
Derap langkah kaki bergema di sepanjang koridor gedung universitas elit nan megah di tengah kota. Sebuah pintu dibuka, menunjukan deretan para mahasiswa yang telah duduk di bangku mereka. Suara riuh para mahasiswa yang menghuni ruang kelas pun menghilang bersamaan dengan masuknya seorang wanita paruh baya di hadapan mereka.
“Selamat pagi semua.”
“Selamat pagi, Bu.”
“Baik, semoga kalian tidak jadi pemalas setelah libur semester yang panjang.” Semua isi kelas tertawa mendengarnya. “Dan ada sedikit pengumuman, hari ini kelas ibu ketambahan mahasiswa transfer, pindahan dari Jepang. Ibu harap kalian bisa membantunya untuk lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan kampus. Karena pastinya ada perbedaan sistem dan budaya." Mahasiswa yang lain mulai berkasak kusuk mendengar apa yang disampaikan oleh dosennya.
“Baik lah, silahkan masuk Khiara!”
Seorang wanita berambut coklat, melangkah memasuki ruang kelas tersebut. Untuk sesaat, sepertinya banyak orang yang terkejut. Wanita itu mampu membuat hening suasana yang tadinya penuh dengan mahasiswa yang berkasak-kusuk.
Ia berusaha untuknya melontarkan senyuman yang terlihat sangat kikuk. Ia tidak tau harus bertingkah seperti apa ketika semua mata memandangnya dengan takjub.
Apakah ia diterima dengan baik di kelas ini? Sepertinya begitu.
Banyak teman, yah mungkin itu lah yang ia butuhkan. Khiara memperkenalkan diri di hadapan teman-teman barunya. Senyum ramah tersungging di bibir manisnya di ujung perkenalan. Sambutan baik diterimanya dari semua teman-temannya.
“Oh, kamu sudah kembali, cepat duduk lah!” Seseorang yang datang dari balik pintu kelas sambil membaca pesan di layar ponselnya, mengangkat kepalanya begitu mendengar sapaan dari dosennya.
“Ah, ya.” Saat itu juga langkahnya terhenti.
Tidak hanya itu, jantungnya pun seakan ikut berhenti. Sungguh tidak dapat dipungkiri, bahwa kali ini Dewi Fortuna tengah datang menghampiri.
Oh dia teringat saat mencari wanita itu di rumahnya, dan ternyata pelayan di sana mengatakan bahwa Khiara tidak tinggal di sana. Sedangkan pelayan itu enggan untuk memberitahukan dimana tempat tinggal Khiara.
Dan kini, dia tak perlu lagi susah-susah mencari, karena wanita itu telah datang sendiri.
Pandangannya tertuju pada Khiara. Dua pasang mata mereka saling bertemu, namun mereka tidak sedang melakukan perang mata seperti sebelumnya.
Sebuah senyum tipis tersungging di bibir keduanya. Dia mulai mendekatinya, begitu dekat hingga aroma tubuh masing-masing dapat tercium di hidung mereka.
"Hai." Khiara yang lebih dulu menyapanya sebagai bentuk kesopanan di depan dosennya.
“Kota ini sempit sekali, nona. Apa mungkin kau memang sengaja mengikuti ku, heh?”
“Oya, dia mahasiswa baru di prodi ini, Lex."
“Saya, tau.” Ujar Alex tanpa mengalihkan tatapannya.
Seulas senyum manis namun tipis tersungging di bibirnya. Senyum itu membuat tenggorokan Khiara tercekat, namun berusaha ditutupinya.
Tidak hanya Khiara, bahkan hampir seluruh penghuni kelas pun menahan nafas saat melihatnya. Mereka semua terkejut dan terpesona olehnya, ini adalah pertama kalinya Alex menujukan sebuah senyuman manis di depan mereka setelah sekian lama.
Alex meraih tangan kiri Khiara dan menggenggam telapak tangannya erat, “Dia akan duduk denganku.” Ujarnya sambil menarik Khira dengan lembut ke tengah ruangan.
“Siapa yang mengijinkanmu untuk menentukan aku duduk dimana?” Ucapannya menghentikan langkah Alex, dan memang sebenarnya ia juga sedikit menarik tangannya dari Alex.
Alex berbalik dan menatapnya seraya menaikkan sebelah alisnya. Kedua bola mata Khiara bergerak pada salah seorang mahasiswa yang sedang bergegas merapikan barang-barangnya. Kemudian ia melihat satu bangku kosong di sudut ruangan dekat dengan jendela.
Tatapannya kembali pada Alex yang masih menatapnya. Ia berusaha kembali untuk menarik tangannya, namun pria ini tetap tidak membiarkannya.
