
“Siapa kau sebenarnya?” Wajah Khiara berubah menjadi serius.
Khiara segera meraih ponselnya dan melihat pesan dari Adit. Seharusnya sahabatnya itu sudah akan mendarat beberapa jam lagi. Dia segera bersiap dan menuju ke bandara.
Di bandara, Khiara harus menunggu beberapa jam lagi. Di sebuah cafe 24 jam, dia bersantai menunggu Adit sambil menyesap espresso dan membuka laptopnya. Jemarinya dengan lincah menari di atas keyboard.
Kode-kode yang tak beraturan menghiasi layar laptopnya. Cukup lama dia berkutat dengan kode-kode tersebut. Hingga akhirnya sebuah senyum puas menghiasi bibirnya. Dia menyandarkan tubuhnya dan kembali menyesap espresso-nya.
“Menemukan sesuatu, Cantik?” Adit sudah berdiri di sampingnya, dan menghempaskan pantatnya di samping Khiara. Sofa itu terasa begitu nyaman untuknya.
“Em ...” Adit mengambil espresso di tangan Khiara, kemudian menyesapnya. “Kau bertemu dengannya?” tanya Khiara.
“Ya," jawab Aditya sambil meletakkan cangkir tersebut, lalu merebahkan kepalanya di atas pangkuan Khiara. “Biarkan aku beristirahat sebentar.” Khiara pun mendengus.
“Cih ... 'sebentar-mu' bisa sampai pagi.”
“Hei! Perjalanan dari Prancis itu cukup melelahkan. Kau saja selalu jet leg setelah dari sana," kilah Adit.
“Hahaha ... iya, tidurlah!” ujarnya sambil memposisikan diri agar Adit mendapatkan posisi tidur yang nyaman sambil menutup mata Adit dengan sebelah tangannya.
Sementara Adit terlelap, Khiara membaca dan mempelajari semua data yang baru saja dicurinya. Cukup lama Khiara memahami semua data-data tersebut. Menelusuri hingga detail dari hal paling kecil sekali pun.
Dan tak terasa matahari mulai menyingsing. Semburat-semburat cahaya mentari yang terasa hangat menerobos masuk ke dalam cafe dan menyilaukan mata.
Adit bergerak menggeliat karena rasa tidak nyaman. Khiara yang sedang fokus dengan data-data di depannya, mengalihkan perhatiannya pada Adit dan menutupi matanya dari silaunya sinar matahari.
Sebuah senyum tersungging di bibirnya.
Beberapa tamu sudah mulai berdatangan, membuat cafe yang berada di dekat bandara ini menjadi lebih ramai dari sebelumnya. Khiara meletakkan headphone pada kedua telinga Adit dan memutarkan musik klasik pengantar tidur, agar Adit tidak terganggu dengan berisiknya para tamu dan bisa lebih tenang beristirahat.
Bagi semua orang yang melihatnya, pastilah ini merupakan hal romantis dari sepasang kekasih. Tapi tidak dengan mereka. Hal ini adalah hal biasa yang sering mereka lakukan.
Khiara memperlakukan semua sahabatnya sama seperti ini. Karena dia telah menganggap seluruh sahabatnya sebagai keluarganya. Dan hal ini pun adalah hal yang sering dia lakukan pada Kaiven.
Ketika anaknya mulai lelah saat dibawa ke tempat ramai, anak itu akan selalu tertidur dalam gendongannya saat dia menelusupkan earbuds ke telinganya.
“Apa aku tertidur terlalu lama?” Adit menggeliat namun sangat malas untuk bangkit dari tidurnya.
“Kau hitung saja sendiri.” Adit melihat jam tangannya, sudah menunjukan pukul 7 pagi.
“Aku lapar," ucap Adit.
“Bangunlah, aku akan memesankan sarapan untukmu.”
“Biar aku saja. Kau ingin makan apa?” tanya Adit seraya bangkit dari sana.
“Seperti biasa.”
“Baiklah.” Adit segera bangkit dengan rambut sedikit acak-acakan.
Sebenarnya itu karena Khiara yang terus mengusap rambutnya agar dia tidur dengan nyenyak. Karena Adit sendiri tidak merasa bergerak-gerak dalam tidurnya. Dia menyisir rambutnya dengan sebelah tangan dan melirik bangku di sampingnya.
“Sudah berapa cangkir kau minum kopi?” Khiara memberi tanda dengan kedua jari tangan kirinya yang terangkat dari keyboard membentuk huruf V. Kemudian Adit segera bangkit dan memesankan sarapan untuk mereka berdua.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata dan sepasang telinga yang sejak tadi mengamati mereka berdua.Tak berapa lama Adit kembali, kini wajahnya sudah terlihat lebih segar dari sebelumnya. Sepertinya dia dari toilet untuk mencuci mukanya.
Selang beberapa saat, pesanan mereka datang. Adit memesankan dua potong sandwich dengan pisang dan secangkir coklat panas untuk Khiara karena Khiara tidak terbiasa sarapan dengan nasi. Sedangkan dia memesan telur mata sapi dengan roti panggang mentega dan secangkir kopi.
“Sebentar lagi Kaiven harus imunisasi tifoid dan hepatitis A," ujar Adit sambil menyantap sarapannya.
“Em... aku tau. Aku sudah mencatatnya. Mommy dan Kael akan membawanya ke rumah sakit," jelas Khiara.
“Kau tidak akan membawanya sendiri?”
