THE ALEXIS

THE ALEXIS
REMEMBRANCE 4



Langit turut bersedih dan turut menumpahkan air kesedihan yang deras bersamanya, seolah tak ingin membiarkannya bersedih sendirian. Langit memang mengerti benar perasaannya, maka dari itu langit menangis bersamanya di tengah pekatnya malam.


Suara isak tangis Khiara yang terdengar agak jauh dari balik pintu itu sampai di telinga Kael. Hatinya terasa begitu teriris, mendengar tangisannya yang tak kunjung berhenti. Meski tangisan itu teredam oleh suara derasnya air hujan, namun dia masih bisa mendengarnya.


Semua orang sangat khawatir pada wanita cantik keturunan Russia itu, namun di sini Kael yang paling tersiksa. Selama ini, hanya tangisan kakaknya yang paling dibencinya. Tangisan itu membuatnya merasakan apa yang dirasakan oleh kakaknya.


Dia benar-benar bisa merasakannya. Dan itu membuatnya frustasi. Mungkin ini lah yang dinamakan, ikatan darah lebih kental dari pada air.


Dari sekian banyak orang di sini, hanya dia dan ibunya yang bisa merasakan bagaimana perasaan kakaknya. Karena mereka yang memiliki ikatan darah dengan Khiara.


Ah, ada satu lagi.... Kaiven. Bayi yang baru lahir 8 bulan lalu itu bahkan mungkin lebih bisa merasakan apa yang dirasakan oleh ibunya.


Dia terus menangis tanpa henti, meski sudah diberi susu, ditimang, bahkan digendong oleh siapa pun, namun tak satupun usaha yang berhasil menghentikan tangisannya. Sehingga neneknya membawanya jauh-jauh ke ujung rumah agar ibunya tidak mendengar tangisannya.


Sementara Kaiven dibawa menjauh oleh kakek dan neneknya, Kael tetap bersandar pada pintu kamar Khiara sejak beberapa jam yang lalu. Menemaninya dan berharap tidak mendengar lagi suara tangisan kakaknya. Kak Kalvin dan keempat sahabatnya juga turut berjaga di ruang keluarga, tepat di depan kamar Khiara.


Tidak ada aktivitas yang mereka lakukan di sana. Mereka hanya diam menunggu dalam keheningan tanpa ada yang memulai pembicaraan. Sibuk dengan pemikiran dan kekhawatiran mereka masing-masing. Khawatir jika Khiara akan menjadi gila karena cobaan beratnya.


Banyak kasus orang menjadi gila bahkan tidak bisa membedakan emosi karena selalu memendam semua kesedihan, amarah dan bebannya sendirian.


Dan Khiara sangat jarang sekali menangis sebelumnya. Bisa dibilang jika bukan karena sesuatu yang tidak bisa dia hadapi, dia tidak akan menangis. Dan sekalinya menangis, tangisan itu sanggup menyayat hati seluruh orang yang menyayanginya.


Kakaknya itu memang sangat kuat di luar, namun begitu rapuh di dalam. Semua orang yang melihatnya akan terkecoh olehnya. Dan Kael mengakui permainan peran kakaknya itu sangatlah luar biasa.


Sekuat tenaga Khiara mengenakan topeng untuk menunjukan bahwa dia baik-baik saja, namun segera retak begitu kesendirian dan kesunyian menemaninya.


Karena itu Kael tidak pernah membiarkan kakaknya sendirian saat cobaan besar menghantamnya. Dia selalu menemaninya walau hanya di balik pintu seperti sekarang ini. tak pernah dia meninggalkannya sendirian barang sedetik pun.


Kecuali masalah pemerkosaan Khiara. Karena tidak ada satu anggota keluarga pun yang mengetahui hal itu, hingga kakak perempuannya itu melahirkan anaknya di Amerika.


Saat mereka tengah menunggu, tiba-tiba Khiara keluar dari kamarnya. Dia nampak sangat kacau. Mungkin penampilannya tidak ada bedanya dengan penghuni rumah sakit jiwa.


Semua perhatian tertuju padanya, namun dia tak mempedulikannya. Semua panggilan tak digubrisnya, dia hanya terus berjalan dan mencari ibunya yang sedang menenangkan Kaiven. Dan bayi itu langsung terdiam begitu pindah ke dalam pelukan Khiara. Khira membawanya kembali ke kamarnya.


“Kalian pergilah, tak ada yang bisa kalian lakukan di sini," ujar Khiara sebelum menutup pintunya kembali.


“Kak Kalvin, bayi itu...?”


“Dia adik terakhir kami," dusta Kalvin yang mengetahui kemana maksud pertanyaan Krisna.


“Anak terakhir keluarga Louis? Tapi sejak kapan tante kebobolan?”


