarah yang bercokol dalam dirinya, seakan berhasil melipat gandakan kekuatannya. 


Rasa sakit dan perih dalam setiap inchi tubuhnya, diabaikan begitu saja. Fungsi otaknya telah beralih fokus pada sang wanita, hingga otaknya tidak bisa menerima sinyal dari tubuhnya yang terluka.


Dia memusatkan tenaganya di kedua tangan dan kakinya. Dan anggota tubuh yang dapat bergerak bebas itu pun berayun mencari mangsa. Setiap pukul dan tendangan dari Alex selalu mendarat dengan sempurna di setiap titik sasarannya.


Tidak kurang dari satu menit, dia berhasil melumpuhkan mereka semua. Dua puluh orang lawannya terkapar di sekitarnya. Tak ada tanda-tanda mereka bisa bangkit kembali. Alex pun bergegas pergi meninggalkan mereka, menuju tempat di mana perempuan itu berada.


Hanya ada satu bangunan di dekat mereka, yaitu toilet umum yang terletak di tengah-tengah taman kota. Alex segera mendekatinya, dan teriakan perempuan itu semakin menggila terdengar di telinganya.


BUGH! BUGH! BUGH! 


Alex kembali melumpuhkan tujuh orang yang berjaga di luar pintu masuk toilet. Tenaganya ketika marah memang sungguh mengagumkan, dia bisa membuat mereka terkapar hanya dengan satu pukulan.


BRAK!!


Alex mendobrak pintu masuk toilet itu dengan sekuat tenaga. Dan pintu itu langsung terbuka dalam sekali hentakan. Dengan menahan nyeri di seluruh tubuhnya, dia melangkah memasuki toilet umum tersebut. 


Matanya terbelalak lebar melihat pemandangan menyedihkan yang tersaji di depannya. Wajahnya berubah mengeras, kedua rahangnya bergemlutuk keras, sorot matanya menatap nyalang, tangannya mengepal dengan kuat.


"What the f*uck!" teriaknya murka.


...***...