
Tidak ada pembicaraan yang terjadi selama perjalanan. Sampai akhirnya mereka sampai di sebuah mansion yang sangat megah. Alex mengajaknya masuk ke dalam. Di sana sudah ada beberapa pelayan yang menyambut kedatangannnya.
Dalam hati, Khiara mengagumi design interior mansion ini. Ia menyukai mansion ini.
Mansion yang berdiri tepat di tengah-tengah pemandangan alam yang indah, memadukan gaya elegant, modern, dan maskulin di tengah keasrian alam.
Mension ini mengingatkannya pada masa kecilnya. Ia dan keluarganya sering sekali berlibur dan menginap di mension seperti ini, tapi sayangnya hal itu tak bisa mereka lakukan lagi. Senyum tipis nan miris tersungging di sudut bibirnya tanpa ia sadari.
Ia mengikuti Alex yang membawanya ke lantai dua mansion ini. Genggaman possessive tangan Alex tak terlepas barang sedetik pun sejak turun dari mobil tadi.
Tapi Khiara membiarkannya begitu saja, membiarkan rasa nyaman itu menyelimutinya barang sebentar saja. Biar lah ia egois untuk saat ini. Ia hanya ingin merasakan ketenangan yang sangat ia rindukan selama ini.
“Mandi lah, setelah itu kita makan malam.” Ujar Alex saat mereka sampai di sebuah kamar yang bernuansa putih.
Nuansa vintage sangat kental dengan berbagai tanaman bunga di dalamnya. Khira menyukai nuansa kamarnya. Nuansa yang mengingatkannya pada seseorang.
“Kau menyukainya?” Khiara mengalihkan pandangannya pada Alex, lalu menganggukkan kepalanya.
Alex hanya bisa menghela nafas dengan perubahan sikap Khiara yang tiba-tiba. Wanita ini berubah menjadi pendiam dalam sekejap saja. Jujur Alex merasa sedikit frustasi dibuatnya.
Apa yang salah dengannya? Tak mau ambil pusing, akhirnya dia menuntun Khiara ke depan kamar mandi.
“Mandi lah! Semua kebutuhanmu sudah ada disana.” Ujar Alex lalu mengecup kening Khiara dengan lembut.
Berharap wanita ini akan kembali mengomel di depannya. Tanpa Alex sadari, hal itu justru membuat Khiara merona. Lagi-lagi kecupan itu meninggalkan desiran asing dalam tubuh rampingnya.
Alex pun segera meninggalkannya, dan Khiara segera membersihkan dirinya. Apa Alex sengaja mempersiapkan semua ini untukku? Semua kebutuhannya sudah tersedia di sana.
Setelah selesai dengan kegiatan mandinya, Khiara memantaskan diri di depan cermin di sudut kamar mandi mewahnya. Sangat pas. Sebuah dress berwarna hitam elegant melekat di tubuhnya.
Khiara segera keluar, di sudut ruangan ia menangkap kumpulan mawar merah muda yang tersusun rapi dalam sebuah bucket. Ia melangkahkan kaki untuk mendekatinya. Disentuhnya kumpulan mawar yang sangat cantik itu, mengambilnya setangkai dan menggenggam tangkainya.
Bunga cantik dalam genggamannya ini mengingatkannya pada seseorang. Seesorang yang sangat dirindukannya. Dan tanpa sadar, beberapa duri dari mawar yang berada dalam genggamannya tersebut melukai telapak tangannya.
Kenangan kilas balik dalam memory otaknya membuatnya menggenggam tangkai itu lebih erat. Seolah menggenggam tangkai itu dapat membuatnya menahan rasa rindu yang menyeruak dari dalam dirinya. Tapi itu justru membuat telapak tangannya terkoyak lebih dalam, hingga darah segar perlahan mulai menetes dari tangannya.
⎾“Good morning sista!” Suara cempreng itu membuatnya terbangun dari alam bawah sadarnya. Mengusik tidur nyenyaknya.
“Oh, Shasha. Kau mengangguku! Pergi lah, aku masih mau melanjutkan tidurku!” Ujarnya malas dan kembali bergumul dengan selimutnya.
“Oh ayolah Khiara, sampai kapan kau akan tidur terus? Kau selalu saja tidur malam dan akhirnya kau berakhir seperti ini.” Merasa tidak ada tanggapan, akhirnya Shasha menyibakkan selimut yang menutupi tubuh Khiara.
“Ayo bangun! Lihat lah aku membawakanmu sesuatu.” Khiara mendengus karena ketenangannya telah terusik.