“Hush! Siapa yang kebobolan? Anak itu anugrah, tidak ada yang namanya kebobolan," ujar Mrs. Louis sambil menjewer telinga Krisna karena pertanyaan yang ngawur itu.


“Maaf tante, tidak bermaksud menyinggung," kilah Krisna sambil mengelus telinganya yang memerah. “Hanya saja, sedikit aneh. Tante, Om dan Kael tinggal di sini. Tapi bayi itu malah baru muncul setelah Kak Kalvin membawanya dari Amerika. Masa iya tante tega membiarkan bayi sekecil itu jauh dari tante?”


“Tante sering bolak-balik Amerika karena Khiara. Tidak ada yang aneh saat kakaknya ingin lebih lama bersama adik bayinya.”


Seluruh keluarga tidak menjawab berlebihan mengenai hal ini. Karena mereka memang harus merasahasiakan siapa Kaiven hingga Khiara siap untuk menyatakannya.


...***...


Mrs. Louis meminta mereka semua untuk menuju ke ruang makan. Meski ini sudah sangat larut untuk makan malam, tapi mereka semua harus makan.


Beliau tahu, kekhawatiran mereka membuat mereka tidak bisa mengunyah makanan. Tapi mereka harus tetap memaksakan diri untuk makan. Jika tidak, akan banyak korban kelaparan yang tergeletak di rumahnya. Dan mereka semua menurut setelah beliau memaksanya.


Seusai makan malam, Kael menyambangi komputernya. Alangkah terkejutnya dia saat melihat layar monitor. Dia segera berlari dan berusaha mendobrak pintu kamar Khiara.


“Ada apa?” Adit yang sudah berada di belakangnya disusul oleh yang lainnya turut membantu.


“She is tryin to suicide!”


“Minggir!” Dalam sekali tendangan, Adit dan Kalvin sudah berhasil mendobrak pintu kamar Khiara.


Bayi Kalvin menangis setelah mendengar dobrakan tersebut, sedangkan Khiara terkulai lemas di lantai.


“****!” Entah siapa yang mengumpat. Kalvin segera melepas kausnya dan menekan luka sayatan di lengan kiri bagian dalam sambil mengangkatnya lebih tinggi agar darah tidak mengalir lebih banyak.


“Endra, Krisna, Kael! Bersiap lah untuk memulai transfusi.” Seru Artha lalu segera keluar kamar.


Sebenarnya tanpa diminta Artha pun, mereka sudah bersiap untuk hal itu. Hanya mereka dan Mrs. Louislah yang memiliki golongan darah yang sama dengan Khiara. Tapi untuk saat ini, wanita paruh baya itu tidak bisa melakukan transfusi.


“Tante, bawa Kaiven keluar!” seru Endra. Tapi Mrs. Louis terlalu histeris melihat Khiara yang terkapar. Akhirnya Kael yang membawa Kaiven keluar.


“Berikan anak-anak ruang untuk menolong Khiara," ujar Mr. Louis segera membawa istrinya keluar.


Sebenarnya Mr. Louis juga sangat gusar akan hal ini, namun dia harus tetap tenang agar bisa berfikir jernih. Agar mereka bisa menolong anak perempuannya.


“Ini akan lebih effective," ujar Krisna yang sudah menalikan sebuah tali menimpa ikat pinggang Adit. Entah kapan dia mendapatkan tali tersebut.


Artha kembali dengan peralatan medisnya yang selalu dibawanya di mobil. Dia yakin saat-saat seperti ini pasti akan terjadi, sehingga dia selalu berjaga-jaga. Tapi dia tidak mengira jika rasanya akan semenakutkan ini melihat Khiara yang terkapar di lantai.


Sumpah serapah dari banyak mulut pun tidak bisa dihindari. Bagaimana bisa mereka kecolongan seperti ini?


Artha segera memberikan injeksi pada Khiara untuk menghentikan pendarahannya. Dan Endra sudah menusukan jarum selang transfusi pada lengan kirinya. Dan dengan cekatan, Artha memasangkan sisi jarum satunya ke lengan Khiara.


Banyak doa yang mereka panjatkan di dalam hati. Semoga mereka tidak terlambat menanganinya. Saat ini waktu setiap detiknya merupakan waktu yang begitu berharga. Khiara hanya memberikan waktu kurang dari 10 menit untuk menyelamatkannya.


Dia benar-benar cerdas, memilih cara bunuh diri yang sangat cepat dan effective.


“Bagaimana?” tanya Kalvin.


“Dia masih bersama kita, tapi detak jantungnya sangat lemah," jelas Artha yang memeriksa detak jantung Khiara.


Adit menatap Endra dan pria itu pun mengerti. Endra mengepalkan tangannya sekuat tenaga agar darahnya mengalir lebih deras. Krisna sendiri sudah bersiap-siap menggantikan posisi Endra.


