THE ALEXIS

THE ALEXIS
CONFIRMATION



Alex keluar kamar dan menghampiri Adit. Di sana, Artha sudah berdiri dengan penuh emosi yang ditahannya.


“Kita harus bicara!“ ajak Alex pada Adit


“Ok,” sahut Aditya.


“Jangan ada yang masuk ke dalam!“ Alex memperingati, sebelum mereka berdua pergi meninggalkan mereka yang sedang menunggu Khiara.


Mereka berdua akhirnya berada di taman yang berada di lantai dua rumah ini. Alex berdiri di dekat pagar beranda dan memandang pemandangan kota di luar sana. Rumah ini cukup tinggi untuk menatap hingga bingar lampu rumah-rumah di sekitarnya.


Adit menempatkan diri di sebelah kanan Alex dan bertumpu pada pagar pembatas dengan kedua lengannya. Adit juga turut menikmati pemandangan di depan mereka.


Cuaca Malam ini sedikit mendung. Hingga bintang-bintang pun tak ada yang bisa menampakkan cahayanya. “Selalu saja seperti ini,” pikir Adit.


Setiap kali mereka menjaga Khiara di saat-saat terburuknya, langit selalu saja mendung. Seolah langit pun tahu apa yang dirasakan wanita itu.


Alex mengeluarkan kedua tangannya dari saku celananya dan menyilangkannya di depan dada. Sedikit tarikan dan hembusan nafas mengawali pertanyaannya.


“Apa Khiara memiliki bayi lagi?” tanya Alex to the point. Pertanyaan Alex membuat mata Adit terbuka lebar seketika. Dengan cepat dia menoleh pada pria yang ada di sebelahnya ini.


“Lagi?“ Alex menangkap raut keterkejutan di wajah Adit. Dan Alex pun mengangguk untuk mengiyakan. “Sama siapa? Salah satu dari kami? It's impossible!“


“Why?" tanya Alex.


“Jika Khiara mau menerima salah satu dari kami, mungkin sudah sejak dari empat tahun lalu aku menikahinya,” jawab Adit yang membuat Alex kembali berkerut. “Dan tidak mungkin juga dia hamil anak orang lain. Dia saja mengidap hapephobia,” lanjut Adit menjelaskan.


“Jadi dia benar-benar mengidap sindrom itu?“ Alex tahu sindrom orang yang tidak bisa menerima sentuhan dari orang asing ini setelah mendengar dari Rein waktu itu. Dia segera mencari tahu apa itu hapephobia.


“Ya.“


“Tapi dia bisa kalian sentuh, bahkan kusentuh.“ Alex jelas tidak mengerti ini.


“Mungkin karena kami sudah seperti saudara sendiri bagi Khiara. Sedang kau ....“ Adit menatap Alex dengan heran. “Bisa jadi karena tubuh Khiara sudah mengenali mu. Bukankah dia sudah menyerahkan dirinya padamu?“ Alex sudah bisa mengerti sekarang.


“Tunggu! Kenapa kau bisa berpikir kalau Khiara punya anak lagi?“ Heran juga kenapa bisa pria itu berpikir seperti itu.


“Dia masih mengeluarkan ASI,” balas Alex. Adit tertawa mendengarnya, ternyata itu penyebabnya. “Kenapa kau tertawa?“


“Tentu saja! Kau menganggap Khiara hamil lagi karena hal itu? Jelas saja ASI masih keluar, wanitamu itu masih menyusui anak kalian sampai beberapa waktu lalu,” jelas Adit


“Masih? Bukankah waktu menyusui itu hanya dua tahun?“


“Itukan yang dianjurkan, mau lebih dari itu pun tak masalah,” jawab Adit di sela-sela tawanya.


Alex pun ber-oh ria karena baru paham. Dia segera beranjak, hendak pergi meninggalkan Adit yang masih tertawa. Dia ingin segera memeluk wanitanya sekarang juga, namun Adit menahannya.


“Ada yang ingin kutanyakan padamu,” ujar Adit. Alex pun kembali ke tempatnya semula.


“Apa?“ tanyanya. Adit pun menatap Alex dengan tatapan serius.


“Aku sudah tahu kalau kau kembaran Alexander Sebastian,” ujar Adit. Dia mengamati bagaimana reaksi Alex. Dan pria di depannya itu tetap diam dengan wajah datarnya. Kedua tangannya bahkan menelusup masuk ke dalam saku celananya.


Benar-benar tak ada reaksi apa pun yang berarti di wajah itu. Seolah pria itu tidak perduli pada Adit yang telah mengetahui rahasianya.


