THE ALEXIS

THE ALEXIS
TENSE SITUATION



Cukup! Sudah cukup Khiara menahannya. Ia berbalik ke arah mereka bertiga. Tidak boleh ada yang mengacau di daerah territorial-nya. Daerah territorial-nya?


Yah, tempat ini adalah daerah territorialku, Bodoh!


Dengan langkah pelan namun pasti, ia mendekati ketiga wanita yang kini sedang dilanda kepanikkan. Semua orang di sana berani bersumpah bahwa saat ini mereka seakan terseret pada suasana film thriller yang mengerikan. Tidak ada yang berani beranjak dari sana. Detak jantung mereka berdetak lebih cepat menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.


Sedangkan di salah satu kursi seseorang sangat menikmati adegan ini. Layaknya sedang menonton film thriller di bioskop, dia sangat menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Yah, hanya dialah yang tidak terpengaruh dengan suasana mencekam ini. Ah, ada lagi. Dua orang yang sedang mengamati mereka di ujung kantin sana.


Ralat! Sepertinya mereka juga terperangah dibuatnya. Hanya saja, mereka berdua mampu menyembunyikannya. Senyum miring dan senyum penuh arti tersungging di masing-masing bibir mereka.


Dia yang melirik kepada dua manusia di ujung sana, kembali fokus pada Khiara. Rupanya memang hanya dia satu-satunya orang yang sama sekali tidak terkejut dengan semua hal yang telah dilakukan Khiara.


Saat ini dia sedang duduk di salah satu kursi sebagai penonton setia. Dari kursinya dia bisa melihat semuanya dengan jelas sambil mengunyah kentang goreng di depannya.


Kl*maks akan segera dimulai, pemirsa!


Film masih tetap berputar, menampilkan seseorang layaknya psikopat yang datang mendekati korbannya yang sedang menggigil layaknya tikut curut yang mencicit ketakutan.


Sang penguasa sesungguhnya sudah menampakkan taringnya, batinnya.


Ini lah Khiara yang sesungguhnya, Khiara yang dikenalnya, Khiara yang tidak akan tinggal diam dan akan mengobrak-abrik apa saja di depannya jika seseorang sudah mengusiknya.


Kalian telah membangunkan seekor singa betina, ladies.


Khiara meraih meja yang tadi di tendangnya. Ia menariknya lalu menghempaskannya hingga meja itu bergeser menabrak meja lain di sebelah kanannya. Semua orang bergidik ngeri sekaligus terperangah melihatnya. Sungguh tenaga yang luar biasa.


Jika lagu maroon 5 yang berjudul animals diputar, mungkin akan sangat pas untuk dijadikan backsong-nya. Sangat mirip dengan adegan para psikopat dalam sebuah sequel film ataupun novel yang menegangkan.


Melihat hal itu, tentu saja alarm ketiga wanita itu pasti berbunyi. Mengisyaratkan mereka untuk lari. Namun sayangnya mereka hanya sanggup melangkahkan kaki mereka untuk mundur ke belakang. Sepertinya kaki mereka terlalu lemas untuk beranjak dari sana.


Ah, rasanya aku ingin sekali bersiul saat ini. Pikirnya.


Dia merasa kasihan pada mereka, tapi tentu saja dia tidak mungkin ikut campur di dalamnya. Dia masih sangat waras untuk tidak ingin menjadi pelampiasan amarah Khiara yang tertunda. Saat ini Khiara sudah meraih rahang wanita yang bernama Nadya dan mencengkeramnya dengan kuat. Bisa dilihat dari ekspresi Nadya yang menahan kesakitan.


Kini pandangannya kembali beralih sebentar pada dua manusia di ujung kantin sana. Dan mereka masih tetap sama, tidak beranjak dari tempatnya dan tetap dengan pose dan raut muka yang sama.


“Kau pikir siapa dirimu, hah?” Desisan Khiara pada Nadya membuatnya kembali pada mereka berempat. “Berani-beraninya mengacau di tempat ini.” Desisan yang begitu datar itu justru hal yang paling menakutkan dari Khiara. Karna ia bisa melakukan apa saja, bahkan di luar nalar dalam sikap tenangnya.


Nadya berusaha melepaskan tangan yang mencengkram rahangnya dengan kuat, sedangkan kedua temannya tidak berani melakukan apa-apa.


“Sekali lagi kau mengacau, kau akan melihat hal mengerikan yang akan terjadi padamu.” Hal ini saja sudah membuat Nadya ngeri, apa lagi hal mengerikan yang akan diterimanya nanti.


“Dan tadi apa yang kau katakan? Kau ingin menendang ku keluar dari sini?” Khiara menyeringai.


“Yang benar saja, yakin bisa menendang ku keluar dari sini? Oh, tidak sayang. Justru kau yang akan keluar dari sini jika kau masih banyak tingkah!” Khiara melepaskan cengkeramannya.


“Kalian bertiga bereskan kekacauan ini, atau kalian akan menerima akibatnya.” Perintahnya membuat ketiga orang itu mengangguk bagaikan robot dungu.


Sedetik kemudian, dia yang telah menghabiskan kentang gorengnya, bertepuk tangan dan berdiri dari kursinya. Semua mata tertuju padanya, tak terkecuali Khiara.


“Kau ingin ku ledakkan kepalamu sebagai gantinya?” Balas Khiara sarkasme.


