THE ALEXIS

THE ALEXIS
SCAR



Usai percintaan mereka berdua yang panas dan penuh gairah, mereka berdua pun terlelap dengan saling berpelukan. Hingga pagi pun menjelang, dan mereka masih tetap berpelukan meski dengan posisi yang berbeda.


Sinar matahari menyilaukan mata Khiara, membuatnya terbangun dari tidurnya. Tangan kekar itu masih melingkar erat ditubuhnya, membuatnya merasa begitu aman dan nyaman.


Tiba-tiba terfikirkan olehnya suatu hal. selepaskan pergumulan mereka berdua tadi malam, Khiara jelas-jelas merasakan sensasi yang aneh di area sensitivenya, seolah bagian itu berkedut dan sesak.


Dia bertanya dalam hati, kenapa hal ini tidak terasa pasca pemerkosaan kemarin? Apa karena dia pingsan? tapi setelah siuman pun dia tak merasakan ada hal yang aneh di area sensitivenya. Sedangkan saat ini saja, dia masih bisa merasakan efeknya yang sedikit kurang nyaman.


Khiara merasakan tubuh pria itu bergeliat. Khiara membalikkan tubuhnya. Dia merasa kesal pada dirinya, kenapa di saat seperti ini matanya justru tidak bisa di andalkan? Sungguh dia ingin sekali melihat wajah pria ini. Mengingat dan merekamnya, lalu menyimpannya dalam memory.


Khiara menyentuh wajah itu dengan jemarinya. Menelusurinya perlahan demi perlahan. Berusaha memetakan dan membayangkan. Bagaimana rupa malaikat penolongnya? Apakah dia tampan?


Sesungguhnya dia tidak perduli dengan rupa seseorang. Jika dia mengincar pria tampan, maka seribu pria pun bisa dia dapatkan. Bahkan seluruh sahabat laki-lakinya pun bisa dia kencani tanpa adanya penolakan. Tapi tidak, Khiara bukanlah wanita yang mudah tergila-gila pada ketampanan seseorang.


Dia hanya melihat seseorang dari perilakunya. Tidak peduli buruk rupa atau pun rupawan, dia tetap akan menyukai seseorang dengan inner beauty yang dominan. Apalagi setelah dia mengalami pemerkosaan.


“Sudah puas meraba-rabanya, Nona?” Khiara terkesiap mendengarnya. Apa dia membangunkannya?


“Ah, maaf! Apa aku membangunkan mu?”


“Kau tidak hanya membangunkanku. Tapi kau juga membangunkan adik kecilku.” Khiara tentu saja bisa merasakan sesuatu yang menyembul di bawah sana. Mengingat mereka bergelung di bawah selimut yang sama dan tanpa penghalang di antara keduanya.


“Maafkan aku.” Pria itu mengecupnya lalu berbisik di telingannya.


“Aku menyukainya.” Pria itu berhasil membuatnya mengernyit dan tersipu malu. Namun tiba-tiba ia teringat akan sesuatu.


“Aku ingin menanyakan sesuatu.”


“Sure.”


“Apa kita pernah bertemu? Kau seperti tidak asing bagiku.”


“Emh??” Pria itu merasa heran dengan pertanyaan Khiara.


TING TONG!


Suara bel pintu berbunyi, membuat pembicaraan mereka terinterupsi.


“Ck!” Pria itu berdecak, merasa tak suka waktunya terganggu. “Biar kubukakan pintu. Kau tidak masalah 'kan menunggu sebentar?” tanyanya meminta persetujuan. Khiara pun mengiyakan.


“Tidak akan lama,” imbuhnya lalu memindahkan kepala Khiara dari lengannya ke bantal.


Pria itu keluar dari selimut hangat mereka, mengenakan celana dan kaosnya, kemudian pergi meninggalkannya. Saat itu juga, Khiara tercekat saat melihatnya. Punggung itu, penuh dengan bekas luka.


Meski dalam penglihatan yang samar, Khiara bisa memastikan adanya bekas luka yang memerah. Bahkan ada pula yang hitam, sangat kontras dengan kulitnya yang putih sehingga mampu tertangkap oleh penglihatannya. Entah kenapa, hati Khiara terasa nyeri setelah melihatnya.


