
Kobaran api yang tadi telah membara dalam dirinya seakan disiram oleh bensin hingga membuat sebuah kebakaran besar. Apa yang kini tengah dilihatnya membuatnya semakin berkobar.
"Br*engse*k! Berani-beraninya menggangguku. Habisi dia!" perintah salah satu dari mereka yang Alex yakini sebagai ketua mereka.
Dua orang yang tengah menahan kedua tangan dan kaki perempuan itu pun segera menerjang Alex, mencoba untuk menggiringnya keluar dari sana. Tapi mereka tidak tahu saja, bahwa saat ini mereka telah membangunkan seekor singa dari tidurnya.
Sama seperti bagaimana dia melumpuhkan orang-orang di luar tadi, Alex pun menumbangkan mereka berdua dengan sekali pukulan dan tendangan pada masing-masing orang. Setelah dia selesai dengan dua orang tadi, dia segera mencengkram bahu ketua mereka dari belakang.
"Br*engs*ek, mau cari mati kau rupanya!" hardik pria itu.
"Kau yang akan mati," ucap Alex dalam bahasa ibu yang pastinya dimengerti oleh pria itu.
BUGH!
Alex melayangkan pukulan keras tepat ke mata pria itu. Dia tidak peduli jika nantinya orang itu sampai kehilangan penglihatannya.
"Itu untuk matamu yang berani melihat seluruh lekuk tubuhnya," tandas Alex dengan penuh amarah yang butuh pelampiasan.
KRAK!
AAARRRRGGGGHHHH...
Teriakan memilukan keluar dari mulut yang sudah berani mencumbu perempuan itu. Alex baru saja mematahkan lengan pria itu dengan sekali gerakan yang kuat dan cepat, hingga patahan tulang itu menembus kulit luarnya.
Darah segar mengalir deras dari robekan kulit di sela-sela tulang yang menyembul keluar. Sungguh mengerikan kala amarah seorang Jester Alexander telah berada di titik puncak tertinggi. Dia bahkan mematahkan tulang manusia seperti mematahkan tulang ayam.
Bahkan warna putih yang berlumuran warna merah pun terlihat begitu bersinar di bawah cahaya lampu yang remang-remang.
"Itu untuk tanganmu yang sudah berani menjamahnya," desisan Alex begitu dalam bagaikan dewa kematian.
Dia juga ingin meremukkan wajah itu, terutama bibir sialan yang sudah lancang pada perempuan itu. Tapi sayangnya pria kurang ajar itu sudah keburu pingsan duluan setelah mengalami sakit yang luar biasa karena patah tulangnya.
Alex segera menghempaskan tubuh itu ke lantai yang terasa begitu dingin, apalagi di malam awal musim gugur seperti ini. Tubuhnya yang polos dan hanya dilapisi sehelai kain trunk yang melilit pinggulnya membuatnya menatap dengan rasa jijik.
Dia mengabaikan begitu saja tubuh yang telah bersimbah darah itu dan segera menghampiri perempuan tadi. Tubuh itu telah polos secara sempurna. Banyak luka memar di seluruh wajah dan tubuhnya. Bahkan darah pun mengalir dari pelipis dan bibirnya.
Tidak hanya itu, noda-noda dari perbuatan menjijikan pria tadi pun membekas di sana. Rasa lengket akibat air liur yang telah menjamahnya pun masih begitu terasa, yang artinya pria itu belum lama melakukannya.
Alex melepaskan kemeja putihnya yang kini sudah berubah warna menjadi sedikit lebih coklat dan dihiasi oleh bercak darah. Dia membungkus tubuh polos itu dengan sangat hati-hati, takut menyakiti tubuh rapuh yang sepertinya sebentar lagi akan pecah jika dia tak sengaja menjatuhkannya.
Sebelum menggendongnya, dia mengecek kembali kondisi perempuan itu dengan seksama. Memastikan bahwa tidak ada luka yang lebih parah dari ini.
Alex segera menggendongnya keluar toilet umum tersebut dan segera membawanya masuk ke dalam mobil, lalu bergegas menuju rumah sakit terbaik di Beverly Hills.
Berkali-kali dia melirik perempuan itu meski tengah mengemudi dengan kecepatan tinggi. Dadanya merasa begitu sesak karena diremas oleh ribuan tangan tak kasat mata.
