THE ALEXIS

THE ALEXIS
EXPLANATION



Di tengah tekanan dari seluruh sahabatnya, Adit masih bisa bersikap tenang. Dia mencondongkan tubuhnya, kedua tangannya bertumpu pada kedua pahanya, lalu menatap para sahabatnya satu persatu.


“Oke, tapi sebelumnya aku ingin bertanya. Kalian sudah menguping pembicaraan kami dari mana?“ tanya Adit.


“Sejak kau bilang Khiara seharusnya menjalani operasi caesar.“ Kini Krisna yang menjawabnya. Adit menganggukkan kepala, berarti mereka belum mengetahui pemerkosaan yang menimpa Khiara.


“Baiklah kalau begitu, aku akan menceritakannya tapi aku minta kalian bersiap untuk menerima kenyataan pahit yang akan menampar kalian semua,” ujar Adit dengan tegas.


“Ceritakan saja!“ pinta Endra dengan nada yang masih begitu santai dan tenang.


“Oke,” balas Adit sembari menatap mereka yang ada di depannya secara bergantian. “Khiara pernah mengalami sebuah .... pemerkosaan,” ujar Adit dengan memberikan penekanan pada akhir kalimatnya.


Semua mata yang menatapnya kini telah membola begitu saja, bahkan mereka pun langsung menegakkan tubuh mereka. Raut keterkejutan terlukis dengan jelas di setiap wajah para sahabatnya.


“Kau bercanda?“ tanya Krisna.


“Si B*rengs*ek itu yang telah melakukannya?“ Kini Artha yang bersuara, dia bahkan sampai berdiri dan ingin mencari Alex untuk menghajarnya.


“Duduklah, Tha!“ perintah Adit dengan tegas. Dia belum selesai menceritakan kejadian yang sebenarnya, tapi rekannya ini sudah bereaksi saja.


“Tidak bisa, aku akan menghabisinya. Berani-beraninya dia melakukan hal b*ej*at itu pada Khiara!“ maki Artha dengan emosi yang berkobar di dalam dadanya.


“Ku bilang duduk!“ Kini nada bicara Adit sudah sangat keras dan tak terbantahkan. Endra pun menarik tangan Artha dan menyuruhnya untuk duduk. Dengan berat hati Artha pun duduk kembali ke kursinya.


“Bagaimana bisa?“ tanya Endra yang sulit untuk percaya.


Baginya Khiara adalah wanita kuat yang memiliki keahlian luar biasa dalam menembak yang seharusnya bisa Khiara gunakan untuk melindungi dirinya. Tapi Endra lupa, meksipun atlet tembak namun Khiara tetaplah warga sipil yang tidak diperkenankan membawa senjata di sembarang tempat.


“Jika kau bertanya padaku bagaimana detailnya, maka aku tak bisa menjelaskannya. Hanya Khiara dan Alex yang bisa menjawabnya, karena mereka yang ada di tempat kejadian perkara.“ Baru saja Adit ingin melanjutkan ceritanya, namun Artha sudah kembali memotongnya.


“Benarkan, dia pelakunya!“ Lagi-lagi Artha berniat untuk berdiri dengan sikap gusar. Dan Endra kembali menariknya agar tidak melakukan hal bodoh sebelum mereka mengetahui kelanjutan ceritanya.


“Jika kau tidak bisa diam, maka aku tidak akan meneruskan ceritanya. Dan silahkan berspekulasi sendiri dengan pemahaman kalian.“ Adit sudah nampak kesal sekarang. Dia paling tidak suka dengan sikap Artha yang selalu memotong ucapannya.


“Diamlah Tha! Kita dengarkan dulu semuanya sampai selesai.“ Krisna juga sedikit sebal dengan Artha yang tidak bisa diajak kerjasama. “Lanjutkanlah!“ pintanya pada Adit. Meskipun dengan berat hati karena menahan emosi, Artha pun akhirnya bisa kembali terkondisi.


“Baiklah,” ujar Adit sambil menatap Artha dengan tajam, seolah memperingatkan. “Khiara memang melahirkan anak Alex, tapi bukan Alex yang memperkosanya.“


“Bagaimana bisa?“ tanya Krisna


“Lalu siapa jika bukan dia?“ Endra pun juga bertanya secara bersamaan.