“Aku hanya ingin duduk dekat dengan jendela," ujar Khiara pada akhirnya. Hening sejenak, tapi Alex segera menurutinya.
“Oke, kau mendapatkannya, nona.”
Alex kembali menarik Khiara ke meja yang Khiara maksud. Khiara mengerutkan keningnya, bukan ini yang ia maksud. Khiara tentu tak ingin duduk bersama Alex, dan tak ingin merebut bangku milik orang lain.
Tapi ini justru membuat Alex merebut bangku milik orang lain. Hanya untuk duduk bersamanya? Ini benar-benar gila!
Alex memberi tanda dengan ibu jari pada temannya agar segera pergi dari sana. Orang itu segera membereskan buku-bukunya. Khiara memberikan tatapan tajam pada Alex. Ia tidak suka dengan perbuatannya yang semena-mena. Namun ia segera menghela nafasnya. Tentu ia tidak mau bertengkar dengan orang sinting di hari pertamanya. Akhirnya Khiara menunjukkan ekspresi penyesalan pada teman barunya.
"Tidak apa-apa," ujar teman barunya tersebut tanpa bersuara.
“Duduk lah!” Ujar Alex setelah menarik kursi untuknya.
Khira sedikit ragu akannya, kemudian Alex menariknya dan mendudukkannya. Sedangkan Alex duduk di sebelahnya.
Seluruh penghuni kelas sangat tidak percaya dengan pemandangan yang baru saja mereka saksikan, tak terkecuali dosen mereka.
Baru kali ini mereka melihat Alex bersikap begitu lembut pada seseorang, apalagi wanita. Yah, setidaknya mereka tidak pernah melihatnya lagi sejak dua tahun sebelumnya. Mereka seakan sedang melihat bumi yang sedang terjungkir terbalik karena kehadiran seorang wanita bernama Khiara.
Saat ini, seisi kelasnya terlihat sedang menjatuhkan rahang mereka. Dan Alex tidak memperdulikannya. Jangankan mereka, Khiara pun dibuat heran dengan perubahan sikap Alex padanya. Ia sangat mengingat betul beberapa hari yang lalu, mereka berdua masih saling melontarkan tatapan tajam.
“Baik lah, semuanya. Sebelum kuliah dimulai, saya akan mengabsen kalian semua." Ujar sang dosen di depan sana memecah keheningan.
...***...
Di dalam kelas, Khiara hanya bertopang dagu dengan tangan kanannya sembari menatap ke luar jendela. Dosen sedang mengapsen mahasiswanya. Sedangkan pria di sebelahnya tengah sibuk dengan iPad dan iPennnya.
Tiba-tiba sebelah alisnya terangkat ketika sebuah mobil memasuki area kampusnya. Kini kelasnya berada di lantai tiga. Dan dari picture window di sebelahnya, ia bisa memandang ke arah pelataran kampus dengan leluasa. Mobil itu nampak memarkirkan diri di sebelah black spider milik Alex.
Sebuah senyum kecil terukir di bibirnya. Ia melirik jam di tangan kirinya. Jam telah menunjukkan pukul 10.15 menit. Seorang pria keluar dari mobil tersebut dan disambut oleh beberapa wanita yang bersikap genit.
Khiara nampak kepayahan menahan senyum gelinya. Pria itu jelas diburu waktu, tapi para wanita itu tak melepaskannya begitu saja. Akhirnya pria itu memilih untuk melarikan diri dengan berlari secepat yang dia bisa. Dan tak berapa lama, pria itu akhirnya tiba di kelasnya.
Blaak___
"Rein! Bisakah kau bersikap sopan sedikit? Sudah telat berulah pula."
"Maaf, Bu. Tidak sengaja." Jawabnya di tengah nafasnya yang masih tersengal-sengal.
"Ya sudah sana duduk!" Ujar dosen itu dengan sedikit kesal.
"Terima kasih, Bu." Ujar Rein sambil sedikit membungkuk.
Waaaw, baik sekali dosen ini. Pikir Khiara.
Tidak ada hukuman yang Rein terima, padahal pria itu telah menginterupsi kelasnya. Tapi Khiara hanya mengedipkan bahunya dan kembali melihat keluar jendela.
Rein berjalan menuju bangku di depan Alex dan Khiara. Orang yang duduk di sana langsung membereskan mejanya dan bergeser ke sebelahnya. Rein segera duduk di kursinya dan segera memutar tubuhnya. Seakan penasaran dengan teman akrabnya.
"Sejak kapan kau duduk dengan wanita?" Akhirnya Rein mengutarakan rasa penasarannya.
"Memangnya kenapa?" Alex balik bertanya.
