
Pagi yang cerah setelah hujan deras….
Sinar mentari menyusup masuk di balik tirai tebal kamar bergaya bali klasik ini. Sinar hangat yang membuat ruangan ini terasa sedikit lebih terang. Dua orang masih setia berbaring di pulau kapas yang sangat nyaman.
Mereka saling berpelukan satu sama lain mencari kehangatan untuk setiap sisi tubuh yang terasa dingin. Aroma petrichor membuat salah satu diantaranya enggan untuk membuka mata dan menarik kembali selimutnya.
Sedangkan Alex sudah terjaga sejak subuh tadi, dia bahkan sudah menyelesaikan rutinitas paginya. Namun kehadiran wanita cantik di kamarnya, membuatnya tergoda untuk kembali ke atas ranjang.
Dan saat dia kembali, wanita itu justru menarik dan memeluknya dengan erat dalam tidurnya. Alex tak kuasa menahan senyum di bibirnya. Hatinya terasa sangat bahagia dengan perlakuan spontan Khiara.
Jika dia bisa menghentikan waktu, dia ingin berada di moment ini untuk waktu yang lama. Namun sayangnya dia tak kuasa melakukannya. Maka, dia memanfaatkan waktu-waktu berharga ini dengan sebaik-baiknya.
Dia terus memandangi wajah polos yang masih tertidur pulas itu dengan lekat. Walau dia sadar, bisa saja apa yang dilakukannya ini akan menggiringnya melakukan dosa besar pada wanita ini. Dia sudah sekuat tenaga menahan diri agar tidak lepas kendali.
Alex masih memandanginya dengan tatapan memuja dalam waktu yang lama, bahkan jika itu berlalu berjam-jam pun dia akan betah melakukannya. Dengan lembut dia membelai rambut lurus yang terasa lembut ditangannya. Menyelipkannya di balik telinga dengan sedikit memberikan sentuhan-sentuhan menggoda di sana. Dan dia berhasil mengusiknya.
Khiara menggeliat saat jemari jail itu menggelitik daerah sensitive di area telinganya. Dan Alex menyunggingkan senyum yang menampakan deretan gigi putihnya. Jangan salahkan dirinya, salahkan saja Khiara yang sudah memancingnya. Dengan seenaknya wanita itu mendekapnya bagaikan guling dan melilitkan tubuhnya seperti tanaman menjalar.
Sentuhan-sentuhan yang membuat bulu kuduknya meremang itu membuat Khiara membuka mata sesaat. Rasa kantuk masih menghinggapi dirinya. Dalam halusinasinya, dia melihat Alex dengan senyum menawannya. Membuatnya merasa ingin terus terbuai dalam mimpi.
“Selamat pagi, Sayang.” Oh bahkan suaranya terdengar lebih nyata. Dan dia bisa merasakan seakan sedang menyentuh rambut bagian depan Alex yang sedikit basah. Oh, kenapa mimpiku terasa begitu nyata?
Dan akhirnya dia benar-benar tersadar bahwa itu bukan mimpi setelah Alex mengecup dahinya. Matanya terbuka lebar, dan Alex benar-benar ada di depannya.
“Apa yang kau lakukan di sini?” pekiknya sambil mendorong tubuh Alex hingga bergeser ke pinggir ranjang.
Alex meringis merasakan betapa kerasnya dorongan Khiara. Itu cukup membuat dada kekarnya sesak seperti ditinju.
“Akhh!” Khiara mengerang saat merasakan kepalanya sakit bukan main. Dia yang saat itu bangkit dan duduk kini kembali membanting tubuhnya kembali ke kasur.
Tidak perduli dengan dadanya yang masih terasa nyeri, Alex dengan sigap langsung meraih dahi Khiara, lalu menekannya dengan ibu jari dan jari manis tangan kanannya. Dia memijat area itu perlahan memberikan tekanan-tekanan yang pas untuk membuatnya relax.
“Jam berapa ini?” tanya Khiara di tengah-tengah rasa sakitnya.
“Jam 8.” Khiara menghela nafas pasrah. Dia melewatkan ibadah paginya. “Masih sakit?” Khiara mengangguk. “Tetaplah berbaring, aku akan menutup curtain-nya. Buat dirimu relax!”
Alex turun dari ranjang dan menutup kembali pintu kaca dan tirai yang tadi sempat sedikit dia buka. Kini kamar sudah kembali remang-remang.
“Apa kau jarang minum obat tidur?” Alex kembali naik ke atas ranjang dan kembali mengambil alih dahi Khiara setelah menyingkirkan tangan Khiara yang terus memijatnya.
“Emh, this is my first time.”
“Lalu kenapa kau meminumnya?”
“Karena aku tidak bisa tidur.”
“Kenapa?” Wajah Khiara sedikit bersemu merah.
“Karena aku takut sendirian di sini!” Kening Alex berkerut. “Tempat ini menyeramkan saat malam.” Khiara mengakuinya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia bisa mendengar Alex yang menahan tawa. “Jangan tertawa!”
“Ok, ok. Di sini banyak pelayang yang menjaga mu 24 jam. Apa yang kau takutkan, hem?”
