
Rapat pemegang saham sebentar lagi akan segera dimulai. Alex memasukan ponselnya ke dalam saku jasnya setelah membaca pesan dari Endra. Pesan itu sebenarnya sudah masuk ke ponselnya beberapa jam yang lalu. Tapi dia baru membukanya sekarang.
“Segera mulai rapatnya!” perintah Alex.
“Tapi Mr. Endra belum hadir," ujar salah satu anggota direksi untuk mengingatkan.
“Dia akan menyusul nanti," jawab Alex.
Rapat pun dimulai dengan perkenalan CEO baru pada seluruh dewan. Khiara berhasil menarik perhatian anggota dewan dengan kemampuan berbicaranya saat perkenalan. Karena pada dasarnya, Khiara adalah perempuan yang luwes dalam hal public speaking. Tidak ada yang namanya demam panggung saat harus berbicara di depan deretan orang-orang berdasi di depannya.
Dan di tengah-tengah rapat, pintu dibuka secara kasar hingga menimbulkan suara berdegum keras. Raut muka merah padam Artha muncul dari balik pintu. Hampir semua orang dikagetkan dengan kedatangan seorang pria muda yang tidak mereka kenal.
Artha mendekati Alex dan Khiara. Kemarahan sangat ketara dari setiap langkahnya. Khiara bertanya-tanya dalam hati, "ada apa?" Semua peserta rapat pun berkasak-kusuk akan ketidaksopanan Artha.
Sedangkan Alex hanya menatapnya dengan santai sambil menangkupkan kedua telapak tangannya dan bersandar pada kursinya. Endra muncul dari balik pintu dengan raut cemasnya dan segera berlari menghampiri mereka.
“Ada apa?” tanya Khiara pada Artha.
“Berdiri!” perintah Artha pada Khiara, dan Khiara pun menurut.
Lebih baik menurutinya daripada api yang sedang berkobar ini meledak dan membakar semuanya. Artha segera mencekal pergelangan tangan Khiara dan menyeret wanita itu keluar dari ruangan tersebut.
Alex yang sudah bangkit dan hendak menggapai Khiara, ditahan oleh Endra. Endra menggelengkan kepala meminta Alex untuk tidak mengejarnya. Krisna muncul dari balik pintu.
“They were gone.” Alex melewati Endra bahkan tak segan-segan melayangkan tinju padanya saat Endra bersikukuh menghadangnya. “Wait, Lex! We need to talk!” ujar Krisna berusaha menahannya.
“We talk letter!” Alex menatap Krisna dengan tajam. Tapi Krisna bergeming. “Go away, or I’ll hit you down!” Alex menekan setiap kata dalam kalimatnya.
Krisna akhirnya menyingkir saat Endra yang tertatih berusaha bangkit, dibantu oleh beberapa peserta rapat di sana memberikan tanda untuk menyingkir. Dan Alex pun segera keluar ruangan menyusul mereka berdua.
“Hadirin sekalian, maaf atas kekacauan ini. Silahkan lanjutkan rapatnya, saya akan menggantikan Mr. Alex dalam rapat ini," ujar Endra setelah menyeka darah dari bibirnya dan merapikan jasnya.
“Anda tidak apa-apa?” Endra mengangguk dan memberikan tanda untuk segera melanjutkan rapatnya. Dan rapat segera dilanjutkan tanpa mengungkit kejadian yang ada. Inilah sikap professional yang dibangun oleh Alex dan Endra pada semua lingkup kerjanya.
“Cari Rein!” pinta Endra pada Krisna. Dan Krisna pun mengangguk lalu segera keluar ruangan.
Endra pun mulai mendengarkan presentasi dari salah seorang peserta rapat dan mempelajari corat-coretan Alex dalam ipad-nya. Kebiasaan Alex yang satu ini memang sangat membantu bagi siapa saja yang akan menggantikannya di tengah-tengah rapat seperti saat ini.
Meski Alex yang sekarang lebih berbahaya dari pada Alex yang dulu, entah mengapa dia lebih mempercayai Alex yang sekarang. Endra merasa lebih mengenal bahkan lebih dekat dengan Alex yang sekarang dari pada Alex yang dulu. Dia juga lebih suka bekerjasama dengan Alex yang sekarang daripada Alex yang dulu. Meski pun dia sedikit merasa bersalah karena telah berencana jahat padanya.
