
Khiara memainkan jemari Kaiven sambil terus mengenang. Kala itu adalah kali pertama ia keluar dari sarang. Berbeda jauh dengan dirinya yang seperti kapal karam, sang mentari justru bersinar terang. Seolah ingin memeluknya dengan kehangatan.
Musim liburan telah datang. Membuat sebagian besar orang menyerbu Manhattan. Banyak orang berlalu - lalang di depan rumahnya dengan wajah senang. Tertawa lepas dengan teman seakan tiada beban.
Saat itu ia membuka automatic curtain pada stationary window di kamarnya. Sinar mentari berebut masuk ke dalam untuk menyinari setiap sudutnya. Ia menincingkan mata. Cahaya itu terlalu menusuk matanya. Hingga akhirnya ia memutuskan mengenakan kacamata photocromicnya.
Lebih dari satu bulan kamarnya bahkan seluruh bagian rumahnya tidak tersentuh cahaya terang. Karena ia menutup semua akses cahaya termasuk picture windows di rumahnya dengan automatic curtain.
Padahal selama ia tinggal di sana, ia tidak pernah menutup curtainnya sama sekali. Karena pemandangan di luar sana sangat indah sekali. Pemandangan yang menyuguhkan pesona Manhattan Beach, sungguh sangat sayang jika dilewatkan.
Namun saat itu, kamarnya terlihat begitu menyedihkan. Padahal pemandangan di depan sana terlihat sangat menyenangkan. Pantai yang membentang, dibajiri oleh lautan manusia yang tengah berenang. Membuat hatinya seakan dicubit oleh rasa iri yang terus berdendang.
Ia segera membersihkan diri dan beriap untuk mencari bantuan. Hari ini ia akan mengunjungi psikiater sebagai tempat tujuan. Tak lupa ia membawa benda dengan dua garis biru yang tergeletak di atas ranjang. Lalu segera bergegas ke luar rumah untuk menuju bus stop terdekat. Saat ia sedang kacau balau, dari pada self driving, public transportation akan lebih aman. Setidaknya akan meminimalisir kecelakaan.
Di sepanjang perjalanan, ia hanya terus terdiam. Melihat pemandangan yang terpampang di sepanjang jalan. Jantungnya berdenyut kencang, seperti di remas-remas oleh ribuan tangan. Indahnya pemandangan di luar sana tak selaras dengan hatinya yang tak karuan. Sungguh, ia merasa sangat menyedihkan. Dan ia pun memilih untuk memejamkan mata hingga tiba di tempat tujuan.
Dengan berat, kakinya menuruni bus yang ditumpanginya. Di seberang jalan ada sebuah gedung dimana ia akan menemui psikiaternya.
Jalanan terlihat begitu lengang, ia menyebrang begitu lampu merah menyala. Di dalam, ia sudah di sambut oleh perawat yang berjaga di sana. Karena ia telah melakukan reservasi sebelumnya.
Ia harus menunggu hingga antrian kedua, petugas medis mengarahkannya untuk menuju ruang periksa. Ia berjalan melintasi sebuah lorong, untuk menuju ke tempat dimana ia akan berkonsultasi dengan dokterya.
Dan tiba-tiba____
Brukk____
Suara benda jatuh berserakan di sampingnya. Ternyata ia tidak sengaja menabrak salah seorang perawat yang sedang melintas di lorong yang sama. Ia segera berjongkok untuk membantu memungut semua berkas yang ada. Dan meminta maaf karena telah menabraknya.
“Trimakasih.” Ujar perawat tersebut saat Khiara menyerahkan dokumen di tangannya. Khiara tersenyum untuk membalasnya.
“Akh___” perawat itu terlihat kaget saat melihatnya, sedetik kemudian menyunggingkan senyumnya.
“Anda terlihat sangat cantik tanpa luka lebam di wajah anda.” Khiara mengernyitkan dahi setelah mendengarnya.
“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”
“Yah.” Khiara melirik sekilas nametag di dada perawat yang berusia kurang lebih dua puluh tahun di atasnya. “Saya yang merawat luka anda saat berada di IGD waktu itu”
Dahi Khiara kembali berkerut. Bagaimana tidak? Pastinya ada begitu banyak pasien di IGD yang keluar masuk di sebuah rumah sakit. Lalu bagaimana perawat ini bisa mengenalinya dengan keadaan yang pastinya sudah berbeda dengan sebelumnya. Ia ingat betul, bahwa wajahnya sangat sulit dikenali di kala itu.
“Apakah anda sudah merasa lebih baik?” Khiara mengangguk waspada. Entah kenapa kecurigaan mudah muncul dipikirannya.
“Syukur lah.” Wanita itu tersenyum lega.
“Anda datang ke tempat yang tepat, psikiater akan membantu anda dalam mengatasi masalah anda.” Perawat itu mengusap lengan kiri Khiara.
“Anda harus tau, bahwa anda begitu berharga.” Matanya penuh akan simpati dan bibirnya penuh dengan senyum ketulusan. Namun Khiara masih tetap merasa segan.
“Mari saya antarkan.”
Khiara segera memasuki ruangan setelah perawat itu mempersilahkan. Seorang wanita yang kira - kira seumuran dengan perawat yang mengantarnya, menyambutnya dengan hangat. Ia menawarkan sejuta kenyaman untuknya, membuatnya menjadi lebih tenang hingga mampu membuatnya membuka suara.
