
“Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku karena sudah membuat mu menangis. Maafkan aku.“ Alex mendekap tubuh wanita dengan erat, seolah enggan untuk melepaskannya. Dia ingin menenangkan hati Khiara dengan kehangatan dan rasa cintanya. Cukup lama Khiara menangis dan Alex tetap sabar menghadapinya. Bagaimana pun ini juga salahnya.
Setelah melepaskan semua tangisnya, Khiara menghela napas. Sungguh dibalik rasa kesalnya dia merasa lega luar biasa. Akhirnya dia bisa dipertemukan dengan malaikat penolongnya kembali.
“Kau sudah mendingan, Sayang?“ tanya Alex yang melihat wanitanya berhenti menangis. Khiara pun mengangguk.
“Apa yang tejadi saat itu?“ tanya Khiara pada akhirnya. Banyak sekali pertanyaan yang berputar di otaknya, dan saat ini pertanyaan itu yang mengawalinya. Kini gantian Alex yang menghela napas.
“Aku berakhir di rumah sakit setelah menemui ayahku.“ Alex mengatakannya dengan ringan, seolah itu bukanlah hal biasa. Tapi bagi Alex, yang sudah berlalu memang biarlah berlalu. Dia tidak meratapi dirinya yang harus masuk ke rumah sakit, yang penting kini dia bisa bersama lagi dengan wanitanya.
“Jadi dia ayahmu?“ Khiara tidak percaya bahwa orang yang melakukan hal keji pada tubuh Alex adalah ayah pria itu sendiri.
Saat itu Khiara memang tidak bisa membaca siapa penelpon yang tertera di layar ponsel Alex, namun dia memiliki feeling dan analisa yang kuat bahwa itu adalah orang yang menyiksa Alex. Tapi kini dia tidak menyangka bahwa monster itu adalah orang yang mengalir darahnya pada Alex. Yang membuat Alex berada di dunia ini.
“Ya.“ Alex mengangguk. “Dia memang ayahku, tapi sudah lama aku tak menganggapnya sebagai ayah. Bahkan aku berniat untuk membunuhnya.“ Khiara membekap mulutnya, terlalu syok dengan hubungan antara ayah dan anak itu. “Aku begitu membencinya setelah dia membuat rencana licik untuk merebut sebuah perusahaan dari sebuah keluarga. Dan keluarga itu adalah ... keluargamu, Sayang.“
Mata Khiara membola bahkan hampir saja lepas dari tempurungnya. Ucapan Alex sulit sekali untuk dipercaya. Jadi selama ini, orang yang memiliki benang dengannya ada di sampingnya?
“Apa kau tidak mengenal ku, Sayang? Aku adalah anak remaja yang kau selamatkan dari kemarahan ibu tiriku. Anak remaja yang dijodohkan denganmu waktu itu.“ Khiara menggelengkan kepalanya tidak percaya. “Mungkin kau lebih mengenal ku dengan nama Alexander Smith.“
Kepala Khiara terasa begitu sakit, seperti berdentum-dentum di dalam sana. Alexander Smith, nama itu terus berseliweran di kepalanya seperti kaset kusut. Hingga sebuah bayangan akan seorang bocah remaja yang dipukuli oleh seorang ibu muda terlintas di dalam kepalanya. Bayangan itu pun berputar seperti sebuah rekaman usang di masa lalu.
Khiara terus mengulik ingatannya, remaja yang lebih tua darinya itu merintih kesakitan akibat sabetan ikat pinggang yang begitu kencang. Hingga akhirnya Khiara yang masih bocah itu pun dengan nekatnya menerobos masuk ke dalam halaman rumah itu untuk menghentikan perbuatan jahat wanita itu. Dengan beraninya Khiara menarik tubuh yang telah kelelahan itu keluar dari sana dan mengancam wanita itu dengan ponselnya. Sudah tertera 911 pada layar ponsel Khiara yang membuat wanita itu bergeming dan melepaskan mereka.
Mereka pun berlari hingga Khiara berhasil membawa Alex pergi hingga ke rumah sakit. Di dalam perjalanan Alex selalu tersenyum di tengah rasa sakitnya yang menggila. Meskipun dia tersiksa, namun dia bersyukur karena telah dikirimkan seorang malaikat kecil yang begitu pemberani.
Setelah sampai di rumah sakit, Alex ditangani oleh tim dokter. Dan Alex harus mendapatkan penanganan khusus karena luka yang diterimanya begitu parah. Khiara setiap hari menjenguk Alex, bahkan selalu mengajak ibunya untuk mengunjunginya. Dan saat di rumah sakit itulah keluarga mereka berdua saling betemu.
Ayah Khiara tidak percaya, jika ternyata ayah Alex adalah partner bisnisnya. Dan mereka berdua pun sempat membicarakan soal perjodohan anak-anak mereka untuk mengembangkan bisnis mereka di masa depan. Sebenarnya ayah Khiara tidak terlalu menghendaki perjodohan itu, namun melihat Khiara lebih dulu mengenal remaja itu, maka ayah kandung Khiara pun kembali menimbang-nimbangnya.
Namun saat ayah Alex menyinggungnya di depan anak mereka, ayah Khiara merasa tidak suka. Karena itu terlalu dini untuk mereka dengar. Padahal pernikahan itu pastinya akan dilakukan di saat usia keduanya sudah matang dan memang ada ketertarikan di antara keduanya nanti. Tapi, Khiara justru memberikan jawaban yang mengejutkan pada mereka semua.
“Aku mau kok menikah dengan Kak Alexander. Dia ganteng,” ujar Khiara dengan polosnya. Alex yang mendengarnya pun merasa berbunga-bunga mendengar malaikat kecilnya menyukainya. Meskipun dia tidak yakin bahwa bocah kecil itu benar-benar mengerti akan arti kata dari sebuah pernikahan.
Dan tak lama setelah itu, akhirnya mereka pun diikat dengan sebuah cincin meski yang melingkar di jari mereka. Tanda bahwa mereka akan menikah nantinya di saat mereka sudah dewasa. Walaupun sebenarnya ayah Khiara sedikit tidak menyetujuinya, namun ayah Alex berhasil memaksanya. Dan sebulan setelah pertukaran cincin itu pun, sebuah tragedi tejadi.
Tragedi di mana ayah Khiara dan juga Alex remaja yang hendak menjemput Khiara di sekolahnya mengalami kecelakaan. Karena kecelakaan mobil yang mereka alami begitu parah, maka mereka berdua pun dinyatakan meninggal di tempat. Khiara yang begitu syok dengan kabar kematian ayahnya pun sampai melupakan Alex. Dan dia baru tersardar setelah ayah Alex datang ke rumahnya dan mengambil perusahaan mereka, sebagai kompensasi atas meninggalnya Alex.
Dan kini, dia kembali dipertemukan dengan Alex dalam wujud yang masih utuh. Sempurna dan tanpa cacat sedikit pun. Bahkan dengan ketampanan yang lebih matang dari masa remajanya. Bagaimana bisa??
“Tidak mungkin ... bukankah ....“
“Aku masih hidup Khiara. Kematianku adalah rekayasa dari ayahku. Dan kecelakaan itu ayahku lah yang mendalanginya,” ujar Alex dengan getir. “Itulah sebabnya aku membencinya, dia menggunakan ku untuk mengambil seluruh harta keluargamu.“
Khiara masih sulit untuk percaya. Dia menggelengkan kepalanya dengan linangan air mata. Ini terlalu sulit untuk diterima dengan akal sehatnya.
“Lalu ke mana kau selama ini?“
***