
Khiara melangkah ke arah lapangan basket. Di sana sudah ada Alex dengan kaus hitam tanpa lengan yang sedang mendrible bola dengan lincahnya. Tangannya terlihat bergitu kekar sempurna dengan porsi yang tidak belebihan. Khiara tersenyum samar, hanya dengan hal itu saja, Alex sudah berhasil menggodanya.
Khiara menatap langit, sedikit mendung. Apa sebaiknya pindah ke lapangan indoor saja? Tapi sedetik kemudian ia mengedikan bahunya. Tidak masalah, ia akan mengakhirinya dengan cepat. Namun langkahnya terhenti. Ternyata di sana ada Nadya yang sendang menunggui Alex di bangku pemain. Oh, moodku hilang sudah!
“Kau cemburu, eh?” Tiba-tiba suara dari belakang telinganya itu mengejutkannya.
Khiara menatap Ata yang sedang tersenyum menggodanya dengan tatapan kaget, tidak percaya dan takut. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa ia tidak menyadari kehadirannya?
“Are you okay?” Raut muka Ata berubah khawatir saat melihat reaksi Khiara.
“Sejak kapan kau ada di belakangku?” Khiara menatap Ata dengan dingin.
“Baru saja,” jawab Ata.
“Jangan pernah melakukannya lagi,” pinta Khiara dengan berdesis.
“Melakukan apa?“ pikir Ata bingung bahkan sampai mengerutkan dahi.
Khiara segera meninggalkan Ata lalu meletakkan tasnya di bangku pemain. Ata mengikutinya di belakang lalu duduk di sebelah tas Khiara. Dia sengaja duduk di sana untuk mengabadikan moment pertandingan Alex dan Khiara. Ini semua atas permintaan Alex tentunya.
Ata sendiri heran pada sahabat sekaligus partnernya itu. Pria itu marha karena cemburu pada Khiara, sengaja menghindarinya, tapi tetap ingin mengabadikan moment kebersamaan mereka. Ata hanya bisa geleng-geleng kepala dibuatnya.
Khiara mulai menuju ke lapangan. Dengan sengaja Nadya menyenggol lengan Khiara dengan kuat. Wanita ini sudah mulai berlagak rupanya. Sejak kapan ia begitu berani padanya? Apa ia benar-benar ingin dikuliti?
“Jangan pernah mencoba untuk menggoda Alex lagi. Kau akan berhadapan denganku. Alex sudah menjadi milikku, karna akulah yang pantas untuknya. Bukan wanita rendahan sepertimu!“ ancam Nadya di telinga Khiara.
Wanita rendahan? Oh, wanita ini benar-benar ketinggalan berita rupanya. Wanita rendahan di sampingnya ini adalah atasan dari orang tuanya. Khiara menanggapinya dengan senyum congkak.
“Owh ... really? But I don’t really care about it. Go ahead! Merebutkan seorang cowok bukanlah gayaku.” Nadya tentu sangat tertampar dengan kata-kata Khiara. Di dalam lapangan, Alex yang bisa mendengarnya hanya diam saja. Dan sedetik kemudian melemparkan bolanya ke arah Khiara.
“Bisa kita mulai pertandingannya?” tanya Alex pada Khiara.
“Sure,” ujar Khiara yang sudah menangkap bola dengan mulus. Khiara sudah masuk ke dalam lapangan, tanpa basa basi Khiara langsung mendrible dan menembakkannya dari area tripoint. 3-0 untuk Khiara.
“Kita akhiri ini di skor 21,” ujar Alex.
“Deal!” Hanya butuh 6 kali tembakan lagi untuk mengakhiri.
Sebenarnya Khiara sendiri pun juga tidak bisa menghindari pesona Alex yang begitu memikatnya. Terkurung dalam kedua lengan Alex, saat ia mendribel bola sambil memunggungi Alex membuatnya tidak bisa lepas dari hembusan nafas Alex yang panas.
Tidak tahan dengan hal itu, Khiara lansung berbalik menghadapnya dan memantulkan bola basket tersebut ke belakang Alex. Ia bermaksud memindahkan bola dari tangan kanan ke tangan kirinya melalui punggung Alex. Tapi sayangnya tangan Alex lebih sigap. Bukan mendarat ke tangan kiri Khiara, justru mendarat mulus ke tangan kanan Alex.
