
New York sore hari…..
Alex melempar berkas yang ada di tangannya begitu saja ke atas meja. Menarik kursi kebesarannya dan menghempaskan pantat di atasnya. Ini sangat melelahkan, di mana pikirannya harus terbagi antara pekerjaannya dan Khiara.
Rapat dengan perusahaan terbesar di Amerika telah usai. Tender ini sangat lah penting bagi perusahaannya. Sehingga dia sendiri yang harus turun tangan untuk menanginya. Dia memijat tengkuknya yang terasa kaku. Dan tiba-tiba teringat sesuatu. Ini New York. Dia segera bangkit dari kursinya, menyambar jasnya dan segera keluar dari ruangannya.
“Mau ke mana kau?” tanya Ata.
“Menemui seseorang," balasnya tanpa memedulikan Ata yang datang dengan dua gelas kopi untuk mereka berdua.
New York City bertambah padat di sore hari. Semburat cahaya senja menerobos masuk melalui kaca mobilnya, menciptakan warna keemasan yang menerpa kulit putihnya.
Seandainya saat ini adalah saat untuk bersantai, pasti lah Alex sudah menyempatkan diri untuk menikmati matahari senja di salah satu atap gedung di kota ini. tetapi sayangnya saat ini dia sedang tergesa-gesa.
Tak berapa lama mobilnya sudah masuk ke dalam parkiran di sebuah gedung olahraga. Lalu dia berjalan meninggalkan mobilnya menuju tempat di mana dia bisa menemui seseorang.
Dan dapat! Seseorang sedang mendrible bola di tengah sana. Mencetak angka dari berbagai sudut, dan melakukan slam dunk dengan lihainya.
“Mau sampai kapan kau berdiri di sana? Aku tahu kau datang jauh-jauh dari Asia Tenggara bukan untuk sekadar berdiri di sana,” seru orang di tengah sana tanpa menoleh padanya. Alex mendekat ke lapangan. “Aku sudah mengatakannya kepadamu kalau dia tidak bersamaku," tambahnya tanpa mengakhiri permainannya.
“One on one untuk sebuah pertanyaan.” Orang itu menyeringai, dan Alex sudah menggulung lengan kemejanya.
Sedetik kemudian bola itu meluncur ke arah Alex. Alex menangkapnya dengan mulus.
Alex tidak peduli apakah Khiara bersamanya atau tidak. Yang Alex yakini wanita itu pasti akan kembali. Karena wanita itu memiliki tanggung jawab di pundaknya.
Alex baru mengetahui kebenaran itu dari Ata beberapa hari lalu. Hal itu lah yang membuat Alex sedikit lebih tenang hingga dia bisa menjalankan pekerjaannya kembali. Dan ‘mengapa bisa tanggung jawab itu berada di pundaknya?’-lah yang ingin Alex ketahui.
Dengan lihainya Alex mendribel bola itu dengan tangannya. Berpindah-pindah dari satu tangan ke tangan lainnya. Bola itu terus melekat di tangannya, seolah di balik tangannya memiliki perekat. Dengan lincahnya dia menggiring bola dan mencetak angka pertama.
Dan mereka pun mulai melakukan pertarungan yang sesungguhnya. Pertarungan terlihat begitu sengit. Tak ada yang mau mengalah dari lawannya. Saling menunjukkan kemampuan dan mencetak points. Angka di papan skor mulai menunjukkan angka puluhan. Mereka bertarung hingga batas kemampuan. Saling kejar mengejar dan tidak akan berhenti sebelum salah satu dari mereka menyerah.
Peluh sudah membasahi tubuh mereka. Stamina mulai menurun. Dan napas telah berderu dengan kasar menandakan tenaga sudah terkuras. Mereka benar-benar bertanding sampai titik penghabisan. Dan tembakan mulus dari tengah lapangan milik Alex mengakhiri pertandingan.
Mereka berdua terkulai lemas di atas lantai lapangan. Menatap ke atas gedung yang tertutup atap dan diterangi oleh lampu-lampu dalam keheningan. Mereka hanya terus terdiam di balik deru napas yang terdengar lelah sambil menetralisir pernafasan.
“Bagaimana bisa ada orang sepertimu?” Endra mulai menegakkan tubuhnya dan bersuara.
Nafasnya sudah mulai kembali untuk bisa mengeluarkan suara. Kini dia duduk dilantai dengan kedua tangan menopang tubuhnya dari belakang dan memandang Alex yang masih terbaring di dekatnya.
Dalam hatinya dia mengakui kehebatan lawannya. Bahkan mungkin sedikit lebih unggul di atasnya. Dan staminanya, patut untuk dibanggakan. Nafasnya begitu stabil untuk ukuran pengusaha seperti Alex.
