
Suasana kota Seoul di malam hari sangatlah indah. Gemerlap lampu kota menerangi gelapnya malam, bagaikan galaxy yang dihiasi bintang-bintang. Sungguh pemandangan yang sangat menentramkan.
Adit menatap pemandangan itu dari balik kaca ballroom yang membatasinya dengan dunia luar. Suasana di luar sana nampak lebih menyenangkan dari pada di dalam ruangan. Entah itu memang benar-benar lebih menyenangkan atau karena dia merasa tidak nyaman berada di tengah pesta perayaan.
Saat ini dia memang sedang menghadiri sebuah pesta perayaan rekan bisnis ayahnya, yang sebentar lagi akan menjadi rekan bisnisnya juga. Namun seperti biasa, dia tidak menyukai sebuah pesta.
Acara seperti ini selalu membuatnya sesak. Belum lagi dia harus memasang senyuman pada setiap rekan bisnis ayahnya. Dan itu membuat bibirnya kaku karena saking seringnya melontarkan senyuman.
“Anda sepertinya tidak menyukai acara seperti ini.” Suara itu membuatnya mengalihkan pandangannya.
Seseorang telah berdiri di sampingnya sambil menyusupkan kedua tangan di saku celananya, sama seperti dirinya. Adit mengerutkan keningnya. Apakah aku tidak salah lihat?
“Anda sepertinya juga tidak menyukai pesta ini, Tuan.” Pria itu menoleh ke arahnya dan menyunggingkan senyum tipis padanya. Senyuman yang sangat berkarisma. Sial! Bahkan dia yang seorang pria pun mampu memuji senyuman pria ini.
“Sepertinya kita memiliki kesamaan tentang hal ini. Senang bisa mengenalmu Mr. Aditya Iskandar.” Pria itu mengulurkan tangannya.
Sesaat, Adit hanya memandangnya. Kemudian meraih dan menggenggamnya dengan mantap. Begitu pula dengan pria ini. Jabat tangan kedua orang ini menunjukan kesamaan karakter di antara keduanya. Karakter dua orang yang memiliki ambisi besar dan kepercayaan diri tinggi.
“Senang bisa bertemu denganmu, Mr....”
“Alex. Panggil saja Alex.”
“Baiklah Mr. Alex.” Mereka berdua melepaskan jabat tangan mereka. “Saya baru pertama kalinya bertemu dengan anda dalam acara seperti ini.”
“Bisakah kita menggunakan bahasa yang tidak terlalu formal? Bahasa seperti itu terlalu kaku untuk saling mengenal.”
“Ah, kau benar. Baiklah." Adit menyetujui permintaan Alex.
“Begini lebih baik. Sepertimu, aku juga tidak pernah menyukai pesta. Aku biasanya tidak menghadiri acara seperti ini. Rekanku yang selalu menghadirinya.” jelas Alex.
“Lalu kenapa sekarang kau menghadiri acara ini?” Alex tertawa kecil mendengarnya.
“Biasa tidak menghadiri bukan berarti selalu tidak hadir, bukan.” Adit tersenyum mendengarnya. “Aku hanya menghadiri beberapa di antaranya.”
“Dan ini merupakan salah satu pengecualian, sehingga kau memutuskan untuk hadir, hem?”
“Kau benar. Orang yang menyelenggarakan pesta ini adalah pemimpin dari perusahaan software yang memiliki kerjasama dengan perusahaan kami. Jadi mau tidak mau aku harus menghadirinya.”
“Benar kah? Sebenarnya perusahaan apa yang kau wakili?”
“MTRC.” Adit terkejut mendengarnya.
MTRC merupakan perusahaan raksasa mutinasional yang bergerak pada teknologi computer. Dan menurut desas-desus, pemiliknya merupakan seorang pengusaha muda yang tidak pernah tersentuh oleh media. Apakah dia?
“Siapa kau sebenarnya?” Alex menelengkan kepalanya. Rupanya Adit sudah mulai menyadarinya.
“Ah, di sini kau rupanya. Aku mencarimu ke mana-mana.” Seseorang mendatangi mereka berdua. “Kau sangat tidak sopan, Lex! Kau bahkan belum menyapa pemilik acara!”
“Aku tidak berniat menyapanya.” Pria itu memutar bola matanya mendengar jawaban Alex.
“Kau! Aku menyesal membawa mu kemari. Kau bisa saja menghancurkan reputasi perusahaan.”
“Tidak masalah, ada kau di sini. Anggap saja hanya kau yang datang mewakili perusahaan.”
Oh, Ata rasanya ingin sekali menjebleskan kepala Alex ke jendela kaca di belakang mereka.
“Alex ...," desis Ata. Namun Alex hanya memberikan senyuman kecilnya.
“Oh, kenalkan! Ini Aditya Iskandar calon CEO dari MT Group. Dan ini rekan sejawat ku. Atanael William.”
