
Beruntung Khiara tidak berada di lingkungan yang toxic. Ia memiliki tetangga yang cukup ramah dan tidak suka ikut campur akan kehidupan orang lain. Sehingga ia tidak akan mendengar celotehan dari mulut-mulut nyinyir yang suka mengiris-iris hati.
Dan nilai plusnya, komplex rumahnya berada di kawasan mansion yang sebagian besar merupakan asset property. Asset - asset tersebut disewakan, sehingga penghuninya pun silih berganti. Membuat mereka minim interaksi. Hal ini sangat bagus untuk mental healthnya yang sedang dalam masa rehabilitasi.
Khiara mulai menatap ke depan. Cedars Cinay adalah tempat berikutnya yang menjadi tujuan. Namun sebelumnya, ia harus membeli sebuah ponsel untuk menelfon seseorang. Karena untuk kedepannya, ia sangat membutuhkan dampingan serta bantuan.
"Dit, aku butuh bantuan," ujarnya segera setelah nada sambungan berakhir. Khiara telah mendapatkan ponsel barunya.
“Khiara?” Orang di sebrang sana mencoba untuk menebak suaranya.
“Dari mana saja kamu? Kenapa susah sekali menghubungimu? Kakakmu sedang gusar menunggu kabarmu. Kau membuat kami semua khawatir, tau!?” Khiara menjauhkan ponselnya dari telinga, suara keras lawan bicaranya sedikit menusuk telinga.
“Aku di rumah, ponselku hilang entah kemana.”
“Kenapa tidak segera beli ponsel baru?”
“Malas.” Khiara bisa mendengar dengusan karena geram di seberang sana.
“Aku hampir menyusulmu karena kemalasanmu itu!”
“Kalau begitu susul lah!” Seandainya saja Khiara tau, ucapannya membuat sahabatnya yang bernama Aditya memutar kedua matanya karna gemas.
Paris - Los Angeles bukan lah tempat yang bisa dibilang dekat. Butuh waktu kurang lebih sepuluh jam perjalanan untuk bisa touch down di LAX. Belum lagi dia akan digantung oleh ayahnya jika meninggalkan pekerjaan yang belum selesai begitu saja.
“Minggu depan aku akan ke sana.”
“See ya.” Khiara memutus sambungan begitu saja. Untung orang di sebrang sana sudah terbiasa. Jika tidak, pasti pria itu sudah membanting ponselnya. Tata krama Khiara memang tidak berada di level yang seharusnya.
Dan Adit pun datang seminggu setelahnya. Bisa ditebak bagaimana terpukulnya dia. Bagaikan diserang oleh ribuan panah hingga menembus jantungnya. Tubuhnya pun terhuyung seketika. Namun anehnya, di sini justru Khiara yang menenangkannya.
Di awal, Aditya memang sangat susah menerima kenyataan yang ada. Bagaikan mimpi buruk di pagi buta, apa yang didengarnya sungguh sangat sulit untuk dipercaya. Namun inilah realita, kita tidak bisa mengharapkan hal yang baik terus terjadi. Terkadang hal yang buruk pun datang menyambangi.
Singkat cerita, perlahan demi - perlahan, Aditya pun mau menerima. Tepatnya, berusaha untuk menerima kenyataan yang ada. Kesedihan, amarah, dan dendam memang masih ada. Bahkan rasa frustasi pun juga datang menyambanginya, karena Khiara tidak mau mengungkapkan siapa pelakunya.
Dan sayangnya, Aditya terlalu mengenal bagaimana Khiara. Sekali Khiara bungkam, maka ia akan tetap bungkam. Tidak akan ada yang mampu mengorek keterangan darinya. Meskipun segala cara sudah dilakukannya.
Akhirnya Aditya pun mengalah. Ia berusaha untuk meredamnya, walau disaat tidak bersama Khiara dia berusaha untuk melampiaskannya. Sama seperti Khiara, Aditya pun merupakan orang yang melampiaskan kemarahannya pada benda. Namun, dia lebih tertata dan sesuai dengan jalurnya. Samsak yang tergantung di ruang olahraga, akan selalu menjadi teman sparingnya.
Sebagian besar orang bilang, bahwa kita harus mengontrol emosi. Menahan diri bahkan mengusirnya dari dalam hati. Tapi tau kah mereka bahwa kelak, hal itu justru akan menjadi bom bunuh diri? Tidak, tidak banyak yang tau akan hal ini.
