
Sesampainya di rumah Khiara, dia langsung mengusir Alex tanpa mengijinkannya masuk ke rumah. Tapi bukan Alex namanya jika dia menurut begitu saja. Tentu Alex bersikeras untuk masuk ke rumahnya seolah itu adalah rumahnya sendiri.
Pria itu menggendong Khiara ala bridal dan memasuki rumah. Mereka segera disambut oleh para pelayan Khiara yang sudah sangat khawatir dengan nyonyanya.
“Sudah, pergilah! Aku tidak apa-apa. Ada mereka disini yang akan mengurusku.” Seolah ucapan Khiara hanya sebuah angin lalu, Alex tetap berada di sana. Melepas sepatu Khiara dan mengurutnya perlahan.
“Ambilkan air es dan pembalut!”
“Hah??” Khiara merasa tidak salah dengar bukan? Barusan pria ini mengatakan pembalut?
Alex mengangkat wajahnya saat Khiara mentapnya dengan mata melebar dan sedikit semu merah di wajahnya. Sadar bahwa ucapannya ambigu, dia segera memperbaikinya.
“Maksudnya perban elastis.” Kenapa bahasa sangat menyusahkan? Rutuknya dalam hati. Wajar saja jika itu menimbulkan kesalah pahaman, pronunciation-nya sama. “Ah, bawa saja kotak obatnya!”
“Ba-baik!” Pelayan segera mengambilkan apa yang diminta Alex.
“Kenapa kau memerintah pelayanku seperti itu? Kau membuat mereka takut!”
“Kau juga memerintah pelayanku seenak jidatmu.” Jaw drop. Alex benar-benar mengskaknya. Ok, Fine! Itu memang benar. Dan Khiara malas mengakuinya.
Alex segera mengompres pergelangan kaki Khiara dengan air es, lalu menyemprotkan obat pereda nyeri dan membalutnya. Pria itu melakukannya dengan sangat cekatan dan sangat hati-hati. Seperti tenaga medis professional saja.
“Jangan banyak jalan selama 2-3 hari! Termasuk pergi ke kampus.”
“Aku tetap akan ke kampus!" sergah Khiara dengan penekan di setiap katanya.
“Aku tidak menerima bantahan, Khiara.”
“Aku juga tidak menerima perintah, Alex!” Alex menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia tau bahwa wanita itu memang keras kepala. Jika tidak ada yang mengalah, maka tidak akan selesai. “Terserah lah! Tapi jangan naik mobil sendiri. Tentunya kau juga tidak bodoh untuk ke kampus dengan sepatu rodamu.”
“Kau kira aku bodoh, hah?”
“Kau selalu melakukan hal bodoh di mataku.” Khiara hanya mendengus kesal. “Dari mana kau? Kenapa pergi tanpa memberitahu?”
“Aku tidak akan mengatakannya padamu.” Alex hanya bisa mengepalkan tangannya menahan amarah. Dan sekali lagi, Alex hanya bisa menahan amarahnya di depan wanita ini.
“Dan untuk apa aku memberitau mu?” Benar, saat ini memang tidak ada alasan untuk memberitaunya.
“Kau menghindari ku, huh?”
Alex tidak menyadari jika tudingannya benar, karena Alex sendiri tidak berfikir bahwa ada alasan bagi Khiara untuk menghindarinya. Jika pun ada, tidak akan ada wanita yang repot-repot kembali begitu saja setelah menghindarinya. Mungkin memang ada sesuatu yang harus dikerjakannya di luar sana.
“Untuk apa menghindari mu?”
“Bagus! Karena memang tidak ada alasan bagimu untuk menghindari ku. Jika pun ada, aku pasti akan menemukanmu.”
Tau kah Alex jika sebenarnya Khiara menghidari perasaannya sendiri? Dan keharusannya untuk kembali membuatnya tidak bisa mengelaknya lagi? Khiara hanya menggingit bibir bagian bawahnya.
“Baik lah, aku harus pergi sekarang.” Ujarnya setelah melihat jam tangannya. “Ingat! Jangan terlalu banyak bergerak. Lepas perbannya saat kau mau tidur!” Khiara berdecak mendengarnya.
“Apa yang kau pelajari hanya lah kalimat perintah, huh?” tanyanya yang membuat Alex tersenyum miring.
“Setidaknya itu membuat orang-orang tunduk padaku. Sudah lah, besok ku jemput kau untuk ke kampus,” ujarnya sambil mengusap rambut Khiara dan berlalu dari sana.
