
Adit menghela napas, dia yang hendak mengutarakan apa yang terjadi pada Khiara setelah ditinggalkan Shasha ternyata didahului oleh beberapa pertanyaan dari mulut Endra.
“Sebelumnya beritahu kami dulu, ke mana kau pergi selama ini? Kenapa pergi meninggalkan Khiara di penthouse sendiri?“ cecar Endra. Dia tidak perlu memberitahukan bahwa Adit sudah menceritakan tentang kisahnya dan Khiara, bukan?
Alex yang menatap Endra pun melirik ke arah Adit seraya mengangkat sebelah alisnya. Alex jelas yakin bahwa Endra tahu hal ini dari Adit. Tapi apa dia menceritakannya hanya setengah-setengah?
“Aku belum selesai menceritakannya,” ujar Adit yang seolah mengerti dengan keheranan Alex.
“Cedar Cinay,” jawab Alex singkat. Nampak kerutan halus di kening Endra dan Krisna. “Aku koma di rumah sakit setelah meninggalkan Khiara di penthouse, hingga satu bulan lamanya.“
“Koma?“ Kini suara Krisna yang mendominasi.
“Bisakah kecilkan suaramu?“ Kini Alex menoleh pada Krisna dan melayangkan tatapan tidak suka.
“Kenapa kau bisa koma?“ tanya Endra lagi.
“Aku sempat mendapatkan pukulan keras di kepala saat menyelamatkan Khiara, dan aku kembali mendapatkannya setelah meninggalkan Khiara di penthouse. Hal itu membuat cedera otak di dalam sana,” ujar Alex sambil menunjuk tempurung kepalanya.
“Kenapa kau bisa terpukul untuk kedua kalinya?“ tanya Endra lagi, seakan dia belum puas mengorek alasan yang diberikan oleh Alex.
“Itu tidak ada kaitannya dengan Khiara,” jawab Alex yang tidak ingin mengutarakannya. Mereka semua pun menggerakkan kepalanya naik turun secara perlahan. Mereka menghargai keputusan Alex yang tak ingin mengatakan hal tersebut yang pastinya sudah mengarah ke ranah pribadi.
“Sekarang bisakah kalian ceritakan padaku, bagaimana keadaan Khiara setelah pembunuhan sepupunya?“ tanya Alex yang menagih sebuah penjelasan kepada Adit khususnya.
“Khiara mengalami depresi berat,” ujar Adit yang kemudian di teruskan oleh Endra.
“Dia hampir mengakhiri hidupnya karena mengalami tekanan yang begitu besar.“
“Bahkan saat menunggu Shasha di rumah sakit pun, Khiara sudah seperti mayat hidup.“ Krisna menambahkan.
“Apa sebegitu berartinya Shasha untuk Khiara?“ Ketiga sahabat Khiara itu pun menganggukkan kepala.
“Shasha adalah sumber semangat Khiara. Shasha yang terus ada di samping Khiara di saat teman-teman wanitanya yang lain menjauhinya. Wanita itu juga yang selalu menyalurkan semangat positif untuk Khiara meski dia tidak tahu masalah apa yang tengah dihadapi oleh Khiara,” jelas Adit panjang lebar.
“Jadi wajar jika Khiara merasa sangat kehilangan saat Shasha menutup mata di depannya.“ Endra sedikit terseret pada ingatan saat mereka di rumah sakit menunggui Shasha.
“Ya, karena keadaan Khiara begitu menyedihkan maka kami memutuskan untuk membawa Khiara ke Jepang untuk mendapatkan penanganan oleh seorang psikiater,” lanjut Krisna.
“Jepang?“ Alex mengkonfirmasi lagi negara yang dikatakan oleh Krisna.
“Ya, dia menjalani pengobatan di sana hingga pada akhirnya dia memutuskan kembali ke Indonesia beberapa bulan lalu.“ Kini Adit yang menjelaskan.
Alex memejamkan matanya sejenak. Dia merasa sangat terpukul dengan kondisi Khiara yang baru saja di dengarnya. Dia bersumpah akan memberikan pelajaran pada orang yang telah membuat wanitanya menderita.
“Baiklah, cukup. Akan ku beritahukan pada kalian apa yang ku tahu,” ujar Alex.
Tak berapa lama pun Artha kembali dari membeli obat pesanan Alex. Dia segera menyerahkannya pada pria yang telah berhasil merebut Khiara dari mereka tersebut.
“Terima kasih, duduklah!“ Artha pun segera duduk di sebelah Endra.
Alex pun mengeluarkan ponselnya dan sedikit mengutak-atiknya. Setelah beberapa saat berkutat dengan ponselnya dan menemukan apa yang dicarinya, dia segera meletakkan dan menyodorkan ponsel itu pada mereka.
“Perhatikan baik-baik! Dialah orang yang telah memperkosa Khiara sekaligus membunuh Shasha.“ Alex akhirnya memberitahukan pada mereka dan akan melibatkan mereka dalam rencananya.
Alex bisa melihat keempat pasang mata yang melebar dengan sempurna. Bahkan Adit menyambar ponsel tersebut karena mungkin tidak percaya dengan penglihatannya. Mereka secara bergantian melihat ke arahnya dan ponsel tersebut.
“Dia yang telah memperkosa Khiara?“
“Dia yang telah membunuh Shasha?“ Kedua pertanyaan tersebut terlontar bersamaan dari mulut Krisna dan Artha.
“Ya,” jawab Alex singkat.
“Kau tidak mengada-ada, bukan?“ Kini Adit yang bertanya. “Aku tahu kalau dia adalah pria brengsek tapi untuk memperkosa Khiara aku rasa dia tidak punya nyali untuk melakukannya. Apalagi untuk membunuh Shasha, untuk apa?“
***