
“Bagaimana jika aku menolak?”
“Aku akan memaksamu sampai bicara.” Khiara menghela nafas. Ia tahu, tidak ada gunanya menutupi semuanya dari Adit. Tidak ada yang bisa luput darinya.
“Kau tadi bilang ... aku seperti orang gila.” Adit terdiam, namun dia tidak merasa salah berucap. Karena seperti itulah keadaan Khiara yang dia lihat.
Khiara sendiri tersenyum canggung sebelum mengatakannya.
“Aku memang sudah hampir gila, Dit. Emm, tidak! Tapi memang sudah benar-benar gila.” Adit masih mendengarkan tanpa interupsi. “Aku bahkan sampai pergi ke psikiater dua hari lalu. Dan aq dinyatakan mengalami PTSD.”
“PTSD?“ Adit masih asing dengan istilah itu.
“Post traumatic stress disorder,” ucap Khiara menjabarkan.
Jantung Adit mulai berdetak lebih kencang mendengarnya. Seluruh tubuhnya memberikan sinyal bahwa dia sedang sangat khawatir saat ini. Dia spontan menyambar bahu Khiara dengan kedua tangannya. Meremasnya dengan kencang namun tidak menyakitkan. Tanda bahwa dia membutuhkan kejelasan.
“Rape,” tandas Khiara segera dengan singkat, sebelum Adit mengajukan pertanyaannya.
DUUUAGH!!
Seolah-olah godam yang sangat besar menghantam dirinya. Kemarahan, kegusaran, kesedihan hingga rasa tidak percaya bercampur aduk menjadi satu hingga membuat matanya merah dan berair. Mulutnya menganga, namun suaranya begitu tercekat. How can it be?
“Kau ... kau hanya bercanda, 'kan?” Adit menatap Khiara dengan gusar. “ Katakan apa yang barusan kau katakan itu hanyalah omong kosong!” Bahkan Adit mulai berteriak karena terlalu syok dan sulit untuk mempercayainya.
Namun Khiara hanya menatapnya dengan mata nanar. Kemudian menghela nafas, Dan dengan senyum kecil nan miris di sudut bibirnya, Khiara membenarkan perkataanya.
“Kau kira apa yang Kau lihat saat ini hanyalah omong kosong belaka? Pernahkan kau melihat ku yang seperti ini sebelumnya?” tanya Khiara untuk menyadarkannya.
Tidak. Adit belum pernah melihat Khiara seperti ini sebelumnya.
“Aku hancur, Dit. Aku tidak tau harus berbuat apa. Aku bahkan tidak bisa membedakan, apakah ini karma atau hanya sebatas cobaan untukku. Tapi jika ini hanya sebuah cobaan, kenapa rasanya terlalu berat?”
Tubuhnya mulai berguncang, air mata mulai jatuh membasahi pipinya.Tidak hanya Khiara, Adit pun benar-benar terpukul dengan kenyataan ini. Orang yang dia sayangi, direnggut begitu saja dengan bejatnya. Dia pun hancur bersamanya. Amarah pun begitu meledak-ledak di dalam tubuhnya.
“Siapa?” Adit berusaha menyerukan suaranya dengan susah payah. “Siapa yang berani melakukan ini padamu, Khiara? Siapa? Akan kuhabisi dia!” serunya dengan penuh amarah.
Adit manangkup wajah Khiara dan menyeka air matanya dengan kedua tangannya. Dan Khiara pun tersenyum lesu mendengar kemarahan Adit.
“Bukan kau, Dit,” kata Khiara. “Bukan kau yang akan menghabisinya.” Kening Adit kembali berkerut. “Dia akan habis di tanganku,” sumpahnya dengan senyuman keji di salah satu sudut bibirnya.
“Tidak Khiara, katakan saja padaku siapa yang telah melakukannya. Aku dan yang lainnya akan mengurus orang itu.“ Adit menolak keinginan Khiara.
“Tidak, Dit! Kumohon hargai keputusanku! Dan tolong jangan katakan ini pada siapa pun, termasuk keluargaku!“ pintanya sambil menggenggam tangan Aditnya di depannya, namun dia bergerak mundur sedikit menjauh dari Aditnya.
“Kenapa? Kenapa kau tidak mau mengatakannya?“ tanya Adit setelah selesai dengan sikap diamnya.
“Pertama, kau pikir aku tidak malu pada mereka setelah mereka tahu aku diperkosa? Aku saja merasa jijik dengan diriku sendiri ... ini adalah aib bagiku, Dit.“
“Tapi mereka tidak akan mungkin menghakimi mu Khiara,” ujar Adit berusaha untuk meyakinkan.