Hampir semua orang memiliki emosi. Emosi ada sebagai tanda bahwa manusia masih memiliki hati. Karena emosi terpatri di dalam diri. Lalu bagaimana bisa seseorang melenyapkan emosi dari dalam hati? Nonsense!
Emosi harus dilepaskan, agar kita tetap mendapatkan kewarasan. Hanya saja, kita harus tau bagaimana cara yang tepat untuk melampiaskannya.
Banyak cara untuk melampiaskan, seperti membicarakannya, menuliskannya, membuatnya menjadi karya, atau memukul benda seperti yang dilakukan Aditya dan Khiara. Itu lah yang mereka dapatkan dari sebuah pelajaran dan pengalaman.
Khiara bukannya tidak tau apa yang disembunyikan Aditya. Ia tau persis bagaimana perasaan sahabatnya. Pria itu turut hancur bersamanya. Khiara tau benar bagiamana seorang Aditya, sama seperti bagaimana Aditya mengenal Khiara.
Mereka terlalu mengerti dan memahami satu sama lain. Tanpa harus saling mengatakan perasaan mereka masing - masing. Sama seperti Aditya yang menemani hari-harinya dalam mengatasi kehamilan dan mental healthnya. Khiara pun selalu menemani Aditya melepaskan amarahnya, meski dari balik dinding ruang olahraga yang membatasi mereka.
Aditya tidak pernah tau bahwa Khiara selalu menunggu dan mengamatinya. Khiara yang selalu bersandar di dinding luar ruang olahraga, akan selalu memejamkan mata dan menyilangkan tangannya di depan dada saat Aditya mulai melepaskan emosinya.
Tidak perlu CCTV untuk melihat bagaimana keadaan Aditya di dalam sana. Seluruh teriakan, cacian hingga pukulan dan tendangan pun sudah mampu memetakannya.
Lolongan dan tangisan Aditya di dalam sana, sungguh sangat menyesakkan dada. Bahkan untuk bernafas pun sangat sulit rasanya. Apa yang didengar oleh telinganya telah bertransformasi menjadi belasan tangan yang meremas jantung dan paru-parunya. Membuat udara di sekitarnya sangat susah untuk melesak masuk ke dalam sana. Sungguh ingin rasanya ia menulikan telinganya. Namun ia tak kuasa untuk melakukannya.
Di sini Khiara lah yang menjadi korban kebejatan manusia. Dan dia lah yang seharusnya mendapatkan dukungan, tapi kenapa justru Aditya lah yang sepertinya lebih membutuhkannya?
Belum pernah Khiara melihat Aditya hancur seperti ini sebelumnya. Khiara tidak pernah membayangkan sebelumnya, ternyata perasaan Aditya sedalam ini padanya. Ia tidak pernah menyangka, bahwa pria itu juga akan menderita bersamanya. Jika tau begini jadinya, Khiara tidak akan meminta Aditya untuk mensupportnya.
...***...
Meskipun mereka hampir sama, namun Aditya sedikit berbeda dengan Khiara. Aditya sedikit lebih lama dalam melampiaskan amarahnya.
Karena dia butuh objek langsung untuk melepaskannya, yang artinya dia harus menghujam objek utama yang menjadi sumber permasalahannya. Dan dalam hal ini, pelaku yang telah melukai Khiara lah dimaksudkan olehnya.
Khiara sedikit merasa bersalah, namun ia tetap tidak bisa memberitahukan hal ini padanya. Karena ia tau, orang itu pasti akan mati ditangan Aditya. Tidak! Bukan seperti itu skenario balas dendamnya.
Dalam diamnya, Khiara selalu meneteskan air matanya. Ia tidak tau bagaimana ia akan menghadapi keluarganya. Aditya saja sampai seperti ini, apalagi seluruh keluarganya?
Suara Aditya yang memukul keras buntalan pasir yang mencapai 90 kilo itu sudah tidak lagi terdengar telinganya. Dan tiba-tiba Aditya sudah berada di sisinya.
Khiara buru-buru mengusap air matanya. Namun Aditya menghalaunya, kemudian dengan kedua ibu jarinya dia mengusap air mata yang telah membasahi pipi Khiara.
"Apa kau selalu berada disini?" Tanya Aditya. Dan Khiara hanya bisa tersenyum kikuk padanya.
"Maafkan aku." Aditya segera memeluk Khiara. Khiara berusaha menggelengkan kepalanya di dada bidang Aditya.
