THE ALEXIS

THE ALEXIS
SCAR 2



"Ah, maaf. aku menemukannya di paper bag dekat sofa. Jadi ....“


"Baju ini memang untukmu,” potong Alex segera sambil menggiring Khiara menjauhi pintu utama.


Ya, Alex memang membelikannya saat di boutique sebelum ke rumah sakit. Dia memang langsung membelikan banyak baju, mengingat dia menemukan Khiara dalam keadaan telanjang dan berjaga-jaga siapa tahu Khiara membutuhkan lebih.


Sebelumnya Alex memang berbuat kurang ajar pada Khiara, karena dia harus menyentuh payudara dan pinggangnya untuk menentukan ukurannya. Tapi dia tidak akan mengatakannya.


Saat itu Alex masuk dengan tergesa-gesa. Alhasil dia menyambar apa yang ada di depannya begitu saja. Alhasil dia salah mengambil ukuran ****** ***** dan bra.


Ternyata meninggalkan Khiara di dalam mobil sendirian, cukup membuatnya was-was dan tidak tenang meski hanya sebentar. Itulah yang membuatnya tidak fokus saat menentukan ukuran. Padahal dia sudah terlanjur menjadi pusat perhatian.


Bagaimana tidak menjadi pusat perhatian? Ada seorang pria tampan dengan beberapa luka lebam tiba-tiba masuk ke dalam boutique pakaian dalam wanita secara tiba-tiba. Lalu mengulurkan tangan pada sebuah bra, seolah mengukurnya dengan tangannya.


Apakah label 'pria mesum yang tampan' tidak menempel pada dirinya? Ck, Alex berdecak jika mengingatnya. Jika bukan karena Khiara, Alex tidak akan pernah menginjakkan kakinya ke dalam boutique pakaian dalam wanita.


"Kau memikirkan sesuatu?" Khiara menyadarkannya dari pikirannya.


"Tidak,” jawabnya singkat. “Kenapa kau keluar, hem?”


“Kau bilang hanya sebentar. Tapi sudah lima belas menit lamanya kau tidak kembali. Jadi aku menyusul mu hanya untuk memastikan.” Alex mengangguk tanda mengerti, lalu mendudukkannya pada sofa di ruang tengah.


"Tunggu sebentar." Alex beranjak untuk mengambil kotak obat. Luka lebam baik di wajah dan sekujur tubuh Khiara telah berubah menjadi ungu. Maka Alex mengoleskan herapin gel pada seluruh luka itu. "Buka bajumu!"


"Aku bisa melakukannya sendiri."


"Jangan membantah! Buka baju atau aku sendiri yang akan membukanya!?"


"Kau yang jangan membantah!"Kali ini Khiara tidak kalah tegasnya dengan Alex. "Jika kau membuka kamisolku, aku tidak yakin bahwa kita akan berhenti di situ." Khiara memang benar. Alex masih di selimuti oleh gairah, dan akhirnya dialah yang mengalah. "Sekarang berputar!"


Alex tidak mengerti. Tapi dia tetap berputar dan memunggungi Khiara. Khiara menyibakkan kaos putih milik Alex seketika. Alex segera berputar untuk menjauhkan punggungnya. Kini Alex sudah tau ke mana arah Khiara.


"Berputar!" perintah Khiara lagi. "Aku hanya ingin mengobatinya, tidak masalah jika kau tak ingin menceritakannya. Aku tidak akan bertanya."


"Dengar ...."


"Berputar!" Alex berusaha untuk menghindarinya, tapi kali ini ekspresi Khiara sungguh berbeda. Saat ini, wanitanya tidak terbantahkan olehnya. Akhirnya dia mengalah dan memutar tubuhnya.


“Buka kaosmu!” Alex menurut. Beberapa saat tidak terjadi apa-apa. Alex merasa heran karenanya. “Jangan berbalik!”


Alex mengurungkan niatnya untuk memutar tubuhnya. Seandainya dia tahu bahwa Khiara menitihkan air mata karena bekas luka cambuk di punggungnya, dia tidak akan mau menunjukkannya.


Khiara mulai meraba punggung yang terasa kasar itu dengan hati-hati. Menciptakan sensasi menggelitik namun juga perih. Masih ada beberapa luka baru di sana. Bahkan ada pula luka yang terbuka.


“Aku tidak tahu bagaimana kau mendapatkan semua luka lama ini,” ujar Khiara dan mulai mengobati luka yang masih terbuka. “Tapi aku tidak menyukai keberadaan mereka di sini.” Alex masih mendengar Khiara walau sambil menahan rasa perih di punggungnya. “Untuk kedepannya, tidak bisakah kau melindungi tubuhmu, sama seperti kau melindungi ku?”


Tangan Alex mengepal dengan erat. Bukan karena menahan rasa sakit. Tapi untuk saat ini, dia belum bisa mengabulkan hal yang satu ini. Ia masih harus bertahan sebentar lagi. Hingga waktunya tiba nanti.


Alex memutar tubuhnya setelah Khiara berhenti mengobati lukanya. Dia yang baru saja ingin bersuara, langsung tercekat dibuatnya. Khiara masih menatap lurus ke arah punggungnya yang sudah dia sembunyikan. Dan genangan air memenuhi pelupuk matanya. Alex meraih wajahnya dan menyeka air mata itu dengan kedua ibu jarinya.


“Kenapa kau menangis?” Khiara menggelengkan kepalanya.


“Maaf sudah meberikan luka baru di tubuhmu.” Khiara beralih menatapnya, dan air matanya semakin deras mengucur ke bawah mata.