Rein hanya mengerutkan alisnya dan sedikit menelengkan kepalanya. Bagaimana pun juga ini merupakan hal yang langka. Akhirnya Rein melirik Khiara yang masih membuang muka ke luar jendela.
"Neon wae?* Bukan kah seharusnya kau sudah lulus?" Khiara yang dari tadi memperhatikan Rein dari pantulan kaca di sebelahnya akhirnya bertanya dalam Bahasa Korea.
*Kau ini kenapa?
Rein terlihat begitu kaget hingga terjatuh dari kursinya saat Khiara menoleh padanya. Hal itu membuat Khiara tersinggung dan melayangkan tatapan tajam padanya. Seisi kelas dibuat penasaran karenanya. Bahkan dosen pun turut menghentikan aktivitasnya.
"Ada apa Rein?" Tanya dosennya. Tapi Rein tak menjawabnya. Dia masih syok dengan apa yang dilihatnya.
"Juggolaeyo?"* Desis Khiara. "Kenapa kau melihatku seperti melihat setan, huh?"
*Kau ingin mati ya?
"Kalian saling kenal?" Alex bertanya sambil melongok Rein yang masih terduduk di lantai.
"Ah, ya." Rein hanya menjawabnya singkat. "Wae yeogiiss-eo yo?"* Tanya Rein sambil berusaha untuk bangkit dari tempatnya.
*Kenapa kamu disini?
"Seharusnya gue yang tanya, ngapain loe disini? Tahun ini bukannya seharusnya loe udah lulus?"
"Gue___" Rein menggantungkan kata-katanya sambil nyengir kuda. "Gue musti ngulang pelajaran ini." Rein menutupi ekspresi malunya dengan garuk-garuk kepala.
"Babo ya?*" Mata Khiara hampir saja keluar dari sarangnya.
*Apa kau bodoh?
Bayangkan saja! Orang Asli Korea, setiap hari hampir selalu berbahasa Korea dengannya, tapi mengulang pelajaran Bahasa Korea? Benar-benar!! Adakah orang yang lebih bodoh darinya?
"Jangan bilang nyokap, ya!" Pinta Rein sambil nyengir kuda. Tapi berbeda dengan Khiara. Ia justru berniat untuk mengerjainya. Seringai serigala sudah muncul di bibir mungilnya. Rein yang mengenali seringai itu mendadak panik seketika.
Khiara sudah mengeluarkan ponselnya dan mendial-up sebuah nomer yang tertera di kontaknya. Rein melotot seketika saat melihat ponsel yang tengah digoyang-goyangkan Khiara sedang memanggil nomer ibunya di Korea. Rein langsung berusaha untuk menyambarnya, namun sayang Khiara lebih sigap darinya.
"Jangan, please!" Rein memohon dengan menangkupkan kedua telapak tangannya.
Dia akan habis oleh ibunya, jika ibunya sampai mengetahuinya. Sedangkan Khiara hanya mengangkat sebelah alisnya. Alex yang berada di antara keduanya hanya terus memperhatikan interaksi mereka berdua sembari melipat tangan di depan dada dan bersandar di kursinya.
"Gue traktir ramen sebulan penuh!" Tawa Rein cepat sebelum panggilan tersambung.
"Geolae!"* Khiara menjentikkan jarinya dan segera memutuskan panggilannya.
*Deal
Rein bisa bernafas lega sekarang. Senyum kemenangan tersungging di bibir Khiara.
Ternyata makanan bisa menjinakkannya, pikir Alex yang masih mengamati mereka berdua.
"Sudah ribut-ributnya?" Tanya dosennya sambil menahan tawa.
Sepertinya baru kali ini ada orang yang bisa mengerjai mahasiswa kesayangannya. Sehingga beliau memberikan ruang untuk mereka berdua, meski sedikit mengganggu pelajarannya.
Rein memang anak yang baik dan pintar, namun tingkahnya yang seenak jidatnya sering membuat para dosen gemas padanya.
"Iya Bu, maaf mengganggu." Ujar Rein seraya duduk di kursinya.
Mereka segera melanjutkan pelajaran. Sambil bertopang dagu, Rein mengetuk-ngetuk kan jarinya ke meja. Khiara yang menyadari irama ketukannya secara spontan menaikkan sebelah alisnya. Ia menoleh pada Rein dan memperhatikan ketukan jarinya.
H-E-L-L-B-E-B-A-C-K.
Hell be back?? Neraka akan kembali? Khiara mengernyitkan dahinya. Ah, he'll be back! Sedikit kemudian Khiara baru mengerti apa maksudnya. Sebuah senyum tipis kembali muncul di sudut bibirnya.
...***...
...-Jinak, jinak___loe kira itu anak singa yang musti dijinakin?-...