Tangannya kanannya menggapai tangan perempuan itu dan menciumnya dengan segenap hati. Air mata meluncur begitu saja ketika rasa perih di dada begitu menyayat hati. Meskipun begitu, ada senyum kecil yang menunjukan kelegaan dalam dirinya.
Perempuan itu sangat tangguh, dia bisa bertahan hingga Alex datang. Alex sangat yakin, bahwa pria br*engs*ek tadi belum sempat mengambil mahkota sucinya. Meskipun telah polos tanpa sehelai benang pun, namun pria itu belum sempat melepas trunk yang melilit di pinggangnya.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di depan pintu emergency room sebuah rumah sakit besar dan ternama di sana, Cedar Cinay. Ya, kebetulan rumah sakit besar ini hanya berjarak tujuh menit dari Beverly Hills Park jika menggunakan mobil dalam kecepatan sedang.
Sebelum ke rumah sakit Alex menyempatkan diri menuju toko baju wanita untuk membeli beberapa helai baju, kemudian memacu lagi kuda besinya ke rumah sakit.
Alhasil jarak yang seharusnya ditempuh selama dua menit lima detik dengan cara mengemudinya yang seperti setan, berubah menjadi tujuh menit karena harus memilih dan membayar baju-baju tersebut.
Alex segera menggendong Khiara dan memindahkannya ke atas brankar. Beberapa dokter dan perawat pun segera membawa sang pasien masuk ke dalam ruang IGD.
"Segera lakukan visum!" perintah Alex pada beberapa dokter jaga.
"Baik, Tuan." Biasanya perintah untuk melakukan visum hanya bisa dilakukan atas permintaan dari kepolisian. Namun para dokter segera saja melakukan tanpa mengikuti jalur prosedur, ketika sang pemilik rumah sakit yang meminta.
"Tuan mau menunggu di sini?" tanya seorang dokter yang mendapat Alex berdiri di dekat ranjang untuk melihat semua dokter menangani Khiara.
"Ya," ucapnya singkat yang begitu dingin.
"Tapi sebaiknya Tuan menunggu di sebelah, Tuan juga membutuhkan perawatan." Dokter itu mencoba untuk mengusir Alex dengan halus, namun segera mendapat tatapan mematikan dari Alex.
"Apa ucapanku kurang jelas? Segera tangani dia, dia yang lebih butuh penanganan." Ucapan Alex yang begitu dominan dan tegas membuat seluruh dokter menelan saliva, apalagi setelah Alex mengucapkan kalimat terakhirnya.
"Jika kalian melakukan kesalahan sekecil apa pun, akan kupastikan kalian tidak akan pernah lagi menjadi dokter di mana pun."
"Ba-baik, Tuan." Meskipun Alex lebih muda dari mereka, namun mereka tidak bisa melawan Alex sang penguasa muda.
Mereka segera mengerjakan tugasnya, memberikan penanganan dengan sangat hati-hati dan teliti. Tanpa Alex mengamati pun sebenarnya para dokter itu sudah pasti akan bekerja dengan hati-hati, karena reputasi rumah sakitlah sebagai jaminannya. Tapi saat dimandori seperti ini, mereka bertindak jadi lebih sangat hati-hati lagi.
"Lakukan pemeriksaan DNA sekarang!" titah Alex.
"Ya?" seluruh dokter bahkan bertanya secara bersamaan dan menatap pimpinan tertinggi mereka dengan tatapan terpana.
Biasanya mereka melakukan test DNA setelah menyelesaikan pemeriksaan fisik dan internal terlebih dahulu.
"Apa ucapanku kurang jelas? Untuk apa kalian ada sebanyak ini jika tidak bisa melakukannya pemeriksaan secara bersamaan?" Jika mereka bisa marah pada Alex, mungkin saja saat ini mereka sudah menjebleskan kepala Alex ke lantai. Semena-mena saja dalam memerintah.
"Baik, Tuan. Tapi apa Tuan akan tetap di sini?" tanya seorang dokter wanita muda dengan ragu. Karena mereka pastinya akan membuka daerah inti sang pasien untuk melakukannya.
"Apa masih perlu mempertanyakan itu?" tanya Alex lagi dengan tatapan menusuk.
"Ti-tidak, Tuan." Dokter itu pun segera melakukan tugasnya.
Alex harus benar-benar memastikan apakah keyakinannya benar. Apakah ada cairan sialan itu di tubuh Khiara atau tidak.
...***...