“Bagaimana tidak mengkhawatirkannya? Kau selalu dicambuk dengan bengisnya!”


“How do you know?” desis Alex setelah terkejut mendengarnya. Selama ini tidak ada yang tahu bahwa dia sering di cambuk kecuali Ata.


“Seluruh bekas lukamu telah memberitahuku! Kau ingin tahu bagaimana aku menganalisa seluruh lukamu?” Khiara memutar tubuh Alex, dan mulai menyentuh bekas luka di punggung alex satu per satu.


“Luka ini, luka baru yang mereka berikan untukmu saat kau menyelamatkanku.” Jemarinya beralih ke bekas luka lainnya.


“Dan luka ini, luka sebelah sini, dan ini adalah luka tahap inflamasi akhir. Kau mendapatkannya sekitar tiga empat hari terakhir.” Khiara terus menjelaskan dengan menyentuh beberapa luka


“Sedangkan luka-luka ini, sudah masuk tahap proliferatif. Kau mendapatkannya sekitar lima hari hingga tiga minggu yang lalu. Dan bekas luka yang lainnya, adalah bekas luka yang sudah lama. Beberapa luka sudak masuk ke fase pematangan. Kau mendapatkannya sejak berbulan-bulan yang lalu bahkan mungkin bertahaun-tahun yang lalu.”


Alex tidak percaya. Semua luka yang di dapatnya memang sama persis seperti yang di katakan Khiara. Dia baru mengetahuinya, ternyata ada orang yang bisa menganalisa luka dengan begitu detailnya. Membuatnya bertanya - tanya, terbuat dari apa otak Khiara?


“Am I right?” tanya Khiara memastikan.


Alex bahkan tidak bisa berkata-kata. Meskipun begitu, ada sesuatu yang sudah Alex ketahui sejak dulu. Punggungnya telah berganti dengan jaringan baru. Dan jaringan baru itu lebih kuat dari jaringan sebelumnya. Meskipun tidak selentur kulit di sekitarnya. Dan itulah yang membuatnya merasa lebih kebal dari sebelumnya.


“Kulit dengan jaringan baru mungkin lebih kuat dari kulit sebelumnya. Tapi lukamu belum pulih dengan sempurna. Jika kau kembali menerima pukulan keras, itu hanya akan merusak seluruh jaringan yang ada.”


Ternyata Alex salah, Khiara lebih mengetahuinya dari pada dirinya. Alex menghela nafas. Dia mungkin tidak bisa berjanji padanya. Tapi dia akan berusaha untuk menjaga dirinya.


“Kau bisa mati jika terus menerima luka cabuk seperti ini! Apa kau benar-benar ingin mati dan meninggalkanku sendiri??” Khiara berteriak histeris setelah tidak mendapatkan respon dari Alex.


Kata-kata Khiara telah membungkam mulutnya. Tentu saja Alex tak ingin meninggalkannya. Dan apa yang dikatakan Khiara memang benar adanya. Jika dia tetap menerima hukuman cambuk yang diberikan untuknya, bisa-bisa kematian lebih dulu mendatanginya sebelum tercapai semua misinya.


Sungguh Alex tidak suka melihat Khiara menangis karena dirinya. Dia hanya bisa memeluknya. Permintaan maaf pun tidak akan berguna. Karena dia benar-benar tidak bisa berjanji padanya. Dan saat itulah ada panggilan masuk ke ponselnya yang tergeletak di atas meja. Mereka menoleh ke arahnya.


SATAN


Itulah nama yang tertera di ponselnya. Khiara menoleh ke arahnya, seolah bertanya. Apakah dia orangnya? Tapi Alex tak mengindahkannya. Dia segera meraih ponselnya.


“Aku segera ke sana.” Alex segera mematikan ponselnya. Kemudian meraih wajah Khiara. Dia tidak tega jika harus meninggalkannya, tapi dia harus memenuhi panggilan ayahnya. Jika tidak, dia takut ayahnya akan menemukan apa yang dia sembunyikan dari keluarganya. Terutama Khiara yang baru saja dibawanya.


“Tetaplah di sini! Jangan pergi sebelum aku kembali!” Alex segera pergi untuk berganti pakaian. Jika terus berlama-lama menatap Khiara, dia benar-benar tidak akan mampu untuk meninggalkannya.


“Kau benar-benar akan pergi?” Khiara berusaha untuk menghalangi. Kini Alex sudah rapi dan siap untuk pergi.


“Listen!” Alex meraih wajah Khiara. Dengan raut muka serius dia berkata, “You are mine! Tidak perduli apakah ada cinta untukku di hatimu. Yang jelas, kau sudah resmi menjadi milikku sejak kau menyerahkan dirimu. Dan aku tidak suka ada orang lain menyentuh milikku. Jadi, jangan pernah pergi sebelum aku kembali.”


“Lalu bagaiaman jika kau tidak pernah kembali?”


“I’ll be back. Trust me! Semua akan selesai dalam tiga hari. Aku janji.” Khiara menyodorkan jari kelingkingnya. Itu membuat Alex geli. Khiara seperti anak kecil jika seperti ini. Tapi Alex segera mengaitkan jari kelingkingnya.


“Pelayan akan memberikan semua kebutuhanmu di sini. Pertama kau harus sarapan pagi. Maaf jika kau harus sarapan sendiri.” Khiara mengangguk tanda mengerti. Alex mencium keningnya lalu pergi.


“Aku pergi.” Khiara hanya bisa menatap nanar kepergian Alex. Entah kenapa hatinya tidak bisa tenang. Tubunya pun tidak bisa relax. Kepergian Alex terus saja terbayang.


...***...