
Alex yang mengejar mobil Artha sempat tertinggal jauh di belakang karena jalanan yang padat. Namun dia tetap memacu mobilnya secepat mungkin yang dia bisa.
Hingga akhirnya, dia menghentikan Black Spider miliknya tepat di depan sebuah bangunan rumah yang cukup besar dengan gaya Mediterranean House. Rumah itu adalah kediaman keluarga Artha, dan Alex sudah menghafal seluruh tempat tinggal Vita Dolce berkat informasi yang diperoleh Ata saat itu.
Tidak sulit bagi Alex untuk menebak bahwa Artha akan membawa Khiara kemari, mengingat Artha memacu mobilnya ke arah ini.
Dia keluar dari mobilnya dan berniat masuk ke dalam. Namun para bodyguard Artha yang sedang menjaga rumah itu pun menghalangi langkahnya. Tidak ada cara lain, dia harus melumpuhkan mereka semua untuk menerobos masuk ke rumah besar tersebut.
Tak butuh waktu lama baginya untuk melumpuhkan siapa saja yang menghalanginya. Alex berhasil masuk ke dalam rumah, dan di dalam rumah pun Alex masih harus dihadang lagi oleh beberapa penjaga.
Sebenarnya kunyuk itu menempatkan berapa banyak penjaga? Banyak sekali. "Menyusahkan!" gerutu Alex sambil melayangkan pukulan pada wajah seorang penjaga.
Tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara teriakan histeris Khiara dari lantai dua. Alex yang merasa khawatir pun segera menghempaskan penjaga Artha saat itu juga dan menuju ke lantai dua.
Sedangkan di dalam kamar, Artha dibuat bingung dengan tingkah Khiara yang begitu histeris. Dia berusaha untuk menenangkannya, tapi dia justru mendapat serangan dari barang-barang yang melayang.
“Khiara, tenanglah! Ada apa denganmu, huh?” Akhirnya Artha pun berhasil mencengkram kedua pergelangan tangan Khiara. Dia berusaha menahannya agar tidak semakin menggila.
“Lepaskan! Pergi! Pergi!” Teriakan itu semakin menusuk telinga Alex di luar kamar, membuatnya semakin geram.
Alex mencoba membuka pintu di mana teriakan Khiara dan Artha semakin menjadi-jadi. Namun pintu itu terkunci. Dia mencoba untuk mendobraknya, tapi pintu itu tak kunjung terbuka. Bahkan dia pun menendang engselnya, tapi percuma. Pintu itu terbuat dari kayu berkualitas dan engsel dengan bahan besi yang kuat.
Tidak ada cara lain. Dia pun mencabut handgun yang terselip di belakang punggungnya dan mulai melesatkan timah panas miliknya ke arah engsel sialan tersebut.
DOOR!
Suara tembakan tersebut berhasil mengejutkan Artha. Siapa orang sinting yang berani-beraninya melepaskan tembakan di dalam rumahnya?
Alex menendang pintu putih tersebut hingga berhasil terbuka. Dia segera menerjang Artha dan menjauhkannya dari Khiara.
Khiara yang telah terlepas dari Artha pun kini merosot ke lantai. Napasnya memburu karena rasa takut yang begitu besar. Dia kembali terseret pada kenangan buruk masa lalunya. Ternyata dia masih belum terlepas dari bayangan hitam yang membelenggunya. Perlakuan Artha saat ini mengingatkannya pada pemerkosaan yang telah dia alami sebelumnya.
Dia yang dikunci di dalam kamar bersama dengan seorang pria seperti ini membuatnya mengalami panic attack. Otaknya seperti tidak bisa diajak untuk bekerjasama, hingga dia pun melupakan kemampuan beladiri yang telah dikuasainya.
Tidak hanya itu, seluruh tubuhnya pun seakan kehilangan tenaganya. Dan dia pun tidak tahu harus bagaimana.
“Menjauhlah darinya!” Alex sebenarnya ingin sekali memaki Artha, dia ingin sekali meledak.
Tapi Alex juga bukan orang yang tidak tahu situasi. Dia tahu benar, di sini Artha tidak bermaksud menyakiti Khiara. Hanya saja, Artha tidak sadar bahwa perlakuannya justru membuat trauma Khiara kembali. Yah, Alex tahu benar akan hal ini.
