
Alex yang baru saja keluar dari kamar Khiara telah disambut dengan tudingan yang mengisyaratkan kecemburuan. Hal itu membuat senyum miring pun tersemat di sudut bibirnya.
“Apakah aku harus menceritakan setiap detailnya padamu?“ tanya Alex dengan isyarat mengejek.
“Kau!“ Artha hampir saja hendak menerjang Alex jika saja Adit tidak mencegahnya.
“Hentikan, Tha!“ perintah Adit dengan tegas.
Adit beralih menatap Alex yang berjalan melintasi mereka dan mendekati Artha. Mereka semua mengira bahwa Alex akan memprovokasi Artha. Namun ternyata pria itu justru menepuk pundak Artha dengan mantap dan sedikit mencengkramnya lalu berlalu dari hadapan mereka. Seolah dia mengisyaratkan pada Artha untuk bersikap tenang dan tak perlu mengkhawatirkannya.
“Kau mau ke mana?“ tanya Adit pada pria bertubuh atletis yang tengah bertelanjang dada tersebut.
“Ke dapur,” jawabnya singkat sembari mengayunkan langkah kakinya untuk menuruni anak tangga.
Alex pun segera menghilang dari hadapan mereka yang menampakkan raut heran di setiap wajah mereka. Bahkan Artha pun mengikuti kepergian Alex dengan tatapan bertanya-tanya. Tak ingin ambil pusing dia segera menjatuhkan pantatnya di sofa, bergabung dengan yang lainnya.
Sementara Alex di bawah sana tengah di sapa oleh beberapa pelayan Khiara. “Tuan membutuhkan sesuatu?“
“Ya, ada kubis?“ tanya Alex sambil membuka salah satu laci di tempat penyimpanan alat masak di dapur tersebut.
“Ada, Tuan. Tapi untuk apa ya?“ tanya salah satu pelayan dengan heran. Apakah salah satu teman Nyonya mereka ini ingin makan lalapan?
“Ambilkan saja beberapa lembar!“ perintahnya yang sudah menemukan sebuah baskom kecil yang sangat pas menurutnya.
“Baik, Tuan.“
Pelayan tersebut segera membuka kulkas dan memetikkan beberapa helai untuk diberikan pada Alex. Alex yang sudah mengisi baskom tersebut dengan es batu dan air segera menerima beberapa lembar kubis tersebut, kemudian kembali menuju lantai atas.
“Kau bawa apa?“ tanya Endra saat Alex sudah kembali menginjakkan kakinya di lantai dua tempat mereka berkumpul. Bukannya menjawab, Alex justru mengangkat satu lembar kubis dari baskom di tangannya untuk ditunjukkan pada mereka.
“Kubis?“ Krisna heran, untuk apa pria itu membawa kubis?
“Kalian tidak akan bisa menurunkan demamnya jika tidak mengatasi permasalahan utamanya.“ Itulah jawaban yang Alex berikan, sementara tangan kanannya kembali meraih handle pintu kamar Khiara untuk kembali masuk ke sana.
“Kita akan bahas masalah ini nanti setelah aku menyelesaikan ini,” ujar Alex sebelum menutup pintunya. Mereka pun hanya menatap pintu yang kini telah tertutup itu dengan mencoba menebak-nebak dalam pikiran mereka. Kira-kira apa yang dimaksudkan Alex dengan 'permasalahan utama' itu?
Sedangkan di dalam sana, Alex menempatkan selebar daun kubis tersebut ke dada kenyal Khiara yang tadi sangat amat keras dan berisi. Suhu dingin yang menyentuh kulit Khiara sempat membuat wanita cantik itu tersentak. Dia terkejut saat menerima perbedaan suhu yang berlawanan denga suhu tubuhnya itu.
Dia mengusap pipi Khiara dengan lembut, sehingga kedua bola mata indah itu kembali terpejam dengan sempurna. Dia kembali meletakkan satu lembar kubis ke buah dada yang satunya. Sebelah alis Khiara seakan terangkat karena kembali merasakan kesejukakan dari daun kubis tersebut di dadanya, namun matanya tak berhasil membukanya.