"Tarrraaaa___ cantik bukan?” Khiara tersenyum saat melihat apa yang dibawa oleh Shasha.
“Setiap pagi kau selalu membawakanku sebouquet mawar pink, sedangkan para cecunguk itu tak satupun yang pernah memberiku barang setangkai bunga mawar sekali pun.”
“Para bodyguard mu itu memang tidak bisa diandalkan!” Shasha mendengus kesal, sedangkan Khiara sibuk menghirup wangi bunga mawar yang kini telah ada di tangannya.
“Kau benar, meraka memang tidak pernah bisa diandalkan.”
“Meraka sangat menyayangimu, tapi tidak pernah memberikan mawar untukmu? Apa-apaan mereka itu? benar-benar menyebalkan. Bahkan untuk sekali seumur hidupnya, wanita layak untuk mendapatkan mawar dari mereka yang menyayanginya. Karena wanita itu sangat istimewa, cantik di antara seribu bunga.”
“Hahaha___ biarkan saja mereka! Aku tidak perduli, lagi pula kau sudah memberiku mawar setiap harinya.”
“Itu karena kau sangat istimewa bagiku.”
“Kau juga sangat istimewa bagiku.” Mereka saling berpelukan setelahnya. Saling menyalurkan kasih sayang di antara mereka.
“Lalu, sampai kapan kau akan memberiku mawar setiap pagi seperti ini?”
“Sampai nafasku berhenti.”
“Hah? Kau akan membuat bunga mawar di kebun habis Shasha!”
“Tidak akan, aku menanam pohon mawar begitu banyak di kebun. Dan itu tidak akan habis hanya karna aku membawanya untukmu setiap harinya. Mereka tumbuh dengan cepat. Percaya lah!”
“Baik lah, aku percaya!” Hening sejenak. “Kau ingin aku memberimu mawar?”
“Tidak!”
“Kenapa?”
“Karena kau lah mawarku.”
Hah?
“Kau adalah mawar hidup untukku, itu teramat sangat cukup untukku. Kau adalah mawar yang paling cantik dari sekian banyak mawar-mawar yang ada. Jadi kau tak perlu memberiku mawar. Karena aku memang sudah mendapatkan mawar terbaik darimu.” Khiara sama sekali tidak mengerti dengan maksud Shasha.
“Lagi pula aku yakin, suatu saat nanti akan ada seseorang yang akan memberikan mawar putih untukku.”
“Pasti ada pangeran tampan berkuda putih yang akan membawakan ribuan tangkai mawar putih untukku.”
“Hah, hidupmu terlalu dipenuhi dengan cerita dongeng, Sha!” Shasha memukul Khiara dengan guling ditangannya.
“Lagian kenapa mawar putih?”
“Mawar putih itu labang dari cinta suci Khiara, sebuah janji suci yang akan menyatukan dua insan dalam kasih suci.”
“Jika aku tidak salah, bukannya mawar putih itu melambangkan persahabatan?”
“Itu benar, mawar putih memang melambangkan persahabatan juga.”
“Lalu kenapa kau memberiku mawar pink, bukannya mawar putih?”
“Itu karena kau memang mawar pink, Khiara! Kau adalah wanita yang lembut, penuh cinta dan kasih sayang tapi juga sangat kuat. Berbeda denganku, kau itu memang sebuah mawar. Sedangkan aku hanya lah daisy. Yang sama-sama cantik, namun tak berduri. Itu sangat cocok menggambarkan diriku yang polos.”
“Polos?” Mata Khiara melebar saat mendengarnya. Shasha mengiyakan dengan cengirannya. "Polos palelu!" Khiara merasa aneh dengan Shasha yang menganggap dirinya sendiri polos, padahal hampir setiap hari membicarakan adegan ciuman dari drama yang ditontonnya.
“Eih, pokoknya aku ini polos. Nggak usah bawel!Yang jelas aku tidak lah sekuat dirimu yang bisa melindungi dan menjunjung harga dirimu. Jadi itu sebabnya aku tidak butuh bunga mawar darimu. Aku memberimu mawar bukan sebagai symbol, tapi aku memberimu mawar karena itu memang lah kamu. Kamu itu, setangkai mawar pink yang indah.” Seulas senyum tulus dan penuh akan kekaguman tersungging di bibir Shasha setelah penjelasan panjang lebarnya.⏌
“Lalu saat ini mawar apa yang cocok untuk ku,Sha?”
Tekk!
Tangkai mawar tersebut patah bersamaan dengan lolosnya air mata Khiara.
...***...