Karena pengusaha tidak lah seperti Altet yang dipacu dengan latihan berat untuk menjaga stamina dan pernafasannya. Jika pun Alex masuk NBA, Endra yakin orang itu pasti akan lulus dengan mulus.
“Dan bagaimana bisa ada pemain NBA seperti mu? Apa mereka tidak salah pilih?”
“Hahaha___itu bukan mereka yang salah. tetapi kau yang gila!” Alex tertawa geli mendengarnya.
“Baik lah, sudah cukup basa-basinya.” Alex menegakkan tubuhnya. “Mengapa kau menyerahkan posisi CEO padanya?”
“Aku tidak menyerahkannya. Aku hanya mengembalikannya.” Kening Alex berkerut. “Universitas itu memang atas nama keluargaku, tetapi dia lah OWNER sebenarnya.”
Setidaknya itu lah harta satu-satunya yang tersisa yang ditinggalkan ayah kandung Khiara.
“Khiara tidak mau menyentuhnya sama sekali sebelumnya. Dia sangat payah soal bisnis, jadi dia menghindarinya. tetapi akhir-akhir ini dia bersikeras belajar tentang dunia yang tidak dia sukai.”
Alex tertegun mendengarnya. Sebuah senyum yang tak dapat diartikan maknanya tersungging di bibirnya. Dia berdiri dan berlalu dari tempatnya meninggalkan Endra yang masih terduduk di lantai.
Tidak ada ucapan terima kasih yang keluar dari bibirnya. Tentu saja, Alex tidak pernah mengucapkan kata itu dan semacamnya. Kecuali pada satu orang.
Endra pun bukan orang yang peduli dengan kata-kata terima kasih dan semacamnya. Dan di antara keduanya sudah saling mengerti sifat satu sama lain. Tidak ada yang perlu menuntut ataupun dituntut.
“Jika kau mencarinya, dia sudah kembali ke tempatnya.” Teriak Endra dari tengah lapangan.
Alex bisa mendengarnya, namun tetap berlalu begitu saja tanpa menoleh ke belakang. Seolah infomarsi itu tidak lah penting. Namun sebuah senyum manis tersungging di bibirnya.
...***...
Jet lag masih menyerangnya. Keadaan ini akan berlangsung hingga dua hari ke depan.
“Kau baik-baik saja?” Khiara mengangkat kepalanya yang bertumpu pada kedua tangannya yang terlipat di atas meja. dia melihat Rein sudah berada di depannya.
“Eumm___hanya sedikit tidak enak badan.”
“Jika tidak enak badan mengapa ke kampus?” Lusi berdecak kesal disebelahnya. Namun Khiara hanya tersenyum tipis menanggapinya.
“Iya, tidak masalah jika kau tidak masuk sehari atau dua hari lagi. Kau bisa mengambil izin sakit mu.” Kini Lusi yang sudah mulai mengomel panjang lebar.
Khiara kembali menelengkupkan kepalanya. Sepertinya memang benar, tidak seharusnya dia memaksakan diri.
“Jangan coba-coba menyentuhku Rein!” desis Khiara saat dia merasakan tangan rain hendak menepuk bahunya, dan membuat tangan Rein melayang di udara. dia menegakkan tubuhnya dan meraih tasnya.
“Aku tidak menyukai sentuhan para pria.” jelasnya sambil berlalu dari tempatnya dengan langkah terhuyung. Meninggalkan ekspresi keterkejutan pada dua orang itu.
'Ada apa dengannya?' Rein dengan pikirannya.
'Ah, aku lupa. Dia menderita haphephobia?'
Belum sempat dia melewati pintu ruang kelas, dari keadaan pusing kini kepalanya berubah merasakan sakit. Pandangan mulai kabur. Dan saat itu juga dia melihat sosok yang dikenalnya melangkah dari balik pintu. Sedetik kemudian dia hanya merasakan seseorang menopang tubuhnya bersamaan dengan teriakan Lusi, lalu semua terasa begitu gelap.
Alex berhasil menangkap tubuh Khiara dengan sigap. Menggendongnya ala bridal dan segera membawanya ke ruang kesehatan diikuti Rein dan Lusi. di sana sudah ada dokter yang menanganinya.
“Tidak apa-apa, dia hanya mengalami kelelahan. Apa dia sedang melakukannya pekerjaan berat yang membuatnya stres atau habis melakukan perjalanan jauh, mungkin?”
'Jet lag,' tebak Alex saat mendengarkan pejelasan dokter.
“Ya.” Sahut Alex yang berdiri di samping ranjang dengan melipat kedua tangan di dada.
“Benarkah? Dari mana kau tahu?” Tanya Rein yang ada di sebelahnya. Sedangkan Lusi dengan cemas menggenggam tangan kanan Khiara yang bersebrangan dengan Alex dan Rein.
