
Kembali ke masa kini ....
Di tengah hiruk pikuk tengah malam kota metropolitan, ada hingar-bingar club malam yang menghiasi kehidupan malam. Seorang pria dengan paras tampan sedang menenggak minuman dengan kadar alcohol yang tinggi. Menikmati siraman air yang terasa membakar melewati kerongkongannya. Menikmati alunan musik yang menghentak di seluruh penjuru ruangan.
Sedangkan di sisi lain, Alex sendang mengamatinya dengan mata malas namun awas. Malas, benar-benar malas. Dia sangat malas jika harus pergi ke tempat seperti ini. Dia tidak membenci tempat ini, tidak dipungkiri terkadang dulu dia sering mengunjungi tempat-tempat seperti ini hanya untuk menghilangkan beban berat yang bersarang di hati. Tapi dia berhenti mengunjungi tempat seperti ini setelah dia merasa tidak ada gunanya menghabiskan waktu di tempat maksiat seperti ini.
Dan sekarang dia harus kembali ke tempat seperti ini hanya untuk mengikuti seseorang. Benar-benar membuatnya muak. Dengan wajah malas dan rambut acak-acakan, dia menyeruput kopi panas yang dibelinya dari mini market di daerah ini. Di balik ruang monitor, dia dan Ata beserta beberapa staff keamanan yang bertugas di ruangan tersebut sama-sama menatap layar monitor besar yang jumlahnya saja ada puluhan di depan mereka.
Club malam ini memang salah satu cabang club malam internasional ternama yang dimiliki oleh salah seorang teman kuliahnya dulu. Sangat kebetulan sekali, orang itu membuka cabang di negara ini. Sehingga Alex bisa meminta kerjasamanya.
“Bagaimana? Kau sudah puas mengamati mangsamu?“ tanya sebuah suara yang ternyata itu adalah Jack, teman kuliahnya serta pemilik club malam ini. “Mau kau apakan dia?” sambung Jack.
Alex tak menjawab dan masih tetap bertopang dagu mengamati seseorang di sana. Rambut yang acak-acakan dengan jaket yang tersingkap di salah satu pundaknya menandakan bahwa Alex masih bersikap santai terhadap mangsanya. Jack mengetahui hal itu.
Meski Alex terkenal begitu dingin, namun Jack tidak pernah merasa takut padanya. Justru sangat menghormatinya karena di balik sifatnya itu Alex adalah pria yang sangat peduli pada kawannya. Alex pernah membantu Jack saat benar-benar terpuruk dalam masalah ekonomi, dan Alex membantunya tanpa basa-basi. Padahal saat itu mereka bukanlah teman dekat seperti sekarang ini. Hal itulah yang membuat Alex begitu terpandang di hadapannya.
Tanpa sikap dingin dan menakutkan Alex, dia juga tidak akan berada di sini saat ini. Sungguh banyak membantunya hingga saat ini. Hingga dia sendiri tak tahu kapan bisa membalas budi. Bantuannya saat ini pun tak bisa dihitung untuk membalas budinya pada pria adonis ini.
“Sepertinya pertanyaanmu kurang berbobot Jack. Aku sudah menanyakan hal yang serupa dari tadi. Bahkan hingga mulutku berbusa, tapi tetap saja orang ini tetap seperti patung penjaga museum,” timpal Ata.
“Hahaha, bagaimana kabarmu, Ta?” Jack dan Ata saling menyapa dengan bertukar jabat tangan ala homie handshaking. Sedangkan Alex hanya melirik sekilas ke arah mereka berdua dan kembali mengabaikannya.
“Like you see,” jawab Ata.
“Aku tidak tau jika kalian berdua bermasalah dengan orang itu,” ucap Jack seraya duduk di kursi sebelah Alex.
“Him, not me!“ Ata meralatnya.
“Hahaha, ok ok. Di sini memang hanya Alex yang memiliki banyak masalah dengan banyak orang,” balas Jack seolah mengerti.
“Apa aku perlu memberimu kaca?” Tiba-tiba saja Alex menimpalinya.
“Waaah, sepertinya kau berhasil membuat patung penjaga ini hidup, Jack,” timpal Ata.
“Akh ... aaww!“ Dengan pucat Ata menahan rasa sakit di kakinya. “Sialan,” umpatnya dalam hati ketika Alex menginjak kakinya.
“Sepertinya aku harus pergi. Di sini tidak aman untukku,” pamit Ata sambil berusaha melepaskan diri dari Alex dan berlalu keluar ruangan. Jack yang menyaksikan kejadian tersebut tergelak dibuatnya. Begitu pula dengan para staff yang hanya berani meredam tawa mereka. Mereka tidak boleh bersuara merdu jika tidak ingin disikat habis di tempat ini.
