
Di sebuah apartemen di Sidney, Krisna termangu dengan pikirannya. Memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada. Beberapa waktu lalu Alex menghubunginya, menanyakan keberadaan Khiara. Dia baru tau jika ternyata Khiara telah pulang. Dan Alex terlah bertemu dengannya. Entah kenapa pikiran buruk berkelebat di otaknya.
Bagaimana Alex bisa tau jika dia mengenal Khiara?
Selama ini dia dan teman-temannya merahasiakan kedekatan mereka. Hanya teman-teman SMP dan SMA lah yang tau jika mereka berhubungan dengan Khiara. Jika Khiara kembali dan Alex mengenalnya berarti ada sesuatu di balik kepulangan Khiara.
Dia mengingat kembali percakapannya dengan Alex.
“Hallo, siapa?”
“Alex," terdengar suara yang tak asing dari seberang sana.
“Alex? Ada apa kau meneleponku? Tidak biasanya.”
“Kau tau dimana Khiara?”
“Khiara?" Krisna mengernyitkan keningnya. "Kau mengenalnya?”
“Tidak usah banyak tanya, dimana dia sekarang?” Suara Alex terdengar tidak begitu bersahabat.
“Aku tidak tau.” Dan sambungan telfon terputus begitu saja. Tepatnya diputus secara sepihak oleh Alex.
Krisna pun segera menghubungi Artha. “Hallo, kau dimana?”
“Di rumah.”
“Di rumah mana, bodoh!” Krisna mendengar helaan nafas di sebrang sana.
“Tanah air.”
“Kau pulang? Bagaimana dengan Khiara?” cecar Krisna.
“Dia pulang lebih dulu dariku.”
“Apa? Untuk apa dia pulang?”
“Entah lah, aku sudah melarangnya. Tapi dia bersikeras ingin pulang. Dia bilang ingin mengatasi kenangan buruknya. Aku tidak bisa mencegahnya.”
“Dan kau mengikutinya_" Krisna bisa mengambil kesimpulan.
“Aku hanya akan memastikan kondisi psikisnya. Dan kelihatannya dia baik-baik saja," jelas Artha.
“Berapa lama kalian akan disana?”
“Yang jelas aku tidak akan lama disini. Karena Khiara tidak mau aku disini. Sedangkan dia sepertinya akan disini dalam waktu yang lama. Entah sampai kapan. Dia sudah mengundurkan diri dari kampus dan kini pindah di universitasnya sendiri.” Krisna terdiam. “Kenapa kau tiba-tiba menanyakannya?”
“Ah, tidak. Hanya saja aku tak bisa menghubunginya.” Dusta-nya. Tapi memang sebenarnya saat ini jika Krisna mencoba untuk menghubunginya pun tidak akan bisa. “Lalu dimana dia sekarang?”
“Saat ini aku juga sedang mencarinya.”
“Kau sudah ke rumahnya?” tanya Krisna lagi.
“Aku ada di rumahnya sekarang, tapi dia tidak ada disini. Semua pembantunya tidak ada yang tau dimana majikannya," jelas Artha.
“Sejak kapan dia pergi?”
“Aku tidak tau, bodoh! Aku baru tau kalau dia pergi saat ada orang yang mencarinya.”
“Siapa?” Krisna menjadi penasaran.
“Kalau tidak salah namanya Atanael William.” Nama itu terdengar asing di telinganya. “Dia teman dekat Alex, salah satu teman Khiara di kampusnya.”
'Ternyata Alex,' batin Krisna. “Kapan orang itu mencarinya?”
“Tadi malam.” Berarti kemungkinan sebelum Alex meneleponnya.
“Kau sudah menghubungi Endra dan Adit?”
“Aku belum menghubungi Adit. Tapi Endra bilang kemungkinan dia bersama Adit. Karena dia tidak ada bersamanya.”
“Baik lah, biar aku yang menghubungi Adit.”
“Hemm___segera kabari bila ada kabar!”
“Ok.”
Tidak membuang-buang waktu. Dia segera menghubungi Adit. Tidak perduli jika disana sedang tengah malam dan menggangu waktu istirahat Adit. Dia tau mungkin akan kena damprat karena membangunkannya dari tidur lelapnya.
“Kau tau ini jam berapa, Kris?” desis suara itu terdegar dari seberang sana, begitu panggilannya tersambung.
“Aku tau. Maafkan aku, Dit. Tapi ini sangat penting.”
“Apa ini tentang Khiara?” tebak Aditya.
“Ya, apa dia bersamamu?”
“Tidak, dia tidak bersamaku.”
'Lalu dimana dia?' pikir Krisna.
“Tidak? Apa Endra menghubungimu?”
“Tidak, tanpa dia menghubungiku orang itu sudah tau kalau Khiara ada disini.”
“Hah? Apa maksudmu? Kau bilang tadi kau tidak bersamanya.”
