THE ALEXIS

THE ALEXIS
REMEMBRANCE



Flash back dua setengah tahun silam…


Tiga belas jam bagaikan tiga belas tahun lamanya bagi Khiara yang sedang duduk dengan gelisah di kabin pesawat yang sedang mengudara di atas Samudra Pasifik. Kabar yang diterimanya beberapa jam lalu membuat dunianya seakan berhenti.


Dia tak tau harus melakukan apa, rasanya ingin sekali dia menggantikan sang pilot untuk mengambil alih kendali dan membuat pesawat melaju lebih cepat. Tapi apa lah dayanya, dia sedang terbang menggunakan pesawat sipil dengan waktu penerbangan tercepat, bukan menggunakan jet pribadinya.


Jika dia mengambil alih kendali pun tak ada gunanya, pesawat ini pastinya sedang mengudara dalam kecepatan aman, tidak mungkin menambah kecepatan seenak jidatnya. Dia tidak sendiri, ratusan penumpang lainnya ada di dalamnya.


Pesawat berhasil mendarat, Khiara segera bergegas keluar tanpa perlu repot dengan barang-barangnya karena dia tidak membawa apa pun selain ponsel dan dompetnya. Dia segera mengurus birokrasi dan melesat keluar. Di luar sudah ada Artha yang menunggunya.


Mereka segera menuju rumah sakit, dimana orang-orang sedang menunggu mereka. Ini adalah hal gila yang perah Khiara lakukan. Meninggalkan bayinya yang baru berusia 8 bulan sendirian bersama baby sitter dan beberapa bodyguard di LA. Walau saat Khiara mendarat, kakaknya pasti sudah sampai di rumahnya untuk menjaga Kaevin. Tapi itu tetap lah hal gila yang pernah dilakukan seorang ibu sepertinya.


Dia merasa sangat bersalah akan hal itu dan pasti akan mengalami penyesalan yang dalam jika terjadi sesuatu pada buah hati semata wayangnya. Di dalam mobil dia bisa sedikit bernapas lega saat kakaknya sudah mengirimkan fotonya bersama dengan bayi Kaiven. Anaknya sudah aman. Tidak ada yang tau tentang kehamilannya. Karenanya dia tidak mungkin membawa Kaevin sekarang.


Sesampainya di rumah sakit, mereka berdua segera berlari melalui koridor yang membelah rumah sakit. Artha menunjukan di mana kamar seseorang yang sudah membuat otaknya hampir gila. Di depan pintu kamar, Khiara tidak segera masuk ke dalam.


“Siapa dokter yang menanganinya?”


“Dokter Arka.” Khiara segera meninggalkan tempat itu menuju ke suatu tempat. Di sebuah ruangan, seorang dokter sedang mengamati hasil CT Scan di depannya dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


“Bagaimana?” Suara Khiara membuyarkan pikiran dokter tersebut.


“Ah, kau sudah datang rupanya.” Khiara mendekatinya dan ikut menatap tajam pada hasil foto tersebut. Dia melirik 4 layar monitor yang menampilkan proyeksi organ paru-paru yang rusak. Sia mengerti ini bukan lah sesuatu yang bagus.


“Emh!”


“Kami sudah mengangkat pelurunya, tapi sayangnya peluru itu telah berhasil merusak paru-parunya," ujar orang yang berprofesi sebagai dokter bedah umum tersebut. “Tim bedah kardiotoraks juga sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun kami takut itu tidak akan bertahan lama.”


DUARRR!


Dia begitu terpukul. Seakan ini adalah akhir dari dunia baginya. Saat ini, akhir terburuk sudah ditetapkan di depan matanya. Dan dia harus siap dengan semuanya.


“Berapa lama lagi waktu yang dimilikinya?”


“Kami tidak bisa memastikan.”


Khiara memejamkan matanya untuk meredam semua emosi dalam dirinya, kemudian keluar dari ruangan itu dengan wajah mengeras dan sorot mata yang tidak bisa diartikan oleh Arka. Meski pun demikian, Arka sangat mengetahui apa yang dirasakan oleh Khiara.


Perlahan Khiara membuka pintu ruang rawat yang tadi ditinggalkannya. Semua orang yang sudah berada di sana menoleh ke arahnya. Banyak raut kesedihan di sana. Namun tidak ada yang bisa dia lakukan. Dia sendiri pun juga merasakan hal yang sama, bahkan mungkin lebih dari yang mereka rasakan.


Dia sendiri juga membutuhkan penopang. Penopang yang sanggup membantunya menopang beban berat di pundaknya. Penopang yang mampu mendampinginya melewati cobaan-cobaan berat yang datang silih berganti. Penopang yang mampu meredam dan menenangkan dirinya agar tidak meledak dan berakhir menjadi gila karena ketidakmampuannya dalam menjalani cobaan hidupnya.


Dengan menyembunyikan seluruh amarah, kesedihan, dan ketidakberdayaan di balik wajah kakunya, dia mendekati ranjang di tengah ruangan. Dengan susah payah dia menjaga agar air matanya tidak lolos dari kedua kelopak matanya. Jantungnya menggebu merasakan sesak yang amat sangat menyiksa.


Hingga sebuah tangan kekar menyentuh pundaknya untuk menguatkannya, namun justru membuatnya tak kuat lagi menahan emosi yang berkecamuk di dalam dirinya. Air matanya lolos begitu saja dari balik bulu matanya. Begitu deras dan tanpa henti mengalir dalam keheningan.