Alex memberikan Artha beberapa pukulan karena tidak mau menurut dan malah terkesan mengajaknya berduel. Alex mengakhirinya dengan tendangan yang cukup kuat ke arah perutnya. Namun dia pastikan pukulan itu tidak menimbulkan dampak serius. Kemudian Alex menghampiri Khiara yang meringsek di sudut ruangan.
Khiara tidak bisa mengeluarkan suaranya. Napasnya masih tersengal-sengal. Alex membelai lembut kedua pipinya dengan kedua ibu jarinya.
“Tenanglah," ujar Alex berusaha untuk menenangkan wanitanya.
Dengan lembut dia mencium kening Khiara. Dan berkat kecupan hangat Alex di keningnya, akhirnya getaran pada tubuh Khiara mulai reda. Seluruh ototnya bisa lebih relax. Detak jantungnya pun tidak secepat sebelumnya.
Alex memeluk Khiara dengan possessive dan membelai rambutnya dengan lembut. Menyalurkan seluruh energi positive padanya.
Artha tidak percaya dengan penglihatannya. Khiara justru bisa tenang dengan orang yang baru saja dikenalnya itu daripada dengannya yang sudah bertahun-tahun menjadi sahabatnya.
“Kita pergi dari sini.” Khiara yang masih membenamkan wajahnya pada dada bidang Alex mengangguk dan menyilangkan tangannya pada leher Alex.
Alex segera menggendong Khiara ala bridal style. Lalu keluar kamar itu melewati Artha yang masih terduduk di lantai dan mencengkram perutnya, yang Alex yakin pasti sangat menyakitkan.
Itu lebih baik daripada kau tidak merasakan apa pun, tapi justru organ dalammu yang remuk. Alex ingat bagaimana dia menghabisi salah satu pelaku pembunuhan kakaknya waktu itu. Dan dia benar-benar mengontrol kemampuannya yang satu ini.
Kedua pasang mata mereka bertemu sebelum Alex benar-benar menghilang dari balik pintu. Tatapan mata itu bukanlah tatapan permusuhan, namun tatapan peringatan.
Artha merebahkan tubuhnya begitu saja di atas lantai. Memikirkan sesuatu di balik tempurung kepalanya yang berisikan otak briliannya.
Apa yang sebenarnya terjadi pada Khiara? Apa mereka pernah bertemu sebelumnya? Apa telah terjadi sesuatu padanya tanpa sepengetahuanku?
Tiba-tiba dering ponsel mengagetkannya. Dia merogoh sakunya celananya dan mendapati nama Krisna tertera di sana. Dia memutuskan untuk me-rejectnya, kemudian menegakkan tubuhnya dan berusaha untuk bangkit.
“Sh*it!” umpatnya.
Apa dia hulk? Artha melangkah menuju jendela sambil memegangi perutnya, lalu menyibakkan tirai tipis yang menutupi jendela.
Di luar sana dia melihat Alex yang keluar dari rumahnya menuju mobilnya. Dari gesture tubuhnya, Artha bisa melihat bahwa Alex sangat menyayangi Khiara. Dia memperlakukan Khiara dengan sangat lembut, membuat banyak pikiran berkecamuk dalam otaknya.
Dadanya bergemuruh hebat. Sesuatu yang panas menjalar di dalam tubuhnya. Dan sekuat tenaga mengepalkan tangan untuk menahannya.
Apakah dia cemburu? Ya, dia memang cemburu. Sudah menjadi rahasia umum jika dia memendam rasa pada Khiara. Tidak hanya dirinya, Adit, Endra dan Krisna pun memiliki perasaan yang sama. Hanya saja mereka tidak bisa memiliki Khiara karena ikatan persahabatan di antara mereka.
Dan kini, pria asing yang entah siapa justru mampu merebut hati Khiara dari mereka. Apakah adil baginya dan teman-temannya, ketika mencintai orang yang sama bertahun-tahun lamanya tapi justru orang lain yang mendapatkannya?
Tidak, bagi Artha itu sangatlah tidak adil. Meskipun pada kenyataannya itu justru merupakan rencana Tuhan yang paling adil bagi mereka.
...***...