“Apa otakmu sudah bergeser, hah?” Krisna mengerutkan keningnya tidak mengerti. “Mana mungkin Khiara bersamaku saat ini? Ini sudah tengah malam, bodoh! Dia tentu ada di rumahnya.”
“Di rumahnya? Apa maksudmu? Jangan membuatku bingung, Dit!” Krisna bisa mendengarkan Adit yang menghembuskan nafas jengah. “Khiara memindahkan keluarganya ke Paris. Kau sudah paham?”
“APA??”
“Kau bisa memecahkan gendang telingaku, br*ngsek!”
“Sorry! Tapi sejak kapan?”
“Sejak ia memutuskan kembali ke tanah air.”
“Oh, damn! Apa disini hanya aku yang tidak tau apa-apa?” Tawa congkak itu bisa di dengar oleh Krisna.
“Karena percuma memberitaumu. Kau terlalu lamban.” Krisna ingin sekali memukul Adit saat ini juga.
“Kalian berdua tau apa yang direncanakan Khiara?”
“Tentu. Bahkan Endra membiarkan Khiara mengambil kembali haknya.”
Krisna tau apa yang dimaksud Adit. Universitas itu, kini sudah kembali di tangan Khiara. Posisi CEO sudah berpindah ke tangan wanita itu. Itu membuat Krisna geram.
“Tenang lah, Kami tidak memberitaumu karena itu pasti akan mengganggumu. Alex ini teman dekatmu, bukan? Sedangkan Artha, dia tidak perlu tau karena memang dia tidak tau menau siapa orang itu. Dia tidak suka mencampuri kehidupan pribadi orang lain.”
'Terdengar masuk akal,' pikirnya. “Lalu apa sebenarnya yang akan Khiara lakukan?”
“Hanya sedikit memberinya pelajaran. Dia akan melakukan hal yang sama dengan apa yang orang itu lakukan.”
"Maksudmu mencampakkannya?"
"Yah."
“Apa dia akan memebunuhnya juga?” Krisna sedikit takut dengan pemikiran.
“Bisa saja, jika Khiara menghendakinya.” Ini benar-benar gila. Bisa-bisanya Adit mengatakannya dengan enteng.
“Kau gila! Bagaimana bisa kau membiarkan Khiara membunuh seseorang, hah?”
“Haha___kau tenang saja! Dia tidak akan melakukannya.”
“Bagaimana bisa kau seyakin itu, hah? Kau lupa dengan apa yang sudah dilakukan Khiara padamu?”
Peristiwa itu tidak akan pernah dilupakan oleh mereka berlima, peristiwa dimana Khiara menghajar Aditya habis-habisan kala pria itu hampir saja memperkosa seorang wanita karena pengaruh dari alkohol. Dan perisyitu sudah berlalu sekitar satu setengah tahun yang lalu.
“Aku tidak lupa. Hanya saja kali ini aku sangat yakin.” Terasa hening begitu saja. Sibuk dengan pikirannya masing-masing. “Tapi jika ada yang mati, berarti orang itu memang pantas mati.”
Krisna tersentak mendengarnya. Entah mengapa, dia merasa takdir seseorang sedang di tentukan saat ini.
...***...
“Apa ada yang terlewatkan disini?”
Khiara melipat sebelah tangan dan bertopang dagu dengan tangan yang satunya. Jari telunjuknya terangkat memposisikan diri untuk sejajar dengan hidung mancungnya. Sangat khas dengan gayanya saat berfikir.
Ini sudah tengah malam, tapi otaknya tetap terjaga. Memikirkan segala kemungkinan yang ada. Kata-kata Adit terngiang di otaknya. Apakah ia sudah benar-benar mengetahui benar siapa targetnya?
Khiara menatap layar monitornya dengan seksama. Ia membaca kembali apa yang sudah ia pelajari selama beberapa minggu ini.
Khiara membaca kembali profil Alex. Mungkin ada yang terlewatkan olehnya.
'Anak angkat dari seorang pengusaha batu bara dan tambang emas di kawasan Asia Tenggara bernama Seran Sebastian.'
“Berarti kelahirannya di akte ditentukan berdasarkan tanggal pengangkatannya.”
'Apakah perlu menelisik ke panti asuhan? Tapi untuk apa?' Entah lah, ia akan memikirkannya nanti. Saat ini ia lebih baik fokus pada perusahaan orang itu.
“41 tahun. Kasian sekali. Beliau meninggal di usia yang masih relative muda.” Khiara melanjutkan membaca surat wasiat Seran Sebastian.
Di dalam wasiat dituliskan semua asset dan kekayaannya dilimpahkan pada Alex. Dan akan menjalankan perusahaan didampingi oleh asisten pribadi Mrs. Seran yang bernama Raditya Hutama.
Lalu dalam keliping surat kabar yang ia peroleh dari perpustakaan setempat menuliskan bahwa perusahaan itu mulai mengalami kebangkrutan setelah enam bulan kepemimpinan yang baru. Enam bulan berikutnya mengalami kebangkrutan total.