Ia meleset bukan karena tidak tepat dalam memantulkannya. Tapi karena dalam gerakan sepersekian detik itu, berhasil membuat jantung Khiara berdetak tak karuan.
Bagaimana tidak? Wajahnya begitu dekat dengat dengan wajah Alex. Sangat dekat, bahkan beberapa mili lagi hidungnya pasti akan menyentuh hidung Alex. Membuatnya terpaksa berdiam diri seperti patung agar tidak bertubrukan dengan laki-laki di depannya ini. Namun tidak hanya tubuhnya, jantungnya pun seolah berhenti seketika saat hembusan nafas Alex menerpa wajahnya.
Dan tanpa membuang-buang waktu, Alex langsung berbalik arah, mendrible bola dan melakukan lay up. Saat itulah Khiara yang berdiri mematung di tempatnya, melihat sesuatu yang selama ini tidak pernah dilihatnya. Sesuatu di balik kaos hitam Alex yang tersingkap. Sesuatu yang tersembunyi di balik punggungnya. Sesuatu yang menghubungkannya dengan pria tampan nan dingin ini.
Napasnya tercekat, tubuhnya membatu. Bibirnya terasa kelu, bahkan bola matanya pun terasa memanas. Semburat-semburat merah mulai menghiasi area sklera matanya. Embun bening nan tipis mulai mendesar, menyeruak keluar dari pelupuk matanya. Khiara merasa raganya seperti di tarik begitu saja. Rasa rindu yang menggelora, kini terasa lebih menyesakkan dada.
“Kau ...,” gumamnya lirih dengan tenggorokan tercekat.
Alex berjalan mendekati Khiara, dan berhenti tepat di depannya. Khiara menatap mata gelap itu dengan tajam, dalam dan intens. Berusaha mencari jawaban dari setiap pertanyaan yang muncul di otaknya. Tapi tentu saja ia tidak bisa menemukan jawabannya, karna ia tidak mengutarakannya. Hanya ada satu cara yang bisa ia lakukan untuk mendapat jawaban dari segala pertanyaannya tanpa harus menanyakannya.
Perlahan Khiara mengankat kedua tangannya dan menelusup masuk di balik kaos Alex. Merasakan setiap inchi punggung yang basah karena keringat namun terasa tidak rata di telapak tangannya. semakin ke atas semakin terasa menyakitkan baginya. Semakin terasa begitu menyesakkan. Semakin terasa luar biasa ngilu hingga ia tidak dapat mengeluarkan kata-kata. Apa yang ia rasakan di balik telapak tangannya telah berhasil membungkamnya.
Sedangkan Alex yang merasakan tangan ramping di balik punggungnya yang kasar terlihat mengepalkan tangan. Menahan gejolak gairah yang timbul dari sentuhan halus yang menelusuri punggungnya. Menyalakan percikan api yang menggelora yang sebentar lagi pasti akan membakarnya. Jangan sampai dia mengerang dan kehilangan kendalinya.
“Cukup!” Alex mencengkram bahu Khiara dan menjauhkan tubuh Khiara darinya.
“Heh, apa-apaan ini!?” Nadya yang panas langsung menarik Khiara dari Alex. “Jang ....”
“Kita pergi!” Alex memotong Nadya sebelum wanita itu sempat mengeluarkan kata-kata kasarnya. Dan Alex segera menarik Nadya menjauh dari tempat itu.
“Pergilah!” Khiara menghentikan langkah Ata yang hampir dekat dengannya. “Tinggalkan aku sendiri!” Namun Ata tetap tidak mengindahkannya. “Ku mohon!” Akhirnya Ata benar-benar berhenti di tempatnya.
Ata dapat mendengar suara serak Khiara. Dia tau bahwa wanita ini sedang menahan tangis. Akhirnya dia memutuskan untuk tetap berdiam diri di sana. Dia tentu tidak mungkin meninggalkan Khiara sendirian. Dia akan mendapatkan masalah jika berani melakukannya.
Sedangkan Khiara sendiri tidak perduli jika Ata tetap berdiri di sana. Yang penting pria itu tidak mendekatinya. Ia sedang tidak ingin wajahnya terlihat oleh orang lain. Dan sepertinya alam pun mengerti isi hatinya. Karena sang hujan mulai turun membasahi bumi untuk menyamarkan wajahnya yang terlihat begitu terluka.
...***...