“Mereka tidak mungkin menemani ku tidur, bodoh!” Khiara membuka kedua tangannya dengan kesal.
“Mereka bisa menemani mu saat tidur, Sayang. Kau bisa menyuruh pelayan wanita berjaga di dalam kamar saat kau tidur.”
“Dan aku tidak bisa tidur jika terus dilihat seseorang.” Alex memutar kedua matanya.
“Kau barusan tetap tertidur pulas walau aku sudah berjam-jam memandangi mu.”
“A-apa? Apa yang kau lihat?”
“Hanya sebatas wajah ileran milikmu.” Khiara melotot mendengarnya. Dia segera menepis tangan Alex yang masih memijat keningnya lalu memukul Alex dengan bantal di sebelahnya.
“Aku membenci mu, Lex!” ujarnya dengan penekanan di setiap katanya.
“I know honey. I know ....” Alex tertawa kecil.
“Lagi pula kenapa kau di sini? Apa yang sudah kau lakukan padaku?” Khira menyilangkan kedua tangannya melindungi dadanya. Sedangkan Alex menyeringai mendengarnya.
“Pertama, ini adalah kamarku. Salahmu sediri kau tidur di kamarku.”
“Wait! Salahmu sendiri kau tidak bilang aku harus tidur di mana! Dan pelayanmu bilang aku bisa memilih kamar mana saja yang kumau. Jadi aku memilih kamar ini. Hanya kamar ini yang tidak menakutkan karena berbatasan langsung dengan kolam renang. Mana ku tahu kalau ini kamarmu.”
“Hahaha ... memang kalau ada hantu di belakangmu kau akan lari ke kolam renang dan menceburkan diri di sana?”
“Maybe .... ”
“Hahahha ... kau tidak takut akan ada hantu air di sana?”
“Setidaknya hantu air lebih ramah, dia mungkin hanya akan menenggelamkan ku, bukan mencekik ku.”
“Tidak akan ku biarkan sesosok hantu pun menyakiti mu sayang.” Alex mendekatkan wajahnya dan berbicara tepat di depan wajah Khiara. Hal itu membuat wajah Khiara memanas. Dia langsung mendorong wajah Alex dengan bantal yang masih di tangannya.
“Apa otakmu sudah korslet, hah? Mana bisa kau melindungi ku dari hantu saat jarakmu saja ribuan kilometer dari ku? Ngomong itu pakai otak! Bukan pakai dengkul," ujarnya sambil menunjuk kepalanya lalu beralih ke lutut Alex. Alex tertawa geli dibuatnya.
“Aku bisa melindungi mu jika seperti ini," ujar Alex kemudian menyelinap ke dalam selimut memeluk Khiara erat. Membuat Khiara memekik.
“Apa yang kau lakukan? Jangan menyentuhku, bodoh!” Khiara meronta-ronta dalam pelukannya.
“Kenapa tidak boleh? Kau bahkan sudah seenaknya menyentuhku saat tidur. Memelukku seperti ular piton yang tak mau melepaskan mangsanya.” Khiara berhenti meronta.
“Kau bercanda!”
“Untuk apa aku bercanda? Apa kau tidak ingat bagaimana posisimu saat terbangun tadi, hem?” Mata Khiara membola seketika. Wajahnya merona. Ia segera menarik selimut untuk menutupi wajahnya dan memunggungi Alex.
“Pergilah! Lex.” usinya pelan karena malu. Alex justru semakin getol menggodanya. Dia kembali memeluk Khiara dari belakang.
“Kalau aku pergi, tidak akan ada yang melindungi mu dari hantu-hantu itu, Sayang.”
“Tidak ada hantu di siang hari, Lex!”
“Benarkah? Kau yakin?”
“Aku yakin, bahkan kalau pun ada hantu itu pastinya kau.”
“Mana mungkin orang setampan ini adalah hantu?”
“Kau terlalu percaya diri.” Khiara bergidik saat dia merasakan hembusan nafas Alex di lehernya. Dia segera berbalik dan membekap mulut Alex.
“Jangan pernah melakukan hal itu lagi," titahnya penuh penekanan.
“Kau selalu menarik untuk digoda.” Khiara melotot pada Alex. “Hahahah ....” Alex menarik hidung mancung Khiara dengan gemas. “Apa pusingnya sudah hilang?”
Khira membeku. Ini pertama kalinya dia melihat Alex tertawa dalam jarak yang sangat dekat. Dan dia terlihat sangat ... menggemaskan. Mata sipitnya yang hilang saat tersernyum seolah ikut tertawa dengan bibirnya. Oh, dia sangat menyukai tawa itu. Semua kesan dingin dan gelap dalam diri Alex seolah tidak pernah ada di sana.
“Khiara ....”
“Emh?” Khiara tersadar. “Ah, sudah tidak lagi.”
“Kalau begitu bangunlah! mnadi lalu kita sarapan. Kau bisa membuat kita kelaparan jika tetap berbaring disini terus," ujar Alex sambil menarik Khiara untuk bangun, dan Khira menurut.
Tak berapa lama mereka sudah berada di ruang makan dan menyelesaikan sarapan mereka. Seharian ini, Alex membantu Khiara memepelajari semua berkas-berkas yang harus Khiara kuasai.
***