Khiara memperhatikan punggung yang mulai menghilang di balik pintu.
Sebelum keluar, sudut mata Alex menangkap dua buah foto yang menarik perhatiannya. Foto Khiara dan keempat sahabatnya, dan satu lagi foto Khiara bersama seorang wanita. Keningnya berkerut, namun segera berlalu dari sana.
Di luar sana Alex merasakan tatapan tajam yang menusuk tengkuknya. Namun dia tetap berlalu seolah tak merasakan apa pun. Setelah di dalam mobil, dia melirik seseorang yang berdiri di rooftop rumah Khiara.
Seseorang dengan kedua tangan di dalam saku celananya, berdiri begitu saja di atas sana. Matanya terus menatap ke mobilnya. Alex salah, bukan tatapan tajam yang dilontarkannya, melainkan tatapan menelisik. Alex mengabaikannya, dan segera melesat dari sana.
...***...
“Kau disini?”
“Emmh... Kenapa dengan kakimu?”
“Sedikit terkilir. Sejak kapan kau disini?” tanya Khiara mengalihkan pembicaraan.
“Sejak tadi sebelum kau pulang.”
“Emm... Ada apa?”
“Tidak, hanya mencarimu. Dari mana beberapa minggu ini? Aku tidak menemukanmu di rumah. Tadi pagi pun sepertinya kau pulang ke rumah langsung pergi lagi.”
“Aah, hanya jalan-jalan ke Paris. Me-refresh otak.”
“Kau menemui Adit?”
“Tidak juga, justru dia yang menemui ku.”
“Hemm...”
“Kenapa? Ada yang ingin kau bicarakan?”
“Sebenarnya tidak juga, hanya saja... Barusan aku melihatmu dengannya, kalian terlihat sangat dekat.”
“Tapi bagaimana jika aku memang cemburu?”
Tiba-tiba Khiara terdiam, ini lah yang paling tidak dia harapkan. Dia sangat tidak suka terjebak dalam friend zone, itu sangat lah melelahkan baginya. Sudah berapa tahun sejak ia menegaskan bahwa dirinya tidak ingin ada hubungan seperti itu dalam persahabatan mereka? 4 tahun? 5 tahun? 6 tahun? Entah lah dia tidak mengingatnya.
“Artha..." Khira mengingatkan dengan ekspresi jenuh.
“I know, I know. Just kidding honey.” Khiara mendengus kesal dibuatnya. Ini sama sekali tidak lucu baginya. “Oya, sepertinya Krisna akan pulang dua minggu lagi. Bersiap-siap lah. Sepertinya kau akan kena semprot natinya.”
“Hahaha.... Bisakah kau menjadi tameng ku?”
“Hahahah... Aku tidak mau menjadi tamengmu terus-terusan jika di depan Krisna.” Khiara mencebik mendengarnya. Kenapa sahabatnya ini sangat tidak setia sekali padanya?
“Tha... Mau mengantarku ke toko bunga?”
“Kau ingin membeli bunga?”
“Tidak, aku ingin membeli racun.” Artha menepuk kaki Khiara yang terbalut perban.
“Akh! Sakit bodoh!”
“Salah sendiri, siapa yang menyuruhmu melucu, hah?”
“Salah sendiri pertanyaanmu tidak mutu.” Hell! Wanita ini memang selalu saja menjawabinya.
Artha bangkit dari duduknya, ini tidak akan selesai jika dia tidak mengakhirinya. Dia sangat hafal sifat Khiara yang tidak mau mengalah dan memiliki segudang kata-kata untuk mendebatnya.
“Hei, kau tidak mau membantuku berdiri? Kakiku sedang sakit, Artha! Tidak ada simpatinya sama sekali sama sahabat sendiri.”
“Wooho! Ternyata seorang Khiara masih butuh bantuan setelah membuat kesal lawannya.”
“Berisik! Diam lah!” Namun akhirnya Artha tetap saja membantu Khiara juga. Dia tidak akan pernah membiarkan sahabat yang paling disayanginya ini benar-benar dalam kesusahan.
Mereka berdua meluncur menuju toko bunga terdekat. Artha membantu Khiara keluar dari mobil dan menemaninya memilih bunga segar yang ada di sana.
“Kenapa kau memilih carnation?”
“Karena ini mewakili perasaanku.” Kening Artha berkerut. Artha tidak mengerti arti sebuah bunga layaknya Khiara. “Dianthus caryophyllus, kalau diterjemahkan artinya bunga para dewa, ini bunga cinta.”