“Alex bilang bahwa pelakunya adalah salah satu teman sekolah kita. Dan bagaimana bisa Khiara mengandung anak Alex? Karena Khiara sendirilah yang meminta Alex untuk menyentuhnya. Khiara meminta Alex untuk menghapus bekas pemerkosaan itu dari tubuhnya,” jelas Adit panjang lebar.


“Dan kau percaya dengan ucapannya?“ Kini Artha mencemooh Adit karena mudah percaya dengan orang itu.


“Ya.“


“Karena ada kecocokan dari pengakuannya dan apa yang diceritakan oleh Khiara padaku empat tahun lalu.“


“Empat tahun lalu??“ Mereka bertiga hampir berteriak bersamaan.


“Ya.“


“Anak itu jangan-jangan ...“ Krisna menggantungkan kalimatnya.


“Ya, apa kalian tidak memperhatikan adanya kemiripan antara Kaiven dan Alex?“ Gantian Adit yang bertanya pada mereka.


Ketiga orang itu tertunduk lesu. Mereka membanting punggung mereka begitu saja ke sandaran sofa. Adit bisa melihat kepahitan yang begitu jelas terbaca di muka teman-temannya.


“Kita harus mengikhlaskannya guys. Khiara sudah menjadi milik orang lain.“ Adit mencoba untuk membangunkan para sahabatnya dari perasaan mereka.


“Tunggu! Jika Alex yang sudah menghamili Khiara, lalu kenapa dia tidak mengenali Alex?“ tanya Endra yang masih bingung dengan fakta yang ada. “Khiara tentu tahu foto kekasih Shasha.“


“Khiara memang tahu rupa kekasih Shasha, tapi dia tidak tahu wajah pria yang telah menghamilinya.“ Mereka semua menautkan alisnya.


“Karena saat itu Khiara kehilangan kontak lensanya. Dia pernah mengatakan, bahwa dia ditolong oleh seseorang yang dia sendiri tidak bisa melihat wajahnya. Bahkan dia sampai merutuki matanya minusnya yang tak bisa melihat siapa malaikat penolongnya.“ Endra pun menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


“Apa Khiara mencintainya?“ Kini Krisna yang mulai membuka suaranya kembali setelah pulih dari pukulan palu besar yang baru saja menghantamnya.


Krisna akan mengikhlaskan Khiara jika wanita itu memang mencintai pria itu. Jika memang iya, maka sudah tidak ada harapan lagi bagi mereka. Apalagi sudah ada anak di antara Alexander dan Khiara.


“Sampai saat ini hanya ada satu orang yang memenuhi relung hatinya, dia adalah malaikat penyelamatnya,” jawab Adit.


“Tapi ... kenapa Khiara tidak bersamaannya jika memang mencintainya?“ tanya Endra lagi. Di sini entah kenapa Artha menjadi pendengar setia. Dia hanya diam seribu bahasa.


“Karena Khiara mengira bahwa Alex telah meninggalkannya ... Dia sudah menunggu Alex hingga hampir satu bulan lamanya di penthouse yang disewa Alex untuk Khiara. Tapi pria seolah menghilang dari hidupnya, tak ada kabar sedikit pun darinya,” jelas Adit berdasarkan dari apa yang diceritakan oleh Khiara empat tahun lalu.


“Jadi pria itu mencampakkannya, huh?“ Artha akhirnya membuka suara. Ada nada mencemooh yang terdengar dalam suaranya. Dia mencemooh Alex yang sudah meninggalkan Khiara dan tentunya mencemooh Adit yang terlihat begitu dekat dan terkesan seperti membela Alex.


Secuil tawa getir tersungging di bibir Adit karena mendengar cercaan Artha. Dia menatap sahabatnya yang terlihat masih sengit padanya itu dengan nanar.


“Haha ... seandainya saja pria itu memang mencampakkannya, makan akan mudah bagi Khiara untuk melupakannya.“ Raut wajah Adit berubah sendu.


Sungguh menggetirkan ketika dia yang sangat mencintai Khiara malah mengetahui seberapa besar wanitanya itu mencintai pria lain. Dan lebih mengenaskannya lagi ketika tahu bahwa pria yang dicintai Khiara juga sangat mencintai Khiara sama besarnya. Bahkan mungkin lebih besar dari cintanya untuk Khiara.


“Jika dia tidak mencampakkan Khiara, lalu kenapa dia pergi meninggalkan Khiara? Adakah alasan yang lebih logis kenapa kau dan Khiara percaya bahwa dia tidak mencampakkan Khiara saat itu?“ Kini Krisna yang bertanya.


...***...