“Ck, kau ini. Ibu macam apa yang meninggalkan anaknya di tempat yang ribuan kilo meter jauhnya.”
“Adiiit ....” Khiara memperingatkan.
“I know, I know.” Adit menyeringai, dia sangat suka menggoda Khiara. “Tapi bagaimana kalau dia demam pasca imunisasi?” Hal itu berhasil membuat Khiara mengangkat kepalanya. Adit tahu, Khiara paling khawatir jika anak itu sudah sakit. Otaknya pasti hanya akan tertuju pada anaknya.
“Itu hal yang biasa. Mommy sudah bisa mengatasinya," jawab Khiara berusaha untuk menetralkan rasa khawatirnya.
“Tapi bukannya saat dia imunisasi di Cedar Cinay dia tidak pernah mengalami demam?”
"Itu karena ada beberapa vaksin yang memiliki efek demam dan ada pula yang tidak memiliki efek demam. Dan kebetulan saat dia imunisasi di rumah sakit tempat kelahirannya, vaksin yang diberikan tidak memiliki efek demam."
“Oh, kukira anakmu terlalu pintar memilih mana rumah sakit yang mahal dan mana rumah sakit yang murah.” Khiara meleparkan sepotong kentang goreng yang dia pesan tadi malam pada Adit dan ikut tertawa dengannya.
“Haaah ... seandainya Kaiven di sini, pasti aku akan lebih mudah untuk mengurusnya.”
“Kau jadi membawa Kaiven kemari?" Khiara menggaruk sebagai jawaban. Dia juga melahap gigitan shandwitch terakhirnya.
“Selesaikan makanmu, kita ke rumah Krisna sekarang.” Khiara menutup laptopnya, sedangkan Adit meneguk sisa kopinya. “Jangan lupa bayar sekalian makananku tadi malam," ujarnya sambil pergi mendahului Adit.
Adit hanya tersenyum geli dan geleng-geleng kepala lalu menuju kasir untuk membayarnya.
...***...
Dia tidak sedang salah dengar, bukan? “Khiara punya anak?”
Senyum jahat tersungging sudut di bibirnya. Hari ini merupakan keberuntungan baginya. Informasi ini akan membantunya untuk menyingkirkan Khiara dari sisi Alex. Tidak sia-sia ia datang lebih pagi untuk menjemput kakaknya.
“Dimana tadi? Cedar Cinay? Wait!” Ia mengeluarkan ponselnya dan mulai mendial-up seseorang. “Hai, bagaimana keadaanmu?”
“Hai Nadya? Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?” balas seseorang di seberang sana.
“Yah, tidak begitu baik menurutku," sahut Nadya.
“Kenapa memangnya?”
“Aku ingin meminta bantuanmu," ujar Nadya to the point.
“Sure, apa itu?” Nadya memberitaukan apa yang ia inginkan. “Baiklah, akan ku kabari secepatnya.”
“Thank you so much.”
Dia menutup teleponnya dan mulai membuka gallery pada ponselnya. Melihat kembali video dan baru saja direkamnya. Di sana nampak Khiara yang sedang bermesraan dengan seorang pria yang memiliki paras tampan luar biasa. Bisa dibilang sebelas dua belas dengan Alex.
“Huh! Dasar j*al*ang sialan! Sudah punya pria lain masih saja kegatelan dan merebut Alex dariku. Lihat saja, akan ku hancurkan kau di depan Alex.”
Dia kembali mengamati video serta beberapa foto tersebut. Bahkan Nadya sempat terpesona pada pria tersebut. Tidak menyangka bahwa ada lagi seseorang berparas seperti malaikat selain Alex.
Tiba-tiba saja kemarahan menjalaran di dalam tubuhnya. Kemarahan yang didasari karna rasa iri dan dengki. Kenapa ja*la*ng sialan itu selalu dikelilingi oleh pria tampan? Hal itu membuatnya muak!
Sementara di dalam café Nadya sedang menahan amarahnya sembari merancang rencana liciknya, di luar café seorang pria sedang berdiri terpaku tidak jauh dari pintu keluar. Dia terdiam dan terpaku saat melihat sosok wanita cantik namun berparas dingin dengan mata yang begitu tajam keluar dari café tersebut.
Alexi? Seolah tak percaya dengan penglihatannya, dia segera menajamkan penglihatannya. Wanita itu terlihat semakin cantik dengan parasnya yang tegas. Tubuhnya yang sedikit atletis dan berisi membuatnya terlihat begitu sexy dan kencang meski tertutupi oleh kos putih longgar yang disingsingkan hingga pangkal lengan. Dan saat wanita itu tersenyum, terlihat begitu anggun dengan seluruh pesonanya. Sungguh dia telah terpesona untuk kesekian kalinya pada sosok Alexi.
Namun senyum kecut segera tertoreh di sudut bibirnya begitu melihat siapa yang menyusul di belakangnya. Aditya dengan seluruh pesonanya yang menjadi-jadi membuatnya mengepalkan tangannya. Pentolan Vita Dolce itu tidak pernah lepas dari sisi Alexi. Dialah yang selalu menghalanginya mendekati Alexi.
Tiba-tiba senyum iblis tersungging di bibirnya. Bagaimana pun juga dia telah melihat Alexi ada di negara ini. Wanita itu telah keluar dari persembunyiannya selama ini. Dan dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Bagaimana pun juga dia harus bisa mendapatkan Alexi.
...***...