...***...


“Kenapa aku harus berdiri di sini, sih? Kau tidak mau mempersilahkanku masuk?” tanya seseorang.


“Tidak!” jawab Alex singkat. Pria di depannya kini mendengus kesal.


Fasilitas yang disediakan pun sangatlah lengkap. Mulai dari gym, kolam renang yang begitu luas di dalam dan luar penthouse, dan masih banyak lagi. Jangan ditanya harga belinya berapa, yang jelas itu cukup membuat rekening seseorang seperti telah kerampokan.


Ata berusaha melongok ke dalam. Untuk apa Alex menyewa pentehouse mewah, sedangkan dia sendiri memiliki pentehouse kosong yang tidak kalah mewah. Apa Alex berniat membelinya? Atau jangan-jangan ada yang sedang disembunyikannya?


Alex memang suka dengan property, tapi bulan lalu saja dia baru saja membeli villa di Beverly Hills. Masa iya dia ingin membeli pentehouse lagi?


Selama ini Alex hanya menganggarkan pembelian property setahun sekali, jadi tidak mungkin jika dia ingin membeli pentehouse ini.


“Kau tidak sedang mengincar pentehouse ini, bukan?” tanya Ata untuk memastikan.


“Memang iya,” sahutnya tanpa memalingkan wajahnya dari dokumen yang harus ditandatanginya. “Aku menyukainya,” tambahnya sambil menandatangi berkas tersebut, lalu menyerahkannya pada pria tersebut.


Bisa dilihat bagaimana terkejutnya pria di depannya. Kedua bola matanya hampir saja terjun bebas dari tempatnya. Oke, karena Alex sudah berkata seperti itu akan Ata beritahu berapa harga belinya. Empat ratus lima puluh juta dolar Amerika!


Oh my God! Bukankah itu cukup sadis? Dan sekarang dia bilang ingin membelinya? Hanya karena dia menyukainya? Entah temannya itu masih memegang kewarasannya atau memang sudah kehilangan akalnya.


“Kau tidak gila, 'kan?” Alex tidak mengindahkan penilaian Ata, Co-founder perusahaannya. Dia justru mengapit pelipisnya dengan ibu jari dan jari tengah tangan kanannya dan berkacak pinggang dengan tangan yang satunya. Khas gayanya saat mengingat-ingat sesuatu.


“Oya Ta, berikan ponselmu!” pinta Alex segera setelah dia berhasil mengingat sesuatu. Ata pun memberikan ponselnya seperti robot. Lalu Alex mengetikan sesuatu di dalam note.


Saat sibuk mengetikkan sesuatu di dalam ponsel Ata, langkah seseorang terdengar sedang menuruni tangga. Alex menoleh sekenanya, sedetik kemudian menoleh lagi pada objek yang sedang menuju ke arahnya. Alex segera mendorong ponsel itu ke dada Ata dan menutup pintunya.


Di luar sana Ata hanya bisa mengumpat karenanya. Matanya bertambah lebar saat membaca note di ponselnya.


To-buy list


Bra cup 36B (swelling)


Panties size M


Camisol size M


Dress size M


“Brengsek, kau menyuruhku membeli semua ini??” Ata berteriak di depan pintu sambil mengumpat berkali-kali.


Alex tersenyum jahil di balik pintu. Dan bersamaan dengan itu, dia meraih wajah wanita di depannya dan menakupkan kedua tangannya di kedua telinga wanitanya. Alex melakukannya di saat yang tepat. Seakan dia tahu jika Ata akan berteriak dan mengumpat.


“Ada apa?” tanya wanita itu heran.


“Nothing,” jawabnya seraya menatap Khiara dari atas hingga bawah.


Pemandangan di depannya cukup untuk membuatnya menangkupkan kedua rahangnya. Dia tidak suka. Sangat tidak suka. Bukan pada kamisol satin yang sedang dikenakan Khiara. Tapi pada seluruh luka di sekujur tubuh wanita pujaannya.


Meskipun dia telah berjanji untuk tidak ikut campur masalah ini lagi, tapi seorang Alexander tidak akan mungkin bisa berdiam diri. Tanpa wanita itu ketahui, Alex akan menyeledikinya kembali meskipun tanpa polisi.


...***...