
Alex pun segera melangkah pergi meninggalkan mereka di belakangnya. Ternyata di sana tidak hanya ada satu orang, namun sudah ada dua orang lainnya yang menunggu di belakang orang itu.
Alex bisa melihat bagaimana tatapan amarah mereka. Namun Alex tak menghiraukannya, dia terus berjalan dengan langkah cepat. Bahkan mulai berlari hingga dia menggapai gagang pintu kamar wanitanya.
Dengan cepat dia masuk ke dalam kamar tersebut dan menguncinya dari dalam. Sesaat Alex bersandar di tepi meja yang berada di samping ranjang, dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Menatap tajam pada sosok yang terbaring di depan sana, kemudian meraih ponselnya.
Dia mengetikkan sesuatu ke dalam ponselnya, lalu berselancar ke dalam sebuah mesin pencarian ternama. Sekitar dua menit dia berselancar kemudian kembali mengetikkan sesuatu. Namun tidak lagi berselancar, tapi memberikan sebuah perintah pada seseorang di seberang sana.
Barulah dia melepaskan t-shirt putih serta celana jeans hitam yang membungkus tubuhnya, lalu kembali mengatur suhu air conditioner di kamar tersebut. Setelahnya dia kembali membuka dua potong kain yang menutupi tubuh polos Khiara.
Tidak hanya itu, dia bahkan melucuti semua yang menempel di tubuh polos itu. Dengan perlahan dan dengan gerakan lembut, dia mengusap seluruh permukaan dua gunung berapi kembar yang seperti sudah siap memuntahkan laharnya.
Dia mengarahkan kedua bibirnya ke salah satu puncak gunung berapi tersebut dan menyesapnya dengan perlahan. Dia merasakan cairan yang begitu encer melintasi kerongkongannya. Rasanya gurih. Itulah penilaian Alex.
Dia bahkan menghabiskan setengah isi dari satu wadah tersebut, kemudian beralih ke wadah satunya. Dia juga menyesapnya dengan sedikit rakus dari sebelumnya, hingga membuat sang pemilik tubuh sedikit mengerang dan menggeliat. Namun anehnya wanita itu tidak terbangun dari tidurnya.
Sebenarnya obat apa yang sudah mereka berikan padamu sampai kau sulit bangun seperti ini? Alex mendengus kecil setelah selesai memberikan aksi pertolongan pertamanya. Dia membantu Khiara untuk menghentikan produksi ASI-nya dengan menyisakan setengah ASI di dalamnya.
Dengan begini produksi ASI tidak akan terlalu deras dari sebelumnya. Dan Khiara tidak akan tersiksa dengan rasa nyeri di dadanya karena kedua bukit kembarnya mengalami pembengkakan akibat terlalu penuh dengan ASI.
Seharusnya dia melakukan ini berkali-kali hingga ASI nanti sepenuhnya berhenti. Nanti dia akan melakukannya lagi jika wanitanya ini membutuhkannya. Pengetahuan ini baru saja dia dapatkan tadi saat berselancar di internet. Dan itu sangat membantunya.
Dia segera merengkuh tubuh yang masih terasa membakar kulitnya itu. Meskipun terasa panas bahkan menimbulkan rasa sesak, namun dia tetap merengkuhnya. Mengatur posisi senyaman mungkin untuk mereka berdua.
Tubuh Khiara sedikit bergeliat, namun bukan memberontak. Wanita itu justru mendusel ke dadanya. Alex menarik kedua sudut bibirnya. Dia menutupi tubuh polos mereka dengan sebuah selimut tipis berwarna putih di bawah bedcover.
Sebelumnya dia telah menyingkap bedcover di atasnya dan membuangnya entah ke mana karena itu terlalu tebal untuk tubuh Khiara yang panas. Setelahnya dia mengecup kening Khiara.
“Maafkan aku Sayang karena beberapa hari ini telah menghindari mu. Aku memang cemburu karena kedekatan mu dengan Adit waktu itu. Namun bukan itu alasan utamaku menghindari mu.“ Dia kembali mengecup kening Khiara dengan dalam.