“Kalian masih sama saja seperti dulu.” Jack menambahkan. “Let’s go to the point. Kenapa kau tidak bilang sebelumnya jika kau memiliki masalah dengan orang ini? Apa kau pikir aku tidak bisa membantumu, huh?”
“Kau mengenalnya rupanya, katakanlah!“
“Tidak juga, hanya mengetahuinya. Well ... dia adalah pelanggan tetap di club ini sudah sejak awal berdirinya club ini,” tutur Jack menjelaskan.
“Lanjutkanlah!” Alex berpaling dari Jack dan kembali mengamati orang di bawah sana. Dan Jack mulai memberikan gambaran tentang siapa orang tersebut berdasarkan penuturan anak buahnya.
Tak berapa lama, tiba-tiba Ata datang dan menyela pembicaraan mereka berdua. Ata tau Alex paling tidak suka diganggu saat sedang berbicara empat mata dengan seseorang. Namun, dia tidak memiliki pilihan lain. Alex perlu tahu masalah ini. Atau jika tidak, bisa-bisa kepalanya yang menjadi taruhannya.
“Aku tahu, kau tidak akan senang mendengarnya. Tapi, bisakah kau mengecek ponselmu, bro?” Alex yang seolah telah bersiap untuk menggilas Ata pun segera merogoh saku celananya dan mengecek ponselnya. Ternyata banyak sekali panggilan masuk yang tak terjawab. Dan semua panggilan tersebut dari Aditya.
Jika seorang wanita telah terbakar oleh api cemburu, maka apa saja bisa dilakukannya. Dari yang masuk akal hingga tidak masuk akal sekali pun.
Percayalah, terkadang makhluk yang bernama wanita ini sangatlah mengerikan dari pada sekedar pria yang terbakar api amarah.
Dan kecemburuan itu benar-benar telah membakar seluruh tubuhnya, membakar dengan begitu panasnya hingga tak berbekas di dalam ekspresinya. Atau mungkin memang benar apa kata orang, bahwa wanita lebih pandai menutupi emosinya dibandingkan para pria.
Entah apa yang merasuki dirinya. Namun setelah mengetahui sebuah kenyataan yang membuatnya tak lagi mengenali dirinya sendiri, membuatnya bertekad bahwa semua harus dimenangkannya. Tidak perduli itu akan menyakiti seseorang atau banyak orang sekaligus.
Dan kini, sekumpulan berkas-berkas yang seharusnya tidak boleh beredar bahkan bocor sedikit pun telah berada di tangan Nadya. Memang mengerikan bukan, dengan koneksinya Nadya bisa mendapatkan apa saja dengan mudahnya. Seperti anak meminta permen pada orang tuanya.
Fakta-fakta yang cukup menarik baginya, bahkan amat sangat menarik membuatnya tidak sabar untuk segera berdiri di hari yang ia tunggu-tunggu. Puncak di mana ia akan menghancurkan seseorang, menyingkirkannya seseorang yang selama ini ia anggap sebagai benalu dalam kehidupannya. Kehidupan cintanya tentunya.
Dengan segera ia menyimpan seluruh bukti-bukti tersebut ke tempat yang aman, di mana tidak akan ada seorang pun yang mengetahuinya. Termasuk keluarganya. Karna ia sendirilah yang akan menghancurkannya.
“Anyway, untuk apa kau menginginkan berkas-berkas ini?” tanya serang pria yang tengah berhadapan dengannya.
“Tidak, hanya saja aku mengenal siapa orang ini,” jawab Nadya.
“Siapa dia?” tanya pria itu lagi.
“Adalah, oya terima kasih atas bantuanmu. Aku akan mentraktir mu nanti,” ujar Nadya.
“Tidak masalah, hanya saja aku harap kau tidak menggunakannya untuk hal yang tidak-tidak,” pinta orang itu.
“Hey, apa maksudmu hal yang tidak-tidak?” Nadya pura-pura tidak suka.
“Entahlah. Hanya saja ... kau tau bukan, berkas itu adalah berkas rahasia dan tidak boleh bocor keluar.” Pria itu nampak begitu khawatir.
“Jika kau tidak percaya padaku, kenapa kau memberikannya padaku?” tanya Nadya berusaha untuk memanipulasinya.
“Yah, itu semua karna kau yang meminta. Aku tahu kau bukanlah orang jahat,” balas pria tersebut dengan mengerucutkan bibirnya.
“Apa wajahku seperti orang jahat?”
“Tentu saja tidak!” Pria itu segera menyergahnya.
“Tenang saja, kau tidak akan mendapatkan masalah karna hal ini.” Nadya berjanji.
“Baiklah, aku pegang janjimu.”
“Nah, begitu dong. Ok, aku pergi dulu. Ada yang harus ku kerjakan,” ujar Nadya yang ingin segera mengakhiri pembicaraan mereka.
“Baiklah, aku tutup videonya.” Beberapa detik kemudian, saluran video call di antara keduanya terputus.
...***...