Menceritakan hampir semua kejadian yang dialaminya. Dengan penuh perhatian, sang dokter mendengarkan dengan seksama. Mendalami setiap cerita yang keluar dari bibir pasiennya. Hingga di akhir sesinya, Khiara pun bisa bernafas sedikit lebih lega.
...***...
Ada pernyataan yang sangat mengena yang disampaikan oleh dokternya, "saya tidak akan mampu menyembuhkan apa yang anda derita, semua bergantung pada anda. Kesembuhan, ada di tangan anda. Saya hanya bisa membantu mengarahkan apa yang harus anda lakukan ketika gangguan itu kembali menyerang."
Sebuah pernyataan yang realistis. Beliau tidak memberikan harapan palsu pada pasiennya, bahwa datang kepadanya akan menyelsaikan masalahnya. Namun pernyataannya sangat ampuh dalam merengkuhnya untuk kembali mengunjunginya.
Tidak seperti orang lainnya, yang mungkin akan menyarankannya untuk mempertahankan kehamilan demi alasan kemanusiaan. Beliau justru mengatakan hal di luar dugaan.
"Kembali lagi kepada anda, itu bergantung kepada kesiapaan anda. Jika kehamilan anda memberikan tekanan pada anda, saya sarankan untuk menggugurkannya segera. Itu hal yang terbaik untuk kalian berdua." Khiara cukup tercengang saat mendengarnya.
"Pertama karena janin itu belum bernyawa, jadi anda tidak bisa dikatan membunuhnya jika ingin menggugurkannya. Kedua, itu akan mengurangi beban mental anda. Karena jika mempertahankannya namun tidak selaras dengan keikhlasan anda, itu justru akan menyiksa anda dan bayi anda. Dan akan terus mengingatkan anda pada trauma yang anda derita." Jelas dokternya seakan mengerti akan keterkejutan Khiara.
"Namun bila keikhlasan telah ada di hati anda, anda bisa mempertahankannya. Mungkin suatu saat jika anda telah bertemu dan melihat bayi anda, bayi anda justru bisa menjadi obat penghilang luka."
Sangat realistis baginya, mengingat ini adalah kasus pemerkosaan. Apalagi aborsi masih legal di Amerika.
Entah sang psikiater yang hebat atau Khiara yang kuat. Tapi yah, analogi ini mungkin memang benar. Kita akan menemukan obat yang tepat pada orang yang tepat. Dan Khiara pun telah mendapatkan penanganan yang tepat.
Terapi pertamanya secara farmatikal dan non farmatikal telah ia dapatkan. Kelas yoga dan terapi selanjutnya pun telah dijadwalkan. Ia telah terselamatkan. Selanjutnya yang harus ia lakukan adalah menjalani setiap tahapan, untuk menjemput sebuah kewarasan.
Khiara menoleh ke belakang dan menatap gedung yang baru saja disinggahinya. Sebersit senyuman kecil terukir di sudut bibirnya. Rasa lega telah menyusup masuk di hatinya. Tekat kuat untuk melanjutkan hidupnya, kini telah ada di genggamannya. Karena di dalam sana, sang dokter telah menjelaskan mekanisme apa yang terjadi di dalam otaknya.
Untuk dirinya yang sering berfikir secara logika, penjelasan ilmiah tentu lebih dapat ia terima. Dan kini ia sedikit lebih memahami apa yang terjadi dalam dirinya dan bagaimana cara mengatasinya.
Ia menautkan keningnya, sebersit pemikiran melintas di benaknya. Kenapa banyak orang yang enggan menemui psikolog bahkan psikeater, saat sebuah masalah dalam diri mereka sudah tidak mampu untuk dihadapi sendirian oleh mereka?
Kenapa tidak ada kerabat atau sahabat yang menyarankan mereka untuk datang menemui seorang ahli di bidangnya? Apa mereka takut akan disebut sebagai orang gila?
Ck, sungguh Khiara tak habis pikir dibuatnya. Padahal itu bukan lah suatu aib bagi mereka. Justru itu lah yang akan menyelamatkan mereka. Memberikan mereka tangga untuk keluar dari lubang kehancuran.
Sedetik kemudian, ia baru menyadarinya. Ah, mungkin mereka merasakan kebingungan yang sama dengannya. Karena sebuah pukulan keras yang menghantam manusia, mampu menggelapkan otak mereka, membutakan akal pikiran mereka. Hingga tak tau apa yang harus dilakukannya.
Khiara segera mengakhiri deduksinya. Ia memalingkan muka dan mulai menyentuh perutnya. Ia sudah memutuskan, ia akan mempertahankan kehamilan yang awalnya tidak ia inginkan. Ia terngiang apa yang telah dokter Megan katakan, mungkin bayi ini bisa menjadi obat yang sangat ia butuhkan.
Terlepas dari hasil pemerkosaan atau bukan, anak ini berhak akan sebuah kehidupan. Dia tidak melakukan kesalahan. Jadi tidak selayaknya dia menjadi korban pelampiasan. Khiara akan mencoba untuk bertahan, semoga hasilnya sesuai dengan yang diharapkan. Yaitu mendapatkan obat yang benar - benar ia butuhkan. Jika tidak, ia akan berlari untuk mencari bantuan.
Dan pada akhirnya, Kaiven benar-benar menjadi obat dalam kegelapan.
...***...