Alex sudah selesai membersihkan dirinya. Ini saatnya dia mengajak Khiara untuk makan malam bersama. Saat dia memasuki kamar Khiara, wanita itu berada di sudut ruangan membelakanginya.
“Kau sedang___” Melihat apa yang ada di depannya, membuat Alex mengetatkan rahangnya.
“Khiara apa yang kau lakukan?” Suara Alex membuat Khiara tersentak, dan segera menghapus air matanya.
“A-Alex___” Alex segera meraih tangan Khiara dan membuang mawar itu begitu saja.
Wajahnya semakin kaku dan dingin saat darah segar itu keluar dari balik kulit telapak tangan Khiara. Sedangkan Khiara sendiri pun sedikit terkejut, ia tidak menyadari jika tangannya berdarah. Itu tidak terasa sama sekali olehnya.
Alex tidak berkata apa pun dan segera membawa Khiara keluar kamar. Di luar kamar Alex sudah mulai berteriak memanggil semua pelayan yang ada.
“Brengs*k! Kalian semua, apa yang kalian lakukan? Aku tidak menggaji kalian untuk sebuah kesalahan!” Para pelayan menunduk takut dan bingung.
Kesalahan apa yang telah mereka lakukan? Khiara tersulut emosi ketika Alex membentak semua pelayannya.
“Buang semua mawar yang ada di dalam sana!” Khiara seketika melotot dibuatnya. Pria ini marah-marah hanya karena hal sekecil ini?
“Aku tidak akan mengampuni kalian jika,__.”
“Alex!! Apa yang kau lakukan? Kau sudah gila, hah?” Alex mengerutkan keningnya.
“Kenapa kau memarahi mereka hanya karena masalah seperti ini? Mereka tidak salah, ini karena aku yang tidak berhati-hati.” Belum sempat Alex menyanggahnya, Khiara sudah kembali membuka mulutnya.
“Sudah lah! Aku tidak apa-apa. Kalian bubar lah, jangan buang mawar-mawar itu. Aku menyukainya! Kalian jangan dengarkan orang sinting ini! ” Tandasnya lalu berlalu dari sana.
Sinting? Baru saja ia mengatai Alex dengan kata sinting?
Oh, Alex dibuat geram karenanya. Tapi sayangnya dia tak bisa marah padanya. Khiara adalah orang pertama yang berani mengatainya dan membuatnya frustasi karena tidak berdaya untuk melukainya. Jika itu orang lain, sudah pasti Alex akan meledakkan kepalanya.
Para pelayan pun dibuat terperangah oleh satu-satunya wanita yang pernah dibawa oleh tuannya ini. Wanita ini benar-benar berani. Tidak ada yang berani melawan tuan mereka sebelumnya. Tapi wanita ini justru berani membentak tuannya hingga tuannya tidak berkutik dibuatnya.
“Kenapa kalian masih disana? Kalian ingin dicincang olehnya?” Khiara berbalik pada mereka karena jengah.
“Kalian bawakan saja kotak obat untukku!” Disini Alex yang berkuasa, tapi kenapa Khiara yang memerintah mereka?
"Ba-baik nona." Semua pelayan langsung berhamburan pergi meninggalkan mereka berdua.
Alex mengepalkan kedua tangannya dan menghembuskan nafas beratnya dengan kasar. Namun sedetik kemudian senyum tipis tersungging di sudut bibirnya. Ini lebih baik baginya. Lebih baik Khiara seperti ini dari pada menangis tanpa dia tau apa penyebabnya. Itu hanya akan membuatnya lebih frustasi.
Tanpa Alex sadari, wanita ini sudah mengalahkan sikap otoriternya, dan membuatnya lebih bersabar.
Bersabar? Oh, sebenarnya Alex adalah orang yang sabar. Namun kesabaran disini adalah kesabaran menanti untuk mendapakan sesuatu yang lebih besar. Layaknya singa yang menunggu mangsanya.
Sedangkan bersama Khiara, dia telah belajar bersabar dalam arti yang sesungguhnya.
Alex mengambil alih kotak obat dari tangan Khiara. Membersihkan luka dan mengobati luka itu dalam diam. Tidak ada satu suara pun yang keluar dari bibir mereka. Bahkan para pelayan yang berdiri di salah satu sisi di ruangan itu pun tidak berani untuk bersuara.
Mereka masih tidak percaya, ini adalah kali pertamanya mereka melihat tuannya mengobati luka seseorang. Lagi-lagi ini adalah pertama kalinya. Senyum terukir di dalam hati mereka, wanita ini akan mampu melunakkan tuannya. Yah, mereka yakin bahwa wanita ini sangat lah berharga bagi tuan mereka.
...***...