Khiara menggeser kembali layar monitornya. Satu bulan setelah kebrangkutan perusahaan itu, sang pemilik mulai merintis kembali. Dan bisa kembali berjaya dalam waktu yang cukup singkat. 3 bulan. Yah, hanya dalam waktu 3 bulan perusahaan itu mampu berdiri dan berjaya kembali.
'Labil!' Itu lah yang dipikirkan Khiara. 'Kenapa harus menunggu brangkut dulu baru dibangun kembali? Kenapa sebelum bangrut tidak ditangani agar jangan sampai bangkrut? Bukan kah jika seperti itu akan lebih memakan banyak dana? Bagaimana dia mendapatkan investor untuk merebuilt perusahaannya?'
“Atau jangan-jangan orang itu sebelumnya bodoh tentang bisnis lalu mendadak menjadi pintar setelah dilanda kebangkrutan?” Sebuah senyum congkak tersungging di bibir manis Khiara.
“Aaah,mungkin karena dia masuk rumah sakit saat itu. Jadi perusahaannya yang sedang krisis tidak ada yang menangani dan akhirnya benar-benar bangkrut."
“Tapi___kemana perginya Om Hutama saat itu?”
'Dan lagi jika dipikir, merintis kembali perusahaan yang telah bangkrut dalam waktu 3 bulan itu terlalu cepat.' pikirannya.
Meski Khiara belum mengerti dengan fasih mengenai bisnis, tapi menurutnya 3 bulan itu sangat kilat. Jika itu benar, itu cukup membuktikan seberapa cerdas orang itu.
“Tapi bagaimana mungkin seorang manusia meningkatkan kemampuan otaknya dalam waktu singkat?”
'Bodoh! Akan lebih masuk akal jika orang yang menangani adalah orang yang berbeda.' tiba-tiba saja pemikiran aneh berkelebat di otaknya.
“Aah, ini membuatku gila!”
Tiba-tiba saja memori otaknya melayang pada sahabatnya 2 tahun silam.
⎾“Hai Khiara! Kau sedang apa?”
“Tidak sedang apa-apa. Hanya sedang rebahan. Ada apa?” jawabnya santai.
“Jika hanya sekedar rebahan, disini juga bisa. Kenapa harus jauh-jauh sampai LA segala?” Khiara tertawa mendengarnya. “Lagian, kau ini baru saja pulang, kenapa harus kembali lagi ke sana? Kau suka hidup disana?”
“Ya, begitu lah.”
“Ah, Khiara. Kau ini sangat menyebalkan. Apa kau tidak mau di sampingku?” Wanita itu merajuk di sebrang sana.
“Hahahah___kau ini bicara apa? Shasha, bahasamu menjijikan. Seperti kau ini kekasihku saja.”
“Aku serius, Khiara sayang!”
“Baik lah, baik lah. Katakan saja. Ada apa kau meneleponku? Selain merindukan ku pastinya.”
“Hehehe___kau ini. Baik lah. Sepertinya aku menemukan pangeran berkuda putihku.”
“Haah?” Khiara menjatuhkan rahang mendengar omong kosong Shasha.
“Iiiih, kau ini! Dengarkan saja!” Khiara hanya menurut. “Di kampus ada kakak angkatan yang sangaaaat baik sekali. Sepertinya aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Saat dia memberiku air mineral karena kelelahan dengan MOS, jantungku berdetak tak karuan. Rasanya sudah ingin meledak saja. Dia sangat ramah dengan siapa saja. Aku melihatnya pernah bermain dengan anak kecil. Dia terlihat___begitu penyayang. Dan terlebih lagi dia sangat tampan! Aaaaahhh____Khiaraaaaa bagaimana ini?” Khiara menjauhkan ponselnya dari telinganya.
“Lalu, apa dia juga menyukaimu? Bahkan kau sendiri bilang jika dia baik pada semua orang. Jangan terlalu kepedean!”
“Entah lah, kau memang benar sih. Tapi akan ku buat dia menyukaiku!”
“Kau gila!” Hal terkonyol bagi Khiara adalah mengerjar seorang pria. Itu adalah hal yang tak akan pernah ia lakukan.
“Ah kau ini! Terserah kau mau bilang apa. Tapi sepertinya perjuanganku akan sedikit sulit. Dia sangat terkenal. Banyak perempuan yang mengejarnya. Apa lagi ada satu wanita yang selalu menempelnya. Itu membuatku kesal!”
“Mungkin dia kekasihnya.”
“Dia bukan kekasihnya, Khiaraaa! Ku dengar semua wanita yang mendekatinya ditolak semua.”
“Hahaha, kalau begitu semangat lah!” Percuma menasehati orang yang sedang jatuh cinta.⏌
Khiara kembali dari lamunannya. Ia selalu geli sendiri jika mengingatnya.
"Kau tau Sha? Kekasih mu itu sekarang tidak seperti yang kau ceritakan."
...***...