“Panggil saja Ata, senang bertemu denganmu Mr. Iskandar.”
“Senang bertemu denganmu Mr. William, anda bisa memanggil ku Adit.”
“Tidak perlu terlalu formal dengannya. Kau bisa memanggilnya Ata.” Ata mengangguk menyetujui ucapan Alex. Dan Adit tersenyum, lalu mengangguk tanda mengerti.
“Oh, sepertinya mereka sudah mulai menuju kemari. Wanita cantik yang ada di sebelahnya adalah putrinya. Sepertinya dia sangat tertarik padamu. Bersiap-siaplah! Jangan sampai kau mempermalukan ku!"
“Sepertinya lebih baik aku pergi. Karena ku yakin aku pasti akan mempermalukan mu.” Ata melotot dibuatnya.
...***...
“Oh, Mr. Alexander. Saya tidak menyangkan anda berkenan menghadiri pesta kecil kami. Sungguh merupakan sebuah kehormatan bagi kami," sapa seorang pria paruh baya yang kini sudah berada di depannya.
“Jika pesta seperti ini hanyalah pesta kecil, lalu bagaimana pesta megah bagi seorang Mr. Felix?”
Ata, Adit dan dua orang lainnya sontak memutar leher mereka ke arah Alex saat mendengar sindiran tersebut.
Krik krik krik ...
Oh, benar. Alex benar-benar membuatnya malu. "Apa mulutnya itu tidak memiliki filter?" rutuk Ata dalam hati.
Tapi itulah Alex. Dia tidak suka berbasa-basi apalagi mengatakan hal yang jelas-jelas hanyalah omong kosong belaka. Apanya yang pesta kecil? Alex tersenyum sinis namun tipis.
Pesta ini diselenggarakan di jantung kota Seoul dengan dekorasi yang sangat mewah dan jamuan makan malam ala bintang lima dari beberapa chef terkenal. Bahkan artis-artis terkenal dengan pendapatan fantastis dalam sekali tampil pun turut memeriahkan acara ini.
“Hahahaha ....” Ucapan Alex mampu membuat tawa canggung dari sang pemilik pesta. “Jika Mr. Alexander yang mengadakan pesta, pastilah akan lebih megah dari ini.”
Well, pak tua ini sepertinya ingin sekali dibekap. Ata yang sudah hafal dengan sifat Alex hanya bisa berdoa dalam hati agar dia tidak mengacau. Tapi sepertinya harapan tinggallah harapan.
“Saya tidak suka menghambur-hamburkan uang hanya untuk mengadakan pesta tidak penting, Mr. Felix.” Skak! Dan suasana benar-benar berubah menjadi canggung saat ini.
Tapi itu memang benar. Alex memang bukanlah orang yang suka menghambur-hamburkan uang hanya untuk hal-hal yang tidak penting. Dari pada menggunakan uangnya untuk mengadakan pesta tidak penting seperti ini. Lebih baik menggunakannya untuk mensejahterakan karyawannya, jika perlu memberikan bonus besar kepada mereka atas kerja kerasnya.
Itu akan lebih berguna bagi mereka, dan dengan begitu karyawannya akan bekerja lebih baik dari sebelumnya. Sebuah timbal balik yang sepadan, bukan?
Ata hanya bisa menatap Alex dengan pandangan kesal sekaligus salut. Kesal dengan kata-katanya yang menohok, namun salut dengan kepribadian Alex di balik sikap ketidakpeduliannya. Dan selama ini, hanya Ata-lah yang mengetahuinya.
Alex memang orang yang suka mensejahterakan karyawannya. Meski sikapnya selalu tidak menyenangkan di depan mereka.
Kita memang perlu memberikan apresiasi bagi orang-orang yang berprestasi. Itulah yang dikatakan Alex saat Ata menanyakan kenapa menaikkan gaji salah satu karyawan barunya begitu cepat.
Istilah ‘kenaikan gaji’ memang lah senjata ampuh untuk meluluhkan hati setiap karyawan. Tidak ada yang merasa tidak betah berkerja pada perusahaan Alex.
Meski terkadang mereka kuwalahan dengan sikap perfectionist Alex dalam pekerjaan, namun hal itu tidak membuat mereka menyerah padanya. Mereka justru terbakar olehnya. Alex sangat tau bagaimana membangkitkan ‘jiwa kompetitif’ pada setiap karyawannya.
“Hahahaha ... sayang sekali, Mr. Alexander. Padahal pesta merupakan salah satu sarana untuk lebih mengenal rekan bisnis kita dan untuk melebarkan sayap.” Kini ucapan pembelaan dari seorang wanita cantik yang berdiri tepat di samping Mr. Felix menyadarkan Ata dari pikirannya.
Wanita itu begitu anggun. Dan tentu saja cerdas dalam menimpali pernyataan Alex. Siapa pun yang melihatnya pasti akan terpana olehnya.