Dalam hati, Alex sangat berterima kasih pada Adit karena telah menemani Khiara saat melahirkan anaknya. Seandainya tidak ada Adit saat itu, mungkin saat ini dia tidak akan bisa lagi bertemu dengan belahan hatinya dan memeluknya seperti ini.
Dan kini dia mulai memejamkan matanya untuk menemani wanitanya beristirahat. Sebenarnya dia sendiri juga sangat membutuhkan istirahat karena disibukkan dengan pekerjaan dan pengintaian yang melelahkan.
Namun saat dia merebahkan tubuhnya, selalu saja tidak bisa selelap seperti sebelumnya. Mungkin karena rasa cemburu yang terus saja menghantuinya. Dan kini akhirnya dia bisa lepas dari kegelisahannya, ditambah lagi bisa menyalurkan kerinduan pada sang kekasih tercinta.
***
Sementara Alex dan Khiara terlelap di dalam sana, ada beberapa orang yang tengah bersitegang di dalam rumah yang sama. Ya, saat ini Adit tengah menghadapi kemarahan dari anggota Vita Dolce yang lainnya.
Endra yang tadinya bersandar pada dinding dengan punggungnya kini mulai menegakkan tubuhnya. Artha yang tadi menghadang Alex dan terlihat begitu merah pun melayangkan tatapan tajam padanya. Bahkan Krisna yang berdiri di belakang Artha pun menunjukkan ekspresi yang sama padanya.
“Jadi apa maksud pembicaraan kalian tadi?“ tanya Artha dengan cara berdesis. Kedua rahangnya bahkan telah bergemlutuk keras, mengisyaratkan bahwa kini dia tengah menahan bom yang sebentar lagi mungkin akan meledak. “Khiara ... sudah punya anak?“ Artha bahkan memberikan penekanan pada setiap kata dalam pertanyaannya.
“Apa yang sebenarnya kau sembunyikan dari kami?“ Kini Endra yang datang menghampiri.
Pria itu sedikit lebih tenang dari Artha yang tengah berdiri di depannya kini. Endra menepuk bahu Artha agar tetap bisa mengontrol emosi. Pria itu berjalan melewati Adit dan Endra dan menuju ke kursi yang ada di belakang Aditya. Dia duduk di salah satu kursi, yang mengisyaratkan bahwa mereka harus membicarakan hal ini dengan duduk bersama.
Adit pun menyusul Endra dan duduk di dekat Endra. Sedang Artha dan Krisna mengikutinya di belakang. Meskipun dengan enggan dan perasaan yang tak tergambarkan, mereka pun menarik kursi dan duduk di kursi taman.
Kini mereka tengah duduk melingkar seperti tengah mengadakan perundingan seperti biasanya. Dan di sini Endra yang bergiliran menjadi wasit di antara mereka, karena hanya dialah yang saat ini bisa bersikap tenang dari kedua teman yang lainnya.
Adit yang mereka tetapkan sebagai terdakwa dari kasus penyembunyian fakta di antara mereka pun menghela napas untuk memulai penjelasannya.
“Sebelumnya aku ingin minta maaf pada kalian karena sudah merahasiakan ini dari kalian.“ Adit mengawalinya dengan permintaan maaf yang tulus dari lubuk hatinya. Dia sendiri juga terbebani dengan rahasia ini. Dan kini, mungkin sudah saatnya dia mengungkapkan fakta ini. Untuk masalah Khiara yang mungkin akan mengamuknya, biarlah dia pikirkan nanti.
“Kami tidak butuh permintaan maaf mu, kami hanya butuh penjelasan mu. Dan kebenaran apa yang sudah kau tutupi selama ini sampai tidak ada satu pun di antara kami, kecuali dirimu yang mengetahui bahwa Khiara telah memiliki bayi.“ Saat ini Artha yang mulai menyerang Adit dengan sebuah tuntutan akan sebuah penjelasan. Dan Adit pun kembali menghela napas.
***