“Duduklah, gantikan posisi Khiara sementara! Catat semua hal penting yang harus diketahui Khiara!” pinta Endra dengan nada sedikit memerintah.
“Kau menyabotase kelasku untuk menggantikan posisi CEO?” tanya Rein tidak percaya.
“Sudah diamlah! Ini akan menjadi pengalaman bagus untukmu. Setelah ini ada yang ingin ku bicarakan pada mu," ujar Endra segera.
Rein hanya mengedikkan bahunya dan segera menempati kursi Khiara. Rein adalah orang yang memiliki otak dengan organisator yang baik, dia sangat cocok untuk menjadi sekertaris pribadi. Itulah kenapa Endra lebih mempercayakan tugas ini pada Rein daripada Krisna yang tidak mengerti dunia seperti ini sama sekali.
Jika suatu saat Endra berhenti dari dunia basket dan harus mengurus perusahaan orang tuanya, mungkin dia akan mengangkat Rein sebagai asisten pribadinya. Tapi kesempatan itu sepertinya harus menunggu hingga puluhan tahun ke depan.
Sementara kekacauan di ruang rapat telah ditangani, di tempat lain sebuah mobil sport berwarna hitam sedang berusaha mengejar mobil sport yang melaju kencang membelah keramaian tengah kota di siang menjelang sore hari seperti ini.
As expected, skill dua orang penguasa jalanan memang sangat mengagumkan. Bisa-bisanya mereka kebut-kebutan di jalanan pada keramaian seperti ini. Menyalip satu persatu mobil yang menghalangi mereka dengan gerakan yang gesit.
Khiara yang berada di dalam mobil Artha hanya merebahkan tubuhnya di jok penumpang sambil memejamkan mata dan melipat kedua tangannya di dada. Dia merasakan adrenalin yang timbul dari cara mengemudi Artha yang mungkin menurut orang sangat membahayakan.
Khiara merasakan kemarahan Artha di setiap gerakannya. Namun dia membiarkannya. Dia sendiri tidak tau apa yang menyebabkan Artha sampai semarah ini padanya. Tidak ada petunjuk yang mampir ke dalam pikirannya. Seandainya saja Artha bukanlah orang yang super cuek, mungkin saja petunjuk itu akan mampir di kepalanya.
Artha menarik Khiara dengan kasar setelah sampai di rumahnya. Membuat Khiara meringis kesakitan karena perlakuannya. Artha membawa Khiara naik ke kamarnya. Menghempaskannya ke atas ranjang dan mengunci kamarnya.
Tanpa disadari Artha, perbuatannya ini justru membuat Khiara terseret kembali pada trauma masa lalunya. Alarm tanda bahaya telah meraung-raung di dalam otak Khiara. Tubuhnya bergetar hebat, lututnya terasa lemas. Seluruh tulangnya terasa ngilu.
Saat Artha kembali mendekatinya, Khiara semakin tertelan dalam ketakutannya. Semua kemampuan bela dirinya bahkan menguap entah ke mana. Dia bergidik ngeri karena takut. Bukan, dia tidak takut pada Artha. Tapi takut pada situasi saat ini. Situasi yang mengingatkannya pada ketakutan masa lalunya.
"Kenapa kau tidak memberitahu ku?" teriak Artha.
"A-apa maksudmu?" Khiara jelas belum memahami ke mana arah pembicaraan Artha.
"Apa kau tahu siapa yang tengah kau dekati saat ini?" Khiara mengerutkan keningnya. "Kau pasti tidak mengetahui siapa dia," ujar Artha sambil merangkak naik ke atas ranjang.
Artha sepertinya masih belum menyadari apa yang kini tengah dilakukannya. Khiara nampak begitu ketakutan saat ini. Hingga akhirnya Artha baru menyadarinya setelah Khiara mulai melemparkan apa saja yang ada di dekatnya.
Saat itulah Artha baru menyadari perubahan sikap Khiara. Kemarahan Artha menghilang seketika berganti dengan kekhawatiran. Wanita itu begitu histeris. Dia belum pernah melihat Khiara bertingkah seperti ini sebelumnya. Bagaimana dia harus menenangkannya?
***