THE ALEXIS

THE ALEXIS
ALCOHOL



Paris tengah malam…..


Khiara terjaga dari tidurnya saat mendengar sebuah tangisan dari kamar sebelah.


Jam berapa ini? Ia memincingkan sebelah matanya dan meraih kacamata di sebelah bantalnya. Sekilas ia melirik jam dinding di seberang ranjangnya. Jarum jam menunjukkan pukul dua.


Perlahan ia menghela nafas lalu mengumpulkan seluruh nyawanya yang masih beterbangan entah kemana. Sementara tangis itu semakin kencang menembus gendang telinganya. Setelah ia mendapatkan kembali semua nyawanya, dengan sigap ia melompat bagaikan rusa. Ia segera membuka pintu ruang sebelah yang terhubung dengan kamarnya.


"Ssst___ sst___ sst___ sst___ sst___ sst___ sst___ sayaaaang___ what's going on?" Khiara menghampiri seorang bayi yang sudah terduduk di atas ranjang sambil menangis tersedu-sedu.


Nampak ketakutan di raut wajahnya. Dia langsung mengulurkan kedua tangannya ke arah Khiara begitu melihatnya. Tempat teraman adalah pelukan malaikat pelindungnya. Di sana lah dia bisa mendapat tenangan.


"Kenapa sayang? Kamu mimpi buruk?" Khiara berusaha untuk menenangkannya dengan mengusap-usap punggungnya lembut dan penuh kasih sayang. Bayi itu perlahan mulai tenang dengan tangis yang mulai mereda.


"Mau tidur sama mamah?" Dan Kaiven yang masih sesenggukan menganggukan kepalanya segera.


"Ok___ let's go baby." Ujar Khiara sambil menggendong dan menciuminya. Kini balita di pelukannya mulai tertawa karena perlakuan yang di terimanya.


"Are you thirsty?"


"Thirsty___"


"Mau minum?"


"Minum___"


"Oke___kita ambil minum dulu ya." Keiven langsung memeluk leher Khiara dengan erat membuat Khiara terjingkat.


Khiara segera menggendongnya dan membawanya ke kamar. Ia mendudukan Keiven di tepi ranjang, kemudian ia berjongkok di depannya untuk mensejajarkan tingginya.


"Mau susu atau air putih?"


"Susu___"


"Susu putih atau *****?"


"Put__" Balita itu seperti sedang berfikir. Ibu jari dan jari telunjuknya menyentuh dagunya dan menelengkan kepalanya ke atas. "*****." Kemudian menjatuhkan pilihan pada tawaran ke dua.


Dahi Khiara bertautan, dan memunculkan senyum heran. Bisa-bisanya bayi sekecil ini membuat pose seperti itu saat sedang mempertimbangkan dua pilihan.


"Oke, sambil tiduran ya!?" Kaiven mengangguk.


Bayi itu langsung merangkak menuju tengah ranjang dan memposisikan dirinya. Kemudian disusul oleh Khiara. Ia memposisikan tubuhnya senyaman mungkin di samping Kaiven kemudian membuka kancing bajunya, mengeluarkan *********** yang terasa penuh sesak karena terlalu penuh dengan ASI di dalamnya.


Kaiven segera meraih sumber asupan gizinya. Menyesapnya dengan rakus karena haus. Khiara membelai punggungnya dengan penuh cinta. Mengecup kepalanya dengan kasih sayang penuh yang tiada bandingannya.


Bayi itu terus penyesap ASI di tubuhnya sambil melingkarkan seluruh tubuhnya ke tubuh ibunya. Seakan dia takut kehilangan ibu dan sumber ketenangannya.


Meski sebentar lagi anaknya menginjak usia tiga, Khiara masih belum menyapihnya. Dan kepulangan ke Paris saat ini memang untuk menyapih bayinya sekaligus melakukan operasi LASIK pada matanya.


Yah, Khiara memang memiliki masalah dengan penglihatannya sudah sejak lama. Empat tahun lalu saja pandangannya sudah mencapai minus delapan. Sungguh itu sangat mengganggunya.


Dan setiap tahunnya, minusnya semakin bertambah karena ia harus bekerja di depan komputer. Dan niatan untuk melakukan operasi LASIK baru bisa terealisasikan saat ini, karena ia tidak mungkin melakukan operasi tersebut saat ia masih hamil dan menyusui.