“Kau tidak terusik denganku yang sudah mengetahui rahasiamu?“ tanya Adit pada akhirnya. Alex menghela napas. Dia mengeluarkan kedua tangannya dan menggunakannya untuk bertumpu pada pagar pembatas kaca di balkon tersebut.


“Untuk apa aku terusik? Khiara sendiri juga sudah tahu, bukan?“ Adit pun menganggukkan kepala sebagai responnya. “Aku tidak masalah jika kalian mengetahui siapa diriku sebenarnya. Karena saat ini aku sudah lebih dekat dengan tujuanku.“ Alex menambahkan.


“Memangnya kau tahu apa tujuanku?“ Alex balik bertanya.


“Bukankah untuk membalaskan dendam kembaranmu?“ Alex mengangguk. “Bukankah kau sudah menyelidiki siapa pelakunya dan menghabisi semuanya?“ Adit mengerutkan keningnya saat melihat Alex menggelengkan kepalanya.


“Tidak, masih ada satu orang lagi.“ Alex menatap sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari rumah itu. Matanya memincing dengan tajam. Dia meraih ponselnya dan mengecek sebuah pesan yang masuk ke aplikasi chat-nya. Sebuah senyum miring nan tipis tiba-tiba tersemat di bibirnya.


“Masih ada satu orang lagi?“ Alex mengangguk.


“Dia keluar dari negara ini sehari setelah aku menghabisi anak buahnya.“ Kini Alex menegakkan tubuhnya dan kembali menelusupkan tangannya ke dalam saku.


“Ke mana?“


“Français.“ Alex menjawab dengan bahasa Prancis.


“Prancis?“ Adit mengulangi.


“Ya.“


Jadi selama ini pembunuh Shasha berada di satu negara denganku? Adit cukup terkejut dengan fakta itu.


“Siapa orang itu?“ tanya Adit yang jelas sangat penasaran. Alex bilang 'menghabisi anak buahnya' berarti orang itu adalah dalang dari pembunuhan itu. Dan Adit sangat ingin mengetahuinya, karena orang itulah penyebab Shasha meregang nyawa dan membuat Khiara sangat terluka.


“Kau sangat ingin tahu? Apa kau juga ingin membalas dendam pada pembunuh Shasha seperti Khiara?“ Alex balik bertanya.


“Tentu, orang itu secara tidak langsung sudah menghancurkan Khiara. Dia sudah mengambil orang yang sangat berharga dalam hidupnya. Tentu aku dan yang lainnya tidak akan tinggal diam begitu saja,” jelas Adit panjang lebar.


Alex pun tersenyum miris mendengarnya. “Tidak akan tinggal diam ... hemm .... apa selama ini kalian sudah berusaha menyelidik kasus Shasha dan kekasihnya?“ Aditya menggeleng.


“Kami belum bisa menyelidikinya karena kondisi Khiara,” jawab Aditya menerawang.


“Kondisi Khiara? Ada apa dengannya?“ Entah kenapa rasa khawatir menjalar di dalam diri Alex. Sepertinya ada yang terlewatkan olehnya mengenai wanita yang di dicintainya itu.


“Kau ingat pembicaraan kita saat di Seoul?“ tanya Adit.


“Ya.“


“Saat itu kita tengah membicarakan luka sayatan di lengan bagian dalam milik Khiara,” ujar Adit mengingatkan. Alex pun mengangguk, membenarkannya. “Tapi pembicaraan kita berbelok karena kau menebak rentang waktu yang cukup lama.“


“Kurasa tidak,” sanggah Alex.


“Ya, pembicaraan kita berbelok, Lex. Sebelumnya kita membicarakan tentang misi balas dendam Khiara yang kembali ke Indonesia. Dan benang yang menghubungkan misi balas dendam Khiara adalah saat kematian Shasha. Itu terjadi sekitar dua setengah tahun yang lalu. Tapi kau justru mengatakan empat tahun lalu,” jelas Adit panjang lebar.


Benar. Alex teringat sekarang. Dan setelah itu mereka tidak melanjutkan pembicaraan mengenai bekas luka itu lagi.


“Jadi, bekas luka itu ....“


“Ya, bekas luka itu bukan dia dapatkan setelah pemerkosaan itu. Tapi setelah kematian Shasha.“ Adit memberitahu Alex faktanya.


“Wanitamu itu bahkan jauh lebih kuat setelah pemerkosaan itu daripada setelah ditinggalkan oleh sepupunya,” ujar Adit.


“Bagaimana bisa begitu?“ tanya Alex dengan kedua alis yang bertaut.


...***...