Beruntung Kael tepat waktu saat membuka computer dan melihatnya sesaat sebelum Khiara menyayat kulitnya. Jika telat sedikit saja, mungkin mereka akan kehilangan Khiara.


Tak berapa lama, ambulance datang. Mr. Louis sudah memanggilnya sejak Kael mengatakan bahwa Khiara mencoba untuk bunuh diri.


Mereka memindahkan Khiara ke tandu dan membawanya ke rumah sakit. Di rumah sakit, Khiara diambil alih oleh dokter jaga. Kalvin dan Artha menjelaskan kronologi dan rincian pertolongan pertama yang mereka lakukan.


Mereka bukanlah seorang dokter, dan Artha sendiri masih duduk di bangku kuliah kedokteran. Namun untuk memberikan pertolongan pertama, kemampuan mereka sudah selayaknya pekerja medis professional.


Untungnya Kalvin selalu menekankan pada mereka untuk menguasai tindakan pertolongan pertama. Sebagai seorang kapten muda, dia tidak hanya menekankan peraturan pada bawahannya, namun pada semua kalangan di lingkungannya. Dan ternyata hal itu sangat berguna pada saat-saat seperti ini.


“Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan.” Pernyataan dokter tersebut membuat mata mereka melebar, memandang dokter tersebut tidak percaya. Mereka tidak merasa telah melakukan kesalahan fatal. “Pertolongan pertama yang kalian lakukan sangat baik. Kami hanya bisa memberikan transfusi darah untuk menggantikan darah yang hilang saat ini.” Kelegaan muncul di wajah mereka.


“Dok! Kata-katamu benar-benar membuatku ingin meremukkan tulang-tulangmu!" seru Adit yang sudah mencengkram kerah dokter tersebut.


Dokter itu tersenyum. “Maafkan saya!”


“Adit tenang lah!” Kalvin mencoba memisahkannya.


Endra sudah mengalungkan lengannya ke leher Adit dari belakang dan menariknya agar menjauh dari dokter tersebut.


“Ayolah bray, yang penting saat ini Khiara sudah melewati masa kritisnya," ujar Endra menenangkan.


“Tapi ada yang ingin saya sampaikan," tambah dokter tersebut. “Apakah orang tuanya ada?”


“Saya kakaknya, orang tua dan adik saya akan segera kemari," balas Kalvin.


“Baik lah, kalau begitu mari tunggu orang tua anda terlebih dahulu.” Mereka mengangguk serempak.


Tak lama setelah itu, Krisna bersama dengan Kael dan orang tua Khiara datang membawa Kaiven. Mereka semua segera menuju ruang dokter untuk mendengarkan penjelasan dokter. Hanya keluarga yang bisa masuk ke ruangan tersebut karena terbatasnya tempat.


“Untuk saat ini, saudara Khiara sudah melewati masa kritis dan keadaannya sudah mulai stabil," jelas sang dokter memulai penjelasannya.


“Dan berdasakan pernyataan saudara Kalvin dan teman-temannya, maka kami telah melakukan pemeriksaan fisik dan laboratorium. Dan hasil dari pemeriksaan, saudara Khiara mengalami depresi ekstrim. Mungkinkah saudara Khiara mengalami hal-hal yang membuatnya tertekan?”


“Ya, selama satu setengah tahun ini dia sudah mengalami keadaan yang sangat sulit. Dan terakhir ini, dia baru saja kehilangan sahabat tercintanya," jelas Mr. Louis.


“Baik lah, saya mengerti sekarang. Hal ini menguatkan diagnosa pada saudara Khiara. Akan lebih baik jika saudara Khiara ditangani oleh psikiater agar kejiwaan dan mentalnya tidak semakin memburuk.”


“Baik lah, kami mengerti. Terimakasih, Dok.”


Mereka semua keluar setelah mendengar penjelasan dokter. Keempat orang yang menunggu di luar menanyakan apa yang disampaikan dokter di dalam sana. Dan Kalvin menjelaskan pada mereka.


“Lebih baik, kita bawa dia ke Jepang. Professorku memiliki seorang kenalan psikeater hebat di sana," ujar Artha.


“Kenapa harus ke Jepang? Kenapa tidak ke Singapura, Amerika atau Eropa?” sergah Adit.


“Kau memiliki kenalan yang sudah terpecaya di sana?”


“Aku bisa mencarinya.”


“Sudah lah, lebih baik kita lakukan dengan orang yang sudah terpercaya dulu. Jika keadaannya tidak membaik, baru kita cari psikeater lainnya," saran Krisna.


Semua menyetujui usul Krisna. Dan keesokan harinya, mereka memindahkan Khiara beserta keluarganya ke Jepang. Tidak butuh waktu lama bagi Artha dan Adit untuk mengurus imigrasi keluarga tersebut. Ditangan Adit, semuanya pasti akan berjalan dengan lancar.


...***...