Bagaimanapun Khiara tetap memikirkan dampak operasi tersebut pada anaknya. Karena anaknya, adalah harta yang tak ternilai baginya. Ia akan rela melakukan apapun untuk merawat dan melindunginya sebagaimana ibu-ibu pada umumnya. Termasuk menunda operasi LASIK tersebut yang sebenarnya sudah sangat dibutuhkannya.


Khiara yang kembali mengamati bayinya, hanya bisa merasa gemas pada bayinya. Bagi seluruh ibu di dunia, adakah guling yang lebih nyaman dan menggemaskan selain anaknya? Rasanya tidak akan ada guling yang mampu menggantikannya. Keberadaan putranya membuat perasaan bahagia menyelimuti hatinya. Ia sangat amat mensyukurinya.


...***...


Yah, seperti yang dikatakan tadi. Putranya adalah harta yang paling berharga. Dia bagaikan obat yang diberikan Tuhan untuk mengobati seluruh luka di hidupnya. Bagaikan alkohol yang disiramkan pada luka yang menganga, menciptakan rasa perih yang luas biasa, namun sangat ampuh membersihan luka.


Yah, saat itu kehadiran Kaiven di dalam rahimnya memang bagaikan alkohol yang membakar tubuhnya yang dipenuhi dengan luka menganga. Tuhan seakan belum puas dengan hukumannya, Tuhan masih saja ingin membuat Khiara menderita. Itu lah yang ada di benaknya kala itu.


Bagaimana tidak? Sebulan sebelumnya ia mengalami pemerkosaan yang dilakukan oleh teman sekolahnya. Tidak hanya sebuah pemerkosaan, tapi juga penganiayaan. Seluruh tubuhnya penuh dengan luka lebam, bahkan luka terbuka pun tidak hanya satu, dua, tiga.


Rasa ngilu yang dirasakan oleh tubuhnya pun belum sembuh benar. Namun ia masih harus menelan kenyataan pahit yang sangat menyesakkan dada.


Sebuah kehamilan yang sama sekali tidak ia harapkan. Adakah yang bisa lebih menggambarkan, selain dipukul dengan ribuan godam namun tak kunjung menemui kematian? Jika ada, Khiara pun sudah tak mampu membayangkan. Karena baginya, itu sudah sangat amat menyakitkan.


Ia sudah berada di pinggir jurang kematian kala itu, tapi tubuhnya tak mampu terjun ke dasar jurang. Bagaikan kapal yang terombang-ambing di lautan, ia masih dikelilingi oleh perasaan bimbang. Akan kah ia harus memilih kematian, atau kehidupan untuk sebuah balas dendam?


Yah, sebuah balas dendam. Ia teringat janjinya pada seseorang, bahwa ia akan menyeret b*jingan itu pada dasar kehancuran. Ia tak akan membiarkannya merasa menang. Ia sendiri yang akan mengirim b*jingan itu ke kuburan.


Dan itu lah yang membuatnya tetap bertahan. Tapi bertahan pun ternyata tidak semudah yang ia pikirkan. Bayang - bayang kelam tetap hinggap dalam ingatan. Bagaikan kaset yang terus berputar ulang, membuatnya tak bisa hidup dengan tenang.


Ia melampiaskan setiap kemarahan pada setiap sudut ruangan. Hingga menghancurkan seisi apartemen yang ia jadikan sebagai tempat persembunyian. Ya, di kala itu ia memang tinggal sendirian. Jauh dari tanah kelahiran. Dan tak ada yang menemaninya untuk memberikan dukungan.


Harusnya ia tinggal di rumah kakaknya, selama kapten tentara Amerika itu maju ke medan perang. Tapi ia tak kuasa menahan tekanan. Ia merasa takut kakaknya akan segera pulang. Dan mengetahui semua yang telah dialami adik perempuan yang paling dia sayang.


Ia sudah bisa menebak apa yang akan kakaknya itu lakukan. Kakaknya akan segera menemukan siapa pelakunya tanpa Khiara harus mengatakannya, dan segera menyeretnya ke pengadilan.


Meskipun bisa saja kakaknya menghabisinya sebelum masuk ke ruang sidang. Namun itu bukan lah ending yang ia inginkan.


Maka dari itu ia memilih tinggal sendirian. Untuk memberinya ruang pelampiasan. Hingga akhirnya ia benar - benar membutuhkan bantuan. Karena percuma ia bertahan tanpa adanya kewarasan.


...***...