THE ALEXIS

THE ALEXIS
REMOVE THE TRACES



"Bukan seperti itu caranya mencium." Kini, pria itulah yang mengambil alih.


Dia mengajarkan pada Khiara bagaimana ciuman yang membangkitkan gairah. Pria itu ******* bibir Khiara dengan lembut dan penuh irama. Membangkitkan getaran-getaran yang belum pernah Khiara rasakan sebelumnya.


Ini memang pengalaman pertama bagi Khiara. Dan setelah mengalami kejadian mengerikan baginya, dia tidak membenci atau pun jijik dengan aktivitas yang kini tengah dilakukannya bersama pria ini. Justru sebaliknya, dia menemukan ketenangan, kenyamanan dan kenikmatan.


Apakah ini berhasil? Sepertinya begitu. Mungkin karena seluruh perlakuan pria inilah yang membuat Khiara merasakan hal itu. Pria ini begitu lembut dan penuh dengan kasih sayang. Khiara bisa merasakannya di balik setiap sentuhannya.


Khiara mengikuti gerakan pria itu, dia belajar dengan cepat dan berusaha untuk mengimbanginya. Hingga akhirnya dia benar-benar lihai dalam melakukannya.


"How?" tanya pria itu setelah melepas ciumannya.


"I love it." Khiara tidak berbohong, ia memang sangat menyukainya.


Khiara menikmati setiap sentuhan yang diberikan pria itu. Dengan perlahan pria itu menidurkan Khiara. Memposisikan tubuh Khiara agar senyaman mungkin. Kini mereka kembali menyatukan benda kenyal milik mereka yang begitu halus dengan gerakan yang lembut. Benar-benar sangat lembut, hingga Khiara merasakan candu yang membelenggu.


Masih dengan tetap ******* bibir Khiara, dengan lihainya tanggan kiri pria itu membuka kancing baju Khiara satu persatu. Dan kini tiada lagi kain yang membungkus tubuh Khiara. Karena memang, ia tidak mengenakan apa pun selain kemeja putih pria itu. Pria itu melepas ciumannya, membuat Khiara sedikit kecewa.


Sesaat pria itu memandangi tubuh Khiara yang penuh dengan luka memar bahkan goresan. Tubuhnya terlihat sangat menyedihkan. Apakah pria itu sedang merasa kasihan padanya? Jujur Khiara sangat tidak suka dikasihani.


"Aku ingin kau membantu ku menghapusnya untuk memastikan apakah aku memiliki trauma atau tidak. Tapi jika kau merasa kasihan atau bahkan jijik padaku, sudahlah lupakan! Aku akan menghapusnya sendiri dengan air. Ini saja sudah cukup, tubuhku tidak melakukan penolakan pada sentuhanmu. Berarti aku tidak akan takut bersentuhan dengan pria,” ujar Khiara saat hendak beranjak, tapi pria itu segera menahannya.


"Jika merasa ada yang sakit, segera beritahu aku!“ ujar pria itu lalu meneruskannya. Kini pria itu mulai mengendus daun telinga Khiara dengan lembut, menciptakan sensasi menyenangkan dan geli dalam dirinya.


"Dan satu hal yang harus kau tau, aku tidak merasa jijik sama sekali padamu, apalagi kasihan padamu. aku tidak lahir dengan rasa iba atau pun simpati,” ujarnya tepat di telinga Khiara.


"Tapi aku bisa merasakan apa yang kau rasakan, karna aku terlahir dari sebuah pemerkosaan." Fakta yang cukup mencengangkan bagi Khiara. Khiara menatap pria itu dengan nanar, namun pria itu tersenyum simpul padanya.


"Karna itulah aku tanya sekali lagi, apa kau sudah yakin?" Khiara masih terdiam. "Aku tidak ingin menambah luka lagi untukmu." Khiara tersenyum mendengarnya. Khiara semakin yakin dengan keputusannya.


"Sure!"


"Ok, let's do it softly." Pria itu kembali mengarahkan bibirnya pada telinga Khiara, dan Khiara mulai memejamkan matanya untuk menerima segala bentuk sentuhannya.


Pria itu memberikan sensasi yang begitu aneh namun menyenangkan di sekitar telinganya. Lalu menyusupkan sesuatu yang lunak ke lubang telinga Khiara, membuat Khiara terkesiap dan mencengkram rambut pria itu dengan kuat.


Aliran listrik seolah menusuk jantungnya dengan tiba-tiba hingga ke ujung area sensitifnnya. Pria itu berhenti sejenak, dan melanjutkannya lagi. Pria itu menyusupkan sebelah tangannya di sela-sela telinga Khiara untuk menahan kepalanya. Dan masih tetap bermain-main di area telinga Khiara.