“Kau mencintai seseorang?” Khiara tersenyum manis mendengarnya.
Entah kenapa bagi Artha senyuman itu justru seperti senyuman seorang ibu kepada anaknya. Khiara terlihat dewasa dan keibuan saat ini. Sangat berbeda dengan tadi yang menyebalkan. Perubahan yang sangat drastis.
“Tentu!”
“Orang itu?” Kening Khira berkerut.
“Carnation merah muda selalu dihubungkan dengan cinta yang tidak pernah mati dari seorang wanita. Jadi bunga ini biasanya melambangkan cinta abadi seorang ibu,” jelas sang florist saat menyerahkan bouquet carnation yang telah selesai dirangkai. Bunga itu terlihat begitu cantik. “Apa anda ingin memberikannya pada anak anda?”
“Jangan gila! Dia bahkan masih muda untuk punya anak.”
“Oh, maafkan saya. Karena senyum nona ini begitu keibuan, saya pikir anda berdua adalah pasangan suami istri yang sudah memiliki anak.” Artha berdeham untuk menutupi salah tingkahnya, sedangkah Khiara tertawa lebar. Dan hilang sudah wajah keibuannya.
“Apa sekarang dia terlihat keibuan?” Tatapan sinis Artha mengarah pada sang florist kemudian berakhir pada Khiara.
“Jangan seperti itu! Wanita memang dirancang untuk menjadi ibu. Walau tidak semua memiliki kesempatan untuk menjadi ibu.”
“Anda benar," tukas sang florist penuh dengan kekaguman dengan ucapan Khiara.
“Tante tidak disini, lalu kau akan memberikannya pada siapa?”
“Kau akan tau nanti.” Khiara mengerlingkan matanya pada Artha. “Terimakasih ya atas bunganya," ujar Khiara pada sang florist lalu menyeret Artha keluar dari toko.
“Terimakasih atas kunjungannya, silahkan datang kembali di lain waktu," ucapan sang florist mengiringi kepergian mereka berdua.
Dan di tempat tujuan, Artha hanya bisa berdiri mematung. Khiara meletakkan bouquet carnations tersebut di atas gundukan tanah yang dipenuhi dengan tanaman bunga daisy berbagai warna. Namun warna merah lebih dominan di sana.
“Pink Carnation merupakan sebuah ungkapan bahwa aku tidak akan melupakanmu," jelas Khiara.
Artha kini mengerti mengapa Khiara memilih bunga cinta itu. Cintanya pada orang yang telah tenang berbaring di bawah sana memang tidak akan pernah mati. Meski raga tidak bisa lagi di dekatnya, namun jiwanya selalu ada di dalam hati Khiara.
Artha melirik Khiara. Tidak ada wajah kesedihan yang terpancar dari wajahnya. Bahkan tidak ada air mata di sana, sama seperti sebelumnya. Sebaliknya, sebuah senyum tulus dan kerinduan terlihat begitu jelas wajahnya. Apa ia sudah bisa melawan kenangan pahit masa lalunya?
“Kenapa kau menanam begitu banyak daisy di sana?”
“Karena itu lah dirinya. Bunga daisy melambangkan kepolosan, kemurnian, kesucian, kesetiaan, kelembutan serta kesederhanaan. Ia menganggap bahwa dirinya adalah daisy putih yang polos. Tapi sebenarnya ia adalah daisy merah. Cantik tanpa ia sadari, penuh cinta, tulus, sederhana, dan membuat orang-orang di sekitarnya mencintainya tanpa gairah yang berlebihan. Hanya saja... Ada satu sifat daisy yang tidak dimilikinya. Anak itu tidak mencintai orang secara diam-diam.” Khiara tertawa kecil di akhir penjelasannya.
Cukup lama meraka disana. Khiara dan Artha berdoa untuk orang yang terbaring di sana dengan kushuk. Tidak ada lagi percakapan di antara mereka hingga mereka berdua meninggalkan tempat itu.
Setelah kepergian mereka, seseorang mendekati makam itu dan meletakkan sebuah bouquet bunga tulip berwarna putih. Bunga yang melambangkan cinta yang sempurna dan permintaan maaf. Cinta sempurna dari orang yang telah terbaring di sana. Dan permintaan maaf dari sang pemberi bunga.
“Ini adalah permintaan maaf darinya," ujarnya lalu berlalu meninggalkan makam yang bagaikan taman bunga tersebut.
SHASHA ARDHIANI BRAMANTYO
...***...