“Ya, aku tahu. Tapi tetap saja aku malu untuk berhadapan dengan mereka. Bahkan berhadapan denganmu saja rasanya aku tidak mampu. Jika aku tidak benar-benar membutuhkan mu, aku tidak akan meminta mu untuk datang mengunjungi ku,” lanjut Khiara.
“Mau tidak mau Kak Kalvin akan tahu saat dia pulang nanti.“ Kening Adit berkerut. Perasaannya tidak enak. Entah kenapa dia merasa takut saat Khiara menatapnya dengan tatapan seriusnya. Seakan dia akan memberitahukan fakta yang sangat menyakitkan padanya.
“Dan saat itu aku sudah melahirkan anakku.“
JEGLEERR!
Sebuah petir di siang hari telah menyambar tubuhnya. Kepalanya terasa terbelah oleh sambaran petir tersebut. Jantung dan tubuhnya seolah hangus bagaikan daging yang terpanggang. Tubuhnya menjadi kaku seketika.
Ternyata kenyataan pahit ini lebih menyakitkan saat diutarakan oleh Khiara daripada saat di dalam pikirannya.
“Ka-kau hamil?“ Khiara mengangguk. Tubuh Aditya luruh, tangannya terkulai begitu saja.
“Aku tahu ini juga sama menyakitkannya untukmu. Tapi cepatlah keluar dari rasa sakitmu, karena aku sendiri sudah menerima janin ini,” ujar Khiara sembari meraih lengan Adit dan menepuknya lembut.
“Kau tidak berniat untuk menggugurkannya?“ tanya Adit yang sebenarnya hanya mengkhawatirkan kondisi psikis Khiara. Dia tidak ingin wanita itu terbebani dengan kehamilannya.
“Tidak, Dit. Aku memang sempat memiliki pemikiran seperti itu. Jika aku tak pergi ke psikiater beberapa hari yang lalu, mungkin aku tetap akan berpegang pada pemikiranku. Tapi setelah aku ke sana, aku berubah pikiran. Anak ini tidak bersalah, dia berhak untuk mendapatkan kehidupan,” jelas Khiara panjang lebar.
“Apa psikiatermu menyarankan mu untuk mempertahankan kehamilanmu?“
“Tidak, dia menyerahkan semuanya padaku ... makanya aku mau meminta bantuanmu. Maukah kau menjagaku selama masa kehamilan ku?“ tanya Khiara.
“Aku dengar masa kehamilan adalah masa yang melelahkan. Semua hormon dan emosi serta taraf sensitivitas wanita begitu terpengaruh di masa ini. Dan aku yakin tidak akan bisa jika melaluinya jika sendiri. Usiaku masih labil, delapan belas tahun.“ Khiara menjelaskan apa yang dia tahu.
“Emh, tentu. Aku pasti akan menemanimu.“ Khiara tersenyum lega mendengar Adit bersedia membantunya. “Sebentar lagi kau akan wisuda SMA, apa kau akan menghadirinya?“ Khiara menganggukkan kepala.
“Ya, aku akan hadir. Saat itu perut pasti belum terlalu besar. Setelah itu aku akan langsung kembali kemari. Tapi mungkin aku akan menunda kuliahku untuk tahun ini.“ Adit mengangguk mengerti.
“Kalau begitu aku akan pindah kuliah ke sini,” ujar Adit.
Adit memang kakak kelas Khiara satu tingkat. Jadi saat ini dia sudah menempuh kuliah semester dua. Dan juga dia sudah diberi amanat oleh ayahnya untuk belajar memimpin perusahaan meski dia masih kuliah. Tapi kali ini sepertinya dia harus membujuk ayahnya untuk membebaskan tugasnya dari perusahaan dulu.
“Dan untuk Kak Kalvin, sebelum dia ada di depanku jangan pernah mengatakan hal ini padanya. Aku tak mau membebani pikiran dengan keadaanku saat dia bertugas,” ujar Khiara.
“Kau tahu aku sangat menyayanginya, dan dia tengah berjaga di perbatasan sekarang. Aku tak mau dia kenapa-napa,” lanjutnya. “Kita akan beritahu mereka saat aku sudah siap melakukannya.“
“Baiklah.“ Adit mengangguk mengerti.
***
Kembali pada Adit dan Alex di masa sekarang...
“Aku berusaha untuk tegar dan menerima apa yang terjadi pada Khiara saat di depannya, dan aku selalu meluapkan perasaanku di belakangnya. Tapi ternyata selama itu juga dia selalu menunggu di luar ruang olahraga, dia tahu bahwa aku belum benar-benar bisa menerimanya.“ Adit menerawang jauh ke depan.
“Bahkan aku pun melamarnya saat itu.“ Adit menoleh pada Alex, ingin melihat bagaimana reaksi Alex ketika pria itu mendengar bahwa dia telah melamar Khiara.
***