“Serahkan semuanya sama Tuhan!” Suara Adit terdengar parau di telinganya.


Adit merengkuhnya agar dia bisa menyembunyikan air matanya, membiarkannya menumpahkan semua tangisnya di sana, membelai punggung dan rambutnya dengan penuh kasih sayang.


Hanya seorang Adit lah yang tau cobaan-cobaan berat yang telah menimpanya, sehingga dia mengerti benar bagaimana hancurnya Khiara saat ini. Yah, dari semua sahabatnya, hanya dialah satu-satunya yang tau semua masalah yang menimpanya selain keluarganya.


...***...


Adit terus berada di samping Khiara. Tidak pernah meninggalkan Khiara yang terus duduk termangu menunggu dengan sabar seseorang yang sedang berbaring di ranjang dalam waktu yang lama.


Sorot matanya benar-benar kosong. Itu membuat Adit benar-benar khawatir dengannya. Ini sudah 3 hari sejak hari itu. Namun tidak ada asupan makanan yang masuk ke tubuh wanita itu selain air mineral. Itu pun harus dia paksa terlebih dahulu.


“Dia harus mengkonsumsi glukosa agar otaknya tetap berfungsi," jelas Artha di sampingnya.


Artha memang sangat ahli dalam bidang kesehatan. Adit bangkit dari sofa dan menyambar susu kotak yang disodorkan Artha.


“Minum lah!” Adit menyodorkan susu kotak pada Khiara. Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya. Tentu saja itu membuat Adit gemas. Dia meraih wajah Khiara dengan sebelah tangannya.


“Dengar! Jika kau jatuh sakit, kau tidak akan bisa menemaninya. Kau ingin saat dia sadar nanti kau tidak bisa melihatnya?” Khiara hanya menatap Adit dengan mata sayunya. “Aku hanya memintamu untuk meminum ini, tidak ada yang lain.”


Akhirnya Khiara menurut. Sedikit rasa lega menghampiri semua orang yang ada di sana. Seorang yang terbaring di ranjang saja sudah membuat mereka sedih bukan main, apalagi sekarang ditambah dengan Khiara yang sudah seperti mayat hidup?


Tak berapa lama, seseorang yang sedang terbaring di atas ranjang menunjukan sebuah pergerakan. Khiara yang pertama kali merasakannya segera memanggil namanya. Dan Endra yang berada di samping ranjang dengan sigap segera menekan tombol untuk memanggil dokter.


Arka dan timnya datang untuk memeriksa keadaan sang pasien. Ini adalah akhir yang tidak diinginkan mereka semua. Arka tidak bisa menutupi wajah kesedihan di sana. Bagaimana pun, pasiennya ini adalah salah satu pasien yang tidak ingin dia lihat kematiannya.


“Hai, Kak... Ke-napa mukamu se-perti itu?”


“Kau jahat Sha! Kenapa kau datang padaku dalam keadaan seperti ini, huh? Bagaimana kau bisa menganggap ku sebagai kakakmu jika... jika akhirnya aku tak bisa melindungi mu bahkan menolong mu, hah?” Arka benar-benar ingin mengumpat. Bisa-bisanya wanita itu masih bisa memberikan senyuman manis untuknya.


“Don’t... say that! Khira is here, right?” Arka mengangguk.


“Aku akan memanggilnya.” Khira segera masuk bersama Adit di sampingnya. Kini ada 4 orang di dalam ruangan ini.


“Hai, Dit!?” Shasha menyapa Adit yang sebelumnya tak pernah saling bertegur sapa.


“Hai, Sha..."


“What happened, huh?” Khiara mulai tidak sabar.


“Just... an accident.”


“Just an accident, huh? What the fuckin’ accident that makes you lay down here, huh?”


“Ssst...” Dengan sekuat tenaga Shasha berusaha menenangkan Khiara yang sudah gusar.


Shasha meraih wajah cantik Khiara dengan sisa-sisa tenaganya di tengah-tengah nafasnya yang setengah-setengah. Khiara meraih tangan mungil di pipinya dan menggenggamnya erat.


"Li-listen! This is... not... his... fault. Don’t... hate... him!”


Hanya kata-kata itu lah yang mampu diucapkan Shasha, hingga akhirnya dia menutup mata untuk selamanya. Kata-kata yang tidak memberikan jawaban apa-apa pada mereka. Tidak! Bukannya tidak. Suatu saat mereka akan menemukan jawabannya.


Tangan yang terkulai lemas membuat ketiga orang ini menitihkan air mata. Gelombang pada vital sign monitor sudah berganti dengan garis lurus. Sebuah kematian telah terjadi di depan mata mereka.


“Waktu kematian pukul 21.05," ujar Arka dengan suara parau saat mencocokan waktu kematian dengan jam di pergelangan tangannya.


Sedangkan Khiara sudah tidak bisa bertahan lagi. Dia turut terkulai lemas setelahnya. Adit menahannya sebelum dia terjungkal ke lantai.


“Bawa dia ke UGD, dokter akan menanganinya. Aku akan menyampaikan pada semuanya.”


“Ok.” Adit menggendong Khiara menuju UGD.


Di luar semua orang terlihat kebingungan melihat Adit yang menggendong Khiara. Sebagian dari mereka mengikuti Adit sedangkan keluarga Shasha segera masuk ke ruang rawat setelah Adit memintanya.


...***...