Kini sebelah tangan pria itu mulai bergerilya menyusuri seluruh lekuk tubuh Khiara dengan perlahan dan hati-hati. Pria itu seolah memeperlakukan sebuah porselen yang rawan pecah, Khiara merasa begitu dihargai. Ia merasa seperti intan berlian yang begitu mahal dan sangat berharga.


Tangan pria itu halus namun juga terasa sedikit kasar. Dengan perlahan dia menyapukan jari-jarinya dari atas ke bawah. Mulai dari lehernya yang jenjang, hingga ke gundukan sintal yang menjulang. Di sana dia berhenti dan bermain-main dengan ujung bola kenyal yang merekah, membuat area sensitivenya di bawah sana seperti teraliri sinyal-sinyal kuat.


Pria itu selesai bermain-main di kedua daun telinga Khiara. Kini saatnya bibir halusnya menyusul jemarinya yang tengah asik bermain di atas gundukan kenyal. Namun dia tidak melompat ke area itu begitu saja, dengan lembut bibir itu mencium setiap bagian leher hingga dada dengan lembut, menyapu seluruh bekas pemerkosaan itu dengan bersih.


Dan sampailah dia di puncak gundukan tersebut. Dia mengulumnya dengan sangat hati-hati dan penuh sensasi, membuat Khiara melepaskan erangan yang tak tertahankan. Sambil mengulum dua benda kecil yang mencuat keluar secara bergantian. Dengan perlahan tangannya mengusap-usap area perut, ke bawah hingga paha.


Dan sampailah tangan itu ke titik paling sensitive bagi setiap wanita. Dia memprovokasi daerah itu dengan tangannya secara lihai, membuat Khiara membanjiri ruangan itu dengan ******* dan erangan tak tertahankan.


Tidak sampai situ, kini bibirnya pun menyusul tangan nakal itu tanpa melewatkan satu jengkal bagian tubuh Khiara. Hingga akhirnya sampai juga lidah nakal itu di tempat terhangat yang menjadi surga para pria.


Dia memainkan lidahnya dengan lihai, menyesapnya dengan penuh gairah hingga menari-nari di sana. Khiara benar-benar tidak bisa menahannya. Dia merasa bagiankan terbang di atas awan. Tubuhnya melengkung dan tangannya pun meremas kain sprei di kedua sisi tubuhnya. Pria itu nampak puas dengan apa yang dikerjakannya.


Seluruh tubuh Khiara menegang, seolah ada sesuatu yang ingin keluar dari dalam tubuhnya. Sesuatu sudah sampai di ujung pusat dirinya, namun pria itu segera mengakhirinya. Rasa kecewa terbersit dalam hati Khiara.


"Do you wanna more?“ tanya pria itu dengan senyum yang menghiasi wajahnya.


"Yes, I do,” jawab Khiara dengan pipi yang bersemu.


Lalu pria itu melepas kaos dan celana pendek yang dikenakannya, hingga mereka sama-sama polos bersama. Pria itu kembali mencium bibir mungil Khiara dan mulai memasuki tubuh Khiara dengan perlahan.


Khiara merasa ada benda asing yang begitu besar dan kuat mencoba menelusup masuk dalam dirinya. Pria itu memasukinya dengan perlahan dan hati-hati, hingga Khiara hanya dapat merasakan kenikmatan tanpa kesakitan.


Mereka bergerak sesuai irama, perlahan demi perlahan, hingga pria itu mampu menjebol dinding pembatas yang ternyata begitu elastis, sehingga Khiara pun tak mampu merasakan bahwa benda itu ternyata masih ada.


Mereka berpagut dalam kelembutan yang tanpa mereka ketahui, hal itu menimbulkan kenikmatan dan rasa ingin memiliki satu sama lain. Sungguh mereka adalah dua insan yang sama-sama kuat. Hampir satu jam lamanya mereka melakukannya, namun mereka masih tetap bisa bertahan tanpa jeda.


Dan akhirnya pria tersebut menaikkan ritmenya karena tak ingin membuat Khiara semakin lelah. Hingga saat paling ditunggu tiba, mereka mencapai puncak bersama-sama.


Mereka saling memeluk dengan erat, saling menekan tubuh mereka satu sama lain hingga melepaskan suara kenikmatan bersama-sama. Dan ini menjadi malam terindah bagi mereka berdua, meski hari ini juga merupakan hari buruk, bahkan mengerikan bagi Khiara.


...***...