THE ALEXIS

THE ALEXIS
BIG BANG



Di area lingkup kampus, kini banyak yang segan bila berpapasan dengan Khiara setelah kekacauan beberapa waktu lalu. Yah, pastinya terjadi pro dan kontra pasca kekacauan saat itu.


Ia akan mengabaikan orang-orang yang memandang ngeri, takut, tidak suka sampai berkasak-kusuk tentangnya dengan terang-terangan di depannya. Tapi Khiara akan selalu melontarkan senyum ketika ada yang tersenyum padanya.


Tak jarang karna senyum ramahnya itu membuat orang-orang lupa daratan. Dan justru membuat orang-orang yang memandang ngeri padanya berbalik mengaguminya.


Karena senyum ramahnya yang begitu manis dan sifatnya yang layaknya pedang, membuat orang-orang menyebutnya sebagai mawar merah.


Mawar merah yang liar. Julukan itu memang tepat untuknya. Mawar merah semerah darah, namun liar, berduri banyak nan tajam.


Bunga seperti ini ibarat permata dalam kehancuran. Penuh gairah dan pemberani, serta dihormati karna ia berduri bukan untuk melukai, namun untuk melindungi diri.


Itu lah perumpamaan yang menggambarkan sesosok Khiara.


Mereka yang berada disekitarnya justru semakin mengagumi sosoknya yang lembut dan juga dingin sekaligus bermulut pedas. Yah, tidak hanya matanya, mulutnya pun memang tidak kalah tajam.


Tapi perumpamaan itu tidak berlaku bagi seseorang.


Khiara bukan lah mawar merah darah yang liar, tapi mawar hitam berdarah yang liar.


The wild bloody black rose. Berjiwa lembut, penuh kasih sayang dan hati yang bersinar, namun begitu kuat dengan bersimbah darah.


Sosok yang sangat kuat untuk melindungi harga diri dan kehormatannya, membuatnya layak mendapatkan cinta mati yang sejati.


Wanita kuat yang penuh gairah menggoda, membuatnya tak bisa menahan gelora di dada. Menimbulkan sebuah hasrat untuk menariknya ke dalam genggamannya, menundukan segala keangkuhannya lalu menggantikannya dengan sikap possesivenya dan memayunginya di bawah payung perlindungannya.


“Berhenti lah menatapku seperti itu, Lex!” Ucapan Khiara membangunkannya dari pikirannya.


Wanita itu pasti sangat risih dengan tatapan intens yang dilayangkan padanya. Namun Alex masih tetap menatapnya dengan tatapan yang sama, memperhatikannya yang masih tetap sibuk dengan kertas-kertas di hadapannya.


****! Percaya lah, pose Khiara saat ini benar-benar menggoda bulu remangnya.


Tangan kiri yang menyentuh lembaran kertas, tangan kanan yang sibuk menulis dan kepala yang meneleng ke kiri menampakkan leher jenjangnya yang berwarna kuning langsat. Membuatnya ingin sekali menerkamnya. Entah mengapa pose itu terlihat begitu sexy di matanya. Dan seumur hidupnya, dia hanya bisa merasakan hal ini pada satu wanita, yaitu Khiara.


Kali ini Khiara sudah benar-benar jengah dibuatnya. Ia meletakkan penanya dan sedikit memajukan tubuhnya.


“Kenapa kau selalu menatapku seperti itu, hem?” Nada itu benar-benar terdengar sangat menggoda di telinganya. Oh, apakah sisi ****** wanita ini keluar? Jika iya, itu hanya boleh ditujukan untuknya.


“Oh, ****! Kenapa aku harus satu kelompok denganmu? Kau benar-benar membuatku tak nyaman dengan tatapan sialanmu itu.”


“Bukan kah kau tidak pernah terpengaruh dengan tatapan macam apa pun?”


“Tapi matamu itu seakan menelanjangiku, bodoh! Kau seolah ingin menerkamku begitu saja.”


Itu memang benar, sayang. Tapi Alex hanya tersenyum miring mendengarnya. Khiara terlihat lebih menarik saat berdesis seperti ini.