"Kenapa kau harus minta maaf? Ini semua salahku." Ujar Khiara di tengah Isak tangisnya. "Karna aku yang membuatmu ikut hancur bersamaku."
"Enggak Khiara. Kamu nggak salah apa-apa. Jangan pernah sekali pun menyalahkan dirimu sendiri!" Ujar Aditya sambil mengusap-usap punggung Khiara dengan lembut.
"Kau tidak seharusnya menerima hal keji ini jika aku atau yang lainnya ikut bersamamu kemari." Khiara kembali menggelengkan kepalanya.
Aditya menangkup wajah Khiara dengan kedua telapak tangannya. Membuat Khiara berhenti menggelengkan kepala. Dia menatapnya dengan sangat dalam.
"Khiara, menikah lah denganku!" Kelopak mata Khiara melebar seketika.
"Dit___ kau sadar apa yang kau ucapkan?" Khiara menggenggam tangan Aditya di pipinya dan berusaha untuk menyingkirkannya.
"Sangat amat sadar." Khiara memejamkan matanya.
"Dit___ bukan tanggung jawabmu untuk menikahiku." Tolak Khiara. Kini ia sudah mampu menatap Aditya.
"Aku tau, tapi bukan karena itu aku ingin menikahimu."
"Lalu?"
"Kau tentu tau bagaimana perasaanku padamu." Khiara tersenyum lesu mendengarnya.
"Aku tau, sangat tau. Aku juga tau bagaimana perasaan yang lainnya padaku. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak mau memilih salah satu di antara kalian. Kalian terlalu berharga untuk dilepaskan. Apa kau mengerti itu?"
Yah, Aditya tentunya cukup cerdas untuk mengerti maksud Khiara. Jika Khiara memilih salah satu di antara Artha, Endra, Krisna dan dirinya, pasti akan ada perpecahan di antara mereka berlima. Makanya Khiara berulang kali selalu menegaskan tidak akan ada friend zone di antara mereka.
"Tapi sekarang kau hamil Khiara."
"Jangan memanfaatkan keadaan, Ditya. Aku tidak mau membuatmu terlihat b*jingan di mata mereka."
Tak ada lagi yang bisa Aditya katakan. Khiara menangkupkan tangannya pada wajah Aditya. Pria tangguh di depannya telah berubah seperti tentara yang kalah dari medan peperangan.
"Hei soldier, straighten up!! Look at me! Here I just need you to support me. Can you do it for me?" Ada ketegasan di setiap kata yang keluar dari mulut Khiara. Ia tidak ingin menghancurkan hubungan mereka. Baik antara dirinya dan Aditya atau pun dirinya dan seluruh sahabatnya.
Aditya menatap Khiara dengan lekat. Senyum getir memang terukir, namun hati harus lah tetap kuat. Dia akan menuruti permintaan Khiara. Dia akan terus mendampingi Khiara, meski tak ada ikatan di antara mereka.
"Good boy!" Khiara mengusap air mata yang jatuh dari ujung mata Aditya.
Khiara merengkuh Aditya ke dalam pelukannya. Mendekapnya dengan penuh kehangatan. Ia tau, meski Aditya tidak mengatakannya tapi Aditya pasti akan menuruti permintaannya. Aditya akan terus ada di sampingnya sebagai sahabat yang akan terus mensupportnya. Mereka akan saling support satu sama lain untuk melangkah ke depan.
Dan hari demi hari berlalu sesuai dengan harapan. Setiap hari Khiara lalui dengan berbagai kegiatan. Bepergian ke tempat-tempat yang menyenangkan. Dan mempelajari hal baru yang selama ini belum pernah ia lakukan.
Hal itu ia lakukan agar tetap hidup dalam kewarasan. Karena di masa kehamilan, ternyata stress memang mudah bertandang. Sama persis seperti yang dokter Megan katakan.
Bahkan terkadang ia sering kali merasa kewalahan, karena morning sick selalu saja menyerang di awal kehamilan. Dan untungnya Aditya mendampingi Khiara dengan sabar dan penuh perhatian.
Aditya tidak pernah mengeluh sama sekali, justru dia senang bisa mendampingi wanita yang dicintainya melalui masa kehamilan yang sangat melelahkan. Dia tidak perduli, meski bayi yang ada di dalam sana bukanlah anaknya. Aditya tetap mencintai calon bayi itu, karena bayi itu adalah bagian dari Khiara. Hingga akhirnya bayi itu pun terlahir ke dunia.
...***...