THE ALEXIS

THE ALEXIS
HEAL AND BE HEALED



Alex berhasil merengkuh dan menariknya dalam pelukannya setelah dia mengejarnya, menerobos kumpulan orang yang bagaikan menyebrang jalan dari arah yang berlawanan di depannya. Bahkan beberapa dari mereka ada yang dihempaskannya begitu saja.


Tentu saja, tidak ada yang berani menegurnya, ketika Alex yang dingin, tenang dan menyeramkan di mata mereka terlihat sedang mengeratkan rahangnya dengan wajah kaku dan tatapan tajam yang mengarah pada wanita yang berlari di depannya seperti sedang mengejar mangsa.


Mereka yang tau bagaimana Alex, lebih memilih untuk menghindar agar tidak menghalangi langkahnya daripada harus dibanting Alex dengan sekali hempasan. Mereka tau Alex memiliki tenaga yang luar biasa hanya untuk sekedar melakukan hal itu.


Sedangkan alasan kenapa Alex baru bisa merengkuh Khiara setelah wanita itu berlari terlalu jauh dengan kakinya yang sedikit pincang, tidak lain dan tidak bukan karena Rein dan Lusi. Rein menarik lengannya dan menghalangi Alex yang hendak mengejarnya.


“Jangan mengejarnya, biarkan Lusi yang menyusulnya. Khiara tidak suka disentuh oleh pria.”


“Iya. Dia mengalami haphephobia.” lanjut Lusi. Kening Alex berkerut mendengarnya.


“Persetan dengan itu!” Dengan wajah mengeras, Alex menghentakkan tangan Rein dan menarik Lusi dari jalan yang menghalanginya hingga tersungkur ke lantai. Alex bisa melakukan apa saja, bahkan hal kasar pada wanita yang menghalanginya.


Wajah Alex bertambah kaku, urat-urat di wajahnya muncul ke permukaan karena saking kerasnya ia mengeraskan wajahnya. Jika apa yang dikatakan Rein benar, Alex bisa memastikan jika dirinya adalah pengecualian bagi Khiara.


Dan kini tubuh wanita yang ada di dekapannya perlahan mengendur. Otot-otot yang tadinya kaku kini terasa relax dalam dekapannya. Dan benarlah apa yang diyakini Alex. Dia adalah pengecualian untuk Khiara.


Tentu saja! Dia sangat mengetahui hal ini.


Entah ia harus senang atau tidak dengan apa yang diderita Khiara. Ia menyesal dengan apa yang diderita wanitanya, namun ia juga merasa senang karena hanya dia yang bisa menyentuh Khiara seutuhnya.


Sedangkan di sekitarnya, banyak pasang mata menatap mereka tidak percaya. Seorang Alex mendekap wanita di depan mereka. Hal yang sangat mustahil menurut mereka. Bahkan beberapa dari mereka ada yang menjatuhkan rahangnya. Banyak spekulasi di antara mereka. Siapakah sebenarnya Khiara yang berhasil menaklukan sang putra mahkota?


Mereka berdua tidak perduli dengan apa yang ada di sekitar mereka. Melakukan adegan yang mengundang tatapan iri dari banyak pengagum rahasia mereka. Pelukan yang terlihat begitu possessive membuat para wanita merasa iri dengan Khiara dan berharap mereka lah yang berada dalam posisinya. Dan para pria berharap mereka lah yang menggantikan Alex untuk Khiara.


Sedangkan bagi mereka berdua, ini bukan lah momen romantis yang banyak orang kira. Ini adalah momen dimana dua jiwa sedang mengobati dan terobati.


Karena memang itu lah yang sedang mereka lakukan. Alex yang mengobati kekalutan Khira dengan pelukan, dan Khira yang terobati karena dekapan possessive Alex di tubuhnya.


Khiara bisa merasakan hembusan nafas Alex di lehernya. Begitu hangat dan terasa menggoda bulu remangnya. Tangan kokok yang melingkar di perut dan dadanya, terasa begitu kuat namun tidak menyesakkan. Memberikan effect yang menenangkan. Dekapan yang sangat familier di tubuhnya.


Aura yang mengelilingi Alex tidak lah menelan Khiara ke dalamnya, namun justru melindunginya di dalamnya. Aura itu sangat ia butuhkan.