“Kalau begitu biarkan dia beristirahat, saya akan tuliskan resep untuk ditebus di apotek. Obat itu akan membantunya meredakan sakit kepalanya.”
Alex tidak menjawab. Dia hanya terdiam dan terus menatap tajam wajah pucat Khiara. Mencoba menganalisa dari mana wanita itu hingga mengalami Jet Lag parah seperti ini.
Eropa? Kembali dari Amerika merupakan perjalanan ke barat, sedangkan dari Eropa merupakan perjalanan ke timur yang mengikuti rotasi bumi dan melintasi 4-7 zona waktu. Tingkat keparahannya lebih tinggi daripada penerbangan melawan rotasi.
Jarak paling jauh adalah Afrika Selatan, namun harus melakukan transit di Dubai. Sedangkan jarak penerbangan langsung terjauh adalah Amsterdam.
apalagi jika dilihat dari kondisi kulitnya yang tidak mengalami sunburn, dan justru lebih putih dari sebelumnya, lebih menguatkan lagi jika dia berada di daerah dingin. Eropa memang lebih memungkinkan.
Saat Alex sedang memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada, maka Khiara sedang bertarung dengan kenangan masa lalunya. Tubuh itu tidak gelisah tetapi kerutan wajah tercetak jelas di wajah mulusnya. Kejutan tangan yang samar menandakan alam bawah sadarnya bereaksi dengan tubuhnya.
Lusi merasakan gerakannya, dan Alex menangkapnya dengan kedua matanya. Alex menurunkan tangannya dan menggengam tangan Khiara yang terpasang slang infuse.
Rein yang melihatnya berkerut, apa kah yang dikatakan Khiara tadi hanya alasan? Kini bahkan Alex dapat menyentuhnya dengan bebas.
Sedangkan tanpa mereka ketahui, genggaman tangan Alex telah menentramkan hatinya dalam gejolak emosi yang berputar-putar dalam dirinya.
Dan pada akhirnya, air mata lah yang meleburkannya. Air mata itu lolos begitu saja setelah Alex menggenggamnya. Dan dengan lembut Alex menghapus air mata tersebut.
Perlakuan Alex membuat Rein dan Lusi tidak percaya. Ini adalah hal termanis yang dilakukan Alex pada seorang perempuan yang pernah mereka lihat.
Meski hanya sekadar menyeka air mata, tetapi itu terlihat sangat berbeda jika Alex yang melakukannya. Bahkan wajah pria itu terlihat melembut dan penuh kasih sayang. Layaknya sikap seorang suami pada istrinya.
Mata Khiara terbuka begitu saja dengan tiba-tiba, layaknya orang yang sedang kerasukan. Membuat mereka semua tersentak.
'Ada apa?' pikir mereka cemas.
Dengan tajamnya Khiara memandang sekeliling ruangan. dia bisa melihat siapa saja yang ada di sana, namun dia mengabaikannya. Bahkan panggilan dari Lusi pun tak didengarkannya.
Menyadari berada di dalam ruang apa saat ini, membuat jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Dadanya begitu sesak. Wajah yang tadinya bersih kini mulai muncul peluh yang membasahinya.
Ruang ini sangat putih, membuatnya terlihat seperti ruang rawat di rumah sakit. dia tak menyukai tempat ini. Semua panggilan tak bisa didengarnya. Cemas, itu lah yang dia rasakan saat ini. Hanya satu suara yang berhasil menembus telinganya. Suara itu milik Alex.
“Hei, are you okey?”
Namun dia mengabaikannya. Dengan cepat dia melepas semua genggaman tangan yang menggegam kedua telapak tangannya. Dan dengan kasar dia mencabut slang infus yang menancap di tangannya dan segera meloncat turun dari ranjang.
Tak diperdulikannya kaki yang terkilir akibat mendarat di lantai dengan posisi salah. dia terhuyung berlari keluar ruangan. Namun akhirnya dia dapat berlari degan benar, meski dalam keadaan setengah pincang. Keluar dari tempat itu lah yang saat ini dia butuh kan.
dia berlari menjauh dari tempat itu, bahkan menubruk beberapa orang yang tak sengaja menghalangi jalannya. Mereka sedang shooting video clip atau apa? mengapa banyak sekali orang-orang di depannya?
dia bahkan merasa seperti sedang melawan arus sekumpulan manusia yang sedang menyebrang di persimpangan Shibuya.
Tidak ada kata maaf darinya kepada orang-orang yang ditabraknya. dia hanya terus berlari menelusup ke dalam kerumunan begitu saja. Tanpa memedulikan mereka semua. Hingga akhiranya sebuah lengan kekar melingkar di perutnya dari belakang untuk menghentikannya.
...***...