Cantik, anggun, kaya, cerdas pula. Seperti tidak ada cela untuk tidak mengaguminya. Sedangkan Alex hanya menatapnya dengan malas.
“Anda memang benar, Nona. Tapi masih banyak cara yang bahkan lebih effective untuk mengepakkan sayap. Pesta bukalah satu-satunya cara.” Kali ini Adit yang buka suara.
Sepertinya Adit dan Alex sudah mulai akrab hingga pria itu membela Alex. Atau itu hanya perasaan Ata saja?
“Seseorang yang hanya mengetahui cara melebarkan sayap melalui pertemuan antara pebisnis dan pengusaha merupakan orang yang berpemikiran sempit.” Alex menoleh pada Adit dan mengulum senyum. Sedangkan wanita itu nampak begitu kesal dengan jawaban Adit.
“Ah, ternyara Mr. Aditya Iskandar pun ada disini.” Mr. Felix mencoba mencairkan suasana.
“Maafkan ketidaksopanan anak saya.” Adit hanya menghela nafas mendengarkan ucapan ayahnya.
“Tidak masalah, Mr.Iskandar. Yang diucapkannya memang benar. Putri saya memang butuh lebih banyak belajar. Ah, iya. Saya lupa memperkenalkan anda berdua. Mr. Alexander, perkenalkan ini adalah Mr. Muhammad Iskandar pemillik MT Group.” Alex dan Mr. Iskandar berjabat tangan. “Dan ini adalah Mr. Jester Alexander yang menaungi MTRC.”
Tidak bisa dipungkiri, bahwa Mr. Iskandar sangat terkejut mendengarnya. Begitu pula dengan Adit.
“Jester Alexander?” Seolah tak percaya, Mr. Iskandar kembali menyebutkan nama Alex. Dan Alex hanya tersenyum menanggapinya.
“Oh, saya tidak menyangka bahwa anda masih sangat muda sekali.” Alex kembali tersenyum.
“Saya pun sangat terkejut saat pertama kali bertemu dengan Mr. Alexander. Tidak menyangka bahwa perusahaan sebesar MTRC berkembang sangat pesat di bawah tangan seorang pria yang masih sangat muda," tambah Mr. Felix.
“Umur tidak menjadi patokan untuk seseorang bisa memimpin perusahaan Mr. Felix.”
“Hahaha ... anda memang benar. Tapi pengalaman juga sangat berpengaruh dalam kemajuan perusahaan.”
“Jika berbicara pengalaman, saya mungkin masih kalah dengan Mr. Iskandar dan Mr. Felix. Tapi untuk masalah kemampuan, saya bisa diadu dengan tuan sekalian.” Alex memang terlihat sangat sombong. Tapi dia juga tidak suka diremehkan.
“Ayah saya sudah kenyang dengan pengalaman dunia bisnis, saya bisa mengambil pengalaman beliau sebagai pelajaran.”
“Maafkan kami Mr. Alex. Kami turut berduka atas apa yang menimpanya.” Mr. Felix menunjukan rasa simpatinya. Begitu juga dengan Mr. Iskandar.
“Tidak masalah, itu sudah terjadi lama sekali.” Ata hanya menatap Alex dengan tatapan penuh misteri.
“Oh, iya. Kenalkan ini adalah putri saya, Natasha Felixia.”
“Senang bertemu denganmu Mr. Alexander." Natasha memberikan senyuman termanisnya, tapi sayangnya Alex tidak membalas senyuman itu.
Raut wajah Natasha sedikit berubah karenanya, namun dia segera kembali menguasai dirinya kemudian beralih pada Adit dan Ata.
“Putri anda sangat cantik Mr. Felix.” Natasha hanya tersenyum menanggapi pujian Ata.
“Terimakasih, dia memang putri tercantik yang pernah saya miliki.”
“Sepertinya, Mss. Natasha juga terlihat sangat cerdas.” Mr. Iskandar menambahkan.
“Hahahahah ... anda memang benar, Mr. Iskandar. Putri saya ini memang sangat cerdas. Bahkan saya rasa kecerdasannya sangat pantas untuk mendampingi seseorang seperti Mr. Alex.” Mr.Felix secara tidak langsung menunjukkan harapannya untuk menjadikan Alex sebagai menantunya. Dan Natasha sendiri terlihat tersipu malu mendengarnya.
“Oh, benarkah?” Alex terkesan seperti menunjukkan ketertarikan padanya. “Ap- ...." Ucapan Alex terpotong saat dia merasakan getaran pada iBand-nya.
Dia mengangkat lengan kirinya untuk melihat benda mungil seperti handband namun memiliki fungsi seperti iWatch tersebut. Di sana ada notifikasi sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya.
“Ah, maaf. Saya harus mengangkat panggilan ini," ujarnya setelah sebuah senyuman tersungging di bibirnya.
“Silahkan.” Mr. Felix mempersilahkan.
...***...