“Bereskan semuanya, kita pergi sekarang!”


“Kemana?”


“Kita akan bersenang-senang hari ini.” Khiara mengernyitkan dahinya.


“Kau sudah selesai dengan tugasmu, bukan?”


Karena Khiara tidak segera membereskannya, maka Alex lah yang membereskan semua kertas yang berserakan di meja mereka dengan cekatan. Akhirnya Khiara pun membantunya. Mereka segera melangkah keluar gedung perpustakaan itu menuju mobil Alex yang terparkir tak jauh dari sana.


Kenapa mobil Alex? Karena Khiara tidak pernah membawa mobilnya ke kampus. Ia selalu pulang pergi kampus menggunakan skate roller atau pun skateboard-nya. Karena sejujurnya ia tidak suka berkendara dengan mobil di kota yang padat seperti merayap.


Jikalau ia harus berkendara jauh, ia lebih suka menggunakan motor sportnya. Mobilnya benar-benar selalu ada di garasi rumahnya, dan hanya keluar garasi jika ia membutuhkannya saja.


“Kenapa kau tidak pernah menggunakan mobilmu ke kampus?”


“Aku tidak suka dengan kemacetan.” Sahutnya enteng. Jawaban yang masuk akal untuk Alex. Mereka sudah melesat membelah kepadatan kota.


...***...


Khiara merasakan setiap hembusan angin yang menerpanya. Alex telah membuka cap mobilnya, membuatnya menikmati alam di sekitarnya dengan leluasa.


Entah Alex akan membawanya kemana, ia tidak perduli. Anehnya, Khiara tidak merasa takut sama sekali.


Jika Alex macam-macam dengannya, ia bisa menghajarnya.


“Aku baru pertama kali melihat jalan ini, dan___ kenapa jalan ini begitu indah?”


Jalan ini merupakan jalan di tengah hutan yang pastinya ada di daerah pegunungan. Jalan yang begitu lebar namun hanya ada beberapa kendaraan yang berpapasan dengan mereka.


“Karena ini tempat pribadi.” Sahut Alex saat menoleh ke arahnya.


“Yours?” Alex hanya mengangguk singkat.


“Apa kau sekaya itu, huh?” Alex hanya mengedikkan bahunya dan kembali ke jalan raya.


Setelah beberapa lama, Alex menghentikan mobilnya di sebuah ladang bunga yang membentang bak permadani yang berwarna-warni.


Entah berapa hektar luas ladang tersebut, Khiara sendiri tidak bisa mengira-ira.


Khiara segera melesat keluar setelah mobil benar-benar berhenti. Di belakang, Alex mengikuti dengan santai. Wajah takjub tak bisa disembunyikan Khiara. Ini benar-benar sangat indah, pikir Khiara.


Angin semilir menyambutnya dengan lembut. Ia memejamkan matanya dan merentangkan kedua tangannya. Merasakan angin yang menyapu wajahnya. Alex tercekat melihat pemandangan itu.


Bukan, bukan ladang bunga indah yang membentang di depan sana. Tapi makhluk cantik yang berdiri di sebelahnya. Sebuah mahakarya Tuhan yang begitu sempurna di matanya. Bunga yang paling indah dalam hidupnya. Bunga mawar hitam darah yang mampu membiusnya.


“Hei, apa semua ladang ini milikmu?” Lagi-lagi Khiara membuyarkan pikirannya saat sedang mengaguminya. Dan lagi-lagi Alex hanya menganggukan kepalanya.


“Waw, aku baru tau kalau pria sepertimu menyukai bunga.”


“Bukan aku yang menyukainya, tapi seseorang yang berarti dalam hidup ku yang menyukainya.” Khiara tertegun mendengarnya.


“Dan dia sudah ada di surga sana.” Imbuhnya.


Khiara menatapnya dengan lekat hingga ke dasar matanya. Tatapan itu, bukan tatapan menantang atau pun tatapan tajam. Tapi tatapan dalam yang susah untuk diartikan.


