THE ALEXIS

THE ALEXIS
PROPINQUITY



Mereka berdua telah sampai di rumah keluarga Hutama. Hari ini masih pagi, dan mereka sedang sarapan pagi saat Khiara dan Adit menyatroni rumah besar itu.


“Hallo Khiara Sayang, apa kabarmu, Nak? Sudah lama sekali om tidak bertemu denganmu," ujar Hutama sambil merentangkan kedua tangannya yang disambut senyuman dan pelukan hangat oleh Khiara.


“Baik Om, Om sendiri bagaimana?”


“Yah, seperti inilah Om.” Hutama melepaskan pelukannya. “Kau ini benar-benar nakal sekali ya, sudah beberapa bulan pulang kemari tapi tidak sekali pun mengunjungi om dan tante.”


“Hehehe ... maaf Om! Sibuk!”


“Halah, sok sibuk kamu ini," protes Widya, Ibu Krisna sambil menjewer telinga Khiara, namun tidak terlalu keras.


“Peace, tante.”


“Dit, seharusnya kau pulang lebih awal. Jadinya kau bisa menyeretnya kemari sejak beberapa bulan lalu," ujar Widya pada Adit yang sedang berpelukan dengan Hutama.


“Anak tante pulang lebih dulu.”


“Eheemmm ... kau kira anak itu akan nurut padaku?” Krisna menginteruspi sembari melipat kedua tangannya dan bersandar di dinding.


“Iya, Krisna sih tidak bisa diandalkan.” timpal Widya.


“Mamaaahh ....”


“Euluh euluhhh ... segitu kangennya ya sama Khiara?” goda Khiara akhirnya.


“Bangeet! Kamu sendiri yang tidak pernah merasakan. Dasar anak kurang ajar.” Widya nampak merajuk.


“Euuuh ... Tanteku sayang. Yang cantiknya kayak bidadari. Nih udah ada di depan mata nih. Mau diapain?”


“Nih ....” Widya menciumi pipi Khiara bertubi-tubi. Keluarga ini benar-benar menginginkan anak perempuan. Tapi karena mereka tidak dikaruniai anak perempuan, maka Khiar- lah sebagai gantinya. Mereka benar-benar menyayangi Khiara seperti anaknya sendiri.


“Uhh ... habis ini pipi.” protes Khiara.


“Ayo masuklah, kita sarapan," ajak Widya.


“Kita sudah sarapan tadi di café tante.”


“Memang kamu sarapan apa sih, Dit? Paling-paling cuma kopi sama roti.” Adit tertawa mendengar Widya yang menggerutu.


“Sudah, berhentilah berlagak seperti orang luar sana. Pokoknya kalian harus ikut sarapan, titik!” ujar tante Widya sambil menghela mereka ke ruang makan. 


Adit dan Khira saling bersitatap, mampus lah kita.


Diantara mereka berlima, hanya Adit dan Khiara-lah yang tidak bisa sarapan dengan nasi. Hal itu merupakan siksaan bagi mereka berdua. Jika Khiara akan terkena gangguan pencernaan, maka Adit akan menjadi lemas dan tidak bersemangat sepanjang hari. Mereka berdua melemparkan tatapan memohon pada Krisna. Dan Krisna hanya menyeringai.


“Nih, pokoknya kalian harus makan.”


“Tantemu benar, biar kalian sedikit berisi. Kususnya kamu Khiara.” Hutama menyetujui ucapan istrinya. Adit menepuk keningnya dengan pasrah, lalu melemparkan tatapan tajamnya pada Krisna. Krisna masih saja menyeringai. Sedangkan Khiara hanya bisa pasrah.


“Sudah syemok seperti ini, memang apanya yang harus diisi lagi?”


“Benar juga.” Widya dan Hutama memperhatikan tubuh Khiara yang penuh dan padat. Sangat pas dan terlihat proposional.


“Tapi sudahlah. Pokoknya kalian harus makan!" perintah Widya yang tak ingin dibantah.


“Maah ... hentikan! Kau akan membuat pencernaannya bermasalah. Lambung mereka berdua tidak akan bisa menerimanya.” Akhirnya keluar juga pembelaan dari Krisna.


Mata Khiara berbinar dan menganggukkan kepala seperti kucing yang kegirangan. Sedangkan Adit tersenyum manis pada Krisna yang disambut dengan tatapan mata yang menyipit. 


“Mamah cukup memberi mereka segelas susu. Jika mamah ini menjejali mereka dengan nasi, lebih baik nanti siang saja.” Mereka berdua menganggukkan kepala seperti boneka manekin welcome cat di toko-toko cina.


“Mereka pasti langsung bisa menghabiskan satu magicom, bahkan sampai magicomnya.” Tatap elang langsung dilemparkan oleh mereka berdua yang disambut dengan senyuman kemenangan oleh Krisna.


“Apa itu benar?” Khiara yang mengangguk.


“Kenapa begitu?” Tanya Hutama.


“Mungkin karena mereka blasteran, jadi perut mereka pun mengikuti orang sana.”


“Tidak juga, itu hanya karena kami telah terbiasa. Lagi pula aku blasteran Asia Timur, sarapan pagi kami masih sama nasi. Berbeda dengan Khiara yang blasteran Rusia.” timpal Aditya.


Khiara hanya mengedikkan bahunya. Maka akhirnya Widya memberikan susu, dan mereka menemani keluarga ini sarapan pagi.


“Yah, ada yang kami bicarakan," ujar Krisna pada Hutama.


“Tentang apa? Sepertinya serius sekali.”


“Yah, ini memang serius. Bisakah kita bicara di ruang kerja ayah?” Hutama menganggukkan kepalanya kemudian menuju ruang kerjanya dan diikuti oleh mereka berlima.


