THE ALEXIS

THE ALEXIS
HIS BABY BOY



"Apa masih perlu mempertanyakan itu?" tanya Alex lagi dengan tatapan menusuk.


"Ti-tidak, Tuan." Dokter itu pun segera melakukan tugasnya. Mereka melalui dengan begitu cekatan.


Tak berapa lama, semua dokter telah menyelesaikan tugasnya dengan baik. Salah satu dokter mengajukan sebuah laporan pada Alex.


"Keadaan pasien saat ini sangat lemah, banyak luka fisik yang diterima olehnya. Tapi untungnya tidak sampai melukai organ dalamnya. Hasil test DNA akan keluar sekitar dua tiga minggu ke depan ...."


"Percepat prosesnya!" potong Alex begitu mendengar rentang waktu yang terlalu lama baginya.


"Baik, Tuan. Dan untuk meneruskan proses visum, kita harus menunggu pasien sadar untuk memeriksa kondisi psikologisnya," jelas dokter tersebut mengakhiri laporannya.


"Em ...." Hanya jawaban singkat dan anggukan kecil yang diberikan olehnya. Semua tim dokter pun segera undur diri.


Mereka tidak memindahkan Khiara ke ruang inap karena memang masih membutuhkan monitoring dari dokter jaga.


Flash back off ....


"Sayang ... apa kau tahu, sejak kejadian itu aku begitu mengkhawatirkan mu. Aku sudah membawamu ke tempat yang aman, dan meminta mu untuk menungguku di sana. Tapi kenapa kau tak mendengarkan ku? Kenapa kau justru pergi meninggalkan ku?" 


Begitu banyak pertanyaan ingin sekali Alex lontarkan sejak beberapa minggu yang lalu, tapi dia belum memiliki kesempatan yang tepat untuk mengutarakannya. Bahkan tidak tahu harus memulai dari pertanyaan yang mana.


"Bahkan setelah tahu kau keluar dari penthouse itu, aku tak berhenti untuk mencari mu. Aku bahkan menciptakan sebuah program yang bisa melacak keberadaan mu. Tapi ternyata kau begitu pandai bersembunyi." Alex bermonolog sembari mengusap lembut pipi Khiara.


"Saat kemunculan mu di gunung saat itu, aku begitu terkejut melihatmu. Kau yang bertahun-tahun kucari dengan susah payah, akhirnya muncul dengan sendirinya di hadapanku. Tapi aku juga marah padamu. Aku tak suka kau membahayakan dirimu seperti itu." Kini ini jari Alex telah beralih membelai alis tipis Khiara.


"Apa aku harus melarang mu untuk balapan lagi? Tapi sepertinya kau tidak akan mendengarkan ku." Alex menghela napas. "Apa kau akan berhenti jika anak kita yang memintanya?" Sebuah senyum penuh arti tersungging dari bibir Alex.


Ya, Alex sudah tahu jika Khiara melahirkan seorang putra dari penuturan Aditya beberapa hari yang lalu. 


"Kau tahu, dadaku bergemuruh kencang saat Aditya bilang kau sudah melahirkan seorang bayi laki-laki tiga tahun lalu ... sedangkan hasil test DNA saat itu menunjukkan bahwa tidak ada cairan sialan milik b*aj*ing*an itu di dalam dirimu."


"Karena hal itu, aku yakin bahwa anak itu adalah anakku. Anak dari benih yang kutanam dalam tubuhmu saat kau meminta ku untuk menghapus jejak b*aj"ing*an itu."  Alex menyunggingkan sebuah senyum bangga akan dirinya sendiri, tidak menyangka ternyata dirinya benar-benar perkasa.


"Aku sangat berterima kasih pada Aditya karena telah menjaga kalian berdua, tapi aku juga cemburu padanya karena dialah yang ada di sampingmu saat kau sedang kesakitan untuk melahirkan anak kita." 


Alex menempelkan kedua bibirnya pada kening Khiara dengan lembut. Dia menciumnya begitu dalam dan lama, seolah menyalurkan hasrat kerinduan, permintaan maaf, kebahagiaan dan rasa terima kasih dalam waktu bersamaan.


"Kapan kau akan menyadari bahwa akulah ayah Kaiven?" 


Pertanyaan Alex selama ini terjawab sudah berkat Aditya. Kondisi mata Khiara-lah yang menyebabkan wanitanya ini tidak bisa mengenalinya. Ternyata saat peristiwa itu Khiara kehilangan lensa kontaknya, sehingga tidak bisa melihat wajah Alex dengan jelas meskipun dalam jarak dekat. Dan Khiara baru melakukan operasi LASIK saat pergi ke Paris beberapa waktu lalu.