Dan kini bibir itu melengkung membentuk sebuah senyuman, tapi air mata lolos jatuh dari pelupuk matanya membuat Alex tertegun. Bahkan mengernyitkan dahi, tidak mengerti.


Kenapa dia menangis? Alex heran dengan perubahan Khiara.


“Hei, kenapa kau menangis?”


Kedua tangan Alex menjulur mengurung wajah itu dan menghapus air mata yang mengalir menggunakan kedua ibu jarinya dengan lembut. Air mata itu membuat dadanya terasa sesak.


“Ku mohon jangan menangis!”


Dan ini adalah permohonan dari seorang Alex. Begitu berpengaruhnya air mata seorang Khiara hingga mampu membuat seorang Alex memohon.


DYARR!!


Sebuah ledakan terjadi dalam diri Khiara ketika Alex mencium kedua matanya. Ciuman itu mampu mengalirkan ratusan ribu volt listrik dalam aliran darahnya. Menjalar ke seluruh tubuh, menghasilkan percikan-percikan api di dalamnya. Begemuruh, dan mengalir dengan kecepatan tinggi menuju pusat hingga mendobrak jantung hatinya dan pada akhirnya meledakkan jantungnya saat itu juga.


Apa ini? Apa yang terjadi padanya? Tubuhnya terasa kaku bagaikan patung.


Meski rasa ini begitu asing baginya, namun sentuhan Alex tidak lah asing baginya. Ia pernah merasakannya di masa lalunya.


Tapi tidak mungkin. Tidak mungkin itu adalah Alex. Tidak, mungkin saja itu salah. Mungkin saja hanya karena Alex mengucapkan kalimat yang sama dan melakukan hal yang sama padanya.


Yah, mungkin memang seperti itu. Kata-kata itu merupakan hal yang wajar ditujukan untuk orang yang menangis, bukan? Yah, itu adalah hal yang wajar. Itu hanya lah kemiripan yang tidak disengaja.


Tapi kenapa? Kenapa ciuman Alex mampu mendobrak dinding dalam hatinya? Kenapa tubuhnya tidak memberikan respon penolakan dan reflek menepisnya, seperti respon yang selalu ia berikan pada hampir semua pria yang menyentuhnya? Apakah ada yang salah dengannya? Ini sungguh aneh baginya.


Selama ini ia tidak pernah membiarkan seorang pria pun menyentuhnya. Kecuali sahabat dan keluarganya. Itu karena ia sangat membencinya.


Tidak, ia bukannya membencinya. Tetapi tidak bisa. Tidak bisa karena takut akannya. Takut akan setiap sentuhan pria yang diterimanya. Ia menderita haphephobia, hingga tidak bisa menerima sentuhan asing di tubuhnya terutama sentuhan pria.


Tapi dengan Alex? Rasa takut itu sama sekali tidak ada di dalam sana. Justru sebaliknya. Ketenangan, kenyamanan dan rasa aman yang dirasa. Belum pernah ia merasakan hal ini sebelumnya. Bahkan hal ini tak pernah didapatnya dari sentuhan para sahabat atau pun keluarganya.


Dan seorang Alex lah yang mampu memberikannya. Yah Alex, orang asing pertama yang menyentuhnya, tapi justru memberikan rasa nyaman dan getaran dalam hatinya. Rasa yang aman dan nyaman yang begitu dirindukannya.


Ini salah! Ini tidak boleh terjadi. Bukan ini yang seharusnya terjadi. Teriak Khiara dalam hati.


Begitu banyak penyangkalan dalam dirinya, tapi apa daya tubuh dan hatinya mengkhianatinya. Jika seperti ini, bagaimana ia akan menjalankan misinya?


“Kau baik-baik saja?” Guncangan Alex membuatnya tersadar. Ia kembali menatap Alex. Alis itu terangkat seolah bertanya.


“Kau baik-baik saja?” Alex kembali menanyakan hal yang sama karena dia tidak melihat Khiara sedang dalam keadaan baik-baik saja.


“Ah, aku baik-baik saja.”


“Kita pergi dari sini.” Alex menuntun Khiara ke dalam mobil dan Khira menurut begitu saja.


......***......