“Khiara ....”


“Hem?? Ada apa Tha?”


“Kau tidak apa-apa?” Khiara menganggukan kepalanya dan memberikan senyuman manis pada Artha. “Maafkan aku, aku telah menakutimu.”


“Jangan pernah melakukan hal seperti itu lagi! Jika kau marah, kau bisa menamparku atau memukulku di tempat umum. Tapi tidak di tempat yang sepi.”


“Aku tidak mungkin melakukan hal itu. Lagi pula jika aku akan melakukan hal-hal di luar kendali, kau bisa menghajarku seperti saat kau menghajar Adit, bukan?” Khira tersenyum.


“Tentu, aku bisa menghajarmu bahkan membunuh mu sekali pun. Tapi bukan di tempat yang sepi. Aku tidak bisa berbuat apa-apa di tempat seperti itu.” Khiara meninju dada bidang Artha dengan pelan. 


“Sudah lupakan! Lagi pula kau sudah menerima balasannya.” Khiara menyeringai dan menusuk perut Artha dengan jari telunjuknya pelan. “Apa masih sakit?”


“Aawww ... jangan sentuh bagian itu dulu. Tenaganya benar-benar seperti Hulk.” Khiara tertawa dan menepuk bahu Artha.


“Sudahlah, ayo masuk!”


Mereka berdua masuk ke ruangan, dan semua orang sudah duduk menunggu mereka berdua. Sofa ini hanya cukup untuk lima orang dan Artha duduk di sebelah Aditya, sedangkan Khiara masih tetap berdiri. Bukannya Artha tidak mementingkan wanita untuk duduk, tapi karena Khiara-lah yang memintanya untuk duduk.


Di single sofa paling ujung ada Hutama, lalu di sebelah kanan Hutama ada Krisna dan Endra, sedangkan di sebelah kirinya ada Artha dan Adit. Terkadang Khiara merasa heran, setiap melakukan rapat, etah apalah itu pasti selalu dengan formasi tempat duduk seperti ini. Apa mereka memang telah menetapkan pasangannya masing-masing?


“Sheeerrrp ...." Khiara menyesap salivanya. "Apa kalian berempat ini gay?” kening mereka semua berkerut dan secepat kilat menoleh pada Khiara.


“Apa maksudmu?” Tanya Endra secepat kilat, well Endra masih merasa dirinya normal.


“Setiap rapat kalian selalu dengan formasi seperti ini, dan aku pasti akan selalu duduk di posisi Om.” Hutama tertawa mendengarnya. Walau disaat serius pun, pasti ada saja tingkah kekonyolan mereka.


“Benarkah?” Kini Krisna yang bersuara.


“Jika aku guy, aku akan lebih memilih Artha sebagai partner gay-ku. Artha kau kemari, aku tidak mau bersama Krisna," celetuk Endra sambil memberikan tanda dengan ibu jarinya.


Krisna sudah menghembuskan nafas seperti banteng dan langsung memoles kepala Endra. Dan Endra langsung membalasnya dengan melemparkan bantal pada Krisna.


“Oopp ... sorry! Pasangan sejatiku tetaplah Artha. Krisna terlalu lemot, dia tidak cocok jika dipasangkan denganku.” timpal Aditya sambil merentangkan tangan di depan Artha, menghalanginya agar tidak diambil oleh Endra. Sendangkan Artha hanya terkekeh lalu melirik pada Adit dan kedua teman di depannya.


“Tapi sayangnya, aku tak mau berpasangan dengan kalian berdua. Aku jelas masih normal. Dan aku lebih memilih Khiara sebagai pasanganku.”


“Seandainya, bodoh!” Sekarang Aditlah yang memoles kepala Artha karena gemas. Sementara Hutama tertawa lebar mendengarnya.


“Well, aku lebih memilih berpasangan dengan Hutama dari pada denganmu, Tha.” Khiara menjulurkan lidahnya, namun kemudian ia sedikit limbung ketika salah satu tangannya yang bersandar di meja kerja Hutama, yang dijadikan sebagai sandaran sengaja di senggol oleh seseorang.


“Kamu kecil-kecil sudah mau jadi pelakor?” Di sampingnya Widya muncul dengan nampan berisi cemilan sambil melayangkan tatapan sengit yang dibuat-buat.


“Pesu’or kali. Om Hutama kan statusnya suami.” kilah Khiara.


“Lakik kan sama aja dengan suami sayang," ujar Tante Widya sambil menyerahkan nampan itu pada Adit yang ada di dekatnya. Dan Khira hanya mengedikan bahunya. “Tante boleh nimbrung di sini?” Khiara memeluk Widya dari belakang.


“Tante mau ngapain di sini? Mau nguping pembicaraan kami?” Widya mengangguk.


“Iihh, kepo deh.”


“Iiih, kamu ini. Tante kan ingin terus bersama anak tante yang satu ini," kilahnya sambil menangkup pipi Khiara dengan tangan kanannya.


“Anak Mamah di sini, bukan di situ," protes Krisna.


“Mampus! Kau tidak dianggap anak," celetuk Endra, dan semua tertawa dibuatnya.


Kehangatan seperti inilah yang sempat hilang dulunya karena mereka yang memilih untuk menitih jalannya masing-masing. Dan saat kehangatan ini dapat ditemuinya kembali, membuat seluruh beban pikiran dan otot mereka mengendur karena merasakan kerinduan yang terlah terlampiaskan.


"Ok, Tante silahkan keluar dulu. Dan ayo kita segera mulai saja!" Khiara berusaha untuk memulainya.


...***...