“Oh. No, thank you.” Sahutnya dengan cepat sambil menyilangkan kedua tangannya membentuk huruf X.


“Apa yang kau lakukan disini?”


“Hanya menuruti apa kata Daddy.” Khiara hanya melontarkan tatapan dingin, lalu beranjak dari tempat itu. Dan dia mengekor di belakang saudara tercintanya.


...***...


Kekacauan ini___ kekacauan ini mengingatkannya pada seseorang. Rein menarik salah satu tangannya yang dari tadi disembunyikan di balik saku celananya. Dengan ibu jari dan jari telunjuknya, dia menyentuh rahangnya dan mengusapnya perlahan. Itu adalah ciri khasnya saat ada sesuatu yang dia pikirkan.


“Aku tidak menyangkan, belum ada wanita yang berani melawan Nadya sebelumnya. Dan ternyata Khiara benar-benar sangat mengerikan. Aku belum pernah melihat orang marah sampai seperti itu, yah kecuali___Alex.” Seru Lusi yang telah sadar dari rasa syoknya.


Mata mereka mengikuti kepergian Khiara. Lusi benar, semua penghuni kampus ini lebih memilih untuk menghindari makhluk yang bernama Nadya beserta antek-anteknya. Jika mereka tidak ingin berakhir di neraka dunia. Intimidasi dan pembullyan mereka sangat lah kejam, hingga orang yang menjadi korbannya akan memilih untuk hengkang dari kampus ini dengan suka rela.


Bahkan Nadya pun bisa sesuka hatinya mengeluarkan seseorang dengan kekuasaan orang tuanya. Ck, ini lah yang paling tidak disukainya. Bersembunyi di balik ketiak orang tuanya. Rein benar-benar sangat membencinya.


Selama ini Rein memang tidak pernah berurusan dengan Nadya. Dan dia sendiri juga menjauhi berurusan dengan nenek sihir macam Nadya. Bukan karena dia takut pada Nadya, hanya saja dia sangat menghindari yang namanya pertikaian. Lagipula Nadya pun tidak pernah mengusiknya, jadi tidak ada alasan baginya untuk berhadapan dengan Nadya.


Dia adalah tipe orang yang tidak akan mengusik siapa pun, jika tidak ada yang mengusiknya. Yah, begitu lah motto yang dipegangnya. Dia lebih senang hidup dengan damai tanpa adanya pertikaian . Dan kenapa Nadya tidak pernah menyentuhnya? Yaitu karena Alex tentunya. Kedekatannya dengan Alex lah yang membuat Nadya tidak pernah menyentuhnya.


Alex adalah satu-satunya orang yang tidak pernah diusik daerah territorial-nya. Tapi memang tidak ada yang berani mengusik Alex dan daerah territorial-nya barang secuil pun. Dan tidak akan ada yang bisa. Meski itu seorang Nadya atau pejabat kampus ini sekali pun. Alex memiliki singgasana tertinggi di universitas ini.


Dan ada lagi satu alasan, wanita itu terlalu memuja makhluk yang bernama Alex. Wanita itu akan menyingkirkan siapa pun wanita yang berada di dekat Alex dengan kekuasaannya, menjadikan dirinya satu-satunya ratu bagi Alex. Walau Alex tak pernah menganggapnya ada.


Hanya saja yang menyebalkan adalah Alex tidak pernah memberi pelajaran pada Nadya. Dia hanya terus mengabaikan dan membiarkan wanita itu dengan segala tingkahnya. Menurut Rein, sebenarnya itu lah yang membuat Nadya semakin banyak tingkah. Wanita itu merasa aman-aman saja melakukannya.


“Tapi menurutku, Khiara lebih menakutkan dari pada Alex” Sanggah Yoland yang juga teman satu kelasnya. Sanggahan Yoland membuat Rein tersadar dari pikirannya.


“Kau benar.” Lusi menanggapi.


Tidak, justru Alex lah yang lebih mengerikan. Sesuatu yang tenang justru jauh lebih membahayakan dari pada sesatu yang meledak-ledak, ucap Rein dalam hati.


Ice yang bisa membekukanmu dan kegelapan yang bisa menelanmu. Jika ledakan mampu menyakiti dan membunuhmu dalam sekejap, maka kebekuan dan kegelapan mampu mengurungmu dan menyiksamu selamanya. Hingga kau lebih memilih untuk mati saat itu juga. Freeze and Darkness, Alex memiliki keduanya.


Tidak berapa lama setelah kepergian Khiara, beberapa staff kampus dan satpam berdatangan ke kantin. Di sudut matanya, Rein melihat Alex dan Ata yang sudah mulai beranjak dari tempatnya menjauhi kantin. Sebuah senyum miring tersemat di bibirnya. Setelah ini pasti akan ada yang berubah di kampus mereka.


“Yang kalian saksikan baru sebuah pedang guys, belum lidah api.” Tukas Rein sambil berlalu dengan kedua tangan di dalam saku celananya, meninggalkan semua kekacauan yang ada.


Yah, ada satu orang lagi yang lebih bar-bar dari Khiara. Yang jelas bukan Alex tentunya.


“Apa maksudnya?” Rein berhasil menyisakan teka-teki di antara teman-temannya.


...***...


...-Wah wah____si belut bisa bar-bar juga ternyata. Belut aja bisa bar-bar, lalu siapa lagi yang lebih bar-bar darinya?-...