Alex kembali mengusap-usap wajah Khiara, namun kali ini tepat di salah satu alis yang tadi terangkat. Hal itu membuat mata Khiara terasa semakin berat. Bahkan Khiara yang masih berada di alam bawah sadarnya sampai tidak bisa merasakan apa yang dilakukan Alex pada tubuhnya.
Ya, Alex tengah berusaha untuk kembali memasangkan bra pada dada Khiara untuk menahan dua lembar kubis itu agar tetap menempel di dada wanitanya. Namun dia sedikit melonggarkannya. Cara ini mungkin terdengar classic, namun dia membaca jika kubis memiliki glukosinolat yang dapat mengatasi peradangan, merespons stres, dan memiliki sifat anti-mikroba.
Setelah itu, dia segera menelpon dokter pribadi ibunya. Dia mengatakan apa yang tengah dialami oleh Khiara. Dokter tersebut segera mengirimkan foto resep antibiotik untuk Khiara melalui aplikasi chat.
Setelah itu Alex pun kembali menyelimuti Khiara dan mencium kening wanitanya. Dia akan tetap di sini untuk menjaga dan merawatnya. Biarlah masalah orang itu dia limpahkan pada Ata dan pangeran Vita Dolce yang lainnya.
Dia pun segera keluar dari kamar tersebut dan menghampiri mereka. Kali ini dia sudah mengenakan t-shirt hitam miliknya. “Ada yang bisa membantu ku menebus antibiotik untuk Khiara?“ tanya Alex pada mereka yang masih berjaga di depan kamar Khiara seraya membicarakan masalah pengerjaran yang tadi Artha lakukan.
“Memangnya Khiara kenapa?“ tanya Krisna yang sedari menahan rasa penasarannya semenjak Alex membawa baskom berisi daun kubis.
“Mastitis,” jawab Alex singkat.
“Mastitis?“ tanya Artha dengan heran. Dia yang tengah menempuh pendidikan kedokteran pun tahu apa istilah medis itu. Beberapa detik kemudian dia baru teringat bahwa Khiara telah memiliki bayi. Rasa kecewa pun kembali menghampiri hatinya. Dia menghela napas dan mulai mengayunkan kakinya.
“Berikan padaku!“ pinta Artha. Dia menawarkan diri untuk menebusnya di apotek. Selain karena dia yang lebih mengerti mengenai obat-obatan, dia juga berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri dengan menjauh sebentar untuk mengenyahkan pikiran dan hatinya yang berkecamuk.
Alex pun segera mengangkat ponselnya dan mengirim foto resep itu ke ponsel Ata melalui aplikasi chat. Jangan ditanya bagaimana dia bisa mendapatkan nomor Artha, karena itu hal yang sangat mudah sekali baginya.
Sebuah kerutan halus muncul di dahi Artha, kala sebuah pesan masuk ke ponselnya. Dia segera merogoh ponselnya di saku celananya dan membuka chat tersebut. Dia melirik Alex dengan tatapan heran, namun dia segera mengabaikannya dan beranjak dari sana untuk pergi menebus obat.
“Kami akan membicarakan mobil yang kau kejar tadi setelah kepulangan mu,” ujar Alex. Artha mengangkat sebelah tangannya tinggi ke atas menandakan persetujuan.
Setelah kepergian Artha, Alex segera menatap ketiga sahabat Khiara yang lainnya. Dia segera bergabung dengan yang lainya dengan duduk di salah satu sofa.
“Aku akan memberitahu kalian sesuatu, ini menyangkut siapa yang tengah di cari Khiara selama ini dan ....“ Alex menatap mereka silih berganti dengan sangat serius. “Siapa yang sudah memperkosanya.“
Terdapat perubahan di mimik wajah mereka semua. Setiap kelopak mata mereka melebar kemudian menatap Alex dengan sama seriusnya. Mereka pun jelas ingin mengetahui manusia b14d4p mana yang sudah tega menodai sahabat mereka.
“Tapi sebelumnya kalian harus menceritakan bagaimana keadaan Khiara setelah kematian sepupunya,” ujar Alex mengajukan sebuah persyaratan.
...***...