"Pantas saja saat itu kau meraba-raba wajahku waktu itu." Alex terus saja bermonolog, dan kini dia memanyunkan bibirnya karena merasa kesal dengan mata Khiara yang bermasalah.


***


Flash back Seoul beberapa hari yang lalu ...


"Dia salah salah satu teman sekolah kalian," jawab Alex.


"APA?" Adit auto menaikkan nada suaranya. Dia bahkan berdiri dari bangkunya. "Siapa? Siapa di antara mereka yang sudah berani melakukan perbuatan b*ej*at pada Khiara hingga membuatnya hamil?" 


Alex bisa melihat bagaimana rahang Aditya yang terlihat mengeras dan kepalan tangannya yang begitu kuat hingga menimbulkan garis-garis vena pada kulit arinya.


"Hamil?" Alex menautkan kedua alisnya.


"Ya, Khiara hamil setelah pemerkosaan itu." Karena tengah diselimuti oleh amarah, Aditya pun tidak menyadari perubahan mimik yang terjadi pada Alex. 


"Lalu apa Khiara melahirkan bayinya?" Aditya menoleh pada Alex dan kembali menancapkan pantatnya kembali ke atas bangku panjang yang mereka duduki.


"Ya, dia berhasil melahirkan bayinya dengan selamat. Itu adalah moment menegangkan yang pernah kuhadapi seumur hidupku," ujar Aditya seakan menerawang mengingat kembali proses persalinan Khiara.


"Kau menemaninya melahirkan?"


"Ya, aku bahkan ingat bagaimana Khiara menjambak rambutku hingga pitak." 


Alex bisa melihat kekesalan Aditya saat pria itu mengenang kembali proses persalinan Khiara. Pria itu kini tengah menyipitkan mata yang dipenuhi oleh api di dalamnya. Tak hanya itu, hidung dan bibirnya pun ikut kembang kempis.


Dengan kesal Aditya menoleh ketika mendengar Alex yang menahan tawa. Apanya yang lucu? Saat ini dia sedang menahan rasa kesal sekaligus amarah. Kesal pada ingatannya dan marah pada pelaku pemerkosaan Khiara.


"Maafkan aku karena wanitaku dan anakku telah menyusahkan mu, dan terima kasih kerena sudah menjaga mereka selama ini," ujar Alex dengan sorot mata yang begiu tulus.


"Anakmu?" Aditya justru bertanya-tanya, kenapa Alex bisa mengklaim bayi itu sebagai anaknya?


"Yah, anak itu adalah anakku. Bukan b*aj"ing*an itu. Saat itu Khiara memintaku menghapus jejaknya, dan aku pun melakukannya." 


Aditya melotot hingga bola matanya mungkin akan keluar dari tempurungnya. Tentu dia mengerti apa yang dimaksudkan oleh Alex dengan 'menghapus jejaknya'. 


"Ka-kau?" Kepalan tangan Aditya sudah melayang untuk mendarat di pipi kiri Alex, tapi sayangnya Alex sudah bisa melihat gerakannya. Sehingga dengan mudah dia menahannya. Kini kepalan tangan Aditya terkurung dalam cengkraman tangan kiri Alex. 


"Katakan bahwa kau hanya bercanda!" desis Aditya.


"Maaf aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu."


"Kurang ajar!" Kini tangan kiri Aditya yang melayang, namun berakhir sama dengan tangan kanannya. "Berani-beraninya kau menjamah Khiara!"


"Sebelum kalian, akulah yang bertemu dengan Khiara duluan. Dan aku sangat mencintainya lebih dari apa pun." Kini sebuah ekspresi datar yang muncul di wajah Jester Alexander. "Dan aku sendiri masih punya otak untuk tidak membuat Khiara membenciku karena perbuatanku. Jadi aku tidak akan pernah melakukan hal kurang ajar padanya jika bukan dia sendiri yang memintanya."


Aditya mengendurkan ototnya, dan Alex pun melepaskan cengkramannya. Aditya meluruh dan menyadarkan bahunya di sandaran bangku mereka. Matanya bergerak-gerak dan senyum kecut pun tersungging di sudut bibirnya. Dia sudah kalah telak dari pria di hadapannya.


"Kau ... pernah bertemu dengan Khiara sebelumnya?" Aditya mulai bertanya saat kewarasan mulai kembali padanya.


...***...