Ia mengangkat kedua tangannya untuk menyentuh tangan kekar yang melingkar di dadanya. Membuat Alex membenamkan wajahnya pada curug leher jenjangnya dan memberikan sensasi aneh baginya.


“Kau bisa melepaskannya, Lex!” ujar Khira dengan lembut. Rasa terimakasih tersirat di dalamnya.


“Sebentar lagi, tetap lah seperti ini!” Alex semakin membenamkan wajahnya pada curug terdalam dan mempererat pelukannya.


Kening Khiara berkerut. Sebenarnya disini siapa yang sedang menenangkan dan siapa yang ditenangkan? Kenapa Alex jadi seperti anak kecil seperti ini? Tapi Khiara tetap membiarkannya. Menikmati pelukan Alex di tubuhnya.


Alex tidak perduli dengan pikiran Khiara atau pun siapa saja yang melihatnya. Baginya, dia hanya ingin tetep seperti ini. Ini menyenangkan, lebih menyenangkan dari apa pun juga, dan dia sangat menyukainya. Hingga beberapa lama mereka tetep seperti ini.


“Hemm?”


“Kita sudah hampir 15 menit seperti ini. Mau sampai kapan kau akan tetap seperti ini?” Kata-kata Khiara membuatnya mendengus kesal, seolah kesenangannya sedang diusik. Namun akhirnya ia memberikan ciuman di leher jenjang Khiara dan melepaskannya.


Tau kah Alex, bahwa itu bagaikan sengatan listrik untuk Khiara? Tentu saja dia tidak tau, dia hanya melakukan apa yang ingin dia lakukan. Karena leher Khiara begitu menggodanya.


Bola mata Khiara hampir keluar dibuatnya, begitu juga semua orang yang melihatnya. Namun mereka hanya bisa memekik dalam hati, sedangkan Khiara hanya berusaha menetralkannya dengan memejamkan matanya.


Alex membalikkan tubuh Khiara dan menangkup wajah Khiara dengan kedua tangannya. Mencium kening Khiara dengan lembut, lalu melihat wajah wanita yang sedang menutup mata itu. Memperhatikannya beberapa saat karena mata itu masih tetap tertutup.


“Kau ingin aku mencium mu, huh?” Godanya, dan berhasil membuat mata Khiara terbuka sepenuhnya.


“Bercanda, bagaimana keadaanmu? Sepertinya jet lag mu sudah menghilang entah kemana.” Alex segera memperbaiki kata-katanya sebelum wanita ini menyemprotnya.


Dan tentu saja, istirahat di ruang kesehatan dan perlakuan Alex berhasil membuatnya hilang ingatan tentang jet lag bahkan pergulatan dalam dirinya.


“Emm___aku baik-baik saja," jawab Khiara.


“Kenapa kau berlari?”


“Aku hanya___tidak menyukai tempat itu.” Alex menautkan kedua alisnya, namun memutuskan untuk tidak memperpanjangnya.


“Baik lah, kita tidak akan kembali ke sana. Kita pulang saja. Aku akan mengantarmu," ujarnya lalu menarik Khiara dalam gendongannya. Khiara meronta di dalamnya.


“Turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri.”


“Tidak dengan kaki seperti ini!” tegas Alex tanpa menerima bantahan. Dia berbalik pada Rein dan Lusi yang ada di belakangnya. “Bawakan tas Khiara ke mobilku!”


Mereka berdua bersitatap. Saling mengerjapkan mata dan berusaha kembali pada kenyataan. Lalu kembali menatap Alex yang sudah memunggungi mereka dan berjalan menjauh.


“Katakan padaku, bahwa barusan bukan lah mimpi!”


Lusi mencubit lengan Rein dengan keras hingga membuat pria itu mengaduh kesakitan.


“Itu tandanya kau tidak sedang bermimpi!” ujar Lusi sambil berlalu untuk mengambil tas Khiara. Dan Rein mengikuti di belakangnya.


Di sudut lain, seseorang sedang mengepalkan kedua tangannya hingga kubu-kubu tangannya memutih.


"Aku akan memberi pelajaran padamu, tak ada seorang pun yang bisa merebut Alex dariku!" sumpahnya dalam hati.


...***...